Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Menunggu



Di kantor El memulai pekerjaannya. Meeting dengan para staf yang bekerja padanya. Beberapa proposal kerja sama dengan Adion Company-milik sang daddy juga sudah disiapkan.


Pekerjaan El memang begitu banyak, hingga di jam makan siang, dia lupa. Sampai akhirnya, Bryan dan Felix menghampiri.


“Lihatlah, Bos baru begitu sibuk,” ucap Felix pada Bryan. Dia meletakan makanan di atas meja.


Bryan tersenyum melihat anaknya. Semangat yang ditunjukkan El begitu luar biasa. “Berhentilah dan ayo kita makan.” Menyusul Felix, dia duduk di sofa, menunggu anaknya.


Tangan El yang menari indah di keyboard memang sudah berhenti sejak tadi saat dua pria paruh baya itu datang. Sejenak dia menertawakan dirinya sendiri karena ternyata jam istirahat sudah tiba.


Tak berlama-lama, El berdiri. Melangkah menuju ke sofa dan bergabung dengan Bryan dan Felix.


“Kamu bersemangat sekali hingga lupa makan,” goda Bryan


.


“Iya, Dad. Merasa semua harus segera dikerjakan.”


“Tetap prioritaskan kesehatan.” Sebagai seorang ayah, Bryan ingin anaknya tubuh baik.


“Iya, aku akan menjaga kesehatan.”


“Termasuk kesehatan mata,” goda Felix.


El mendengus. “Papa yang memberikan sekretaris itu?” tanyanya menebak.


Felix langsung tertawa. Memang sengaja dia memberikan sekretaris sexi untuk El. Berpikir, bisa membuat El semangat bekerja.


“Siapa lagi kalau bukan dia,” cibir Bryan.


“Aku memberimu sekretaris itu agar kamu semangat.”


“Ish ... bagaimana bisa semangat.” El memutar bola matanya malas.


“Sudah-sudah, ayo cepat makan.” Bryan menengahi perdebatan. Tak mau berlarut dan membuang waktu istirahat.


Mereka asyik makan. Sesekali menyelipkan obrolan kecil. Usai makan, mereka masih melanjutkan mengobrol. Menunggu waktu istirahat yang belum habis.


“Aku dengar Freya bekerja di kantor Al?” tanya Bryan pada Felix.


“Iya, hari ini di mulai bekerja. Tadi pagi El yang mengantar,” jawab Felix, kemudian menatap El. “Iya ‘kan El?”


“Iya, tadi aku mengantarnya.”


“Kenapa harus di kantor Al, apa papamu tidak bisa mengajarinya?” Bryan merasa heran dengan apa yang dilakukan Theo-papa Felix.


“Entah aku juga tidak tahu.” Sebenarnya Felix tahu apa yang menjadi alasan papanya, tetapi dia memilih untuk tidak mengatakannya.


“Mungkin Kakek Theo ingin Freya belajar dengan Al yang sudah lebih hebat dalam berbisnis.” El menimpali pembicaraan dua pria paruh baya itu.


“Iya, mungkin begitu,” jawab Felix.


“Kalau hanya ingin belajar dari orang pandai dalam bisnis, aku rasa papanya sendiri lebih hebat,” cibir Bryan. Dia pun sebenarnya tahu jika alasan Theo adalah ingin mendekatkan Freya dengan Al. Namun, saat melihat putranya tampak tenang, dia memilih menyimpan semuanya.


“Apa pun alasannya. Yang jelas semua demi kebaikan.” El adalah orang yang selalu berpikir positif. Tak mau menduga-duga.


Selesai makan, Bryan dan Felix kembali ke ruangannya, sedangkan El kembali mengerjakan pekerjaannya.


...****************...


Waktu menujukan jam lima. Freya yang menyelesaikan pekerjaannya bersiap untuk pulang. Bersamaan dengan dia yang bersiap, Al keluar dari ruangan. Dengan tas di tangannya, sudah bisa dipastikan jika pria itu juga akan pulang.


“Kamu pulang dengan siapa, Frey?” tanya Al.


Freya menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan meja saat Al bertanya. Tadi pagi dia sudah membuat janji dengan El, tetapi sampai sore El belum menghubunginya. “El tadi sudah janji akan menjemputku.”


“Oh ... baiklah, kalau begitu aku pulang lebih dulu.” Al mengayunkan langkahnya meninggalkan Freya.


Tak mau berlama-lama, Freya merapikan barang-barangnya. Sambil melangkah menuju lift, dia menghubungi El.


“El ... “ panggil Freya saat sambungan telepon terhubung. “Apa kamu jadi menjemputku?”


