
Setelah sampai di vila, Dean dan Ghea membantu Freya. Memberikan pertolongan pertama. Mereka mengompres dengan air es untuk meredakan sakit pada kaki Freya. Karena tak mau terjadi hal buruk, akhirnya mereka semua memutuskan untuk membawa Freya ke Rumah sakit agar dapat penanganan yang lebih baik. Menghindari hal-hal yang tidak terduga terjadi.
Bersyukur hanya terkilir dan tak terlalu parah. Membuat Freya tidak harus menjalani perawatan lebih. Hanya perawatan ringan dan kontrol saja tiga hari kemudian.
Liburan dengan drama kecelakaan kecil akhirnya mengantarkan mereka untuk kembali ke rumah. Mengakhiri kesenangan yang sudah mereka rasakan selama dua hari.
Di rumah, kedua orang tua Freya begitu terkejut melihat kaki Freya yang diperban. Berangkat dalam keadaan baik-baik saja dan kembali dengan terluka, pastinya membuat mereka panik.
Felix pun menanyakan apa yang membuat semua terjadi dan El menjelaskan. El sedikit merasa bersalah. Karena dia punya andil atas terlukanya Freya. Namun, semua sudah terjadi. Percuma juga untuk disesali.
“Papa sering bilang, kalian bukan anak kecil lagi. Jangan bercanda terlalu berlebihan.” Felix tidak habis pikir. Semua anaknya sudah tumbuh besar dan dewasa, tetapi tidak bisa mengira sebuah bahaya.
“Iya, Pa,” jawab Freya tak berani membantah.
“Sudah istirahatlah,” ucap Felix.
Mendengar Felix yang kesal, membuat semuanya diam. El, Al, Dean, Bian, Ghea, dan Cia keluar bersama Felix. Meninggalkan Freya di kamar mereka.
“Kalian pulanglah untuk beristirahat juga.” Hari sudah menjelang malam. Felix tak mau anaknya dan anak temannya kelelahan karena mereka besok masih akan memulai aktivitas kembali.
Mereka semua berpamitan. Meninggalkan rumah Freya dan kembali ke rumah masing-masing. Tubuh mereka memang sudah terlalu lelah. Mengingat sudah menghabiskan tenaga untuk bermain di air terjun dan untuk perjalanan pulang.
...****************...
Pagi-pagi sekali El sudah bangun. Dia sudah mandi dan bersiap mengenakan jasnya. Semalaman dia tidak bisa tidur. Memikirkan keadaan Freya yang pasti sangat kesakitan karena kakinya sakit.
Buru-buru dia mengayunkan langkahnya keluar dari kamar. Segera ingin ke rumah Freya untuk mengetahui keadaan gadis itu.
“Kamu pagi-pagi sudah bersiap berangkat El?” Shea yang melihat putra sulungnya merasa heran karena putranya itu pagi-pagi sekali sudah rapi.
“Aku mau ke rumah Freya dulu, Mom.”
“Oh ... kalau begitu bawakan bubur untuk Freya. Mommy sengaja membuatkan untuknya.”
El tersenyum saat mendengar Mommy-nya membuatkan bubur kesukaan Freya. Dulu waktu Freya sakit, Mommy Shea selalu membuatkan bubur. El kecil selalu bersemangat untuk mengantarkannya.
“Terima kasih, Mom.”
Satu kecupan mendarat di pipi Shea. Membuat ibu tiga anak itu tersenyum melihat kelakuan putranya. Tak mau membiarkan anaknya terlalu menunggu, Shea menyiapkan bubur di sebuah tempat makan khusus tahan panas.
“Titipkan salam Mommy untuk Freya.”
“Siap Mom.” Dengan semangat El membawa bubur yang sudah disiapkan. Kemudian dia keluar dari rumah. Beberapa langkah saja dia sampai di rumah Freya. Mengetuk pintu rumah dan masuk ketika asisten rumah tangga membuka pintu.
“El, kamu ke sini,” ucap Chika ketika El masuk ke dalam rumah.
“Mommy meminta untuk mengantarkan bubur, Ma.”
“Pergilah ke kamar, berikan pada Freya sendiri.”
