Life Is Move

Life Is Move
Alasanku Kemari



Setelah satu minggu lebih Hyung beserta anggota grup lainnya berada di Indonesia, Hyung dan lainnya masih punya waktu sehari. Hyung selama ini tak hanya dirawat teman dan staf agensinya. Namun ia juga senantiasa dirawat oleh Zukhruf yang biasa dia panggil dengan sebutan Yungi. 


Dia sudah merasa Yungi adalah Ibunya sewaktu ia tur ke negara ini. Yungi selalu membuatkan makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Makanan yang dibuat Zukhruf selalu makanan Indonesia. Jadi Hyung seperti memakan makanan yang baru ia kenal. Zukhruf juga menceritakan tentang makanan-makanan yang dia masak.


Ia juga ragu jika ia harus menjawab bagaimana cara membuat semua masakannya itu ketika Hyung menanyakannya. Namun semua masakan Zukhruf sangat enak dan Hyung akan memakannya selagi ia tidak ada jadwal kerja. Walau sudah jadwal untuk liburan, namun ada syuting-syuting yang akan dilakukan olehnya dan teman-teman yang lain. 


Zukhruf juga membersihkan semua yang tidak sesuai di apartemen tersebut. Apapun ia lakukan seperti ia melakukan semua pekerjaan rumahnya sendiri.


Sebenarnya ia berniat untuk segera pergi agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari Idol tersebut selama tur di negaranya. Namun apalah takdir yang tidak mendukung dirinya. Tidak ada lagi apartemen yang kosong dengan harga terjangkau yang dapat ia bayar dengan semampunya.  


Hari ini Zukhruf tidak memasak karena Hyung seharian ini akan memesan makanan dari luar. Ia ingin membiarkan Zukhruf istirahat sebab pasti dia sangat lelah karena telah mengurusnya setiap hari.  


Zukhruf, entah kenapa hari ini ia bangun telat. Sudah pukul tujuh pagi Zukhruf belum bangun juga dari tidurnya. Hyung tak ingin menganggu tidurnya. Tadi pagi setelah bangun, ia langsung mandi dan memesan makanan. Setelah itu ia keluar dari apartemen dan bermain ke apartemen para hyungnya. 


Di apartemen Jung, para anggota berkumpul. Mereka seperti sedang memperbincangkan sesuatu. Terlihat raut muka serius pada wajah mereka. 


"Iya hyung. Kata staf, nanti sore kita bakalan pulang dari sini. Tapi sebelum itu mereka bakal ajak kita ke suatu tempat untuk terakhir kalinya kita tur di sini." 


Semuanya pun mengangguk paham setelah penjelasan dari ketua grup band mereka. Lalu jadwal mereka dilanjutkan dengan makan-makan di apartemen Jung tersebut.


"Ini kan sudah selesai semua acaranya." 


"Lalu?" tanya Bae dengan bingung. "Apa kita akan tidur lagi sekarang? Aku ingin main game saja." Lalu pergi keluar dan menuju ke apartemennya.


"Hyung! Aku mau main ke apartemenmu. Ayo kembali!" ajak Ji yang sangat bersemangat terhadap Hyung.


"Tidak-tidak! Aku ada urusan di apartemenku. Kalian bersenang-senanglah! Aku akan pergi. By-by.." Melambaikan tangan lalu keluar. 


Sampai di dalam apartemen. 


Hyung melihat Zukhruf sedang membersihkan apartemennya. Dia sangat senang memiliki seseorang yang mau merawatnya. Ya, karena pada awalnya itu sebab kontrak yang harus Zukhruf tanda tangani. 


Ia mendekat ke arah Zukhruf tepatnya sedang duduk di sofa. Ia ikutan duduk. "Sedang apa kau di sini sendiri?" Melihat Zukhruf sedang mengutak-atik tasnya. 


"Aku mencari charger yang kau belikan kemarin. Kau melihatnya?"


"Bagaimana bisa kau melupakannya? Gunakan saja charger milikku. Barangnya ada di kamar. Kau sudah makan siang?" 


"Belum." Meletakkan tas yang sudah ditutupnya di samping ia duduk. "Hyungzie! Aku ambil ya chargernya?"


"Ambil saja." 


