Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Ketegangan



Saat sedang asyik mengobrol, tampak Bian datang. Pria delapan belas tahun itu tampak membawa helm dan menghampiri keluarganya.


“Lihatlah siapa yang datang, pembalap kita!” seru El. Adiknya itu adalah adik bungsunya. Tadi mereka sudah saling bercerita tentang Bian. El baru tahu jika ternyata daddy-nya memintanya masuk ke klub balapan yang sudah terdaftar. Daddy-nya menyalurkan hobi Bian dengan benar agar tidak terjadi hal buruk. Apalagi menyebabkan orang lain meninggal.


“Kakak sudah sampai,” ucapnya seraya memeluk kakaknya.


“Iya, dan kamu tidak menyambutku.”


“Maaf, aku tadi ada pertandingan.”


“Apa kamu menang?” teriak Ghea yang sedang membantu mommy-nya membawa camilan.


“Tentu saja!” ucap Bian. Tangannya mengambil makanan yang dibawa oleh Ghea. Namun, urung dilakukan saat tangannya dipukul oleh mommy-nya.


“Cuci tanganmu dulu sebelum makan!” ucap Shea.


Bian mendengus kesal tak boleh mengambil makanan.


“Mandi sana, dan cepat makan.” El menepuk bahu adiknya.


Tak menunggu lama, Bian berbalik. Tubuhnya memang begitu lengket jadi dia ingin segera membersihkan.


Sepeninggal El, Daniel menatap El yang hendak duduk. “Apa kamu yakin adikmu bisa mengurus perusahaan?”


“Pa ... “ tegur Selly. Dia menatap papanya yang sedang berusaha membandingkan anak adiknya. Memutar kembali ingatan, Bryan muda juga sangat buruk dan itu karena sang papa yang suka membandingkan.


“Aku hanya khawatir saja,” elak Daniel.


“Aku tahu bagaimana mendidik anak, tidak perlu Papa takut. Kalau pun nanti dia tidak bisa meneruskan perusahaan, aku akan mengurusnya hingga nanti ajal menjemputku.”


Bryan sangat tidak suka anaknya dibandingkan satu dengan yang lain. Dia sadar betul memiliki tiga anak, pasti akan timbul rasa iri. Bersama dengan istrinya-Shea, dia mendidik anaknya sesuai dengan bakat dan minat dan tidak membandingkan.


“Ada aku juga, Kakek tidak perlu khawatir.”


“Iya-iya.” Daniel pasrah. Sebagai orang tua dia hanya khawatir, mengingat Bryan yang membebaskan dan justru mendukung anaknya untuk balapan.


“Sudah-sudah, kita cerita yang lain saja.” Melisa yang melihat kondisi sudah mulai tegang, mengakhiri agar tidak terjadi perdebatan panjang.


...****************...


Sama dengan rumah El yang sedang tegang membahas Bian, di rumah Freya juga terjadi ketegangan. Freya yang dipaksa adiknya untuk makan kue inovasinya.


“Mana enak itu kue coklat jahe?” tanya Freya yang bergidik ngeri dengan inovasi aneh adiknya.


“Coba dulu, Kak, baru nanti beri komentar.”


“Tidak mau!”


“Ayo coba dulu!”


Freya berlari saat adiknya memaksa memakan kue aneh buatannya. Di belakang sang papa dia bersembunyi. “Pa, Freya tidak mau makan kue buatan Cia.”


Felix tertawa. Dia sudah jadi korban anak bungsunya, jadi dia tidak justru membantu Cia menangkap Freya. Berbalik, Felix menangkap tubuh Freya agar Cia bisa memasukkan kue buatannya ke dalam mulut kakaknya.


“Papa, kenapa membantu Cia?”


“Biar kamu merasakan seberapa kami tersiksa memakan makanan aneh buatan Cia.”


“Papa!” seru Cia saat papanya mengatakan makanannya aneh. Karena kesal, dia langsung memasukkan kue buatannya.


Freya berusaha menutup rapat mulutnya, tetapi Cia begitu memaksa hingga akhirnya membuat Freya pasrah dan membuka mulut. Rasa manis coklat pada kue bercampur rasa pedas jahe begitu aneh di lidahnya.


Felix yang melihat anaknya, tak tega dan melepaskannya. Dapat melepaskan diri, Freya buru-buru mengambil minum. Rasa jahe yang terkandung dalam kue begitu banyak, hingga membuat Freya kepedasan.


“Berapa banyak kamu beri jahe tadi?”


