Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Alasan Klasik



El tertawa terbahak melihat ekspresi wajah Freya. Wajah terkejut Freya membuat El benar-benar tak tahan.


Freya yang menyadari jika El hanya menggodanya langsung memukulnya. “Kamu membohongi aku,” ucapnya kesal.


El hanya pasrah saat Freya memukulnya. “Maaf aku hanya bercanda.”


Freya menghentikan aksinya memukul. Kesal, tetapi dia juga tidak bisa marah dengan El terlalu lama. “Ayo kita kembali ke pesta,” ajak Freya.


“Ayo.” El berdiri dan meraih tangan Freya menuju pesta.


Pesta masih ramai, beberapa orang masih bercerita sambil menikmati kudapan. Canda tawa mengisi keheningan malam. Mengekspresikan kebahagiaan mereka.


Tampak dari kejauhan Al melihat El dan Freya yang baru saja datang. Matanya tertuju pada tangan mereka berdua. Ada terbesit rasa yang aneh di hatinya, tetapi dia berusaha menepisnya. “Apa kamu tidak apa-apa?” tanyanya pada El.


“Memangnya El kenapa?” tanya Freya yang bingung.


“Tidak apa-apa,” elak El. Kemudian dia menatap Al. “Aku baik-baik saja.”


“Syukurlah,” jawab Al. Matanya masih melihat ke arah tangan El dan Freya.


Freya yang menyadari hal itu langsung melepas genggaman tangannya. Tak mau Al berpikir jauh tentang hubungannya dengan El.


Mereka semua melanjutkan pesta hingga tengah malam dan membubarkan diri satu persatu.


...****************...


El bangun lebih pagi. Pagi-pagi sekali tadi dia sudah membangunkan Ghea dan mengajak adiknya itu untuk lari pagi keliling perumahan.


“Boleh aku tanya Kak?” tanya Ghea sambil berlari.


“Tanya apa?”


“Apa Kak El mencintai Kak Freya?”


El menoleh. “Kenapa memangnya?”


“Aku hanya ingin tahu saja.”


“Kami berteman.”


“Alasan klasik selalu yang Kak El ucapkan. Apa benar di hati Kak El, Kak Freya itu hanya teman?”


Sejenak El terdiam. Dia selalu mengatakan hal itu yang sebenarnya bertolak belakang dengan hatinya. Tak dipungkiri ada rasa suka di hatinya untuk Freya, tetapi dia tak berani mengakuinya sebagai rasa cinta.


“Kamu anak kecil tahu apa tentang cinta?” elak El.


“Aku memang tidak tahu, tapi aku rasa Kak El mencintai Kak Freya. Hanya saja Kakak tidak menyadari.”


“Sudah ayo kembali, aku harus berangkat bekerja.” El mempercepat langkahnya meninggalkan Ghea.


“Terus saja menghindar, jika sampai terlambat menyadari, jangan salahkan aku,” gerutu Ghea kemudian mengejar El yang sudah berlari lebih dahulu.


El yang sampai rumah, bersiap untuk berangkat ke kantor. Hari ini, hari pertamanya bekerja. Pemimpin perusahaan kecil yang akan dirintisnya. Rasa optimis dan semangat begitu dirasakannya. Satu hal yang dia ingin lakukan adalah, membuktikan jika dia mampu berdiri sendiri.


Sesuai dengan janjinya pada Freya kemarin. Hari ini, El akan mengantarkan Freya terlebih dahulu ke kantor Maxton. El menunggu Freya di depan rumah, tetapi gadis itu tak kunjung datang.


Beberapa saat kemudian dia melihat Freya yang berlari ke mobil El. “Maaf aku terlambat,” ucapnya saat masuk ke dalam mobil.


“Apa kamu sudah sarapan?” Freya membuka kotak yang tadi diberikan mamanya. “Aku belum sarapan,” ucapnya pada El sambil tersenyum.


El menoleh sejenak dan ikut tersenyum


“Makanlah, aku sudah sarapan.”


Mendengar aba-aba dari El, Freya langsung memakan sandwich buatan mamanya. Namun, makan sendiri benar-benar membuatnya merasa tak nyaman. Akhirinya dia menyodorkan sandwich pada El. “Tidak akan rabies jika makan sisa gigitanku,” godanya.


