
Zukhruf terkejut dengan apa yang dilihatnya. Rafiq melakukan sesuatu terhadap barangnya.
"Rafiq, jangan buka laptopku!"
"Apa ada yang kau sembunyikan?"
Zukhruf menggeleng. Rafiq mulai membukanya lagi.
"Jangan!" Perkataannya membuat Rafiq menghentikan aksinya.
"Kenapa? Sepertinya ada yang kau sembunyikan."
"Tidak. Nanti laptopnya bervirus karena tanganmu." Ia berbohong.
"Kau bilang apa tadi?"
"Tidak-tidak. Kemarilah. Ayo menonton bersama."
Rafiq menyerah dan turun ke bawah sambil membawa laptop tersebut tanpa ketahuan Zukhruf. Ia duduk di samping Zukhruf. Zukhruf merasa risih dan akhirnya menjauh darinya. Rafiq hanya memperhatikannya tanpa bicara dan sesekali menatap TV.
"Rafiq! Kau kenal mereka tidak?" ucapnya sambil mengarahkan telunjuknya ke grup Idol yang tayang saat ini. Namun Rafiq menggeleng dan sesekali berusaha membuka laptop Zukhruf dengan sembunyi-sembunyi.
"Kalau itu, apa kamu tau?" Tiba-tiba menoleh dan membuat Rafiq terkejut.
"Hah iya?"
"Kenapa kau? Kamu dari tadi tidak menjawabku. Tidak usah bersembunyi. Aku tau kau masih memegang laptopku." Tersenyum miring.
"Hmm." Menyerah dan meletakkan laptop itu ke atas meja. Ikut menonton.
Zukhruf tersenyum bahagia. Tapi ia malah menanyakan sesuatu yang kemungkinan akan membuat Rafiq marah.
"Rafiq. Kau tau dia?" Menunjuk seseorang yang memakai bandana yang diikatkan di kepala sehingga rambutnya tersibak dan terlihat jelas semua dahinya. Menggeleng tak tau lagi yang ditanyakan.
"Rafiq. Kamu... Kenapa tidak mengenal mereka?" tanyanya heran. Namun dia hanya diabaikan oleh Rafiq. Mencoba menjadikan suasana tidak hening. "Fiq. Tau gak? Dia lebih tampan dan dewasa saat ini. Lihat gaya rambutnya!" Zukhruf tersenyum.
Rafiq merespon untuk kali ini, Apa? Tampan? Bukannya lebih tampan aku? Dasar cewek suka ma Oppa-Oppa. "Jangan berpaling."
Zukhruf menoleh. "Berpaling? Kau siapaku?" Kembali menatap TV. "Aku benar-benar punya pacar."
"Gak percaya."
Terserah kau. Tapi aku bakal dapatin dia. Senyum miring.
"Nonton konser terus, emang udah selesai novelnya?"
Zukhruf mengangguk tanpa melihat wajah Rafiq.
"Kau tidak lelah?"
Mengangguk sekali lagi.
"Apa sudah dikirim?"
Mengangguk lagi.
Rafiq yang merasa dirinya diabaikan langsung mengambil remot TV dan mematikannya.
"Kenapa dimatikan?" Memandang Rafiq dengan muka kesal.
"Apa perlu aku mengubah wajahku?"
Zukhruf mengambil laptopnya dan beranjak pergi ke kamar. "Be yourself."
Malam hari.
Zukhruf langsung masuk kamar dan mengabaikan Rafiq. Rafiq bingung dengan sikap Zukhruf yang mendadak berubah dingin lagi. Ia mengetuk pintu kamar.
"Gak makan dulu?"
Tak ada jawaban. Ia membuka pintu kamar sedikit demi sedikit. Dan akhirnya terbuka. Ia melihat Zukhruf sedang duduk di kursi belajarnya dan tertidur di sana dengan laptop masih menyala. Ya. Memang sudah menjadi kebiasaan Zukhruf jika ia lupa mematikan laptopnya sebelum tidur. Begitupun dengan ponsel. Ia pernah terciduk memasang walpaper dengan gambar Idol di layar ponselnya oleh Abi.
Ni anak lucu kalau tidur. Mata masih kebuka begitu, ingin menutup mata Zukhruf yang masih terbuka. Hey sadar. Dia nanti marah kalau tau.
Rafiq memutuskan untuk mengambil laptop itu dan melihat-lihat isinya. Yang paling ia inginkan melihat wordnya. Melihat Zukhruf sekilas. Masih tidur. Rafiq membuka halaman terakhir. Dilihatnya itu curhatan Zukhruf yang ditulis di word dengan font Italic.