Tiga menit Zukhruf kembali lagi dengan tangan kosong. Ia meletakan ponselnya di kamarnya. Lalu meninggalkannya ke ruang tengah. Di sana Hyung sudah siap dengan makanan yang sudah tersaji di depannya.


"Ini! Makan siang hari ini, mari kita makan ini," menunjuk beberapa makanan yang sudah ia pesan ketika Zukhruf pergi ke kamar tadi.  


Zukhruf duduk di sofa dan mengambil makanan yang sudah disiapkan Hyung untuknya. Dia menunggu Hyung makan terlebih dahulu kemudian ia memakan makanan miliknya. 


Saat ditengah acara makan siang berdua tersebut, Hyung bertanya sesuatu yang selalu ia tanyakan sejak lama ketika Zukhruf di sana bersamanya. "Yungi." Sapaan datar itu mendarat seketika. Namun ia melupakan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.


Zukhruf mendongak dan menatap Hyung dengan tatapan bingung. Sunyi sekali.


"Tidak ada. Makanlah!" 


Zukhruf kembali melanjutkan makannya. Setelah selesai, Zukhruf membersihkan semua kotoran itu dan hendak pergi ke kamar miliknya. 


"Jangan melangkah lagi!" suruhnya kepada Zukhruf. Zukhruf pun berhenti. "Kemarilah! Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Zukhruf melangkah ke sofa dan duduk lagi di sana.


"Ada apa?" memandang Hyung lekat-lekat. 


"Beritahu padaku mengapa kau kabur dari rumah. Seharusnya kau tidak melakukannya. Orang tuamu pasti khawatir sampai saat ini. Kau harus menjawabnya sekarang, karena dari dulu saat aku menanyakan hal ini padamu kau kelihatan tidak ingin membahasnya. Sekarang jawablah dengan jujur!"


Zukhruf menunduk dan memikirkan apa yang seharusnya ia jawab. "Mmm.. Aku..-"


"Kau ragu untuk mengungkapkannya?" tanya Hyung lalu membetulkan posisi duduknya. "Kau harus mentaati dan menjalankan kontrak dengan baik." 


Menjawab semua pertanyaan Hyung dengan jujur.


"Jangan ragu. Tenangkan pikiranmu. Apa kau ada masalah dengan keluargamu?" Zukhruf mengangguk.


"Aku sebenarnya tidak ingin hidup lagi." Hyung terkejut dengan jawaban pertama yang keluar dari mulut Zukhruf. "Semua cita-cita dan keinginan yang kulakukan, semua bertentangan dengan Ummiku."


Hyung seketika memutar kembali ingatannya jika Ummi memiliki arti Ibu. Ia memperhatikan Zukhruf kembali. "Mengapa bisa seperti itu? Apa yang kau inginkan?" 


"Dari dulu aku ingin menjadi penulis. Dan aku sangat berharap menjadi penulis hebat dan terkenal dan juga sukses." Menatap Hyung sekilas, lalu memandang ke arah lain. "Tapi apa yang telah aku putuskan, semuanya selalu salah di matanya. Aku sangat sedih waktu itu. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Aku tak punya kemampuan lain jika harus mencari hobi baru."


Zukhruf masih mendengarkan perkataan Hyung sambil menatap ke arah lain. Ia berpikir dengan dirinya sendiri. Ia ingin sekali mengatakan satu hal. Ia melamunkan hal itu.


"Yungi. Aku yakin keputusan mereka juga tidak salah. Mungkin saja ada yang mereka inginkan dibalik semua itu."


"Aku ingin bunuh diri."  


Sekilas pernyataan Zukhruf barusan seperti petir di telinga Hyung. Zukhruf masih menatap ke arah lain.


"Hei! Apa yang kau katakan?! Jangan berbicara omong kosong!"


Seketika Zukhruf menatap Hyung. "Aku berpikir seperti itu selama aku merasa terpuruk, Hyungzie.. Aku tak yakin jika mereka menyayangi diriku."


"Apa yang kau pikirkan, hilangkan pikiran itu."


"Aku pernah berpikir jika mereka bukanlah orang tuaku."


"Hentikan ucapanmu! Berpikirlah secara sehat. Jika itu benar, tidak ada orang tua yang akan membiarkanmu sekolah sampai kau sebesar ini."


