Life Is Move

Life Is Move
Hyung Joon Gie



Sore hari di Indonesia.


"Karlinda?!" ucapnya lirih dengan sedikit terkejut karena Karlinda datang ke apartemennya.


Bagaimana Karlinda tahu apartemennya? Apakah ia naik sepeda motor ke sini? Apa dia datang sendiri?


Apa dia sudah makan?


Begitulah macam-macam isi pikiran yang ada di kepala Rafiq saat itu. Ia mulai berdiri dan mendekat ke arah Karlinda. Mengambil tas selempang yang tergantung di lehernya ke samping dan beralih membawanya ke arah sofa. Ia meletakkan di atas meja. 


Karlinda hanya diam. Tidak! Tubuhnya hanya diam, dia tak mengisyaratkan apapun, namun jantungnya berdebar tak karuan ketika Rafiq mendekat ke arahnya barusan.


Aduh, apa yang dia lakukan!? 


"Ekhm!" Rafiq berdeham sambil kepalanya tertunduk perlahan. Ia menetralkan suasana yang menegangkan barusan. Rafiq menegakkan kepalanya kembali dan menatap Karlinda. "Ada apa ke sini?" Nada suaranya datar dan tenang.


"A.. Hey! Kamu tidak menyuruhku duduk dulu?" Tiba-tiba Karlinda berani angkat suara. 


Rafiq menaikkan satu alisnya ke atas. Ia melihat bingkisan yang ada di tangan Karlinda. "Apa itu milikku?"


Karlinda mulai menatap arah pandang Rafiq. Melihat bingkisan yang masih tergantung di jemari tangannya. Ia menyahut, "Bukan! Ini masih milikku." Ia memandang Rafiq datar. 


Rafiq menatap matanya. Ia mengambil bingkisan itu dari tangan Karlinda dan membawanya masuk. "Sekarang sah milikku. Ayo masuk!"


Karlinda hanya mengikuti perkataan Rafiq. Ia bergumam dalam hati tentang perilaku Rafiq kepadanya yang sama seperti perlakuan Zukhruf. 


Dia memang sama lumayan menyebalkan seperti pawangnya. 


"Eum… Siapa namamu? Aku lupa," ucap Karlinda di saat ia sudah duduk di sofa ruang tamu itu. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Rafiq yang sedang berdiri menyiapkan jamuan di meja. 


"Rafiq." Sangat singkat.


Oh… Iya. Cowok playboy milik Zukhruf.


"Bisa tolong jelaskan perkataan tadi pagi saat di telepon?"


Rafiq beralih memandang Karlinda dengan gerak cepat. Ia menatap mata Karlinda dalam. 


~•~


"Alhamdulillah.… Pagi yang baik. Hari ini tidak terlalu dingin. Tiga belas hari lagi aku pulang, taraaaa...." Zukhruf tersenyum membayangkan wajah terkejut Umminya nanti saat ia memberi kejutan. "Hhh. Eum…. oleh-oleh apa yang harus aku beli dari sini?" Zukhruf terlihat sedang berpikir. 


"Makanan? Barang? Alat dapur? Alat kebersihan? Tunggu! Semua sudah ada di rumah, bahkan ummi hampir mengoleksi semuanya. Ya… Kecuali yang harganya mahal, tentu saja belum punya."


Zukhruf memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau mesin penutup cup minum itu? Ha-ha! Pasti sangat mengejutkan, bukan?? Ok! Mari kita mulai hari ini dengan semangat penuh, demi mesin penutup cup minum!"


Zukhruf beranjak dari tempat tidur dan mulai membuka tirai yang menghalangi cahaya matahari untuk masuk ke kamarnya. Ia pun mengambil pakaian dan handuknya ke kamar mandi. Zukhruf terbiasa membawa pakaian ganti ke kamar mandi. 


Lima belas menit berlalu. Ia telah menyelesaikan berbagai ritual mandinya. Tak butuh berlama-lama, Zukhruf langsung mengambil jilbab dari dalam lemari dan menuju ke cermin untuk bercermin. Lalu memakai sedikit pelembab wajah dan pelembab bibir dengan warna alami. 


"Cuss!" 


Ia pun mengambil dua lapis roti tawar yang diolesi susu putih kental manis. Setelah melahap habis, Zukhruf keluar dari apartemennya dan menuju ke pintu apartemen Lisa. 


Tok, tok, tok!


