Life Is Move

Life Is Move
Jauhi Aku



Rafiq hendak pergi ke rumah Zukhruf. Ia berpamitan dengan Ibunya. "Bu. Rafiq pergi." Lalu mengambil motornya dan menjalankannya. Walaupun ia punya mobil, namun ia lebih suka menggunakan motor. Karena sudah terbiasa dengan itu. 


Sampailah ia dalam tiga puluh menit kemudian. Memarkirkan motor di depan rumah. Lalu berhenti sejenak di sana. "Kok sepi? Apa Zukhruf gak di rumah?" Keadaan rumah saat itu hening dan pintu tertutup. Daun-daun jatuh berserakan di tanah. Rafiq menyentuh lantai ubin tersebut dengan satu jarinya. Sangat kotor. Karena debu yang menempel pada jari kelingkingnya.


Ia membuka pintu rumah. Dan ternyata pintunya terkunci. Ia mengetuk pintu berulang-ulang namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Rafiq juga memanggil nama Zukhruf berulang kali. Tak ada balasan juga. Rafiq pun mengambil kunci cadangan. Memasukkan kunci tersebut dan akhirnya terbukalah pintu itu. Ia masuk dan melihat seluruh isi rumah. 


Ini kuburan atau rumah. Apa dia udah pergi? Katanya masih setengah bulan lagi.


Rafiq membuka pintu setiap ruangan.  Hening dan sepi tak terlihat orang di sana. Di mana mereka semua. Kalau Zukhruf pergi pasti sudah bilang padanya dan juga orang tuanya. Tapi orang tuanya seperti tidak mengetahui keberadaannya. 


Aku telpon dia barangkali dia barusan pergi. 


Rafiq menelpon Zukhruf namun sama sekali Zukhruf tidak bisa dihubungi untuk saat ini. Ia mengirim chat ke Zukhruf namun masih centang satu. Mencoba menelpon berulang-ulang kali dan hasilnya tetap sama. Lalu terlintas dipikirannya untuk menelpon temannya. Karlinda.


Karlinda: "Iya. Siapa?" (Membenarkan hijabnya)


Rafiq: "Zukhruf di rumah kamu gak?" 


Karlinda: "Lah Anda siapa tanya-tanya tentang dia? Apa pentingnya?"


Rafiq: "Cepat kasih tau, iya atau gak?"


Karlinda: "Maaf, Anda siapa, Pak?" (Mengekspresikan wajahnya kesal) "Dan juga darimana Bapak tau nomor HP saya?"


Rafiq : (Menggeram kesal karena dipanggil Bapak) "Umurku masih muda. Tinggal jawab Zukhruf ada di situ enggak!" 


Saat Karlinda hendak menjawab, Rafiq langsung berkata cepat.


Rafiq: "Aku calon imamnya."


Karlinda seketika teringat dengan perkataan Zukhruf waktu di asrama dua minggu yang lalu. Ia langsung mengganggap jika Rafiq adalah calon yang dibicarakan Zukhruf. Ia terlihat takut untuk bicara lagi. 


Karlinda: "Maaf-maaf, Mas. (Eh malah panggil Mas. Zukhruf marah nanti ). Zukhruf gak ada di rumah saya. Maaf. Maaf atas kelancangan saya tadi."


Rafiq dibuat makin bingung dengan perubahan sikap Karlinda. Hah! Dia kenapa tiba-tiba berubah gini, oh… Rafiq langsung mematikan sambungan teleponnya lalu tertawa karena ulah Karlinda. Bisanya dia kayak gitu 


"Aish Zukhruf, kemana dia. Nyusahin orang terus. Gak kasihan apa itu anak sama orang tuanya." Rafiq menelpon Ajik karena ia berpikir jika Ajik melakukan sesuatu kepada Zukhruf.


Mereka pun justru berdebat di telepon atas hilangnya Zukhruf.


~•~


"Apa aku harus bersihkan ini semua ya? Mungkin seharusnya begitu. Aku pun juga gak bayar penginapan di sini." Zukhruf merapikan barang-barang dan membersihkan apartemen tersebut. Membersihkan isi kulkas dan merapikannya.


