Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Terima Kasih



Motor membelah jalanan ibu kota di malam hari. Motor melaju dengan cepat karena ingin segera sampai ke tujuan. Hawa dingin yang menusuk ke tulang tak menghalangi untuk terus melajukan motor.


Tepat di depan rumah Freya, El menghentikan motornya. Tubuhnya sedikit gemetar karena merasakan dingin. Namun, itu terbayar saat melihat Freya aman dan tidak kedinginan.


Melepas helm yang dipakainya, El menunggu Freya yang sedang turun dari motor.


“Sebenarnya ada apa denganmu? Bukankah kamu tadi pergi dengan Al? Apa kalian bertengkar?” tanya El sesaat Freya turun. Sedari tadi dia gatal sekali ingin bertanya tentang hal itu.


“Aku sedang tidak ingin membahas pria itu,” jawab Freya seraya melepas helm dan memberikan pada El.


El memicingkan matanya. Dari sikap Freya yang kesal dan Al yang menghubunginya tiba-tiba, dia menduga jika ada sesuatu yang terjadi antara Freya dan Al tadi di mal. Karena masih dalam keadaan Freya yang kesal, El memilih untuk tidak bertanya lebih dulu. Tak mau mengusik perasaan gadis yang sedang tidak enak hatinya itu.


“Baiklah.” El kembali menghidupkan mesin motornya. Bersiap untuk meninggalkan rumah Freya.


“Bisakah kita besok pergi jalan-jalan?” tanya Freya tiba-tiba sebelum El pergi.


El membelalak kaget. Permintaan tiba-tiba Freya memang bisa saja dia penuhi, tetapi harus mengatur waktu terlebih dahulu. Mematikan mesin motornya kembali, El bertanya, “Apa kamu tidak bekerja besok?”


“Aku tidak mau bekerja,” jawab Freya kesal.


Suasana hati Freya memang sangat sedang tidak menentu. Dan jalan-jalan mungkin adalah solusi tepat untuk mengembalikan suasana hatinya menjadi kembali baik. Sebagai orang terdekat Freya yang tahu bagaimana gadis itu, El mengalah untuk menuruti. “Besok aku akan pergi ke kantor lebih dahulu. Aku akan langsung berangkat dari kantor untuk ke Bandara. Jadi kamu bisa langsung ke sana.”


“Apa perlu bawa paspor?” tanya polos Freya.


El yang gemas mencubit pipi Freya. “Aku hanya bisa tiga hari, jadi kita akan melakukan perjalanan dekat saja.”


Walaupun hanya dua hari, tetapi bagi Freya sudah sangat berarti.Lagi pula, di tengah kesibukan El yang begitu padatnya, mau meluangkan waktu, membuatnya sudah jauh lebih bersyukur.


“Baiklah.”


“Sekarang masuklah dan istirahat.” El tersenyum manis.


Freya berbalik, meninggalkan El yang masih di depan rumahnya. Namun, dia berbalik kembali.


“Terima kasih sudah datang untukku, El,” ucap Freya. Dia bersyukur karena El datang di waktu yang tepat. Karena jika tidak, entah apa yang akan terjadi.


El mengangguk dan kemudian memakai helm dan melajukan motornya ke rumah.


Dari kejauhan, seseorang di dalam mobil memerhatikan El dan Freya. Siapa lagi jika bukan Al. Senyum tipis tertarik di wajahnya.


Sejak Freya meninggalkan mal, dia sudah mengawasi dari kejauhan. Tak mau juga terjadi apa-apa dengan Freya. Saat tadi ada pria asing pun dia membiarkan Freya berlari dan menjaganya dari kejauhan.


Sebenarnya dia tak tega melakukan hal itu. Beruntungnya El cepat datang dan menyelamatkan Freya. Paling tidak itu membuatnya lega. Karena jika terjadi apa-apa, dia pasti akan sangat menyesal.


“Semoga kalian bahagia.” Al melajukan mobilnya kembali menuju rumahnya.


...****************...


“Kak Freya, bangun! Ini sudah siang.” Cia menggoyang-goyangkan tubuh Freya yang masih asyik meringkuk di bawah selimut.


“Kak.” Karena gemas, Cia menarik selimut Freya.


“Bisakah kamu tidak mengganggu aku.” Freya menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Apa Kakak tidak bekerja?”


“Tidak!”


“Kenapa? Apa Kakak demam?” Cia menempelkan punggung tangannya di dahi Freya. “Tidak demam,” ucapnya saat mendapati suhu tubuh kakaknya baik-baik saja.


Cia yang malas membangunkan Freya keluar kembali ke kamar. Bergabung dengan mama dan papanya untuk sarapan.


“Kakakmu tidak bangun?” tanya Mama Chika.


“Tidak.” Cia meraih roti yang dibuat oleh mamanya.


“Apa dia sakit?” Mama Chika khawatir pada putri pertamanya yang tiba-tiba tidak berangkat bekerja.


“Tidak. Aku cek suhu badannya, tidak panas.” Cia menjawab seraya mengunyah rotinya.


“Lalu kenapa dia tidak berangkat kerja?”


Mendapati pertanyaan mamanya, Cia menaikkan bahu-tanda tidak tahu.


Felix yang sedang menikmati kopinya, mendengarkan anak dan istrinya sedang berbicara. Dia juga memikirkan kenapa anaknya tiba-tiba tidak mau berangkat bekerja.


“Bukankah kamu bilang kemarin dia pergi dengan Al. Kenapa semalam dia pulang dengan El?” tanya Felix menatap putrinya yang asyik dengan roti dengan selai coklat yang dibuatkan mamanya.


“Kak Freya pulang dengan Kak El?” tanya Cia memastikan.


“Iya.”


Cia memicingkan matanya. Memikirkan kenapa bisa kakaknya pulang dengan El. “Aku tidak tahu,” jawabnya, kemudian melanjutkan makan roti-sarapan paginya.


...****************...


Di rumah sebelah semua keluarga juga sedang asyik menikmati sarapannya. Bian lebih dulu selesai, langsung berangkat sekolah, sedangkan yang lain masih melanjutkan sarapannya.


El yang sudah selesai bersiap, juga ikut bergabung untuk sarapan. Namun, sebelum sampai di meja makan, dia meminta asisten rumah tangga memasukkan tas yang dibawanya ke dalam mobil.


“Kamu mau ke mana El dengan tas itu dan dengan pakaian santai seperti itu?” tanya Mommy Shea. Dia sudah menduga jika tas yang dibawa El berisi baju. Jadi sudah dipastikan jika anaknya akan pergi.


“Aku ingin jalan-jalan sebentar, Mom. Lagi pula semenjak aku datang aku belum jalan-jalan,” jawab El seraya duduk dan menikmati sarapan.


“Kenapa tidak mengajakku jika jalan-jalan?” keluh Ghea mendengar rencana kakaknya.


“Lain kali, aku akan mengajakmu.”


“Berapa hari El?” tanya Bryan.


“Hanya tiga hari, Dad. Aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan lama-lama.”


“Baiklah, pergi dan bersenang-senanglah. Hal itu penting agar kamu bisa menemukan ide baru,” ucap Bryan seraya menyesap kopinya.


El mengangguk.


Hari ini El rencananya akan menyelesaikan dulu beberapa pekerjaan sebelum pergi berlibur. Semalam dia juga sudah meminta Ana-sekretarisnya untuk mengubah jadwalnya tiga hari ke depan dan memesankan tiketnya serta hotel untuk liburannya. Berharap dengan ini Freya akan merasakan senang.


.


.


.


.


.