Life Is Move

Life Is Move
Mengurungkan Niat



Tok tok tok


Zukhruf tak akan bisa bangun karena suara ketukan pintu itu tidak akan dapat mempengaruhinya. Ia tak akan bisa bangun hanya dengan ketukan pintu yang terdengar lembut itu. Yang bisa dilakukan ketika ingin membangunkan Zukhruf si tukang tidur, harus memanggilnya tepat di telinganya atau dengan cara menyentuh tubuhnya dengan lembut. 


"Zukhruf buka pintunya!" Teriak Ummi dari luar kamar. Ummi menunggu Zukhruf membuka pintu kamarnya. 


"Apa Zukhruf tidur?" Tanya Ummi lirih kepada dirinya sendiri.


Masak habis ngambek tidur gitu aja. Ya, bagus lah. Padahal.. Yah padahal… Padahal pingin bilangin sesuatu. Yasudah tidur aja.


~•~


"Tadi Ibunya Zukhruf kenapa menelponku? Zukhruf sakit?"


Mending aku ke sana. 


~•~


"Eh gimana!? Jadi gak?"


"Gak bisa eh.. Ada acara dadakan."


"Lah kan tadi sudah janjian. Kenapa ada acara dadakan? Bisa diundur gak? Keburu dia pergi besok."


"Gak bisa lah. Sebenarnya bisa diwakilkan, tapi mau gimana lagi. Orang semua keluargaku sedang keluar kota. Dan aku pun harus mandiri dengan segala sesuatu yang berkaitan denganku. Kamu pasti memahaminya."


"Ya sudah besok pagi saja, sekaligus kita mengantarnya. Gimana? Bisa kan?" 


"Iya, In Syaa' Allah."


Toh besok aku nganggur. Eh tapi… Katanya si tukang ngintip itu ikut juga ke tempat penerbangan. Ah, kenapa harus ketemu dia lagi…. !!!


~•~


"Ugh.. " Zukhruf bangun dari tidurnya dengan mata sembabnya. Ia menggeliat dan kemudian menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia sangat gerah dan ingin mandi. Namun saat itu ia benar-benar tak punya niat untuk keluar dari kamarnya hingga waktu penerbangannya tiba. 


"Males ngapa-ngapain. Aih, tapi laper."  


Zukhruf melamun memikirkan apa yang akan dia makan sekarang. Sedangkan dia saja malas sekali untuk menunjukkan dirinya di hadapan Ummi dan Abinya yang masih diluar. Ia berpikir akan lebih mudah jika memesan grab food. 


"Zukhruf!! Keluar!" Teriak Ummi dari depan pintu kamar Zukhruf.


Ah! Gak mau! Males makan! Gak jadi makan! GAK JADI LAPER!  Batinnya langsung menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. 


Kakak… Apa kau akan datang? Apakah tuhan akan memberikan seorang kakak untukku? Aku sekarang kesepian! 


Tak sengaja Zukhruf menyentuh ponsel yang ia tindihi barusan. Ia mengambilnya dengan wajah tanpa dosa karena telah menindihnya. Memperhatikannya dengan membolak-balikan ponsel itu. 


"Hah! Biarin! Ponsel mahal pasti gak bakal rusak!" Membuangnya kembali ke ranjangnya. Beberapa detik kemudian ia mengambilnya kembali. 


"Bentar-bentar… Kalo aku banting ke lantai pecah gak ya?" Tanyanya pada diri sendiri. 


"Paling cuma konslet sistemnya." Jawab sebuah suara dari jendela kamar Zukhruf. Zukhruf segera mendekat ke arah jendela dan mencari sumber suara itu berasal. 


"Wa!!!"


"Aaaaaaaa!" Zukhruf spontan melempar ponsel itu ke kebelakang karena terkejut. "Eh, hpnya!" Ia langsung tersadar dan mendekat, mengambil ponsel itu yang sudah tergeletak di lantai dengan keadaan telah retak sedikit. 


Yah layar hpnya retak! Kemarin lupa mau beli lapisan layarnya. Kurang ajar! Siapa disana! Arggghh!


Ia kembali menengok ke arah jendela dan mendekatinya, ia melihat seseorang yang duduk jongkok menghadap membelakangi jendela. Ia seperti sedang menahan tawanya. Ia menunduk dengan hoodie yang kepalanya ditutupi. Zukhruf pun menarik pucuk hoodie itu ke atas dengan satu tangannya. Dan akhirnya orang itu ketarik oleh Zukhruf. 


"Siapa kamu?" Ketus Zukhruf yang sudah kesal dengannya karena telah membuat ponsel baru itu rusak bahkan layarnya jadi retak karena ulahnya. 


"Maaf" Tanpa menghadap ke arah Zukhruf.


"Hei." Panggilnya dengan tangan masih mencengkeram pucuk hoodie tersebut.


"Iya?"


"Hadap sini."


Seseorang itu menghadap ke arah Zukhruf. Zukhruf terkejut karena orang tersebut adalah Rafiq. Karena padahal Rafiq sudah berjanji tak akan pernah mengganggunya lagi. Namun ia mengingkarinya. 