"Oh ya, aku lupa tanya sama orang itu. Dia itu aneh dasar orang aneh. Aku keluarin aja lah semua. Nanti tak rapikan di kamarnya." Zukhruf mengeluarkan semua lotion dan skin care yang ada di sana. Lalu membawanya ke kamar secukup tangannya menggenggam. Merapikan semuanya di meja rias kamar penyewa apartemen ini. "Nah, sudah rapi kan. Taruh di sini kan rapi. Buat apa ditaruh di kulkas." 


Zukhruf melanjutkan merapikan kamar tersebut. Saat merapikan dan membersihkan meja kecil itu, ia melihat ada  bunga sakura segar di atas meja tersebut. Ia mencium bunga tersebut sebentar lalu meraruhnya kembali di tempatnya. Ia pun berniat untuk membuka laci dengan tujuan membersihkannya juga. Namun yang dilihatnya malah selembar kertas yang dilipat. Ia mengambil kertas itu dan berniat membacanya. "Ish Zukhruf apa-apaan sih. Gak boleh lihat-lihat privasi orang!" Namun apa yang terjadi. Kertas yang masih berada di tangan Zukhruf itu tertiup angin. Dan memperlihatkan  tulisan tangan yang rapi beserta sakura kering yang masih tercium baunya.


Zukhruf tak sengaja membaca isi dari kertas tersebut. Ia pun terkejut dengan apa yang tertulis di dalamnya. "Kenapa isinya sama persis dengan yang ada di mimpiku? Ini juga ada sakura kering dan warnanya juga sama." Zukhruf bingung dengan kejadian ini. "Gak lah, ini cuma kebetulan saja. Sudah-sudah, positif thinking saja." Meletakkan kertas itu ke dalam laci kembali.  


Lalu keluar dari kamar tersebut dan ke kamarnya, merapikan kamar yang dia pakai semalam. Ia mencari charger yang belum ia temukan. Namun ia tak kunjung juga menemukannya. Ia sudah lelah setengah hari menyelesaikan pekerjaan rumah ini. "Ini bukan pekerjaan rumah. Tapi pekerjaan apartemen. Eh katanya ini apartemen ya. Tapi mewah banget ini itu. Kalo aku yang menyewa ini, aku gak akan sanggup bayar biaya sewanya. Orang itu mungkin kaya raya kali." Melepas hijabnya dan ke kamar mandi. Selepas mandi ia duduk di sofa kamar. Dan memandang ke arah jendela. 


"Apa kabar ya mereka?"


~•~


Sore hari di rumah nenek Zukhruf.


Hati Ummi sangat tak tenang dari kemarin. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Dari kemarin hingga sekarang Ummi tidak selera makan. Abi yang setiap saat membujuk Ummi itu untuk makan sudah hampir lelah. "Ummi. Makan dulu. Nanti sakit kalau Ummi gak makan. Zukhruf itu udah besar, Mi. Dia pasti juga lagi mandiri di rumah sana." 


"Abi. Ayo kita ke rumah. Jenguk Zukhruf. Sudah dua hari Ummi belum jenguk," katanya sambil mengusap tangan Abi. 


"Ya udah. Satu hari lagi ya?"


"Lima hari lagi lah, Mi."


"Satu hari ayolah, Bi. Kasihan dia di sana sendiri."


"Kata siapa sendiri. Di sana ada Rafiq. Rafiq bakal jagain Zukhruf. Ummi tenang saja."


"Abi masih nggak khawatir sama mereka? Kalau Rafiq jahat bagaimana, Abi?" 


"Ummi ingat kata Abi. Rafiq itu teman Zukhruf. Dia sangat baik. Dia gak akan berani macam-macam ke Zukhruf. Dan juga dia itu sudah….,"


Derttt, derttt, derttt..


Tiba-tiba ponsel Abi bergetar memotong pembicaraan mereka berdua. Abi segera mengangkatnya. Ternyata Rafiq yang menelpon. 


Rafiq: "Assalamu'alaikum"


Abi: "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa, Nak? Zukhruf bagaimana kabarnya? Dia bersamamu kan, Fiq?"


Rafiq: "Saya menelpon Paman untuk membicarakan tentang Zukhruf."


