
Sesuai dengan rencana yang dibuat Ghea, akhirnya tepat di akhir bulan, semua pergi untuk berlibur ke puncak. Memakai mobil daddy Bryan, mereka semua masuk ke dalam mobil.
El duduk di kursi kemudi. Dia yang akan mengendarai mobil. Di kursi samping El, ada Al yang menemani duduk di kursi paling depan. Mengajak El mengobrol agar El tidak mengantuk.
Di kursi tengah ada Dean dan Bian. Dua pria muda itu kemarin dipaksa oleh Ghea untuk ikut ke puncak. Untuk Dean selalu tidak keberatan saat Ghea mengajak. Namun, untuk Bian, dia selalu malas jika diajak pergi bersama dengan kakak perempuannya. Apalagi ditambah dengan Cia yang sama berisiknya dengan kakaknya. Sampai akhirnya, suara El yang mengajak, mampu membuat Bian luluh dan ikut.
Mengisi kekosongan kursi belakang, ada Freya, Ghea, dan Cia yang duduk bertiga. Sudah bisa dipastikan jika tiga wanita dikumpulkan akan ada kebisingan yang luar biasa.
“Apa Kak Al sudah mengabari penjaga vila kalau kita ke sana?” tanya Ghea dari belakang.
Vila memang milik keluarga Maxton. Keluarga Maxton, memang memiliki beberapa properti, seperti vila di puncak, hotel dan apartemen. Semenjak Al yang menjadi CEO, sudah dibangun beberapa apartemen baru. Dan rencananya ke depan dia akan membangun hotel.
“Iya, aku sudah hubungi. Mereka akan siapkan juga?”
“Termasuk barbeque yang aku minta?” tanya Ghea memastikan kembali.
“Apa kamu tadi tidak dengan Kak, jika Kak Al sudah bilang jika sudah akan disiapkan semuanya?” Bian yang merasa jengah karena Ghea berbicara tepat di belakangnya, justru melayangkan sindiran.
“Aku hanya memastikan saja, siapa tahu Kak Al lupa,” ucap Ghea seraya memukul punggung kursi yang diduduki Bian.
Al dan El saling pandang, mereka sudah biasa melihat Bian dan Ghea bertengkar.
“Iya, aku sudah mengatakan juga pada penjaga vila.”
Ghea mengambil catatan agenda perjalanan. Mengecek apa saja yang sudah dikerjakan.
“Vila yang dikerjakan oleh Kak Al sudah siap, Kak El yang menyetir mobil sudah, Dean yang membeli makanan ringan dan minuman juga sudah,” ucapnya seraya memberi tanda centang pada catatannya. “Tinggal nanti Bian yang akan bertugas membakar daging, sosis, dan pelengkapnya dan aku, Cia dan Kak Freya akan menyiapkan makanannya,” imbuhnya membaca jadwal yang belum dikerjakan.
“Kenapa bagian membakar, bagian aku?” tanya Bian protes. Dia membalikkan tubuhnya menatap kakaknya malas.
“Iya, karena kamu yang belum memiliki tugas.”
“Menyebalkan sekali.” Bian kembali berbalik. Menyesali ikut dengan kakaknya ke puncak. Andai waktu bisa diputar, dia lebih memilih pergi ke sirkuit dan melajukan motornya di arena balap.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar, nanti Kakak yang akan bantu.” El yang sedari tadi mendengar pertengkaran adiknya tersenyum.
“Bersyukurlah, Kak El mau membantu,” sindir Ghea.
Suasana mobil memang sangat riuh. Berisi perdebatan yang membuat mereka saling adu mulut, tetapi tidak membuat mereka saling membenci, karena semuanya sebenarnya saling menyanyangi.
Akhirnya, perjalanan mereka sampai di vila. Mereka turun satu persatu. Saat turun, mereka merasakan udara pegunungan yang begitu segar. Udara yang mengandung oksigen karena banyaknya pepohonan itu, membuat paru-paru saat menghirupnya.
Freya, Ghea dan Cia langsung turun. Mereka melihat pemandangan gunung dari tempat mereka turun. Melihat keagungan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa.