Chika tersenyum. Ingatannya kembali pada masa anak-anaknya kecil. El kecil yang sering datang pagi-pagi memang sudah menjadi biasa. Apalagi saat anak gadisnya itu sakit.
“Baik, Ma.” El menuju ke kamar Freya. Sejenak dia lupa jika Papa Felix pernah memperingatkannya untuk tidak berada di dalam kamar berdua dengan Freya.
El mengetuk pintu dan masuk sesaat mendengar suara dari dalam.
“El.” Freya tersenyum melihat temannya datang pagi-pagi.
“Bubur.” El menunjukkan tempat makan yang dibawanya.
“Tentu saja.” El menghampiri Freya. Duduk di pinggir tempat tidur sambil membuka kotak berisi bubur. “Mau aku suapi?” tanyanya dan Freya mengangguk pasti.
El dengan senang menyuapi Freya. Bubur
buatan mommy-nya sangat membantunya dekat dengan Freya.
“Maafkan aku karena membuatmu terluka.”
“Kenapa minta maaf, itu hanya kecelakaan. Lagi pula jika aku tidak sakit, aku tidak akan mendapatkan bubur.” Freya tersenyum.
“Dasar!” El menggeleng. Selalu saja ada saja jawaban Freya. El terus saja menyuapi Freya. Sambil bercerita tentang banyak hal.
Mengenang bagaimana dulu jika Freya sakit. Tawa sesekali menghiasi obrolan mereka.
Di luar kamar keributan terjadi. Felix yang mengetahui anak gadisnya bersama pria di kamar ingin menyusul ke kamar. Namun, istrinya melarang dengan alasan anaknya sedang sakit. Meminta Felix untuk membiarkan saja. Meyakinkan jika tidak akan terjadi apa-apa. Senarnya Felix tidak setuju dengan ucapan istrinya. Karena terakhir kali dia melihat, Freya dan El dalam posisi yang intim.
Di tengah-tengah perdebatan mereka Al datang dan masuk ke dalam rumah diantar asisten rumah tangga. Chika justru membiarkan Al untuk ke kamar Freya karena kebetulan El juga ada di sana.
Al tidak kaget jika El sudah di rumah Freya. Mengingat rumah El berdekatan.
“Kak Al,” ucap Freya terkejut.
Al tersenyum dan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Freya yang sedang disuapi oleh El. Sudah bisa dipastikan jika Mommy Shea yang membuat bubur, karena memang dia juga suka bubur buatan Mommy Shea. “Apa sudah lebih baik?” tanyanya.
“Sudah, tapi maaf aku belum bisa berangkat bekerja.”
“Tidak apa-apa, istirahatlah.”
“Benar kata Al, istirahatlah.” El menutup tempat bubur dan berdiri. “Aku akan berangkat kerja. Jadi istirahatlah.” Dia mengusap rambut Freya seperti biasa dia lakukan.
Freya mengangguk.
El berlalu meninggalkan Freya. Namun, langkahnya terhenti. “Ayo, Al. Bukankah kamu juga akan berangkat bekerja.” Sengaja dia mengatakan itu agar Al tak punya kesempatan untuk berbicara dengan Freya.
Al tersenyum. Mengerti jika El sengaja melakukan itu.
Keluar dari kamar Freya, mereka berpapasan dengan Felix yang sedang akan ke kamar Freya. Felix mengajak dua pria itu untuk sarapan, tetapi mereka tidak mau karena ingin segera berangkat bekerja.
“Sepertinya kamu berusaha keras menjauhkan aku,” jawab Al menyindir.
“Sebuah usaha tak akan sia-sia bukan?” El balas menyindir. Meyakini jika usahanya akan berhasil.
“Kita lihat saja, ke mana Freya akan berlabuh.” Al tersenyum kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan El menuju ke mobilnya.
Tangan El mengepal. Sejujurnya dia malas harus bersaing dengan saudaranya sendiri. Namun, Al seolah menabuh genderang perang dengannya. Jadi mau tak mau El harus melawannya.
Hari yang sudah mulai siang, membuat El harus buru-buru berangkat bekerja. Ingin segera menyelesaikan pekerjaannya cepat selesai dan dapat pulang tepat waktu.
.
.
.
.
.