Curhat lewat tulisan? Bagus sih
Lalu ia membuka word lainnya. Ternyata isinya tentang curhatan Zukhruf dan cerita-cerita lainnya. Ada juga penggalan-penggalan novelnya. Puisi pastinya ada. Yakin, jika semua isi puisi yang ditulis bertemakan perasaan. Rafiq mengagumi Zukhruf yang juga ahli di bidang sastra. Mengingat dulu SMP yang sering mengikuti lomba-lomba tentang kepenulisan. Namun jarang sekali mendapat kejuaraan. Tapi karena semangatnya yang tinggi, ia masih bertahan di bidang ini. Membuka semua chat dan grup What'sApp yang ada di laptop. Lihat. Zukhruf sangat menekuni pekerjaan ini, hingga semua grup seminar, atau materi kepenulisan ia masuki.
Ini grup banyak sekali. 100 grup! Hebat. melirik Zukhruf. Masih tertidur. Kurasa dia tidak akan bangun malam.
Rafiq pun mulai mengangkat Zukhruf dan menidurkannya di ranjang. "Maaf" lirihnya pelan. Mulai keluar kamar dan menutup pintu. Rafiq pun membawa laptop itu ke kamarnya yang sudah disiapkan Zukhruf untuknya.
Di kamar. Ia tidak tidur. Tapi ia membaca novel yang menjadikan Zukhruf lelah hingga masuk rumah sakit. Sambil mendengarkan musik.
Ada-ada aja nulis novel sampai sakit.
Melihat episodenya, Rafiq ternganga. Benar-benar tak bisa dibayangkan. Zukhruf menulis 200 episode selama sebulan. Tambah terkejut lagi, saat ia melihat tanggal dibuatnya. One day five episode?! Apa gak pusing. Satu episode seribu kata. Menggeleng tak percaya dengan kelakuan Zukhruf. Gak boleh dibiarin. Bisa masuk rumah sakit lima kali sebulan ini.
Ia melihat isinya. Membaca dari awal hingga akhir. Lama sekali tak selesai hingga pagi. Ia tidak tidur karena membaca novel tersebut. Isinya tentang hati. Karena membacanya juga sangat cepat, akhirnya ia menamatkan novel itu semalaman. Ia pun langsung meletakkan laptop itu di kamar Zukhruf sebelum fajar tiba dan kembali ke kamarnya lalu tidur.
Pagi hari, 05.00
Zukhruf bangun. Ia terheran dengan dirinya yang sudah di ranjangnya. Siapa yang memindahkannya.
Ini pasti Rafiq. Kurang ajar dia sentuh-sentuh aku.
Lalu ia pun keluar kamar. Seperti biasa ia melakukan aktivitas paginya. Pastinya ia sudah mandi karena hari ini ia berencana pergi ke asrama sekedar mengunjungi. Hari ini juga akan diumumkan pemenang lomba.
Tak lupa ia memasak untuk pagi ini. Ia pun kembali ke kamar setelah masakannya sudah siap. Di kamar ia mengemasi barang yang akan dibawanya nanti. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul enam tepat.
Keluar kamar dan mengecek kamar Rafiq. "Belum bangun juga?" Apa tiap hari dia selalu molor? Oh ya. Dia kan Ceo. Bisa seenaknya sendiri.
Tok, tok, tok
Tidak ada jawaban. Zukhruf mengulangi sampai tiga kali dan... Der! Der! Der!
Berisik! batin Rafiq saat membuka matanya, "Diam!"
"Rafiq bangun."
Rafiq berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dan terjadilah suatu hal.
"Argh!!"
"Rafiq maaf." Merasa bersalah. Karena bukannya pintu yang ia tendang, namun kaki Rafiq.
Rafiq kembali masuk kamar dan duduk di ranjang. "Kenapa diam di sana? Sini bantu." Zukhruf menghampiri dan berdiri di hadapan Rafiq. "Ah tulangku... Pijat kakiku. Kau akan menanggungnya jika patah tulang."
Zukhruf langsung kabur dan menutup pintu kamar. Ia siap berangkat dan mengirim chat terlebih dahulu.
Zukhruf: Aku pergi dulu. Jaga rumah. Kalau keluargaku sudah datang, kau boleh pergi. Sebagai gantinya, kau boleh makan sepuasnya di rumah.
Sesampainya di depan asrama. Zukhruf berjumpa dengan teman sekamarnya.
"Assalamu'alaikum," katanya sambil menjabat tangan temannya.
"Ayo ke kamar kita. Aku sudah dapat kuncinya dari penjaga asrama," kata Yoora.
"Yoora.. Kau baik sekali."
"Yo ora. Aku kan keturunannya Kang Jun."
"Siapa Kang Jun?" tanya Zoula.
"Kan aku sudah pernah cerita ke kamu, Zoul. Masak lupa? Baru setahun."
"Setahun lama uy!"
"Ish, kalian! Ayo masuk dulu. Panas disini," kata Muna.
"Lebay lu," balas Aznii.
Lalu mereka pun masuk ke dalam asrama.
Sampai di dalam kamar Marwah.
