
El menghembuskan napas kasarnya. “Apa kamu tahu Frey, andai reaksimu tadi tak seperti itu, mungkin aku akan mengatakan jika apa yang aku katakan serius.”
Sejak pertanyaan yang di lontarkan Ghea waktu itu. El Merasa memang benar adanya jika kini dia tidak menganggap Freya sebagai teman saja. Ada terselip rasa cinta di dalamnya. Perasaan yang tak pernah dia sadari sama sekali.
Selalu bersama Freya membuatnya tak menyadari semua itu. Menganggap jika perasaannya hanya perasaan kakak dan adik seperti perasaannya ke Ghea maupun Cia. Perasaan kasih sayang sesama teman yang memang tumbuh dari kecil.
Jika waktu diputar kembali. Bagaimana dia berusaha untuk selalu dekat dengan Fryea, memang membuktikan jika sebenarnya ada perasaan yang tak menggambarkan sebagai teman. Terlebih lagi, saat Freya tinggal dengannya dulu di London. Perhatiannya timbul berlebih. Namun, sayangnya dia baru menyadarinya sekarang.
El menyadari jika mengubah hubungan pertemanan menjadi percintaan tak semudah itu. Dia sendiri tidak pernah tahu apa yang ada di hati Freya. Satu hal yang El takutkan adalah ketika Freya hanya menganggapnya hanya teman saja.
“Aku hanya takut kamu tak akan menerima perubahan rasa ini.”
Terbesit rasa takut, jika Freya justru akan menjauh darinya jika sampai tahu perubahan perasaannya selama ini.
Tak mau memikirkan apa yang terjadi di dalam hatinya, akhirnya El memilih mengistirahatkan tubuhnya. Seharian bekerja membuatnya begitu lelah. Ditambah memikirkan perasaannya, membuat otaknya sedikit butuh rileks.
...****************...
“Pagi,” sapa Freya saat masuk ke mobil. Wajahnya begitu cerah secerah matahari pagi ini. El yang semalam memikirkan tentang perasaannya, kembali memikirkan hal itu lagi. Namun, sebelum dia masih belum berani mengatakannya. Mencari waktu yang tepat untuk mengatakan tentang perubahan perasaannya.
“Pagi.” El melajukan mobilnya menuju ke kantor Maxton.
“Apa pekerjaanmu masih sangat banyak?” tanya Freya sesaat kemudian.
“Iya, masih. Kamu ingat bukan bagaimana sibuknya aku dulu.”
Freya ingat betul bagaimana dulu dia El sibuk bekerja bersama temannya. “Jika dulu aku bisa ikut kamu lembur, tetapi sekarang aku tidak bisa.” Dulu di saat El lembur, Freya selalu menyusul usai pulang kuliah. Dia merasa sangat bosan di rumah sendiri dan memilih menemani El.
El tersenyum. “Dulu kamu belum bekerja, jadi wajar saja.”
“Iya, kamu benar juga. Kadang aku sudah lelah selesai bekerja, jadi wajar saja aku tak kuat untuk menemanimu.”
“Tidak masalah. Lagi pula aku juga malas kamu menemani aku.”
Mata Freya membulat. “El,” panggilnya seraya memukul lengan El.
“Iya, Maaf,” jawab El. Dia tak menghindar sama sekali dari pukulan Freya.
Freya melipat tangannya. Memasang mode kesal. Sebenarnya dia tak benar-benar kesal. Akan tetapi, merajuk pada El selalu akan membuatnya dapat sesuatu.
“Minggu, kita pergi jalan-jalan,” ucap El.
Mata Freya langsung berbinar. Merasa senang saat mode kesalnya berbalas jalan-jalan.
“Baiklah.” Senyum tertarik di wajah manis Freya. Membayangkan dia akan menghabiskan waktu bersama El.
Perjalanan ke kantor berubah menjadi sangat menyenangkan saat perasaan begitu ikut senang. Apa lagi, Freya menyalakan audio dan memutar lagu. Membuatnya sesekali bersenandung. Mengisi keseruan di dalam mobil.
“El, apa kamu pernah merasa senang saat orang memerhatikanmu?” tanya Freya saat mengingat bagaimana senangnya dia kemarin makan dan pulang bersama Al.
El memikirkan apa yang membuatnya senang. Seketika dia ingat bagaimana Freya yang khawatir padanya semalam. “Iya, aku merasa sangat senang.”
