Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Kenapa Tidak Berpamitan?



Pagi ini El dan Freya menikmati pagi di kapal. Matahari yang mulai memberikan sinarnya, mewarnai langit malam. Udara pagi yang begitu sejuk juga memberikan kesegaran.


Freya yang bangun lebih dulu. Keluar untuk melihat pemandangan itu. Memanjakan matanya di pagi hari. Tangannya dia rentangkan. Mengambil napas untuk mengisi rongga paru-paru. Mengganti dalam tubuhnya dengan oksigen baru. Matanya terus terpejam. Merasakan perasaan tenang yang melingkupi hatinya.


“Sedang apa kamu?”


Suara yang terdengar tepat di telinga membuat Freya membuka matanya. Tubuhnya langsung berbalik untuk melihat siapa yang berbicara dengannya.


Namun, saat tubuhnya berbalik, dia justru menabrak tubuh kekar dan membuatnya oleng dan terjatuh. Untung tangan kekar langsung menangkap tubuh mungil itu.


“Kenapa selalu tidak bisa berhati-hati,” ucap El menatap lekat Freya.


Mata birunya menatap dengan penuh damba. Ucapannya pun begitu lembut, membuat Freya sejenak lupa jika El adalah temannya yang biasannya dia temui.


“Apa kamu sedang terpesona denganku?”tanya El dan membuat Freya yang sedang menatap El tersadar.


Freya langsung bangkit dan menegakkan tubuhnya. “Tidak,” elaknya.


El hanya tersenyum melihat wajah Freya. Terlihat seperti hamparan pasir pink yang dia kunjungi kemarin.


Pagi ini mereka berdua menikmati sarapan di kapal, sebelum mereka ke Manta Point-tempat di mana mereka akan menikmati liburan sebelum siang nanti mereka akan kembali ke Ibu kota.


Di Manta Poin, El dan Freya disuguhkan dengan biota laut bernama ikan manta. Nama yang sama disebutkan pada tempat yang mereka kunjungi. Ikan sepanjang rata-rata tiga meter itu begitu cantik. Freya yang takut saat melihat gerombolan ikan itu memegangi tangan El.


Ikan-ikan yang sedang bergerombol itu ternyata sedang menemukan makanan mereka yaitu ubur-ubur. Di mana ada kawanan ubur-ubur, di situlah ada ikan manta bergerombol.


Tak hanya ikan manta yang memanjakan El dan Freya. Terumbu karang yang indah di dalam air, menjadi pemandangan indah.


Perjalanan liburan mereka benar-benar disuguhkan dengan keindahan yang luar biasa. Perjalanan yang akan menjadi kenangan untuk mereka berdua.


Puas menjelajah pulau-pulau indah, mereka bersiap untuk kembali ke ibu kota. Barang-barang yang memang tak banyak dibawa, membuat mereka lebih mudah menyiapkan kembali.


Tepat pukul 14.25 WITA, pesawat mereka lepas landas. Meninggalkan pulau indah yang terdapat di Indonesia bagian timur.


Lelah dirasakan oleh El dan Freya, tetapi semua terbayar dengan keindahan yang mereka nikmati. Menyisakan kebahagiaan yang melingkupi hati mereka.


Perjalanan selama dua jam berakhir saat pesawat mendarat di Bandara tepat pukul 14.25 WIB. Para penumpang turun, termasuk dengan El dan Freya.


El yang sengaja meninggalkan mobilnya, mengendarai mobilnya sendiri untuk pulang. Walaupun tubuhnya lelah, tak jadi masalah untuknya.


“Aku ingin segera mandi dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur,” ucap Freya mengisi keheningan di dalam mobil. Membayangkan apa yang akan dia lakukan di rumah.


El menoleh sejenak pada Freya. Dua hari ini, gadis itu sangat bahagia. Dia hanya berharap jika Freya akan selalu bahagia.


