Life Is Move

Life Is Move
Perjalanan



Zukhruf dan Lisa sudah berada dalam penerbangan mereka. Di dalam pesawat Lisa terus mengkhawatirkan Zukhruf karena kondisinya yang sangat lemas. Ia bahkan tak bisa tidur dengan tenang karena Zukhruf terus saja menampilkan raut muka yang mengkerut. Ia tahu jika Zukhruf mencoba untuk tidak mengeluarkan isi yang ada di dalam perutnya. Zukhruf membenci hal ini terjadi pada dirinya. Perjalanan jauh.


"Zukhruf!" ucapnya dengan kelembutan dan kekhawatiran.


Zukhruf hanya menoleh tanpa menjawab panggilan dari Lisa. Ia tak bisa berkata-kata karena sekalipun ia mengatakan satu kata saja, ia akan merasakan mual dan itu membuatnya tak nyaman. Mengapa tidak tidur?


"Kenapa tak tidur saja?" tanya Lisa kepadanya.


Zukhruf menggeleng pelan sambil terus fokus ke depan. Ia tak sanggup untuk tidur karena ia tidur, harus dengan suasana yang baik dan tenang. Bahkan untuk memakan camilan yang sudah dibuat oleh Ummi untuknya tadi malam saja tak bisa. Tak ada selera sama sekali.


"Zukhruf.. Setidaknya makan dulu sarapannya. Tadi kamu belum sarapan. Makan ya..?"


Lagi-lagi Zukhruf hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tak ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Keras kepala


Begitu terus sampai pesawat tiba di negara yang mereka tuju. Rasanya ingin roboh saja karena tak kuat menopang dirinya yang bisa dibilang sangat pucat dan tak bertenaga.


"Zukhruf tahan dulu! Bentar lagi kita sampai di apartemen. Tahan, Zukh.." ucap Lisa yang khawatir jika Zukhruf akan jatuh pingsan di antara ramainya suasana bandara saat ini.


Zukhruf mencoba menahan diri agar dirinya bisa bertahan kuat sampai di apartemen mereka nanti. Lisa segera memesan taksi yang arahnya ke jalan apartemen mereka.


Setelah mendapatkannya, mereka menunggu di sebuah restoran sederhana yang masih berada di lingkup bandara tersebut. Lisa mengajak Zukhruf pergi ke sana untuk mengisi perut mereka. Zukhruf hanya mematuhinya. Setelah mereka makan, mereka seperti bertenaga kembali. Zukhruf yang dari kemarin tak bicara sepatah katapun sekarang lumayan cerewet kepada Lisa.


"Lisa. Aku mau es krim..." kata Zukhruf sambil bertingkah seperti anak kecil.


Tanpa banyak kata, Lisa langsung mengiyakan dan memesan es krim yang lumayan besar. Ia tahu jika ia memesan es krim yang berukuran kecil, itu tak akan cukup untuk perut Zukhruf. Pasti nanti Zukhruf akan ketagihan. Es krim dengan topping tango, granolla, blueberries, sereal, dan juga potongan-potongan coklat di atasnya. Lisa menghampiri Zukhruf dengan membawa pesanan Zukhruf di tangannya.


"Nih. Ayo pergi! Sudah ditunggu taksinya dari tadi." ucap Lisa sambil memberikan es krim yang ada di tangannya.


Zukhruf masih diam di tempat. Melihat kedatangan Lisa dengan kebingungan. Bukannya merasa senang namun ia makin cemberut. "Kenapa rasanya coklat...."


Lisa mengerutkan keningnya karena heran. Bukankah Zukhruf sangat mencintai coklat? Mengapa ia bilang seperti itu barusan.


"Zukhruf suka coklat kan? Ini coklat.. Tak suka? Selera kamu sudah berubah setelah turun dari pesawat?"


"Aku sukanya coklat. Bukan es krim rasa coklat..." katanya dengan mengerucutkan bibirnya. "Lisa suka es krim coklat kan? Lisa makan saja ya? Kalau dibuang nanti mubadzir."


"Ok." Lisa mencoba untuk sabar dengan kelakuan Zukhruf. "Ayo pulang." Lisa menggandeng tangan Zukhruf menuju luar bandara.


Padahal tadi satu cup yang kubeli harganya lima puluh ribu rupiah:(


Sampailah mereka di depan apartemen yang akan mereka singgahi. Mereka berdua mengedarkan pandangannya dari atas lalu ke bawah apartemen tersebut. Menarik. Desain yang sangat cantik.