“Aku tidak menakarnya.”


Freya menepuk dahinya. Adiknya benar-benar menyebalkan. Membuat kue tanpa takaran sama sekali.


Di saat sedang kesal, Liana-nenek Freya datang. Freya yang melihat begitu berbinar. Kemudian menghampiri neneknya.


“Cucu Neneknya sudah pulang.” Liana memeluk Freya erat meluapkan rasa rindunya.


“Aku merindukan Nenek.” Freya senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang disayanginya.


“Nenek juga merindukanmu.” Liana membelai lembut rambut cucunya.


“Nenek bawa apa?” Freya yang melihat tas kecil yang dibawa neneknya, bertanya.


“Wah ... pasti ini kuenya enak,” ucap Freya seraya melirik adiknya.


“Cih ... menyebalkan.” Cia yang melihat kakaknya sedang menggodanya kesal.


“Tapi sepertinya lebih enak kue buatan Cia,” lanjut Freya.


Wajah kesal Cia seketika menguar dan berganti senang.


“Iya, asal tidak banyak jahenya,” ucap Freya seraya memeluk adiknya.


“Kalau begitu ayo makan lagi.”


Dengan wajah pasrah, akhirnya dia memakannya. Namun, tetap saja setelahnya dia berlari mengambil air minum.


Pemandangan itu begitu seru hingga membuat Chika, Felix dan Liana tertawa.


Setelah tadi makan malam dan berlanjut bercerita, Freya masuk ke dalam kamar. Hal pertama yang dilakukan adalah menghubungi El. Dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh pria itu.


“Halo, El ... “ panggil Freya.


“El sedang di kamar mandi.”


Suara datar terdengar dan Freya tahu siapa pemilik suara itu. Siapa lagi jika buka Al. Pria yang tadi ditemui saat mengambil barang.


“Ada yang ingin di sampaikan?” tanya Al.


“Tidak, aku hanya ingin tahu dia sedang apa.”


“Oh ... baiklah, kalau begitu aku akan sampaikan jika kamu menghubungi ... bye.”


Freya terkejut Al ingin mematikan sambungan telepon. Saat jarang sekali mendengar suara Al, dia ingin sekali mendengar lebih lama suara pria di seberang sana. “Kak Al ... “ panggil Freya.


“Iya.” Al yang ingin mematikan sambungan telepon, mengurungkan niatnya.


“Tidak, tidak jadi.” Freya bingung untuk apa dia mencegah Al untuk mematikan sambungan telepon.


“Baiklah, aku matikan kalau begitu.”


“Baiklah.” Freya pasrah saat Al mematikan sambungan telepon.


Freya terdiam, melihat layar ponselnya. Dia merasa aneh dengan apa yang dirasakannya.


Saat sedang asyik melihat ponselnya, suara adiknya terdengar dan membuat Freya menoleh. Cia yang membuka pintu masuk ke dalam kamar.


“Aku mau tidur dengan Kakak.” Cia naik ke atas tempat tidur, menyusul Freya.


Melihat Freya sedang memegang poselnya, Cia menggoda, “Sedang telepon Kak El?”


“Hah ....” Freya terkejut dengan pertanyaan yang tanpa filter dari Cia.


“Kakak ada hubungan dengan Kak El?” Cia tersenyum menyeringai.


“Sembarangan. Kami hanya berteman.”


“Oh ....” Freya mengangguk-anggukan kepalanya, tetapi masih tidak percaya.


Freya yang teringat dengan Al yang mau berbicara, merasa heran dan penasaran. Akhirnya dia memilih bertanya pada adiknya, “Apa Kak Al sekarang banyak bicara?”


“Kak Al?” tanya Cia memastikan.


“Iya, tadi aku menghubungi El, tetapi dia yang mengangkat. Aku hanya merasa dia sekarang jauh lebih banyak bicara.”


“Oh itu ... wajar dia banyak bicara, kalau setiap hari bersama aku dan Ghea.” Cia tertawa membayangkan hari-hari Al yang dipenuhi dengan dua wanita cerewet itu.


“Apa kalian itu semacam virus yang menular, sampai bisa membuat Kak Al, berbicara banyak.”


“Mungkin.”


Freya merasa tidak mungkin, Al bisa berubah seperti itu. “Sudah ayo tidur, aku lelah.” Tak mau memikirkan akan hal itu, Freya memutuskan untuk tidur. Tubuhnya yang lelah karena perjalanan sudah tak tertahankan lagi.


.


.


.