
"Zukh!"
"Hmm?" Menoleh ke wajah Rafiq. Rafiq terus menatapnya, tanpa menjawab. Tatapannya semakin dalam. Zukhruf memalingkan wajahnya. Rafiq tersenyum.
"Zukh!" Menoleh sekali lagi. Rafiq menatapnya lebih dalam. Zukhruf tersadar dengan perlakuan Rafiq yang sengaja ia lakukan. Menatap seluruh wajah Rafiq.
Farhan yang melihat Rafiq sengaja melamunkan Zukhruf, mencubit lengannya. "Awh! Sakit woi!" Akhirnya tersadar juga. Farhan tertawa, begitupun lainnya. Ternyata mereka semua tahu.
"Jangan dilihat terus! Naksir lo!" kata Cici. Rafiq cuek terhadapnya.
"Farhan sembuhin gak!" gertak Rafiq padanya sedangkan Farhan menahan tawa karena muka Rafiq yang terlihat sangat kesal.
"Sini!" Zukhruf mengajukan diri dengan suara pelan.
"Cieee"
"Apa sih."
Rafiq mengulurkan tangannya yang berdarah karena cubitan Farhan menggunakan kuku dan lumayan dalam.
"Eiiiit! Rafiq gak boleh. Bukan muhrim," kata Cici menjahilinya. "Benar kan?" Semua tertawa karena wajah Rafiq yang cemberut. Ia pun terpaksa mengobatinya sendiri.
"Ayo main lagi!" kata Bu Reyna.
Mereka pun bermain sampai permainan kesembilan. Kedua kelompok mendapatkan poin seri. Kira-kira soal apa yang akan dipertanyakan oleh Bu Reyna. Apakah sulit ataukah mudah. Mereka sangat serius dalam permainan ini.
Ayolah... Bu, jangan beri pertanyaan yang sulit..
Sedangkan masih terlihat beberapa anak yang sans aja. Salah satunya Zukhruf.
"Pertanyaan terakhir. Ini menentukan kemenangan kelompok kalian.."
deg.. deg..deg
"Sebutkan nomor ponsel ketua kalian!" Bu Reyna tersenyum. Mereka terkejut tak karuan.
"Bu... Beri kami pertanyaan lain.. Ini sangat sulit.." protes Afrik.
"Iya, bu Na..."
Mereka semua mengeluh. Pertanyaan macam apa itu? Tidak adakah soal yang lebih mudah dan dapat dinalar?
"Ibu tidak meminta komentar kalian. Cepat tulis dalam waktu satu menit." Bu Reyna tersenyum lagi.
Rafiq. Terima kasih sudah menjadi pemimpinku.
Zukhruf menulis hanya dalam lima detik. Mereka yakin hanya ketua mereka saja yang tahu tentang itu. Jadi mereka menyantai dalam kesempatan kali ini.
"Angkat!" Semua pun mengangkatnya. "Rafiq, Ajik! Teliti jawaban mereka."
Rafiq mendapat dua poin, sedangkan Ajik mendapat satu poin.
Zukhruf hafal nomerku?
"Yeay! Tim kami menang! Kalian kalah..." teriak Afrik di tengah halaman. Dasar anak kecil. Padahal dia paling tua di antara teman-teman lainnya. Tim Ajik dihukum berdiri di tengah lapang selama lima menit.
Rafiq dan Zukhruf masih berdiri di sana dengan beberapa anggota lainnya. Sedangkan yang lain duduk melihat pemandangan beberapa tiang listrik yang kepanasan. Zukhruf melihat Rafiq hendak berbuat sesuatu padanya. Ia tahu pertanyaan apa yang akan dilontarkan kepadanya. Ia langsung membalikkan badannya membelakangi Rafiq.
"Zukh." Ia tak menoleh dan hanya menjawab, "Hmm?"
