Life Is Move

Life Is Move
Persiapan Keberangkatan



Zukhruf harus berani mengatakan hal penting ini kepada orang tuanya. Bagaimana ia bisa menolaknya dengan sia-sia. Baginya itu merupakan hadiah terbesar yang ia dapatkan. Memang bagaimana bisa? Tentu saja Zukhruf sangat sekali mendambakan untuk lanjut kuliah atau bekerja di negara Korea Selatan. Keinginan itu muncul sejak ia berada di bangku SMK. Memang semestinya anak SMK mempunyai banyak sekali keinginan yang tinggi dan bahkan jika menurut logika sangat tidak masuk akal. Namun jika kita mau berusaha, semua pasti kan tercapai bukan? 


*Bagai*mana aku bilangnya ya? Padahal umi benci sama tulisanku. Apa aku diizinkan untuk pergi? Mana ada satu bulan lagi. Tuh orang baik banget ya… Duit gak habis apa? 


Zukhruf berjalan ke kamar Ummi dan mengendap-endap masuk. Takutlah jika Ummi masih di kamar. 


"Ummi…. Ummi lagi apa di kamar?" 


Celingak-celinguk lihat kanan kiri. Tidak ada orang di kamar. Kemana mereka semua. Ia mencari seisi rumah pun tak ada. Halaman? Pekarangan? Belakang rumah? Tidak ada. 


Zukhruf duduk di sofa sambil merenggut masam. Mengambil camilan yang ada di sampingnya. Mengunyah dengan geram. 


"Mereka semua kemana lagi sih?" Padahal baru satu jam mereka pulang setelah kepergian Rafiq. Lalu mereka kemana lagi?" Menginap di rumah Mbah?" 


Membosankan


Zukhruf pun mengambil ponsel dari saku roknya. Dan membuka sosmed.


Apa aku harus beritahu yang lain mengenai hal ini? Tapi jika aku beritahu, apa itu condong ke sifat pamer?


Melihat sekilas satu ruangan tamu itu. Melihat sekelilingnya. 


Apa aku akan meninggalkan tempat ini selama sebulan? Tapi itu lama sekali dan juga aku berbuat apa di sana? Ah ya. Lisa?


Zukhruf menghentikan makannya dan pergi ke kamarnya. Membuka laptopnya dan mulai vidio call dengan Lisa. Ia duduk di kursi belajarnya. Mengambil camilan juga dan mulai memakannya.


Lisa: Assalamu'alaikum


Zukhruf: Wa'alaikumussalam 


Lisa: Ada apa? Tumben sekali pakai panggilan vidio. 


Zukhruf hanya diam dan terus makan camilan. Melihat Lisa yang duduk tenang sambil memperhatikannya. 


Lisa: Ouuu… Zukhruf kangen aku kan ya..? Memang aku itu ngangenin bukan? Hihi


Zukhruf: (Meletakkan tangannya sebagai tumpuan kepala). Aku mau tanya satu aja


Lisa: Banyak pun boleh.


Zukhruf: Diam dulu! 


Lisa kemudian diam dan mulai pergi dari layar laptop. 


Lah kemana tuh anak. 


Lisa: Taraa!! (Kembali dengan membawa surat lumayan besar di tangannya.)


Zukhruf: Apa itu?


Lisa: Diam dulu!


Kurang ajar kamu


Lisa: Aku kasih kamu kabar gembira kali ini… ! Aku bulan depan ada agenda.. Aku akan pergi ke……….


Zukhruf: Ke?


Lisa: Sabarlah dulu. Aku mau ke negara Korea!! Heyuu


Zukhruf: Korea?! Kamu mau ke Korea? (Senyuman mulai terukir) 


Lisa: Jangan senang dulu. Aku belum memberitahumu negara Korea yang mana.. Kenapa kamu malah senang seperti itu? Kalau aku dikirim ke Korut bagaimana? 


Zukhruf: Iya-ya. Cepat lah dibuka suratnya. Cepat baca!


Lisa: (Membaca dengan suasana hening dan santai. Lama-lama muka menjadi pucat) Eh…


Zukhruf: (Sedari tadi memperhatikan sambil memakan camilan dan minum es sirup) (dasar Zukhruf, yang masuk ke mulutmu hanya sirup mulu) Kenapa? Ada yang salah sama isinya?


Lisa: (Terkekeh tak jelas) Zukhruf mereka jahat, aku dilempar ke Kor...


Zukhruf: Yah, malah sedih. Cepatan lah. Aku ngantuk ni keburu tidur. 


Lisa: Aih, tak bisa apa, bermain drama sedikit.. Tak bisa diajak kompromi satu orang ini. 


Zukhruf: Kemana?


Lisa: Emmmmmm,...... Korsel!!! Yeeyyy


Lisa: Masih lama kenapa harus sekarang


Zukhruf: Gak masalah kan. Nanti kalau mendadak jadi ribet dan pasti ada yang tertinggal bukan?


