
Dua minggu sebelum Zukhruf berangkat. Zukhruf terkena masalah. Karena di hari kemarin-kemarin keputusannya untuk pergi ke Korsel tidak disetujui oleh orang tuanya terlebih lagi Umminya.
Sudah kuduga semuanya akan seperti ini. Mereka bahkan masih nekat jodohin aku sama Rafiq. Ya aku tau kalau membantah keputusannya memang tidak boleh dilakukan. Tapi jika aku gak ada cinta lagi untuk Rafiq, kenapa harus dipaksakan? Aku tau Rafiq baik dan sangat mapan. Tapi aku gak mau!
Huhhff!!
Zukhruf menatap langit-langit yang berwarna kuning keoranyean. Sudah hampir pukul empat. Ia mandi dan memakai pakaian yang rapi. Seperti hendak pergi keluar rumah.
"Aku harus bawa ini. Bawa ini. Yang ini. Ya. Ini juga. Eh. Iya. Aku kan punya uang ini." Membereskan barang-barang yang akan dibawa pergi. Apa rencana yang disusun olehnya. Ini sudah malam. Jangan berbuat ulah.
Aku udah gak betah lagi. Biarkan diriku yang bertindak sekarang. Ini cukup kan? Sudah berkali-kali kalian membuatku terpuruk. Aku memang benar-benar tidak ada yang mendukung. Iya. Dari siapapun itu. Tidak ada! Sambil memasang hijab di kepalanya.
Zukhruf melihat tidak ada orang di rumah. Rafiq pulang sehari yang lalu. Nenek Zukhruf pun juga pergi entah kemana. Semua pergi. Tidak ada harapan lagi di sini. Benar-benar membosankan.
Aku benci di sini!!
Zukhruf melangkahkan kakinya dan keluar dari rumah itu dengan sepeda kayuhnya. Sepeda yang ia biasa gunakan kemanapun ia pergi. Motor? Jangan tanya! Semua dipakai oleh yang pergi. Hanya ada sepeda setianya saat ini.
Zukhruf berencana mencari apartemen. Dia punya uang. Jadi dia bebas melakukan apapun dengan uang itu. Uang hasil kerja kerasnya sendiri. Komitmennya saat ini hanyalah, 'pergi sejauh-jauhnya dari rumah'. Dia sungguh kehilangan akal sehatnya. Kalimat itulah yang hanya ada dipikirannya saat ini.
Ia harus cari tempat untuk ia singgah. Dua jam kemudian ia sampai di perkotaan. Ia sangat lelah dan merasakan dirinya tidak akan kuat lagi untuk melangkah. Kakinya terasa pegal semua. Beruntungnya ban sepeda itu kuat sampai sini.
Aku gak kuat lagi. Ia berhenti di pinggiran jalan raya yang lumayan ramai kendaraan berlalu-lintas.
"Gak-gak! Aku harus kuat." Bersiap-siap untuk mengayuh sepedanya lagi. "Aku udah dapat tempatnya."
Zukhruf masih terus mengayuh sepedanya ke arah barat. Tapi tiba-tiba saja ada yang terjadi pada perutnya. Ia merasakan sakit yang sangat saat itu. Ia tidak tahu mengapa ini malah terjadi padanya sekarang. Ia harus cepat sampai dan sholat magrib. Itu yang ada dipikirannya. Mungkin ini ia sedang kedatangan. Karena tak tahan dan rasanya sakit sekali, ia mempercepat kayuhannya. Agar ia secepatnya istirahat.
Harus tahan. Tahan-tahan jangan lemah. Dikit lagi sampai, Ok? Yang kuat!
Rasanya ingin muntah. Ia jadi tak tahan lagi karena sebenarnya tadi siang ia belum makan. Ditambah lagi ia punya penyakit mag.
Jangan muntah! Tahan bentar! Mengayuh dengan sekuat tenaga yang tersisa.
Dia mulai mengerjap-erjapkan matanya. Perlahan-lahan kepalanya dilanda pusing yang lumayan parah. Alhasil ia pingsan di tengah perjalanannya. Namun siapa yang menyangka jika tak hanya sampai di situ saja hidupnya.
Bersyukurlah.
~•~
"Rafiq! Nak. Zukhruf bersamamu kan, Nak?" tanya Ummi.
Ummi saat itu sedang memasak untuk makan malam di rumah mertuanya. Sedangkan Abi selesai sholat.
"Maaf, Bu. Saya sekarang sedang di rumah saya. Jadi malam ini tidak bermalam dulu."
"Tapi kok Ummi jadi khawatir kalau kamu tidak bersama dia. Dia baik-baik saja kan?"
"Ummi. Sudahlah. Zukhruf baik-baik saja. Yakinlah. Ayo makan dulu. Matikan dulu telponnya."
"Ya sudah, Nak. Besok ke rumah Zukhruf ya… "
"Baik, Bu."
Zukhruf kan di rumah kemarin pas ku tinggal. Ngapain dia sekarang? Ku kirim dia chat aja. Dah lah mau ngerjain dulu, batin Rafiq yang di seberang sana.