Zukhruf dan Lisa sama-sama saling pandang.


"Lumayan!" ucap mereka berdua.


Mereka pun masuk ke dalamnya dan mencari apartemen yang telah mereka pesan. Zukhruf dan Lisa menempati tempat yang berbeda.


"Sudah sampai. Apartemen kita berseberangan." ucap Lisa.


"Lisa! Nanti habis beres-beres, kamu ke apartemenku ya..."


"Ya. Aku tahu pasti masih sedikit mual."


"Iya." jawabnya sambil meringis.


"Ya sudah masuk dulu sana!" suruh Lisa.


Zukhruf pun masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintunya.


Di dalam apartemen itu, Zukhruf tak langsung membereskan barang-barangnya. Namun ia langsung menuju ke kamar dan menjatuhkan dirinya di ranjang kamarnya.


"Masih mual... Tidur ah!" Zukhruf mencoba tidur dengan memejamkan matanya. Belum lama ia berbaring tiba-tiba ia terbangun.


Sebentar! Sepertinya ia melupakan sesuatu. Ia langsung terduduk dari baringnya dan mengerjapkan kedua matanya dengan cepat. Apa itu.


Menekan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum!" kata Zukhruf dengan perasaan bahagia.


"Wa'alaikumussalam... Zukhruf sudah sampai?"


"Sudah.. Ummi, di sini enak."


"Apanya yang enak? Baru sampai sudah kerasan saja?"


"Iya. Gak tau kenapa. Kan ada Lisa. Jadi kerasan aja tinggalnya."


"Sudah makan?"


"Sudah. Di sini gak ada bakso, Mi... Aku mau bakso."


"Gak mungkin kalau gak ada. Sudah cari emangnya?"


"Tadi di restoran gak ada. Harusnya kan ada, namanya aja restoran masak gak ada."


"Kan beda, Zukhruf... Oh! Kapan-kapan cari di warung-warung gitu. Pasti ada."


"Di sini ada warung?"


"Ya kan yang lebih tau itu Zukhruf. Sudah.. Mbak istirahat aja dulu. Pasti mabuk tadi."


"Iya. Besok kalau pulang, aku gak mau mabuk, Mi."


"Emang bisa? Zukhruf kok gak mabuk, mana ada ceritanya." ejek Ummi di telepon.


"Bisa lah, Mi.. Nanti pas aku sudah jadwalnya pulang, aku mau panjangin paspornya, gak balik."


"Mau jadi anak durhaka, Mbak Zukhruf?"


"Eh enggak... Jangan gitu. Gak jadi. Aku mau tidur boleh?"


"Ya sudah tidur sana. Abi juga lagi tidur. Belum bangun. Padahal sudah hampir sore." Ummi berhenti, dan menunggu jawaban. "Sudah shalat?"


"Eh iya belum! Aku shalat dulu, Mi! Dah... Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Zukhruf menutup sambungan telepon tersebut. Ia segera ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu shalat dhuhur di kamarnya. Setelah itu ia mengaji. Tak lupa juga setelah melakukan kegiatannya, ia mengurus barang-barangnya dan merapikannya, juga merapikan apartemen tersebut.


~•~


Karlinda di kontrakan merasa kesepian. Bagaimana jika ia ikut ke sana. Pasti akan sangat menyenangkan jika ia ikut ke luar negeri bersama dengan Zukhruf dan Lisa hanya sekedar liburan saja. Mau apa lagi? Ia tak ada urusan di luar negeri.


Bosan...


Satu kata itu patut ia lontarkan. Tak pulang ke rumah kedua orangtuanya. Tak juga ke rumah nenek atau kakeknya. Ia tahu, jika ia juga harus bisa mandiri dengan keadaan ini. Ditinggal pergi oleh orang-orang yang ia sayang. Itu salah satu cobaannya. Jauh dari mereka. Tak mengapa. Hanya sebentar. Tak lama. Ya.. walaupun itu sebenarnya lumayan lama.


Tling!


Satu pesan masuk ke ponsel Karlinda. Lamunan Karlinda terbuyarkan olehnya. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja kecil itu dengan lemas.


"Hei! Ngapain?"


Karlinda langsung membalasnya.


Linda: Gak ngapa-ngapain. Siapa kamu?


Karlinda menunggu balasan dari pesannya. Setelah tiga menit ia menunggu, belum ada balasan juga. Ia pun pergi ke luar untuk membeli makanan karena yang ditunggu malah belum ada kabar.