Abi: "Zukhruf? Kenapa dia? Tidak apa-apa kan? Bisa Abi bicara sama dia, Fiq? Dari tadi Abi telpon dia tapi telponnya gak aktif. Jadi Abi kira baterainya lagi habis."


Rafiq: "Itu, Paman. Tadi pagi saya kembali ke sini. Tapi sesuatu terjadi di sini. Zukhruf gak ada di rumah." (Mengatakan dengan kegelisahannya)


Abi diam sebentar. Ummi yang memperhatikan pembicaraan mereka dari tadi mulai panik. Panik dengan pembicaraan mereka yang terhenti dan ekspresi Abi yang tak biasa.


"Abi. Rafiq jawab apa, Bi? Zukhruf kenapa Bi?"


"Eh Ummi.. Zukhruf gak ada di rumahnya. Ayo ke rumah, Mi!" Akhirnya mereka berdua segera pergi dan menuju ke rumah utamanya menyusul Rafiq yang masih ada di sana. 


~•~


Pukul tujuh belas, pintu apartemen yang ditempati Zukhruf itu terbuka. Terlihat muncul lelaki itu dengan pakaian yang sudah tak rapi lagi. Ia terlihat sangat lesu dan lelah. Sepertinya dia baru saja bekerja dengan keras. Entah apa pekerjaannya, Zukhruf belum mengetahuinya. Cara jalan lelaki itu sempoyongan. Masih tetap berjalan menuju ke dalam kamarnya. Zukhruf sedari tadi membiarkannya. Ia tahu apa yang terjadi pada lelaki di depannya ini. Zukhruf menjauh dari lelaki itu dan terus menjauhkan dirinya dan berharap jangan sampai ia terlihat olehnya. Karena ia mengingat pesan. Pesan yang sangat penting yang ditinggalkan untuknya sebelum lelaki itu berangkat. 


Flashback


"Dia mungkin bukan seperti mereka. Mungkin perempuan biasa. Buktinya perempuan itu biasa saja di dekatku. Apa dia belum melihat wajahku dari kemarin?" Tak lama kemudian Zukhruf muncul dari dalam kamarnya.


Zukhruf mendekat ke arah lelaki tersebut yang masih duduk di sofa. Melihat dan meneliti wajah Zukhruf. Zukhruf terlihat salah tingkah saat itu juga. Dan dengan segera meletakkan ponsel yang barusan dia ambil dari kamar di atas meja. 


Terlihat lelaki itu mengambil ponsel itu dan masih duduk tenang di sana. Dengan lirikan matanya, Zukhruf segera menyadari jika lelaki itu sedang menyuruhnya untuk ikut duduk di sofa tersebut. Akhirnya Zukhruf duduk bersebrangan. Ia melihat lelaki itu dalam-dalam. 


Kenapa dia menyuruhku duduk di sini? Bukannya dia mau pergi. Kok malah masih santainya? 


Zukhruf masih diam membisu. Ia tak berani berkata sebelum lelaki itu mengajaknya bicara. 


"Kamu harus dengarkan perintahku ini. Ini sangat penting untukmu." Zukhruf mengangguk pelan sambil mendengarkan apa yang akan lelaki itu ucapkan padanya. 


"Aku akan berangkat kerja. Dan kemungkinan akan pulang siang dan jika terlambat mungkin aku akan sampai di apartemen sore hari." Berhenti sejenak lalu memandang Zukhruf sekilas. "Inti yang harus kau patuhi ada di sini."


Zukhruf menilik lelaki itu dan mendengarkan dengan seksama. Tanpa bergerak sedikit pun. Terlihat lelaki itu akan melanjutkan pembicaraannya. Zukhruf menunduk dan lumayan gugup.


"Lihat aku." Zukhruf seketika langsung menatapnya. Dia tersenyum. "Perhatikan aku saat pulang nanti. Jika aku terlihat seperti bukan manusia normal, atau sikap yang aneh, atau bicaraku dan perlakuanku yang tak seperti orang yang wajar, tolong. Tolong jangan dekati aku. Aku sangat menekankan hal ini. Jauhi diriku di saat aku seperti itu nanti. Mengerti? Jauhi aku."


Zukhruf mengangguk paham dan mencoba menyunggingkan senyum ramah. Dia tak ingin suasananya menjadi sangat hening.