
Di kamarnya. Zukhruf sangat senang jika Rafiq menginap. Karena ia sangat takut jikalau ia harus tidur sendirian. Ia takut seperti dulu. Bagaimanapun ia juga manusia yang punya rasa takut.
"Rafiq!" Ucapnya saat Rafiq sedang asik menonton TV di ruang tamu. Namun tidak ada jawaban dari sana. Ia saat ini lagi ada di kamarnya, sedang membersihkan barang-barang yang belum ia tata kemarin. Ia mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam tasnya. Tapi ia takut jika melakukan itu sendiri. Ia memanggil Rafiq lagi.
"Rafiq!" Teriaknya dari kamarnya. Ia menunggu jawaban. Namun tak kunjung ia dapatkan suara Rafiq menjawab panggilannya. Ia pun membuka dan memainkan ponselnya setelah ia selesai membereskan semuanya.
Sudah jam sembilan. Aku harus tidur. Tapi gak bisa tidur…
Zukhruf mengirim pesan kepada seseorang. Tunggu. Karena ponsel Zukhruf sudah diganti, maka bahasa yang ada di ponselnya itu juga diganti olehnya. Agar bahasa yang sudah ia pelajari tidak ia lupakan. Ia juga mengirim pesan itu dengan bahasa lain.
Zukhruf : Halo. Maaf aku mengirim ini padamu malam-malam
? : Siapa? Kau orang jahat?
Zukhruf : Bukan. Aku Zukhruf. Namaku Zukhruf. Kau melupakanku?
? : Kau siapa? Aku tak mengenalmu sama sekali. Nama itu aku tidak mengenalnya dan belum pernah mendengarnya. Berhentilah mengangguku.
Zukhruf : (masak dia lupa sama aku siih?) Aku yang pernah kau belikan boneka
? : Siapa? Aku juga pernah membelikan boneka kepada keluargaku dan juga teman-temanku.
Zukhruf : (Oh iya! Dia kan gak kenal namaku)
"Zukhruf! Tidur! Udah malem jangan begadang!" Rafiq berteriak dari ruang tamu.
Zukhruf yang mendengar itu langsung mematikan ponselnya dan berlari pergi ke ruang tamu meninggalkan ponselnya di kamar. Ia duduk di samping Rafiq yang ada di lantai. Dan ikut menonton televisi. Awalnya acara TV tersebut terlihat tenang. Namun sesaat kemudian berubah menjadi menyeramkan. Suasana heningnya malam membuat rumahnya jadi menakutkan.
"Rafiq.." Ucapnya sambil menutup matanya.
Rafiq menoleh ke arah Zukhruf. Dilihatnya ia sangat lucu dengan momen ini. Ia memfoto Zukhruf yang terlihat ketakutan. Mengambil beberapa jepretan yang otomatis akan tersimpan di galerinya.
"Rafiq…" Rengeknya lagi. "Ganti channel-nya dong…"
Namun Rafiq sengaja tak menjawabnya. Itu terlihat menghibur bagi dirinya. Melihat Zukhruf si pendiam yang ketakutan. Ia memandangi Zukhruf selalu.
Zukhruf pun mencoba menoleh ke samping.
"Aaaaa!!" Ia berteriak karena Rafiq memasang muka dengan ekspresi yang menyeramkan.
"Iih! Jahil terus kerjaanmu!"
Rafiq hanya terkekeh melihat itu. Ia kemudian mengganti channel-nya dan melihat acara lawakan. Zukhruf makin tahan untuk melek dan lupa akan hal lainnya. Ia tertawa lepas karena orang-orang yang ada di TV berperan sangatlah lucu.
"Rafiq. Ganti yang lain!"
"Gak."
"Ayo…."
Namun Rafiq tetap bersikeras melawan permintaan Zukhruf. Zukhruf punya niat untuk mengambil remote dari Rafiq.
Yapp! Dapat.
"Heh! Balikin!"
Zukhruf hanya menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum lebar dengan kemenangannya. Ia menyembunyikan remote itu di dalam genggamannya. Rafiq terus saja mengoceh agar Zukhruf mengembalikan remote yang dibawanya.