Freya yang lelah nyaris memejamkan mata sebelum suara ponsel yang mengganggunya. Dengan malas dia mengambil ponselnya. Ternyata papanya yang menghubungi.


“Apa kamu sudah kembali?” tanya Felix di seberang sana.


“Iya, Pa. Ini aku sedang dalam perjalanan ke rumah.”


“Baiklah, Papa akan menunggumu.”


“Iya.”


“Pinta El untuk datang ke rumah.”


Freya mengerutkan dahi. Saat ponsel masih menempel di telinganya dia melihat ke arah El.


“Apa kamu dengar?”


“Iya, Pa. Aku dengar. Aku akan minta El ke rumah.”


“Bagus kalau begitu.”


“Kenapa?” tanya El yang penasaran namanya dibawa-bawa.


“Papa memintamu untuk ke rumah.” Freya sudah gemetar. Takut sampai papanya marah karena kemarin dia tidak sempat berpamitan dengannya. “El, jika nanti papa marah denganmu bagaimana?” Freya mulai panik.


“Kenapa marah?”


“Sebenarnya aku tidak pamit papa,” jawab Freya lirih.


El menggeleng. Sudah bisa dibayangkan dia akan mendapat masalah karena tidak berpamitan membawa anak gadis orang. Kemarin di kantor, dia juga tidak bertemu degan papa Freya, jadi dia tidak bisa berpamitan.


“Tenanglah, nanti kita jelaskan baik-baik.”


“Iya.” Freya berharap papanya tidak akan marah.


Mobil berhenti tepat di depa rumah Freya. El dan Freya turun dan masuk ke dalam rumah. Namun, saat masuk ke dalam rumah, mereka dikejutkan dengan orang tua El yang juga datang. Seolah mereka sedang akan disidang karena kesalahan pergi tanpa pamit.


“El,” ucap Shea menyapa anaknya. Shea dan Chika berdiri, menyambut anak mereka.


“Bagaimana liburannya?” tanya Chika yang ikut menyapa El dan Frey.


Dalam situasi yang menegangkan mengatakan liburan sangat menyenangkan bukanlah pilihan tepat. Jadi El memilih untuk dia dulu.


“Sangat menyenangkan, Ma,” jawab Freya polos. Dia begitu ingin menceritakan bagaimana liburan mereka kemarin.


El merutuki kesalahannya tidak membuat rencana dengan Freya.


“Em ....” Felix berdeham memotong pembicaraan Shea dan Freya. Membuat mereka tersadar jika tidak pas membahas soal liburan.


“Ayo duduk dulu, ada yang mau Papa Felix sampaikan.” Shea dengan lembut mengiring El dan Freya.


El dan Freya duduk bersebelahan. Mereka sudah seperti penjahat yang akan disidang.


“Kenapa tidak pamit dengan Papa?” tanya Felix pada putrinya.


“Aku terburu-buru, Pa.” Freya menunduk karena tahu kesalahannya.


“Sayang, Freya sudah meminta izin padaku.” Chika membela anaknya. Tak mau jadi amukan Felix.


“Jangan membelanya. Harusnya dia tahu jika pergi harus berpamitan denganku. Apa lagi ini pergi jauh.”


Sejenak Freya ingat bagaimana dulu papanya melarang pergi ke London, sama persis dengan sekarang. Ada ketakutan dengan yang akan terjadi pada putrinya jika jauh darinya.


“Kamu, El. Kenapa tidak juga memberitahu aku?”


“Maaf, Pa.” El juga menyadari jika dia melakukan kesalahan.


Bryan dan Shea tidak bisa membela anaknya. Bagi mereka salah tetap saja salah.


“Kalian masih tinggal dengan orang tua. Jadi kalian masih tanggung jawab kami sebagai orang tua.”


El dan Freya menutup mulutnya rapat. Tak berani mengatakan apa-apa. Mengakui jika mereka bersalah dalam hal ini.


.


.


.


.


.