Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Sekretaris



El memulai meeting dengan Bryan dan Felix. Proposal yang diajukan sudah disetujui oleh Bryan. Sebenarnya tanpa memberikan proposal pun, Bryan akan menyetujui proyek kerja sama itu. Mengingat anaknya sendiri yang mengerjakan.


“Jadi kapan kita bisa mulai?” tanya Bryan.


“Secepatnya, Pak.” Karena sedang banyak orang di ruang meeting, El menyematkan panggilan yang pas untuk Bryan.


“Baiklah, kalau begitu.”


Bryan mengakhiri meeting. Staf dan manager keluar dari ruangan meeting. Meninggalkan El, Bryan, Felix dan sekretaris El. Mereka melanjutkan membicarakan beberapa hal tentang proyek.


“Jadi setelah makan siang kamu akan meninjau lahan di sana?” tanya Bryan saat baru saja mendengar cerita anaknya.


“Iya, Dad. Setelah makan siang dengan Freya aku akan meninjau proyek.”


“Wah ... mau makan dengan calon mantu,” goda Bryan.


Felix hanya menarik senyuman di wajahnya. Sudah mulai terbiasa dengan sebutan itu untuk menggoda El.


“Teman, Dad,” elak El.


“Anak muda seperti ini yang susah memahami cinta,” ucap Bryan pada Felix.


“Bukannya sepertimu jaman dulu, yang tak memahami jika kamu mencintai Shea.” Felix memutar memorinya dulu. Dulu Bryan muda juga sama dengan El yang tidak menyadari jika mencintai Shea-istrinya. Hingga akhirnya rasa cemburu datang dan membuatnya tersadar.


Bryan langsung tertawa mengingat bagaimana dirinya di masa muda.


El tidak mengerti cerita apa yang dimaksud oleh dua pria paruh baya di hadapannya. Karena tak mau melanjutkan pembicaraan dan membiarkan sang sekretaris mendengar, akhirnya El memilih untuk berpamitan.


Bersama sekretarisnya, El menuju ke kantor Maxton. Menjemput Freya yang akan makan siang bersamanya. Tadi pagi, dia sudah merencanakan makan siang ini. El sengaja menyempatkan makan siang dengan temannya itu setelah kemarin dia tidak sempat.


Di depan kantor Maxton, El menghubungi Freya. Mengabari jika dia sudah berada di depan lobi. Tak butuh waktu lama Freya datang dan masuk ke dalam mobil. Alangkah terkejutnya Freya saat melihat wanita cantik nan seksi di kursi belakang. Matanya menatap El, memberikan isyarat pertanyaan siapa wanita itu.


“Kenalkan Frey, dia sekretarisku,” ucap El.


Biasa di samping El, Freya selalu tidak suka ada wanita lain di samping El, kecuali Ghea dan Cia. Apalagi wanita yang menjadi sekretaris El itu adalah wanita cantik dan seksi.


Freya memutar tubuhnya dan mengulurkan tangannya. “Hai, aku Freya-teman dekat El,” ucapnya memperkenalkan diri. Imbuhan teman dekat sengaja dia tambahkan untuk menegaskan jika antara dia dan El ada hubungan.


“Siang, Bu. Saya Anna.” Ana dengan senyum manisnya memperkenalkan diri.


“Panggil saja Freya, agar lebih akrab,” ucap Freya dan mendapati anggukan dari Anna.


El yang melihat Freya sudah siap, melajukan mobilnya menuju ke restoran tempat favorite Freya. Sepanjang perjalanan, Freya dan El mengobrol sedangkan Anna hanya diam saja ikut mendengarkan apa yang dibicarakan atasannya.


Mobil sampai di restoran. Mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Memesan tempat duduk dan berlanjut memesan makanan. Di dalam restoran, Anna berpamitan untuk ke toilet di sela-sela menunggu makanan. Membuat El dan Freya berdua saja di meja restoran.


“Kenapa sekretarismu seperti itu?” tanya Freya sesaat Anna pergi. Dari tadi dia sudah gatal sekali untuk mengomentari sekretaris temannya itu.


“Seperti apa maksudmu?” tanya El bingung.


“Jangan pura-pura bodoh,” ucap Freya kesal.


“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Aku merasa Anna baik-baik saja.”


“Baik, bagaimana? Lihatlah bagaimana dia berpakaian. Dia begitu seksi,” ucap Freya kesal.


“Kamu cemburu?” tanya El.