Zukhruf duduk di samping Lisa yang berada di dekat pintu kamar.
"Sudah siap atau belum?"
"In Syaa' Allah sudah. Aku berangkat setelah ini."
"Yaa... Siapkan hatimu ya?"
"Oke.." Memandang sekeliling lorong asrama.
"Lisa,"
"Hmm?"
"Mengapa firasatku tidak enak ya?"
"Jangan berfikir macam-macam. Optimis saja."
"Bukan..."
"Lalu?"
"Sebentar." Zukhruf mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Rafiq.
Zukhruf: Kamu di rumah gak ada masalah kan?"
Rafiq: Hmm
Zukhruf: Aku tanya sungguhan
Bukannya membalas namun Rafiq malah memulai panggilan vidio. Zukhruf terkejut dan langsung menjawab.
Zukhruf: Kenapa di kamarku...?! Cepat keluar! (*Berun*tung almari sudah aku kunci semua)
Rafiq: Aku lihat isi kamarmu. Apa juga suka pink.
Zukhruf: (Pikiran pusing gini, sana malah ajak bercanda. Konyol kali) (Mematikan sambungan)
"Hayo.. Siapa itu Zukh?" Zukhruf menggeleng.
"Kamu berangkat sana! Ini sudah waktunya," kata Lisa.
"Kalian tidak ikut?"
"Tidak. Barusan admin bilang, ternyata tak boleh ada yang hadir selain keluarga sendiri."
"Zukhruf, tidak masalah. Kami dukung di belakang. Hwaiting!!" kata Yoora menyemangati Zukhruf.
Zukhruf tersenyum dan pergi dari sana.
Di samping itu,
"Eh, bukannya fighting ya? Kamu bilang apa tadi? Heting?" tanya Muna.
"Itu artinya juga semangat, Mun.." jawab Aznii.
"Haduh." Yoora menepuk jidatnya.
"Biasa lah. Yoora kan nge-like sama siapa tuh. Jin-Jan-Jin apa tadi. Wajar orangnya ikutan kayak dia."
"Enak aja sebut dia Jin. Emang syaitan apa? Itu mah bahasa Korea, Mumun. Awas ya sembarangan sebut Kang Jun kek gitu lagi."
Di tempat pengumuman lomba.
Langsung saja juri memutuskan siapa yang akan mendapatkan tiket pesawat ke tiga negara tersebut. Zukhruf terpukul saat ini. Tak ada yang menemaninya. Bahkan keluarganya tak ada yang mendukung bakatnya sama sekali. Di saat seperti ini, harusnya ada Ummi di sampingnya. Hampir saja menitikkan air mata. Tapi hati harus tetap tabah. Membayangkan sikap Ummi yang selalu memarahinya ketika ia sedang menulis. Ia mengambil ponsel dan mulai panggilan vidio dengan teman sekamar.
Di kamar, yang mendapat panggilan itu langsung mengumpul jadi satu hingga memenuhi kamera. Itu membuatnya ingin tertawa. Zukhruf tersenyum. Dari tadi Zukhruf tak mendengar namanya disebut hingga sekarang. Karena itu ia memilih untuk menenangkan dirinya dengan tertawa bersama temannya. Dan pada akhirnya...
"Juara satu!"
Zukhruf masih melihat ke layar ponsel. Yoora bilang sambil tersenyum, "Zukhruf! Itu dengarkan ke depan!" Namun Zukhruf hanya menggeleng pelan dan tersenyum tak mau mendongakkan kepalanya untuk melihat MC itu. Yakin saja dirinya jika nama dengan tujuh huruf itu tak kan terpanggil.
"Diraih oleh..."
Zukhruf masih memandang latar itu sambil tersenyum-senyum melihat temannya.
"ZUKHRUF PERMATA LESTARI !!!"
Zukhruf langsung mendongak ke depan dan ternganga. Tidak mungkin,
"Heyyyyyyyyy! Zukhruf menang!!" teriak Karlinda.
"Wahh dia menang guys!"
"Luar biasa!"
"Zukhruf majulah."
Semua menyoraki Zukhruf, tidak dengan Yoora. Dia hanya tersenyum.
"Nama yang disebutkan, dimohon untuk maju ke depan," ucap MC tersebut.
Zukhruf masih tidak percaya akan hal ini. Ia masih diam di tempat. Termenung. Benarkah ini terjadi padaku? Aku tak percaya. Jika ini benar, maka tersenyumlah, Ummi. Lihatlah. Gak salahkan jika aku menulis. Menulis tidak salah, Mi..
Jatuhlah air mata. "Zukhruf jangan nangis. Ayo maju sana," sambil tersenyum Yoora menyemangati. Zukhruf sangat bahagia dengan ini. Tak kan dia lupakan momen ini yang sangat bersejarah baginya. Tingkat Internasional didapatkannya pada peringkat pertama. Sungguh hal paling bersejarah di hidupnya.