“Apa rasa senang itu akan ada rasa cinta? Maksud aku rasa suka?” Freya sedikit membenarkan pertanyaannya.
Sejenak El berpikir. Rasa senangnya selalu hadir saat bersama Freya. Rasa senangnya hadir saat Freya memerhatikan. Hal itu menimbulkan rasa suka hadir di hatinya dan berlanjut pada rasa sayang. “Iya,” jawab El dengan pasti. Karena sejatinya itu yang dirasakan.
Freya meresapi apa yang ada di hatinya. Perasaannya senang saat bersama Al, memang ada. Akan tetapi, dia belum yakin jika itu adalah ekspresi rasa suka atau cintanya.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Jawab kenapa?” cecar El.
Freya salah tingkah, takut El menanyakan lebih. Beruntung mobil sampai di kantor Maxton. Dengan begitu Freya bisa menghindar dari El.
“Ketemu nanti El,” ucapnya seraya melepas sabuk pengamannya.
El yang tahu jika Freya sedang menghindar akhirnya menarik tangan Freya. “Jangan suka menghindar, jelaskan dulu kenapa bertanya seperti itu?” tanyanya. Mata birunya menatap lekat wajah Freya, membuat gadis di hadapannya semakin salah tingkah.
“Aku selalu jadi orang pertama yang tahu tentangmu, apa itu sudah tidak berlaku?”
Memutar ingatannya di masa kecil, El selalu saja jadi orang pertama yang tahu apa saja tentang Freya. Termasuk nilai jelek Freya yang dia sembunyikan. Sampai akhirnya, El sendiri yang mengajari Freya belajar. Setelah mendapat nilai bagus pun, El adalah orang pertama yang Freya beritahu.
“Aku janji akan mengatakanmu nanti, bukan sekarang. Karena sekarang sudah hampir jam masuk kerja. Kamu akan terlambat jika mendengarkan aku dulu,” jawab Freya tersenyum.
El melihat jam di dashboar mobilnya. Waktu menujukan jam setengah delapan dan dia membenarkan ucapan Freya. Jalanan yang macet dan ditambah mendengarkan Freya bercerita akan membuatnya terlambat. Sebagai atasan dia tak mau karyawan mencontoh hal buruk.
“Baiklah. Kali ini kamu lolos, tetapi jika kamu tidak mengatakannya nanti. Aku akan mengejarmu.” El melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Freya.
Freya tertawa dan justru menjulurkan lidah.
“Kejar saja,” ucapnya dan keluar dari mobil.
El tersenyum melihat wajah Freya. Sungguh sangat mengemaskan. Dia kembali melajukan mobilnya menuju ke kantornya. Berharap jalanan tidak akan macet dan membuatnya terlambat.
Freya yang masuk ke kantor langsung bersiap untuk memulai kerja. Kali ini wajahnya begitu bahagia. Dia sudah tak sabar menunggu nanti dia akan bercerita pada temannya itu.
“Kamu ceria sekali,” ledek Luna, “apa kamu sedang jatuh cinta?” tanyanya kembali memastikan.
“Apa orang ceria pasti jatuh cinta, Kak?”
“Sebagian begitu,” jawab Luna seraya menghidupkan laptopnya.
“Seperti apa perasaan jatuh cinta, Kak?”
“Apa kamu belum pernah pacaran?” tanya Luna dan Freya menggeleng, membuat Luna tertawa.
“Saat kamu jatuh cinta, perasaanmu akan sangat senang saat bersama pria itu. Kamu akan merasa perhatiannya membuatmu berdebar. Kamu selalu ingin melihatnya, bersamanya dan ingin menghabiskan waktu dengannya.”
Freya mendengarkan dengan baik ucapan Luna. Menelisik ke dalam hatinya apa dia merasakan semua itu. Namun, belum selesai dia merasakan lebih dalam perasaannya, Al datang menyapa, membuatnya mengalihkan pandangan dan fokus.
Freya mengikuti Al ke dalam ruangan Al. Membacakan jadwal kerjanya Al.
“Frey, hari ini aku akan mengajarimu beberapa hal. Jadi bawa laptopmu ke dalam agar kamu bisa mencatat hal penting.”
“Baik, Pak.” Freya keluar mengambil laptopnya.
Walaupun sudah kedua kalinya Al mengajarinya, perasaannya begitu berdebar. Namun, dia berusaha untuk kuat. Tak mau merusak sesi belajar. Karena tujuannya bekerja di kantor Al adalah belajar.
.
.
.
.
.