"Lisa!! Zukhruf berangkat!!!" Zukhruf langsung melengos pergi setelah melakukan itu. Beruntung tidak ada orang lewat di koridor apartemen tersebut. Apa ini terlalu pagi?


Setelah keluar dari gedung apartemen, ia mulai merasakan kedinginan di pagi hari. Ia memeluk dirinya sendiri dan mulai berjalan lagi ke tempat tujuan. "Tak masalah! Ayo semangat belajar dan mencari pengalaman! Ayaya!!" ucapnya lirih.


Rafiq… Aku harap aku menjadi penulis hebat, seperti kamu. CEO yang hebat! 


~•~


"Apa? Hari ini ada masalah pada produknya? Apa akan diganti lain hari untuk pemotretan iklan ini?"


"Nanti akan kami konfirmasi jika masalah sudah selesai teratasi. Sementara untuk kalian semua, dimohon tetap tinggal di sini."


"Baiklah."


"Tidak, tidak masalah. Anda lakukan saja dengan lebih hati-hati dan tenang."


"Apa Anda terlalu grogi, tuan direktur perusahaan? Ha-ha!" ucap model iklan yang lain.


"Mungkin seperti itu, he-he. Silakan beristirahatlah terlebih dahulu sambil menikmati jamuan yang ada."


"Terima kasih atas kebaikan Anda, direktur!" ucap salah satu dari mereka para model yang akan jadi brand ambassador produk direktur perusahaan tersebut.


"Terima kasih!" sambung yang lainnya.


Sebenarnya mereka bukan model, melainkan penyanyi papan atas di negara itu. Sambil menunggu pemotretan dimulai, sebagian ada yang dirias kembali dan salah satu dari mereka ada yang pergi ke kamar kecil. 


Di toilet perusahaan. 


"Halo!"


"..."


"Iya. Tolong katakan padanya, bahwa pemotretan akan selesai sore ini. Aku akan mengusahakan untuk datang tepat waktu."


"..."


"Baik. Terima kasih."


~•~


Pukul 4 sore WIB. 


Rafiq mencoba menelepon nomor seseorang. Namun tidak diangkat olehnya. Ia mencoba berkali-kali namun tetap sama tidak ada jawaban darinya. 


Dddrrrrrttt


Berdering. Namun tiba-tiba suara wanita terdengar dari sambungan telepon itu. "Maaf. Nomor yang Anda tuju, saat ini tidak dapat menerima panggilan. Cobalah beberapa saat lagi- "


Tuuttt


Ia mencoba lagi.


"Maaf- "


~•~


"Emm?? Maaf. Siapa ini?" Zukhruf bertanya kepada lawan bicaranya di telepon. 


Saat ini Zukhruf masih di acara itu. Sebentar lagi, pukul tujuh sore KST, yang artinya makan malam akan segera tiba setelah rapat ini berakhir. 


"Maaf semuanya. Tadi ada panggilan."


"Oh tidak apa-apa, Nona Zukhruf. Mari kita lanjutkan!"


"Baik."


Zukhruf melanjutkan penjelasan tentang rencana yang akan ia laksanakan di kemudian hari tentang program kepenulisannya.


"Maaf. Saya sedikit terlambat karena ada kendala saat perjalanan kemari."


"Oh!? Selamat datang, Tuan. Tidak Tuan, tidak masalah! Silakan duduk dan bergabung dengan kami."


Setelah pria itu duduk di tempat kosong, direktur perusahaan memperkenalkan dirinya kepada beberapa orang yang memang belum pernah melihatnya karena baru bergabung ke forum tersebut. 


"Baiklah. Mari saya perkenalkan terlebih dahulu. Beliau adalah salah satu member dari agensi musik terkenal yang ada di negara ini. Namanya adalah Hyung Joon Gie. Di sini Tuan Hyung yang akan ikut serta dalam pengisian lagu ke dalam buku Nona Zukhruf. Untuk kedepannya, kalian bisa mengkoordinir tugas dengan baik untuk hasil yang maksimal."


Zukhruf berdiri dan memberi salam hormat kepada Hyung Joon Gie. "Annyeong haseyo, hyeobjohaejusyeoseo khamsahamnida Hyung Joon Gie ssi. (Halo, terimakasih atas kerja samanya, Tuan Hyung Joon Gie)."


Zukhruf sedikit membungkukkan badannya dan mengatupkan kedua tangannya untuk memberi hormat kepada tamu di rapat kali ini. Ia sedikit tersenyum. Senyuman itu dibalas olehnya.


Hyung Joon Gie….