Dahi Freya berkerut dalam saat mengetahui akan hal itu. Merasa heran dengan El yang mengatainya cemburu. “Siapa yang cemburu?” elaknya.


“Lalu kenapa protes?”


“Ya ... a-aku hanya tidak senang saja melihat wanita berpakaian seksi,” jawab Freya terbata.


El tersenyum menyeringai. Menatap Freya lekat dan mencari celah kebohongan di dalam ucapan temannya itu.


“Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin menjaga dirimu dari wanita-wanita yang akan menggodamu dengan tubuhnya.”


Apa yang dilakukan El itu membuatnya benar-benar tak enak. Beruntung, Anna cepat datang dan membuat El mengalihkan pandangannya. Membuat kecanggungan antara Freya dan El.


Mereka bertiga menikmati makan. Sesekali Freya bertanya pada Anna. Menanyakan tentang di mana rumah Anna, berapa keluarga, dan satu lagi yang terpenting, yaitu apakah adalah apakah Anna punya kekasih atau tidak.


Saat mendapati Anna sudah memiliki kekasih, Freya merasa sangat lega sekali. Paling tidak wanita itu tidak akan menggoda El.


Sepanjang makan, El hanya menjadi pendengar yang baik. Dia mendengarkan bagaimana Freya menginterogasi Anna. Dia ingin sekali tertawa melihat akan hal itu, tetapi dia menahannya. Membiarkan Freya melakukan apa yang akan dilakukan Freya.


Seusai makan, El mengantarkan kembali Freya ke kantor.


“Terima kasih sudah mengantarkan aku,” ucap Freya saat mobil sampai di depan kantor Maxon.


“Sama-sama,” jawab El.


“Da ... Anna, senang bertemu denganmu,” ucap Freya seraya melepas sabuk pengaman.


“Sama-sama, Freya. Senang bertemu denganmu.”


El tersenyum, melihat ke belakang dia berkata pada Anna, “Anna sebaiknya kamu pindah ke depan.”


Freya yang sedang ingin membuka pintu menghentikan aksinya. Dia berbalik dengan cepat pada El. “Kenapa Anna harus pindah ke depan?” tanyanya.


El sedikit terkejut dengan reaksi Freya. “Jika Anna di belakang, aku sudah seperti supir,” jawab El.


“Lalu tadi saat ke kantor, apa Anna juga duduk di depan?” tanya Freya.


“Iya, memang di mana lagi?”


Mata Freya membulat sempurna. Dia sadar betul rok Anna sangat pendek. Sudah bisa dipastikan jika saat duduk pasti rok itu akan naik beberapa centimeter. Dengan begitu akan menunjukkan paha mulusnya.


“Cepat turun, jam istirahatmu akan segera habis.”


Freya hanya bisa mendengus kesal. Di luar negeri dia dan El sudah biasa melihat wanita seksi dengan pakaian terbuka, tetapi kali ini dia merasa tidak rela jika El melihatnya.


“Frey ... “ panggil El.


“Iya.” Freya tidak punya pilihan selain keluar dari mobil El. Bersamaan dengannya yang keluar dari mobil, Anna masuk ke dalam mobil.


Freya masih berdiri di depan lobi, menunggu El yang melajukan mobilnya. Matanya masih menatap kaca mobil El. Namun, sayangnya mobil El yang memiliki kaca gelap, membuatnya tak bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil.


El melajukan mobilnya. Meninggalkan kantor Maxton. Sejenak dia melirik Anna yang menutupi rok pendeknya dengan tasnya. Dia mengingat percakapan apa yang membuatnya bisa membuat Anna melakukan hal itu.


“Anna, boleh aku mengatakan sesuatu,” ucap El.


“Iya, Pak.”


“Bukan saya menyinggung kamu, tetapi bisa tidak kamu tutupi rok pendek kamu dengan tas. Saya hanya ingin menghargai kamu saja.”


Refleks Anna menutup roknya dengan tas.


“ Selain pria yang harus menjaga pandangannya, saya rasa wanita juga harus ambil andil untuk menjaga dirinya,” ucap El.


“Apa Pak Justin tidak suka cara berpakaian saya?” tanya Anna ragu.


“Pakaian itu adalah hak semua orang. Jadi saya tidak berhak mengatakan suka atau tidak. Akan tetapi, saat bersama saya, tolong ditutupi yang harusnya ditutupi. Anggap saja itu hanya adab saat bersama orang lain.”


“Baik, Pak.”


.


.


.