"Tidak mau. Karena Rafiq jahat! Usil! Jahil! Bawel! Es! Pemaksa! PHP! Apalagi ya… Nakal!"
"Owh.. Aku nakal?" Zukhruf mengangguk dengan cepat. Menatap Rafiq sekilas dan ingin mengeluarkan remote itu untuk mengganti channel televisi. Tanpa disadari Rafiq dapat merebut remote itu kembali di tangannya.
Settt!
Zukhruf langsung mengerutkan keningnya dan menatap Rafiq tajam. Ia rasanya ingin mencubit orang di sampingnya ini. Sangat-sangat menyebalkan. Mengapa ia bisa menemukan satu orang ini yang membuatnya selalu kesal dengan tingkah lakunya. Namun tetap saja itu sudah takdir dan Zukhruf tidak bisa mengelaknya.
"Rafiq cepat kembalikan. Aku masih sabar. Jadi tolong balikin sekarang. Cepat!" Menengadahkan tangannya di depan Rafiq.
"Apa."
"Itu. Remote itu balikin ke aku. Aku juga mau nonton dengan seleraku."
"Apanya."
"Channel-nya. Itu TV rumahku lho Fiq. Kamu tuh dasar gak punya malu."
"Rumahmu?"
"Iya lah. Rumahku ini. Sikap tamu itu harus yang sopan gitu. Malah rebut remote pemilik rumah."
"Kamu yang bayar rumahnya? Kapan tanggal pembayarannya?"
"Aa.. Emm.. Maksudku ini bukan rumahmu. Cepat balikin remote itu. Sini kasih aku.."
"Ada syaratnya."
"Apa?"
"Jangan! Yang lain!?"
"Apa? Katanya gak mau sama aku. Aku pulang nanti."
"Gak boleh."
Aneh! Dulu nginap disini dilarang. Sekarang malah memohon.
"Aku tidur di ruang tamu."
"Nanti kedinginan."
"Bilang kalau kamu takut. Gak usah sok perhatian."
"Ya ya ya."
Rafiq menatap televisi yang masih menyala itu kembali dan memberikan remote itu ke Zukhruf. Zukhruf kebingungan. Kira-kira apa syarat yang diberikan Rafiq untuknya. Jangan-jangan berbahaya bagi dirinya.
"Syaratnya?" Zukhruf menanyakan terakhir kali sambil memegang remote di tangannya. Ia menunggu jawaban dari Rafiq. Sepertinya Rafiq sedang memikirkan sesuatu.
Aduh. Apa yang dipikirkan sama Rafiq!? Jangan sampe macam-macam. Jangan sampe syaratnya sangat danger…!
"Besok pagi masakin makanan yang tadi. Yang banyak kalau perlu."
"Jangan serakah."
"Hmm. Terserah."
"Heheh!" Zukhruf meringis dan tersenyum. "Gomawo."
Rafiq seketika menoleh ke arah Zukhruf dengan pandangan yang bingung sebab perkataan Zukhruf. "Hah!?"
Aish salah omong! Jaga mulutmu hey Zukhruf! Duh duh duh!
"Ow. Bukan apa-apa.. Salah tadi."
Mereka pun menonton televisi dengan acara sekolah dan percintaan yaitu drama luar negeri. Zukhruf sebenarnya masih terlihat jijik jika harus melihat adegan ciuman disana. Namun Rafiq hanya biasa saja. Dia melihat dan mendengarkan dengan baik tanpa mengantuk sedikitpun.
Namun setelah itu Rafiq mulai nakal dengan Zukhruf. Ia bertanya kepada Zukhruf apakah ia ingin melakukan hal seperti itu? Jelas saja tidak mau. Dan sangat tidak sudi juga.
"Mau kayak mereka?" Zukhruf menggeleng cepat. Ia tidak menjawab pertanyaan Rafiq. Hanya gelengan kepala saja.
"Yakin gak mau? Enak lho."
