Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Lebih Dulu



Di restoran El datang lebih dulu dan memesan makanan. Sesaat kemudian, Freya datang. Dia berbinar saat melihat makanan yang tersaji di meja.


“Steak dengan kematangan medium well,” ucap El.


Freya tersenyum. El selalu tahu apa yang disuka dan tidak disukai. “Terima kasih El,” ucapnya seraya menarik kursi.


Tak butuh waktu lama akhirnya Freya memakan makanan di hadapannya. Potongan demi potongan dia masukkan ke dalam mulut. Rasa gurih dan nikmati daging begitu memanjakan lidahnya.


“Wah ... calon CEO,” goda El saat di sela-sela makan.


“El ... jangan menggodaku seperti itu. Aku masih takut dengan jabatan itu.” Freya memanyunkan bibirnya. Sejujurnya dia takut dengan jabatan itu. Secara dia baru saja lulus kuliah dan belum punya pengalaman apa-apa.


“Kamu mengemaskan sekali,” ucap El seraya mencubit pipi Freya. Gadis di depannya itu memang membuat hari-hari El berwarna.


“El aku bukan anak kecil lagi, jangan suka mencubitku seperti itu.”


“Bagiku kamu tetapi tuan putri kecilku.”


Freya tertawa. Dulu waktu kecil, Freya selalu mengajak El bermain tuan putri dan pangeran.


“Tidak terasa kita sudah besar ya, El.”


“Aku yang sudah besar, kamu tidak.”


“El ... “ keluh Freya lagi.


“Iya-iya. Kamu sudah besar, tetapi masih sangat manja.”


“Hanya padamu aku manja. Jadi jangan katakan pada siapa pun.”


“Iya,” jawab El mengalah.


“Apa nanti setelah aku menikah, aku masih bisa manja denganmu?” Kehilangan perhatian El sangat berat untuk Freya. Tak bisa dia bayangkan akan seperti apa jika hal itu terjadi.


“Masih bisa.”


“Benarkah?” tanya Freya berbinar.


“Jika aku suamimu,” jawab El tertawa.


“El ....” Freya langsung melempar serbet makan yang berada di meja. El selalu saja bercanda saat dia sedang serius.


El hanya tertawa melihat kekesalan. “Sudah lupakan,” ucapnya mengakhiri perdebatan. “Katakan padaku, kapan kamu mulai bekerja?”


“Besok aku sudah mulai bekerja di kantor Kak Al.”


“Al?” tanya El terkejut mendengar nama itu. “Untuk apa kamu bekerja di kantor Al?” Dahi El berkerut dalam dan diiringi dengan alis yang bertautan.


“Astaga, aku lupa jika aku belum mengatakannya padamu.”


“Mengatakan apa?”


“Jadi kakek meminta aku untuk belajar dari Kak Al. Jadi aku akan mulai bekerja di sana besok.”


Sejujurnya El terkejut dengan apa yang dikatakan Freya, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Memikirkan sebuah masalah bukan dari sudut pandang satu saja, tetapi yang lain.


“Aku tidak mengerti kenapa kakek menyuruhku untuk bekerja di sana,” keluh Freya.


“Mungkin kakek ingin kamu belajar pada orang yang tepat. Mengingat Al adalah pengusaha muda hebat waktu ini, wajar kakekmu meminta untuk belajar dari dia.”


“Iya, mungkin itu alasannya.”


“Belajar dari siapa saja bukan masalah. Yang terpenting, belajarlah yang benar.” El mengusap rambut Freya.


Seketika Freya terdiam. Dia teringat dengan apa yang dilakukan Al tadi padanya. Sama persis seperti yang dilakukan El.


“Tidak, tidak apa-apa,” elaknya.


Mereka melanjutkan makan. Kemudian, memilih untuk pulang. Hari ini rencananya, akan diadakan pesta kepulangan El dan Freya yang akan diadakan di rumah El, jadi mereka memilih pulang untuk ikut membantu menyiapkan pesta.


Dengan mengendarai mobil masing-masing, El dan Freya menuju ke rumah. Turun dari mobil mereka berjalan bersama-sama ke dalam rumah.