"Tidak. Mereka hanya menyekolahkanku sampai sekolah menengah pertama. Setelah itu mereka tidak membiayaiku lagi. Mereka mencarikan aku sekolah yang gratis dan membiarkanku berpisah dari mereka."


"Jangan berpikir macam-macam. Mereka itu sayang padamu. Mereka mencarikan kau beasiswa karena kau pintar. Berhentilah berpikiran seperti itu." 


"Tapi jika mereka benar-benar menyayangiku, mana mungkin mereka menghentikan diriku? Aku lelah di sini Hyungzie.. Aku ingin pergi selama-lamanya daripada aku di sini tanpa perhatian dan kasih sayang yang tulus."


Hyung mengarahkan duduknya ke Zukhruf. "Yungi, tataplah aku." Zukhruf pun menatapnya. 


"Apa kau tahu satu hal? Chin Dae Jee. Dia salah satu anggota boy band yang satu grup denganku itu. Apa kau mengenalnya?" Zukhruf hanya diam saja. "Dia temanku juga. Kau tahu awal mula keberhasilannya hingga dia bisa sukses bersama kami semua?" Melihat Zukhruf yang masih setia menatapnya. 


"Sebenarnya Dae Jee hyung tidak direstui oleh orang tuanya dari awal ia ikut audisi. Namun karena tekadnya yang begitu besar dan kuat, membawanya ke jalan ini. Ia benar-benar yakin jika keputusan yang telah direncanakannya itu benar dan baik untuknya. Ia lakukan semua cara agar ia dapat membuktikan bahwa semua keinginannya itu tidak salah.


"Setelah kesuksesan yang dia dapatkan sekarang, orang tuanya sangat bangga padanya lalu memberikan restu padanya setelah mengetahui hal itu. 


"Jadi kumohon jangan putus asa sampai di sini. Yungi harus kuat! Kau pasti bisa melewati ini. Aku yakin semua akan berjalan dengan baik sesuai rencana Tuhan. Yungi tidak boleh menyerah begitu saja. Percayalah. Akan ada akhir yang indah."


Zukhruf masih melamun. Ia mencerna perkataan Hyung. Sebenarnya ia akan luluh dengan itu, namun ternyata akan terkalahkan dengan sifatnya. 


"Nanti harus pulang ke rumah."


"Tidak, tidak ingin."


"Yungi! Tidak ada bantahan. Nanti sore kau harus pulang dan aku akan pergi."


"Pergi?"


"Ya. Nanti kami semua akan kembali ke Korea." Zukhruf hanya manggut-manggut saja lalu menatap ke bawah. Ia memainkan kukunya. 


Hyung menyadari akan kesedihan Zukhruf. Ia yakin jika Zukhruf tak ingin dia pergi. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Hyung pun melepas satu gelang dari beberapa gelang yang ada di pergelangan tangannya. Menyerahkan gelang itu di hadapan Zukhruf. Zukhruf mendongak dan melihat ke arah gelang itu sekilas. Lalu menatap Hyung dengan bingung dan heran dengan sikapnya. 


"Apa?" tanyanya singkat.


"Untukmu," jawabnya singkat pula. Memberikan gelang itu di atas tangan Zukhruf dan Zukhruf spontan menerimanya. 


"Kenapa?"


"Agar kau mau pulang."


"Tapi aku tak ingin pulang." Meletakkan gelang itu di atas meja. 


Hyung langsung mengambilnya dan mengikatkan di  pergelangan tangan kanan Zukhruf. Zukhruf hanya diam saja sambil memperhatikan Hyung melakukan itu padanya.


"Pulang.. Eomma kamu pasti khawatir."


Zukhruf menggeleng dan ingin melepas gelang itu. 


"Jangan dilepas!" Zukhruf menghentikan aksinya saat Hyung beralih dan sekarang sudah duduk di lantai tepat di hadapannya. 


"Aku akan mengingatmu. Jadi patuhi perkataanku. Ok?"


Zukhruf hanya diam saja. Lalu ia ingin beranjak berdiri dari sana. Saat ia berdiri, seketika pandangannya menjadi kabur dan akhirnya ia pingsan lalu jatuh di sofa.


"Yungi!!"  


Hyung segera menelpon seseorang. "Yeobesso!! Tolong kalian undur penerbangan!"