
El menyesap teh yang dibuatnya. Memilih taman belakang sebagai untuk menikmati secangkir teh. Sesekali nafas beratnya, dia embuskan. Berharap itu dapat meredakan rasa sesaknya sedikit saja.
El tak pernah merasa sebuah kekalahan adalah masalah atau hal yang menyakitkannya, tetapi kali ini dia merasakan sakit atas kekalahannya.
“El ...,” panggil Shea yang melihat anaknya. Dia yang tadi ingin mengambil minum ke dapur melihat pintu taman belakang terbuka dan saat dia keluar, dia mendapati anaknya di sana.
“Mom.” El meletakkan cangkir berisi teh miliknya.
Sebagai seorang ibu, Shea merasakan jika anaknya sedang ada masalah. “Ada apa?” Dia duduk di kursi tepat di samping anaknya.
“Aku selalu tak masalah jika kalah, Mom, tetapi kali ini hatiku merasa sangat sakit.”
Shea meraih tangan El. Membawanya dalam genggaman. “Menang kalah itu biasa. Jika Tuhan belum memberikan kemenangan kali ini, mungkin Tuhan ini kamu mendapatkan yang lebih baik dari yang sekarang.”
El menatap Mommy-nya. Seorang ibu memang bisa menenangkan anaknya. Dan El merasakan akan hal itu. Perasaannya jauh lebih tenang.
“Apa ini tentang Freya?” tanya Shea ragu-ragu menebak.
“Dia mencintai Al, Mom, dan sepertinya Al juga mencintainya.”
Shea bisa merasakan sesakit apa anaknya. Pasti sangat menyakitkan melihat orang yang dicintai, mencintai orang lain. Dan saudaranya sendiri yang dicintai. Inilah yang tidak disukai oleh Shea, melihat anaknya terluka saat bersaing.
“Mommy tahu bagaimana perasaanmu. Tak masalah merasa sedih karena kecewa, tetapi cepatlah bangkit karena hidupmu harus terus berjalan.” Shea mengeratkan genggamannya.
El mengangguk. Membenarkan ucapan Mommy-nya jika kesedihannya tak bisa berlanjut terlalu lama. Dia harus bangkit.
...****************...
El tampak biasa setelah hari di mana Freya mengatakan jika dia mencintai Al. Dia pun memberikan kesempatan pada Al untuk lebih dekat lagi dengan Freya. El yang biasanya menjemput Freya pulang, melepasnya Freya pulang dengan Al. Dia lebih memilik menyelesaikan pekerjaannya. Melupakan kesedihannya sejenak atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan dan bangkit menata hatinya kembali.
Freya yang sedang di mabuk cinta begitu bahagia bisa dekat dengan Al. Walaupun sampai detik ini Al tak pernah menyatakan cinta ataupun mengungkapkannya, tetapi Freya merasa jika Al pun menaruh hati pada.
Al sendiri yang memang menaruh hati pada Freya sangat senang saat El tampak melepas Freya untuknya.
Setiap pulang dari kantor wajah Al begitu bahagia
Seperti sore ini, El mengantarkan Freya sampai di depan rumahnya.
“Besok, Kak Al ada janji tidak?” tanya Freya sebelum keluar dari mobil.
“Tidak, kenapa?”
“Bagaimana jika besok kita jalan-jalan.”
“Baiklah,” jawab Al dengan senyum tipis-nyaris tidak terlihat.
“Baiklah, bertemu besok.” Freya keluar dengan wajah yang begitu ceria. Di luar mobil dia melambaikan tangannya.
Pemandangan itu dilihat oleh Shea yang sedang berada di lantai atas dengan Selly. Dua ibu itu sedang berbincang sambil menikmati secangkir teh dan membahas acara belajar memasak yang di adakan di rumah Shea, besok.
“Apa hubungan mereka lebih dari sekadar atasan dan bawahan?” tanya Selly melihat anaknya. Sejauh ini sikap Al tak banyak berubah. Tak terlalu menunjukkan jika dia sedang jatuh cinta.
“Kata El mereka saling menyukai,” jawab Shea lemas. Sebagai ibu dia tak tega melihat anaknya terluka.
“El sudah tahu?” Selly memastikan.
“Iya, dan dia amat terluka.” Shea menjawab dengan menyelipkan senyuman di wajahnya. Tangannya mendekatkan cangkir pada bibirnya dan menyesap tehnya.
Selly terdiam. Merasakan sesakit apa El. Baginya, El adalah anaknya juga. Sejauh ini, Selly tahu sebesar apa El menjaga Freya. Namun, saat Freya mencintai orang lain. Pastinya akan sangat membuat El terluka.