Lalu sambungan terputus.
Di meja makan.
Ummi memandang Abinya berkali-kali. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Namun sepertinya ia harus bicara nanti setelah makan selesai.
Selepas makan, "Abi! Abi ngerasain sesuatu gak sih? Masak gak?"
"Tentang apa, Mi?" Menonton TV dengan sinetron favoritnya.
"Zukhruf."
"Memang kenapa Zukhruf? Dia di rumah sendiri paling juga sudah tidur jam segini."
Kekuatan Ibu dengan Ayah memang berbeda. Ibu jauh lebih merasakan.
~•~
Menggeliat kecil dan membuka matanya. Dilihat sekelilingnya. Mencari jam dinding. Tidak ada jam dinding di sana. Ruangan itu hanya satu ruangan yang lumayan besar dengan cat putih. Semua kain yang ada di ruangan itu pun juga berwarna putih.
Terlihat ada ponsel di meja samping ranjang yang ia duduki saat ini. Tidak tahu itu barang milik siapa. Menyalakan ponsel itu. Pukul enam lebih tiga puluh menit p.m.
"Astaghfirullah!" Zukhruf segera mencari kamar mandi dan melaksanakan sholat di ruangan tersebut.
Untung ada mukena di lemari sini.
Seusai sholat ia berdoa sampai waktu isya tiba.
"Sekalian sholat dulu."
Selepas berdoa, ia melipat mukena tersebut dan memasukannya ke dalam lemari besar itu. Ia berpikir keras. Sebenarnya dia tadi kenapa sampai sekarang bisa menginjakkan kakinya di tempat mewah ini. Ini tempat yang baru ia rasakan.
"Eh, aku tadi ngapain sholat? Kan aku lagi kedatangan." Menepuk keningnya.
"Aku sekarang lagi di mana sih?" Mengelilingi ruangan itu. "Kayak hotel ya?"
"Bentar.. Hotel? Ngapain aku di hotel?!" Melihat ke meja samping ranjang dan mengambil ponselnya. "Oh ya! Aku tadi kan lagi cari apartemen kan, dan kenapa malah jadinya di hotel? Dan, siapa yang membawaku ke sini?"
Zukhruf keluar dari kamar tersebut dan mencari tahu apa yang terjadi padanya. Ia seketika melihat lelaki berbadan lumayan besar darinya dan berambut lurus yang berwarna pirang. Kelihatannya lelaki itu lebih tinggi darinya. Duduk di kursi menghadap ke arah jendela ruang tamu ini yang di depannya ada meja. Terlihat seperti sedang mengerjakan sesuatu pada laptopnya. Ia sangat penasaran. Apakah dia adalah orang yang membawanya ke sini, ke tempat mewah ini?
Ia mendekat dan menyapanya terlebih dahulu, "Permisi."
Lelaki itu berbalik yang kepala masih menunduk dengan memegang laptopnya. Masih memperhatikan layar laptop tersebut dan mengutak-atiknya.
Zukhruf mengulangi lagi perkataannya. Lagi-lagi lelaki itu tidak juga mendongakkan kepalanya kepada Zukhruf.
Zukhruf masih bisa sabar. Tapi terbesit juga rasa takut pada dirinya. Ia ada di hotel bersama lelaki? Apa-apaan ini. Ia melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Namun ini sesuai juga dengan keinginannya. Pergi sejauh-jauhnya dari rumah.
"Permisi." Ia mengulangi ucapannya.
Seketika lelaki itu menjawab juga, "Hmm."
Lah. Cuma dijawab gitu? Aku sudah sapa berkali-kali dia cuma hmm doang?
"Maaf. Apa Anda yang membawa saya ke sini?" Masih berdiri di depan lelaki itu.
"Siapa Anda? Bolehkah saya tau nama Anda?"
Zukhruf mengintip sosok di depannya sedikit demi sedikit. Makin kebawah dan makin terlihat wajahnya. Terus kebawah. Ia ingin sekali memandang wajahnya. Agar ia tahu orang di depannya ini siapa sebenarnya.
Tiba-tiba saja lelaki itu berkata sesuatu.
"Go to sleep!"
Eh. Dia pakai bahasa Inggris? Orang mana sih ini? Berarti dari tadi aku ngomong dia gak ngerti.
Zukhruf tidak akan tidur jika ia belum mengetahui orang tersebut. Ia bingung hendak bicara apa lagi. Malas sekali ia berbicara bahasa Inggris saat ini.
"Emm.. I'm in hotel?"
"No."
"Hah? And then?"
"Go to sleep."
Dia tak mau menjawab. Aku tak mau buat dia marah. Orang itu sudah mengulangi perkataannya. Lebih baik aku ke kamar. Tapi aku lapar sekarang.
Zukhruf memutuskan untuk menuruti apa yang dikatakan lelaki tersebut dengan menahan rasa lapar. Di kamar ia masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Tapi dia sangat lapar.
Lapar...