Zukhruf segera melepaskan tangannya dari sana. "Kamu kenapa kesini?"


"Kamu habis nangis?" 


"Gak." 


"Jujur. Bilang aja kalo habis nangis. Udah keliatan."


"Kamu belum makan. Aku kesini bawain makanan." Meletakkan sebungkus makanan kotak dari luar jendela kamar. Jendela yang hanya ada satu dan terbuat dari kayu itu. 


"Makasih." Sembari mengambil bungkusan plastik hitam itu. 


Rafiq masih disana menyandarkan kepalanya di jendela. Ia melihat Zukhruf dari tadi. Zukhruf pun jadi merasa tidak enak jika terus-menerus dilihat oleh Rafiq dengan tatapan yang nyaman tersebut. 


Belum jadi ia membuka bungkusan itu. "Gak pulang?"


"Nanti." Dengan santainya ia menjawab seperti itu.


"Sekarang aja pulangnya." Menatap Rafiq dengan tak suka. 


"Ngusir? Nanti nyesel." 


"Gak. Ngapain nyesel. Kamu aja ngeselin." Menghadap ke meja belajar. 


"Aku kenapa? Padahal diam aja dari tadi." Memanyunkan bibirnya.


Haduh kok sengaja gitu sih.. Beneran ngeselin tingkat tujuh langit! Itu tuh napa tu bibir heeii. Pengen ku kucir tuh mulutnya. Tapi, aish tak tau lah. Nyebelin!


"Kenapa manyun gitu?" 


"Ha? Siapa?" Ucapnya tanpa kesadaran jika bibirnya sudah manyun dari tadi saat ia membatinkan sikap Rafiq. 


"Kamu."


"Enggak aku nggak gitu-i." Menghadap ke samping. Lalu menoleh ke arah Rafiq yang dari tadi masih setia menatapnya. 


Zukhruf jadi salah tingkah karena tatapan Rafiq yang tak kunjung pergi dari hadapannya. Ia tau harus berbuat apa. Zukhruf memanggil Rafiq dan menyuruhnya untuk melihat kebelakang. Zukhruf berniat untuk mengejutkannya. Ia segera mendekat ke jendela dan dengan sigap akan membuat Rafiq terkejut setelah dirinya kembali menatap ke dalam kamar. 


"Ah!!" Pipi Rafiq tertusuk pensil Zukhruf yang tajam, dan itu membuat Rafiq kesakitan. "Sakit…"


Yes!!


Zukhruf hanya tersenyum ketika Rafiq kesakitan di bagian pipinya. Rasanya ia ingin tertawa sekarang. Dan akhirnya ia menertawakan Rafiq tanpa mengeluarkan suara. Namun seketika ia terdiam. 


Astaghfirullah! Gak boleh bahagia di atas penderitaan orang. Tapi dia memang orang jahat. Bukan teman baik. Masak hpku jadi rusak karna dia. Hyungie~ Maaf aku tak bisa menjaganya dengan baik. Hmm!! Rafiq kurang ajar. 


"Zukhruf sakit ni."


Zukhruf memasang muka sebal. "Pensilku gak tajam banget. Pasti bisa ditahan sakitnya. Kayak anak kecil, gitu doang sakit."


"Aneh. Makin dewasa makin cerewet ya…" 


"Hmm!"


Terserah lah! Hidup aku juga, masak harus kamu yang ngatur. 


"Eh?"


"Kenapa ah-eh-ah-eh?" Ujar Rafiq sambil mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit. 


Zukhruf hanya menggeleng dan berjalan ke arah meja belajarnya. Ia meraba-raba dan mengamati ponselnya yang sudah retak itu. Rafiq memandang Zukhruf. 


"Kenapa?"


"Ga pa-pa." Lalu meletakkan ponsel itu ke dalam laci di meja belajar. 


"Sini aku benerin. Bukain pintunya dulu."


"Gak usah. Aku bisa benerin sendiri nanti." Lalu membuka sebuah buku disana. Dan mengambil pensil. "Rafiq. Kamu pulang aja." Katanya berusaha tenang. 


"Zukhruf."


"Hmm?" Tanpa menoleh ke lawan bicara. Masih menulis dengan tenang. Ia sedang menulis sesuatu disana dengan hatinya. 


"Ga jadi." Katanya lalu beranjak pergi dari sana.


"Rafiq!" 


Seketika Rafiq berhenti dan menoleh tanpa menjawab panggilan dari Zukhruf. Ia memandang Zukhruf dengan ekspresi bingung. Dia memanggilku? Kenapa dia memanggilku? Katanya tidak peduli. Seperti itulah yang dipikirkan Rafiq saat ini. 


Zukhruf mendekat ke jendela dan mengatakan sesuatu kepada Rafiq. "Rafiq. Apa kamu mau.. "


"Ha?" 


Rafiq sengaja memotong pembicaraan Zukhruf. Dia memandang Zukhruf dengan datar. Zukhruf yang melihatnya seperti itu segera mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal penting yang akan dia katakan sebelumnya. Ia tersenyum tipis kepada Rafiq.


"Tidak."