Lisa: Terserah kau saja. Aku sedang malas berkemas. Papay… Lili mau tidur.


Lisa pun langsung mematikan sambungan. Zukhruf berdecak kesal. Bisa-bisanya dia mematikan sambungan panggilan saat Zukhruf sedang kesalnya. 


Bisanya mematikan telepon tanpa persetujuan dariku. Lihat nanti satu bulan kemudian. Lili, Lili? Sejak kapan punya nama lagi.


Sore ini Zukhruf sangat kesepian. Apa yang akan dilakukannya seorang diri di rumah tanpa keluarganya. Apa perlu ia memanggil teman untuk datang ke rumahnya hari ini saja?


Apa aku panggil orang saja ya. Eit tapi udah sore ini. Udah, kenapa panggil orang segala. Kayak kurang kerjaan aja. 


Zukhruf pun memilih untuk membersihkan seluruh rumah. Lalu mencuci semua yang kotor. Menyiram tanaman. Selesai sudah pekerjaan rumahnya. 


Capek juga jadi ibu rumah tangga. 


"Hai."


Di depan rumah ia masih berdiri di sana seusai menyiram bunga-bunga.


Zukhruf menoleh ke sumber suara. Dilihatnya pria berambut gondrong namun pendek sehingga menutupi dari yang namanya rambut gondrong. Tapi tetaplah rambut itu gondrong. Berpakaian rapi dengan kemeja kotak-kotak hitam putih serta celana jins. Dia memakai masker hitam yang biasa orang lain kenakan. Di sampingnya ada motor yang habis ia gunakan. Motor matic berwarna merah dan putih.


Aku tau


Siapa lagi jika bukan pengganggu dalam hidupnya. Yang selalu memaksanya dan setiap permintaan harus dikabulkan. Rafiq. 


"Ada apa?" Zukhruf mengamati seluruh tubuh Rafiq dari atas sampai bawah lagi. 


Rapi banget. Mau kemana dia?


"Mau menginap di rumah teman," jawabnya santai sambil membuka maskernya. 


Sama sekali bersih tanpa ada kotoran di wajah ataupun jerawat dan semacamnya. Memang begitulah dia. 


"Lalu kenapa mampir dulu ke rumahku?" Sambil menyentuh bunga yang ada di sampingnya. 


Menyentuh, menyentuh, dan menyentuh. Dan akhirnya, 


"Aww,," 


"Kenapa?"


Jari Zukhruf tertusuk duri mawar. Mawar milik Zukhruf sangat besar sehingga duri yang dihasilkan cukup banyak dan berhasil membuat jari mungil itu tertusuk dalam dan meninggalkan tiga lubang tusukan.


"Gak papa," ucapnya sambil berusaha tetap tenang dan santai. 


Tanpa aba-aba Rafiq masuk ke halaman rumah dan memasukkan sepedanya di dalam rumah. Zukhruf mengernyitkan dahi sambil mengikuti Rafiq dari belakang menuju rumah. 


"Kamu ngapain?" tanyanya heran pada Rafiq yang sibuk dengan sepedanya, sambil berusaha mengeluarkan darah kotor dari ketiga jarinya satu-persatu. 


"Menginap."


"Nginap lagi? Gak boleh!" Masih mengeluarkan darah dengan memencetnya. 


"Ini perintah." Selesai memarkirkan sepedanya. "Sakit kalau dipencet terus. Dihisap tu pake mulut. Lumayan gak sakit." 


"Jijik. Gak mau." 


"Hisap sendiri atau aku yang hisap?" Berdiri di depan Zukhruf dengan menyilangkan kedua tangannya sambil menatap Zukhruf. 


"Iya-iya." Lalu pergi meninggalkan Rafiq di tempat dan ke kamarnya. 


"Aku tau kau akan menginap. Jadi urus saja dirimu sendiri."


Memencet jarinya lagi sampai darahnya berhenti keluar.


"Eh..? Astaghfirullah. Aku gak boleh ngomong gitu.."


Rafiq yang dari tadi memperhatikan dari balik pintu. Mendengarkan apa saja yang Zukhruf ucapkan. Namun Zukhruf sama sekali tak menyadari hal itu.


Dasar kepala batu!


Lalu pergi ke kamar yang kemarin pernah ia pakai untuk menginap dan sudah dibersihkan oleh Zukhruf. Rafiq melihat ada sesuatu yang janggal di matanya. Ia mendekat ke kasur yang di atasnya terletak sesuatu yang tak asing baginya. Ia mengambilnya dan kembali duduk di bawah lantai dengan kaki bersila. Membiarkan pintu kamar yang sedari tadi terbuka sedikit. Hawa angin sejuk datang dari luar kamar melalui pintu. Sedikit terkejut.


"Ini….?"