"Zukh!" Zukhruf tak menoleh dan hanya memberikan jawaban yang sama dan itu membuat Rafiq kesal.
"Zukhruf!" suaranya mulai meninggi.
Zukhruf langsung membalikkan badannya dengan cepat dan sigap. "Ya?"
Rafiq jadi ingin tertawa melihat kejadian itu. Ternyata Zukhruf takut dengan bentakannya.
Sangat patuh.. gumam Rafiq senang. Sadar dari lamunannya setelah Zukhruf bersin. Zukhruf menunduk, tak ingin melihat karena takut.
"Zukhruf! Kenapa hafal nomerku?"
Zukhruf merasa dirinya sedang disidang. Ia menggeleng seperti menyembunyikan sesuatu dari Rafiq.
"Jangan di sini. Aku malu dilihat orang." Ia pun pergi ke koridor dan duduk. Rafiq mengikutinya dan duduk di kursi taman.
"Apa penting menanyakan ini?" Zukhruf memulainya bicara dengan pura-pura tidak tahu apapun. Rafiq mengangguk setuju. Zukhruf serasa malas sekali untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Itu wajar."
"Alasannya?"
"Ya.. Karena kamu temanku kan?" jawabnya dengan lumayan gugup. Sedangkan tatapan Rafiq sangat serius. Tak ada ekspresi bercanda seperti Rafiq kecil dulu. Sangat menakutkan.
Beberapa detik kemudian,
"Rafiq..."
Rafiq menaikkan satu alisnya. Tak ada senyuman sama sekali. Ketahuilah Rafiq... Zukhruf sangat takut padamu. Wajahmu berubah dingin, Zukhruf melihatnya jadi merinding.
"Bisa tidak kamu senyum?"
Permintaan apa ini?
Namun Rafiq tak juga tersenyum. Suasananya jadi canggung.
"Kalau kamu begitu, aku susah menjelaskan." Ia menutupi rasa takutnya. Karena tak biasanya ia dihadapkan dengan orang dingin seperti makhluk yang satu ini.
Rafiq terpaksa tersenyum. Sebenarnya ia sangat tak suka jika orang lain mengetahui nomornya, apalagi sampai menghafalnya. Karena mereka pasti akan menjadi pengganggu dalam hidupnya. Sebab itu ia memaksa Zukhruf kali ini walau ia saling berteman. "Jelaskan!"
Zukhruf mencari jawaban yang tepat. "Tadi pagi kita chatingan kan? Sebab itu aku langsung hafal hanya dengan melihat nomor orang asing yang masuk ke ponselku."
"Aku asing?!"
"Eh.. Bukan gitu maksudku..." mulai khawatir.
"Hmm.." lalu pergi. Ngambek pastinya.
Kupikir dia sengaja menghafalnya karena suka. Dia suka aku atau tidak..? Gak mungkin cowok ganteng gini ditolak
~•~
Di taman, mereka berbincang mengenai pekerjaan yang mereka dapatkan. Ada yang jadi dosen, dokter, tentara, pengusaha, dan lainnya. Bahkan ada yang menjadi koki dan pelayan hotel. Semua mereka kerjakan dengan senang hati asalkan halal. Ada yang jadi CEO tidak? Ada. Rafiq. Pantas saja dia terlihat dingin sekali dewasa ini. Ajik jangan ditanya lagi. Dia jadi pilot dengan gaji tak kalah tinggi dari Rafiq. Walau selisih sedikit.
"Waaah.... Anak Ibu sekarang sukses semua."
"Pasti dong Bu angkatan kita lulusan pertama anaknya gaul dan keren pintar pula apalagi gurunya kece banget so pasti anak-anaknya sukses ganteng-ganteng juga keren yeah!" jelas Afrik.
"Frik. Sejak kapan belajar ngerap?" tanya Bu Reyna yang disusul gelak tawa temannya.
"Hehe... Doakan jadi Idol ya... Kami kan anaknya Bu Reyna yang ganteng-ganteng."