“Aku benar-benar suka dengan tempat ini,” ucap Freya.
“Iya, kita harus sering-sering ke sini karena tempat ini sangat indah,” jawab Ghea.
“Benar, kita harus ke sini sering-sering,” timbal Cia.
Bian dan Dean hanya menggeleng melihat para gadis. Dengan membawa makanan ringan dan minuman, mereka masuk ke dalam vila. Al yang bersama mereka juga hanya tersenyum dan ikut masuk ke dalam vila.
Melihat orang-orang masuk ke vila, Ghea mengajak masuk. Namun, hanya Cia yang ikut karena Freya masih ingin menikmati pemandangan yang ada.
Freya memejamkan matanya. Menghirup udara yang begitu segar. Merasakan lebih dalam udara masuk ke rongga paru-parunya.
“Selain teh, udara yang segar seperti ini juga salah satu yang memberikan ketenangan.”
“Kamu benar, banyaknya pohon memang membuat udara menjadi bersih dan sangat segar saat dihirup.”
“Kalau kamu suka, aku akan sering mengantarkan kamu ke sini,” ucap El. Pergi berdua saja dengan Freya memang menjadi targetnya, mengingat dia ingin menghabiskan waktu berdua.
“Kapan-kapan kita akan pergi, tetapi aku tidak mau ke sini lagi. Aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah aku kunjungi.”
“Baiklah, aku akan mengajakmu pergi ke tempat yang belum kamu datangi.”
“Baiklah.” Freya tersenyum. Kemudian melingkarkan tangan di lengan El, mengajaknya untuk masuk ke dalam vila.
Tepat di depan vila, Freya dan El berpapasan dengan Al yang ingin mengambil barang di mobil.
Melihat Al, Freya langsung melepaskan tangannya yang berada di lengan El. Tak mau Al salah sangka dengan apa yang dilakukannya.
El mengerti apa yang membuat Freya melepaskan tangannya. Namun, El justru dengan sengaja menautkan jemarinya. Membuat Freya membulatkan matanya.
“Mau ke mana Al?” tanyanya.
Mata Al pun tertuju pada tangan El dan Freya. Sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan El di depannya. Ingatannya kembali pada cerita El yang mengatakan jika tak ada hubungan antara dirinya dan Freya. Belum lagi hal yang sama dikatakan oleh Freya. Jadi, hal itu akhirnya membuatnya memiliki pertanyaan, ada apa sebenarnya dengan mereka?
“Aku ingin mengambil barang milik Ghea.”
“Oh ... baiklah, kalau begitu aku masuk lebih dulu.” El menarik tangan Freya dan mengajaknya masuk ke dalam vila. Meninggalkan El yang masih di depan pintu. Sejenak Al menoleh, melihat El dan Freya yang masuk ke vila.
Freya yang ditarik tangannya oleh El, hanya bisa pasrah saja. Mengikuti El yang terus membawanya ke dalam vila.
“El ... “ panggil Freya seraya berusaha melepaskan genggaman tangannya.
“Apa?” tanya El santai.
“Kamu ini kenapa? Kenapa menggenggam aku seperti itu?” protesnya pada El. Sejujurnya dia merasa tidak enak dengan Al, tetapi tak berani mengatakan hal itu pada El.
“Kamu seperti aku tidak pernah melakukannya saja,” cibir El.
Freya terdiam. Saling menggenggam memang biasa mereka lakukan saat mereka pergi. Terlebih lagi jika keadaan ramai.
“Terserah padamu saja,” ucapnya malas. Kemudian dia menyusul Ghea dan Cia.
El tersenyum puas. Sejauh ini dia belum punya kesempatan berbicara dengan Al, mengingat pekerjaannya belakangan semakin banyak.
Demi menjemput Freya tepat waktu, seminggu ini dia juga membawa pekerjaan ke rumah. Alhasil, dia belum bisa bertemu dan bicara empat mata dengan Al.
Namun, kali ini dia akan mencari kesempatan di kala adik-adiknya tidak ada. Menjelaskan semua perasaannya pada Al.
.
.
.
.
.