Tiba-tiba Zukhruf menoleh ke arah Rafiq dengan tatapan marah. Ia berbicara dengan pelan. "Apa maksudmu? Kamu pernah melakukan itu?"
Rafiq mengangguk. Dengan tersenyum yang terlihat membunuh itu ia menjawabnya, "Pernah. Kenapa? Kamu iri?"
"Gak!" Langsung menghadap ke televisi kembali dan menontonnya dengan tenang layaknya ia merasa nonton sendirian.
Dasar! Ternyata semua cowok sama aja. Untung aja perjodohannya ditunda! Coba kalo gak! Males ah punya pasangan bekas orang kayak gitu. Kan belum halal juga malah main cium seenaknya.
"Zukhruf! Kenapa?"
Zukhruf hanya menggeleng saja. Rafiq tahu apa isi hati Zukhruf saat ini. Mungkin ia masih ada rasa suka walau sebuih biji. Zukhruf sensitif juga ternyata. Itu yang dipikirkan Rafiq saat ini tentang Zukhruf, perempuan yang menjadi teman sekelasnya dulu.
"Ibu cium aku." Ketus Rafiq yang merasa kasihan dengan Zukhruf yang salah paham karena perkataannya.
Hah!? Owh. Maaf, udah su'udzan. Oh oh ternyata. Hehe, maafkan aku Rafiq.
"Kenapa senyum-senyum?" Zukhruf seketika tersadar dari lamunannya. Ia memandang Rafiq.
"Kalian ciuman di bibir?" Rafiq mengangguk. "Padahal jika dilakukan akan berakibat fatal." Rafiq yang tadinya menatap TV sekarang menoleh ke Zukhruf.
"Kenapa?"
"Menurut kesehatan memang itu berbahaya jika orang tua mencium bibir sang anak. Karena dalam air liur, penyakit bisa saja dengan mudah dapat ditularkan. Seorang penulis buku The Power Of Your Child's Imagination, menyarankan bahwa anak-anak boleh diberikan sentuhan kasih sayang seperti menciumnya pada bagian dahi, pipi, atau tangan. Namun bibir berbeda karena ujung saraf yang lebih banyak dan lebih sensitif terhadap rangsangan.
"Ada akibatnya jika kita melakukan hal itu, anak menjadi tidak paham mengenai batasan privasi. Seorang psikolog Charlotte Reznick, bibir dan mulut adalah area pribadi pada tubuh anak. Saat orangtua mencium bibir anaknya, itu akan menunjukkan kepada mereka bahwa batas tubuh mereka terbuka dan seseorang dapat masuk ke area tersebut tanpa masalah.
"Dengan demikian, orangtua dapat meningkatkan risiko anak mereka mengalami 'victim syndrome' dengan ketidakmampuan untuk mengatakan 'tidak' dan mengelola batas-batas pribadi mereka sendiri.
"Tidak higienis. Dokter, dan terutama dokter gigi, memperingatkan bahwa ada sejumlah besar mikroba di mulut kita yang mungkin dapat ditularkan ke anak. Charlotte Reznick menjelaskan, beberapa infeksi berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh mereka melalui air liur.
"Anak mungkin akan berani mencium orang lain sebagai ungkapan kasih sayang. Anak mungkin akan mulai berperilaku sebagaimana orangtua mengajarkan mereka di rumah. Mereka mungkin akan mencium anak lain atau orang dewasa di bibir sebagai cara untuk mengungkapkan kasih sayang.
"Anak belajar sesuatu dengan cara meniru. Jadi mereka mungkin mencoba mengulangi gerakan yang sama dengan yang lain. Itu sebabnya mengapa psikolog hanya membolehkan mencium pipi atau dahi anak." Berhenti sejenak setelah menjelaskan. "Bukankah itu akan berbahaya?"
"Jadi kamu gak pernah dicium sama Ibu atau ayahmu di bibir?"
"Gak tau. Kayaknya enggak." Zukhruf hanya memasang wajah datar.
"Mau coba ngerasain gak?"
Bugh!!!