"Woi! Cantiknya mana?!"
"Gak ada yang cantik. Selain Zukhruf." ledeknya lalu pergi ke kelas. Di kelas ada lima orang.
Cici mendekatkan wajahnya ke Afrik yang makin lama makin dekat.
"Heh, berhenti! Main nyosor aja."
"Aku cuma tanya. Siapa perempuan yang paling cantik?" Seperti cerita Snow White saja. Afrik pun menyerah, daripada tersentuh Cici.
"Kamu paling imut, manis, dan cantik sedunia." Cici jadi malu sendiri.
Cieee
"Tapi lebih cantik mamaku." sok cuek. Semua terdiam. Cici mundur dan merengut.
"Yaah, Afrik. Gak ada romantisnya," kata yang lain.
"Rik, boleh pegang dagumu gak?"
Cieee..
Afrik menepis tangan Cici yang hampir menyentuh dirinya.
"Non-mahrom!" kata Afrik langsung lari menjauhi Cici.
Tak lama kemudian Afrik masuk kelas.
"Rik, mana Cici?"
"Hmm,"
"Kayaknya dia suka kamu, Rik."
"Hmm.."
"Sumpah ni orang, abis makan es batu berapa kamu?"
"Hmm."
"Kumat dah ni. Sudah jangan ganggu lagi. Bisa-bisa minggu ini musim salju kalau bear kutub marah."
Afrik memukul meja, pertanda menyuruh semua keluar. Akhirnya kelas kosong dan hanya dirinya sendiri.
~•~
Cici dari tadi keliling sekolah mencari Afrik. Entah kenapa hari ini Cici suka dekat dengannya. Rasanya sangat nyaman. Tapi Afriknya saja yang tidak mau. Afrik benci sama cewek yang genit apalagi sampai pegang-pegang begitu. Ia memutuskan untuk ke kelas lagi.
"Ketemu kamu..!" Cici baru sadar jika Afrik sendiri di sana.
"Kok kamu sendiri?"
Afrik mendekati Cici dan mendekatkan wajahnya. Ia berbisik, "Ayo menikah."
"Haah?!" Cici terperanjat.
"Jika kamu menggangguku terus, lebih baik menikah saja. Aku tak suka diganggu."
"Aaaaa! Gak mau...." Cici kabur keluar kelas dengan langkah terbirit-birit. Hampir gagal jantung dia.
~•~
"Kamu kenapa, Ci?" tanya Zukhruf yang ada di musholla.
"Eh, gak papa. Kamu ngapain di sini?"
"Hafalan."
"Oh, aku ganggu kamu ya?"
"Gak."
Sumpah..! Hidupku kok kek gini sih. Dicuekin dua orang sekaligus satu hari ni.. Zukhruf masih fokus sendiri. Bener-bener aku gak dianggap! lalu pergi.
~•~
"Hah! Tuh anak langsung takut dibilang gitu. Nguntit terus sih." Afrik pergi ke perpustakaan. Di sana ia melihat Farhan, Marno, Ziddan dan Rafiq.
"Kalian disini juga?"
"Hmm. Sini, Rik. Lebih sejuk di perpus," kata Farhan sambil bermain ponsel.
"Ke sini niat baca apa nongkrong cari wifi?" kata Marno layaknya menceramahi.
"Haha... Farhan kalo sudah pegang hp jangan ditanya lagi. Apalagi yang di pojok tuh," kata Ziddan sambil mengisyaratkan ke arah Rafiq. Ya. Disana Rafiq sibuk dengan laptopnya karena banyak tugas yang harus ia selesaikan.
"Kalo dia, jangan sampai keganggu. Digigit kalian!" jelas Farhan.
Terlihat Rafiq masih fokus dengan laptopnya. Tak ada yang berani mengganggunya ketika ia sangat serius. Dulu jika ada yang mengganggu, mereka akan kena cubitan di lengan. Mungkin sekarang lebih dari itu.