“Bersaing dengan saudara sendiri memang jauh lebih menyakitkan, tetapi aku sudah meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja.” Shea kembali tersenyum.
“Aku yakin, El akan lebih kuat dibanding ibunya,” ucap Selly.
Shea hanya bisa tersenyum.
...****************...
Di hari libur para ibu-ibu berkumpul di rumah Shea dan Bryan- orang tua El. Mereka semua sedang mengajari anak perempuan mereka memasak. Seketika rumah El menjadi ramai.
Cia yang kala itu ada di rumah El, mencari pria yang menjanjikan London padanya. Dia ingin menanyakan tentang kerja sama tempo hari. Memastikan jika semua masih akan berjalan.
Tepat saat Cia menuju kamar El, dia berpapasan dengan pria itu.
“Kenapa di sini? Bukankah kamu akan belajar masak dengan mommy?” tanya El.
“Iya, tapi ada yang ingin aku tanyakan dengan Kak El.”
“Masalah kerja sama London.” Cia dengan semangatnya menjelaskan maksud kedatangannya.
“Kerja sama berakhir,” jawab El malas. Dia melangkah meninggalkan Cia.
Cia masih terpaku. Jawaban El benar-benar mengejutkannya. “Tunggu-tunggu.” Dia berbalik dan memutar tubuh El untuk menghadap padanya. “Kenapa berakhir?” tanyanya penasaran.
“Iya, Kakakmu tidak dapat dipisahkan. Bagaimana lagi?”
Pupus sudah harapan Cia untuk ke London. Kakaknya yang jelas-jelas mencintai Al, tak bisa dicegah lagi.
“Apa Kak El menyerah begitu saja?”
“Iya, memang kenapa harus memaksakan diri jika Freya tidak mencintaiku?” El kembali berbalik meninggalkan Cia.
“Tunggu dulu aku belum selesai bicara.” Cia kembali menarik tubuh El. Mengajaknya kembali bicara.
“Apa lagi?” tanya El.
“Kalau Kak El tidak jadi dengan Kak Freya, berarti aku tidak jadi ke London?” tanyanya.
“Iya, benar sekali.” El menjawab seraya mencubit pipi Cia. Kemudian dia berbalik untuk meninggalkan Cia.
Cia begitu lemas. Sekarang dia tidak akan pergi ke London jika kakaknya tidak jadi dengan El.
“Aku harus bagaimana?” Cia terus saja memikirkan cara dia bisa ke London.
El yang turun ke bawah melihat para wanita memasak. Mereka sibuk membuat kue. Tepat di belakangnya ada Cia yang lemas setelah mendapati jawaban jika kerja samanya berakhir.
“Cia, cepat buat adonannya!” seru Chika-mamanya.
“Iya,” jawab Cia lemas.
Cia melewati tubuh El dan membuat El tersenyum melihat wajah Cia yang begitu kecewa. Sebenarnya, El tidak tega mempermainkan gadis itu dengan iming-iming London, tetapi kala itu, dia tak punya pilihan.
Para wanita belajar memasak sambil saling bercerita. Suasana dapur begitu riuh dengan cerita-cerita cinta masa muda para ibu-ibu.
“Dulu, Mama Chika dan Papa Felix itu dijodohkan,” ucap Shea yang menjawab pertanyaan Freya, Cia, dan Ghea.
“Jaman apa itu dijodohkan?” tanya Freya mencibir.
“Ya, begitulah jodoh. Terkadang tak selalu mendapatkan karena cinta. Ada juga yang mendapatkan karena dijodohkan.” Chika tersenyum.
“Lalu apa Mama akhirnya mencintai?” tanya Cia polos.
“Kalau tidak saling mencintai, bagaimana bisa lahir kalian.” Selly tertawa menjawab pertanyaan anak-anak.
“Kalau Mommy Selly apa dijodohkan juga?” tanya Freya.
“Dulu Mommy dan Daddy Regan berpacaran. Lalu akhirnya kami menikah.”
“Wah ... pasti seru, menikah karena cinta.” Freya membayangkan hal itu akan terjadi dengannya Al.
“Tidak semudah itu. Daddy Regan itu pendiam-pasif. Jadi Mommy harus lebih aktif.”
“Maksudnya Mom?” tanya Freya, Cia dan Ghea bersamaan.
“Dulu, Mommy yang menyatakan cinta pada Daddy Regan. Karena tak sabar menunggu Daddy mengatakan cinta.”
“Apa tidak apa-apa jika wanita mengatakan cinta, Mom?” tanya Freya
“Tidak apa-apa kalau pria seperti Daddy Regan atau Al. Mereka itu pria diam, jadi wajar saja harus wanita yang aktif,” jawab Selly tertawa.
Ketiga gadis itu mengangguk.
.
.
.
.
.