Senyum El menghiasi wajahnya mendengar ucapan Freya. Kemudian dia menggigit sandwich yang diberikan Freya. Saat menggigit, tiba-tiba terlintas pertanyaan Ghea yang menanyakan apakah dia mencintai Freya atau tidak?


“Apa kamu tahu, aku benar-benar berdebar,” ucap Freya sesaat sebelum mengunyah sandwich-nya.


El masih mengunyah makanannya, tak bisa menjawab ucapan Freya. Dia tahu seberapa berdebarnya Freya yang memasuki hari pertama bekerja.


Mobil melaju sampai di kantor Maxton. El menghentikan mobilnya.


Freya yang menyadari mobil berhenti semakin dibuat berdebar. Perasaannya begitu semakin berdebar. “Apa penampilanku sudah rapi?” tanyanya seraya mengarahkan kaca mobil ke arahnya. Melihat pantulan wajahnya untuk memastikan penampilannya.


Melihat Freya yang begitu panik, El meraih tangan Freya. “Pejamkan matamu dan hembuskan nafasmu perlahan,” pinta El.


Freya mengikuti apa yang sering El pinta saat dia panik. Memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya, Freya perlahan merasakan hatinya yang tenang. Rasa paniknya perlahan menguap berganti dengan rasa tenang.


Perlahan dia membuka matanya saat keadaannya semakin tenang. Membuka abuk pengaman, dia bersiap keluar dari mobil. “Aku masuk dulu,” ucapnya. Namun, belum sempat dia keluar, dia kembali lagi. “Terima kasih, El,” ucapnya berbalik.


El mengangguk dan tersenyum. “Iya,” jawabnya, “ingat jika panik, tutup matamu dan tarik napas dalam dan embuskan.”


“Iya.” Freya keluar dari mobil El dan masuk ke dalam kantor Maxton.


“Semangat bekerja, Frey,” ucap El saat Freya masuk ke dalam kantor. Entah perasaan apa yang tiba-tiba melingkupi hatinya, tetapi rasanya begitu senang saat melihat Freya. “Apa aku sebenarnya mencintaimu?” tanya El pada dirinya sendiri. “Bicara apa aku ini?” El menyingkirkan pikirannya. “Aku pikiran nanti saja.” Prioritasnya adalah bekerja, jadi dia tak mau mengganggu pikirannya dengan Freya.


Melajukan mobilnya, El menuju ke kantornya. Di kantor, El langsung menuju ke lantai lima, tempat di mana daddy-nya memberikan tempat. Beberapa karyawan sudah ada di sana.


Adion Property menjadi nama yang disempatkan El untuk perusahaannya. El masih memakai nama keluarga yang mungkin akan mempermudah jalannya. Bekerja sama dengan Adion Company yang merupakan perusahaan konstruksi, El berencana membangun perumahan.


Adion Green Park-yang akan menjadi proyeknya. Dengan tagline “karena kebahagiaan berasal dari rumah”, El berharap jika setiap pemilik rumah kelak akan mendapatkan kebahagiaan di rumahnya.


Rumah akan menyuguhkan pepohonan yang kelak akan membuat lingkungan akan sangat asri. Taman bermain juga akan disediakan untuk anak-anak yang tinggal di sana. Taman bermain menjadi satu dengan area olahraga, orang tua juga bisa berolahraga sambil menunggu anak-anak bermain.


El menyapa dengan ramah. “Perkenalkan saya Justin Elvaro.” El mengulurkan tangan satu persatu, berkenalan dengan karyawannya.


“Perkenalkan Pak, saya Anna. Saya diminta Pak Bryan untuk menjadi sekretaris Pak Justin,” ucap seorang wanita cantik memperkenalkan diri.


El melihat sekretarisnya itu. Wanita cantik dengan tubuh seksi. Tatapan matanya penuh aura penggoda membuat El bergidik ngeri. Apa daddy tidak punya karyawan yang lebih tua? tanyanya dalam hati, merasa kesal pada daddy-nya yang memberikan sekretaris seperti yang ada di hadapannya.


“Baik, Anna, semoga kita bisa bekerja sama.”


“Tentu saja, Pak. Saya akan bekerja keras membantu Pak Justin.”


El melanjutkan berkenalan dengan karyawan lain. Dari perkenalan yang dilakukannya, dia melihat jika beberapa orang yang dipilih daddy-nya adalah orang-orang terbaik. Terbukti dari jabatan apa yang diembannya sebelum masuk ke kantor El.


.


.


.