“Bukannya tadi pagi aku sudah bilang aku akan menjemputmu.”


“Jika aku tidak bisa menjemput, aku akan mengabarimu.”


“Baiklah, aku tunggu ya.” Freya mematikan sambungan telepon dan masuk ke dalam lift. Rencananya dia ingin menunggu El di lobi. Di sana ada tempat duduk dan Freya bisa menunggu dengan tenang.


Lift sampai di lobi. Tepat saat Freya keluar, dia mendapati El yang sedang mengobrol dengan seseorang. Menundukkan sedikit kepalanya, dia menyapa Al. Melewati Al, Freya menuju sofa yang berada di lobi. Jalanan ibu kota yang macet pasti akan membuat El lama datangnya. Jadi dia memilih mengisi kegiatannya dengan memainkan ponselnya.


“El belum datang?”


Suara bass terdengar, mengalihkan pandangan Freya dari layar ponselnya. Menengadah, dia melihat Al yang berbicara. “Belum, Pak.”


Mendengar jawaban Freya, Al duduk di samping Freya. Menemaninya untuk menunggu adiknya.


“Kenapa Pak Aaron duduk? Bukannya Bapak ingin pulang?” Karena ini masih di lingkungan kantor, Freya berusaha untuk tetap formal.


“Aku akan menamanimu menunggu El.”


Freya terkesiap. Merasa tidak enak saat CEO tempatnya bekerja justru menemaninya. “Tidak apa, Pak. Saya sendiri saja.”


“Apa artinya itu kamu mengusirku di kantorku sendiri?”


Mata Freya membulat, tidak mengerti kenapa Al justru tidak suka diminta untuk pergi. Lagian siapa yang berani mengusir CEO.


“Mana berani Pak saya mengusir Anda.”


“Bagus, kalau kamu tahu.”


Freya pasrah, Al menungguinya yang sedang menunggu El. Saat Al ikut menunggu, justru membuat Freya panik karena El tidak kunjung tiba. Sesekali Freya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Merasa waktu begitu lama.


Dia menemani aku, tetapi dia saja dan sibuk dengan ponselnya. Keberadaanya justru membuat aku panik.


“Jalanan pasti macet, jadi El akan lama.” Suara Al terdengar, tetapi tak mengubah pandangannya dari layar ponsel.


Menyadari ibu kota yang selalu macet, Freya sadar jika El pasti akan datang terlambat untuk menjemputnya.


Sesaat kemudian, sebuah mobil sedan berhenti di depan lobi. Freya yang sedari tadi melihat ke arah mobil datang, sudah menebak jika itu adalah mobil El. “Sepertinya El sudah datang, Pak. Saya permisi dulu.”


Mata Al melihat ke arah pintu lobi. Tampak mobil El berhenti di depan sana. “Baiklah, hati-hati.” Al berdiri dan berlalu meninggalkan Freya tanpa menunggu jawaban Freya terlebih dahulu.


Tak membuang waktu, Freya menuju ke mobil El.


“Maaf tadi jalanan macet sekali,” ucap El saat Freya masuk.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Freya seraya memasangkan sabuk pengaman.


Mendapati Freya sudah siap, El menginjak pedal gasnya. Melajukan mobilnya, melanjutkan kemacetan yang terjadi.


“Marah?” tanya El menoleh sejenak pada Freya.


Freya melirik El. Sebenarnya dia tidak marah dengan El yang lama. Akan tetapi, karena tadi ada Al yang ikut menunggu, membuat waktu begitu terasa lama. “Tidak,” elaknya.


“Lalu kenapa diam?”


“Hanya lelah saja.”


“Oh ... bagaimana hari pertama bekerja? Apa menyenangkan?” El tersenyum penuh semangat menangkan itu pada Freya.


Pengalaman bekerja tadi memang sangat berkesan untuknya. Bisa makan berdua dengan Al, salah satu yang langka dia dapati. Belum lagi, tadi dia sempat satu ruangan dengan Al saat atasnya itu menjelaskan pekerjaan.


“Senang, aku sangat senang di hari pertama bekerja.” Senyum Freya mengembang di wajahnya. Menujunkan seberapa senangnya dia.


El ikut tersenyum saat mendengar dan melihat senyum Freya. Paling tidak temannya itu tidak panik di hari pertamanya bekerja.


Sepanjang jalan dia menceritakan pekerjaannya. Dari apa saja pekerjaan yang dilakukan hingga bagaimana teman barunya yaitu sekretaris Al.


El menjadi pendengar yang baik. Mencacat dalam memorinya, jika Freya pasti akan sangat senang ke depan bekerja di Maxton.


.


.


.