“El ... “ panggil Freya saat berjalan beriringan dengan El.


“Apa?”


“Apa kamu besok mau mengantar aku berangkat bekerja? Aku merasa berdebar di hari pertama bekerja.”


El tersenyum. Dia tahu akan sepanik apa saat hari pertama Freya melakukan sesuatu. Ingatannya kembali pada bagaimana Freya takut dan panik saat hari pertama kuliahnya. El harus menunggu seharian di kampus, agar Freya merasa tenang ada dirinya di sekitar.


“Tapi aku tidak bisa menunggumu seharian, karena bisa aku sudah mulai bekerja juga.”


“Iya, tidak apa, aku hanya ingin kamu mengantar dan menjemput aku.”


“Baiklah, nanti aku akan mengantarmu.”


“Terima kasih, El.”


El tersenyum dan mengangguk. Melanjutkan langkah masuk ke rumah. Di dalam mereka sudah di sambut ibu-ibu yang sedang sibuk menyiapkan segala hal. Ada Shea, Selly, Chika.


“Aku rasa ini bukan pesta pernikahan, kenapa lengkap sekali personilnya,” goda El seraya mendaratkan kecupan pada mommy-nya. Dari Shea dan beralih pada Selly.


“Kita coba dulu perkumpulan ini, jika berhasil nanti kita adakan pernikahan kalian,” ucap Selly.


“Pernikahan siapa nanti yang akan lebih dulu?” tanya Freya seraya mendaratkan kecupan pada mamanya. “Aku atau El dulu?”


Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Merasa ada yang aneh dengan pertanyaan itu. Mereka semua tahu sedekat apa El dan Freya, tetapi ternyata tak ada hubungan spesial antara mereka berdua.


“Siapa saja yang lebih dulu, pasti akan mendapatkan kebahagiaan.” Shea memecah kecanggungan yang ada.


“Iya, benar, siapa saja yang menikah lebih dulu, semoga kebahagiaan selalu ada untuk mereka.” Selly ikut berbicara. “Ayo kita lanjutkan bikin kue lagi.” Tak mau larut dengan pertanyaan dalam pikiran masing-masing, Selly mengajak untuk membubarkan diri.


El dan Freya saling pandang. Tak mengerti kenapa semua bersikap aneh.


“El, tolong pasangkan lampu di taman belakang,” teriak Shea dari dalam dapur.


“Iya, Mom.” Tak mau larut dengan pikirannya, El mengerjakan apa yang diminta mommy-nya. Dia mengambil lampu dan memasangnya. Dibantu Freya dia naik ke atas kursi.


“Pegang dengan benar, Frey. Jika tidak aku akan jatuh.” El memperingatkan Freya yang memegangi kursinya.


“Iya, aku pegang, jangan cerewet.”


El memasang lampu dan akhirnya lampu terpasang dengan benar. Karena pekerjaannya sudah selesai, akhirnya El bersiap turun. Namun, belum sempat dia turun kursi sudah bergoyang karena Freya tidak benar memeganginya.


Seketika tubuh El terjatuh tepat di atas tubuh Freya. Untung saja tangan El dengan sigap menahan, sehingga tubuhnya tidak jatuh ke tubuh Freya.


Freya yang mendapati El jatuh, hanya bisa pasrah. Dia memejamkan matanya, mengingat tubuh El yang kekar pasti akan menghantamnya. Namun, ternyata dugaannya salah. Karena ternyata tubuh El masih tertahan.


El merasa lega, karena tubuhnya tertahan oleh tangannya. Dengan begitu, dia tidak melukai Freya. Tubuh El yang berada di atas Freya, membuat El dapat memandangi wajah Freya. Entah getaran apa yang dirasakan El, tetapi dia merasa jantungnya begitu berdetak kencang melihat wajah cantik Freya.


Para ibu yang mendengar suara jatuh langsung berlarian mencari sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan El yang berada di atas tubuh Freya.


“Aku rasa mereka tidak akan ada yang lebih dulu. Yang ada mereka akan menikah bersama,” ucap Selly menggoda Shea dan Chika saat melihat adegan anak mereka berdua.


.


.


.