"Argh!" menggeram.
"Kenapa Fiq?" Farhan mendengar itu pun bertanya.
"Virus. Ada yang bisa gak?" semua menggeleng. "Lupa caranya lagi." lalu menuruni tangga.
Pusing aku kalau cari dia gak ketemu. Chat aja lah.
Cp WhatsApp,
"Ke sini! Cepat!"
Tuh anak main suruh aja. Emang dia raja apa ya?!
Zukhruf: Ada apa?
Rafiq: Ke sinilah. Penting. Di tangga
"Sepenting inikah sampai mencariku?" lalu cuss, ketangga.
Di tangga..
Rafiq tersenyum pada Zukhruf. Tumben sekali.
"Apa?" Zukhruf membuka pembicaraan. Lalu Rafiq menyerahkan laptopnya.
"Eh.. Kenapa?"
"Bersihkan virusnya."
"Kenapa harus aku?"
Kenapa dia jadi banyak tanya. Gak kayak dulu yang pendiam. Jangan-jangan dia mulai nyaman denganku. Hehe..
Zukhruf langsung masuk kelas dan mengambil bangku paling depan untuk duduk. Rafiq menyusulnya.
"Kamu di luar. Jangan masuk."
Rafiq tetap masuk dan duduk di bangku sampingnya Zukhruf.
"Rafiq." lalu Rafiq meliriknya.
"Kamu ganggu aku." Rafiq mengalah dan duduk di bangku paling belakang dan pojok. Sebenarnya ia juga gugup jika berdekatan dengan Rafiq.
"Bilang kalau sudah," kata Rafiq lalu bermain ponsel. Zukhruf tak menjawab dan terus melanjutkan aksinya. Rafiq tahu ia harus meminta bantuan ke siapa. Karena Zukhruf anak IT dan seorang progammer.
Baru beberapa menit, Zukhruf sudah menyelesaikannya. Matanya tertuju ke sudut kelas.
"Yaah, tidur sih. Bangunin gak ya..?" Zukhruf menutup laptop dan membawanya ke pojok. Ia melihat Rafiq nyenyak sekali. Zukhruf meletakkan laptop itu di meja. Lalu meninggalkan Rafiq tanpa membangunkannya.
Ssstt**t!
Eh! Zukhruf merasa ada yang menghentikan langkahnya. Lengan bajunya serasa ditarik. Menghadap ke belakang.
"Rafiq?" Zukhruf mencoba melepaskan tangannya dari Rafiq. Rafiq tak melepaskan, justru menatapnya lekat. Zukhruf jadi keringat dingin. "Fiq, jangan gini.." Rafiq mendudukkan Zukhruf di bangku sampingnya tanpa menyentuhnya. Ia hanya mendekatkan tubuhnya ke Zukhruf dan Zukhruf melangkah mundur dan terduduk. Zukhruf terlihat takut.
Ada apa dengan Rafiq?
Rafiq mendekatkan wajahnya ke Zukhruf. Zukhruf sama sekali tak menggerakkan satu anggota tubuh pun. Ia terpaku di tempat. Rafiq semakin mendekat. Zukhruf melihat bibir Rafiq sekilas.
Apa dia mau menciumku seperti di drama? batinnya yang langsung menutup matanya.
"Kenapa diam?" Zukhruf membuka mata setelah mendengar suara. "Harusnya mengelak dan menghindar. Memukul atau melawan jika perlu."
"Maksudmu?" tanya Zukhruf dengan nada ketakutan.
"Bagaimana bisa kamu hanya diam disaat seperti ini?" lalu memundurkan tubuhnya dari Zukhruf.
Zukhruf lega. Ternyata hanya main-main.
"Tapi aku tadi..."
"Bagaimana kalau aku menciummu?"
Jangan lupa rate, komen, like, dan vote