Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Mirip Mommy



“Bagaimana apa kamu tertarik dengan Shera?” Felix yang duduk di belakang, memajukan tubuhnya mendekat pada El yang duduk di kursi kemudi.


El melirik sejenak pada teman daddy-nya itu. Namun, kemudian pandangannya kembali pada jalanan.


“Apa kamu tahu tidak sadar, namanya sudah mirip dengan mommy-mu. Shea dan Shera.”


“Sama dari mana?” Bryan yang tak terima istrinya dibuat mirip dengan orang lain tidak terima.


“Sama, ada huruf S, H, E, A. Yang membedakan hanya tambahan R saja.” Felix masih dengan pendiriannya.


El dan Bryan saling memandang dan tersenyum.


“Aku sudah bilang bukan, El akan menikah dengan anakmu.”


“Apa Freya mau?” tanya Felix. Pria paruh baya itu senang sekali memupuskan harapan El.


“Jika Freya tidak mau, aku akan menyuruh El melakukan apa yang aku lakukan pada Shea.”


“Jangan macam-macam kamu, Bry.” Orang tua mana yang rela anaknya harus menerima perlakuan buruk dari pria. Mungkin karena Shea tidak punya orang tua jadi tak ada yang merasa tidak rela.


Bryan tergelak. Puas sekali mengerjai temannya.


“Memang apa yang dilakukan Daddy pada mommy?” tanya El. Selama ini dia tidak tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.


Bryan dan Felix saling pandang. “Bukan apa-apa, hanya dulu Daddy menikahi mommy tanpa cinta.” Bryan tak berani menceritakan hal buruk yang dilakukannya dulu. Tak mau anaknya mencontoh hal buruk.


“Dan akhir Daddy membuat mommy jatuh cinta?”


“Iya, Daddy membuat mommy-mu jatuh cinta.” Dengan bangganya mereka menceritakan. Felix yang di belakang tersenyum. Mengingat perjuangan Bryan.


“Kalau begitu aku juga akan berjuang membuat Freya mencintai aku.”


Felix tersenyum. “Berjuanglah, jika kamu sudah butuh bantuan, lambaikan tanganmu.”


“Apa Papa akan membantu aku?” tanya El.


“Tidak, aku hanya akan mengajakmu menikmati kopi saja.”


El mendengus kesal. Dia pikir Papa Felix akan membantunya.


Bryan dan Felix tak kalah tertawa. Sebenarnya mereka tidak pernah ikut campur urusan percintaan anak-anak mereka. Menyerahkan semua pada mereka yang menjalani.


...****************...


Mobil melaju membelah kemacetan yang menjadi hal biasa. Berusaha untuk sampai di tempat tepat waktu.


Walaupun sedikit terlambat, akhirnya mobil sampai. Berhenti tepat di depan kantor, menepikan mobilnya. Buru-buru El turun dari mobilnya. Menghampiri Freya dan membantunya untuk masuk ke mobil


Freya yang sedari tadi menunggu masuk ke dalam mobil. Sebenarnya dia tak apa-apa. Masih bisa jalan tanpa dibantu. Namun, El terlalu berlebihan hingga memperlakukannya seperti orang sakit.


“Apa kamu lama menunggu?”


“Kenapa bertanya kalau sudah tahu,” jawab Freya malas, tetapi kemudian tersenyum. “Traktir aku untuk mengganti waktu yang aku pakai untuk menunggu.”


“Hanya mentraktir kamu saja mudah untukku.” El menarik senyumnya. Mata birunya berbinar. Menghabiskan waktu berdua adalah hal yang sangat membantunya untuk dekat dengan Freya.


Mereka berdua menuju ke salah satu restoran. Memesan makanan dan menunggu sesaat sambil saling bercerita.


“Apa kamu sudah banyak belajar?”


“Sudah. Kak Al sudah banyak mengajari aku.”


“Baguslah, cepat selesaikan belajarmu. Agar tidak perlu sampai tiga bulan.”


“Tapi kakek menyuruhku tiga bulan, El.”


“Apa kamu tahu? Belajar yang benar itu adalah kamu yang terjun langsung. Kamu akan dapat pengalaman langsung. Kamu bisa langsung tanya apa yang kamu tidak tahu.”


Freya memikirkan apa yang dikatakan oleh El.


Membenarkan semuanya. “Aku akan coba bicarakan pada kakek, El.”


Saat makanan mereka datang. Mereka berdua menikmati makan bersama. Sesekali El melontarkan candaan membuat suasana menjadi ramai.


“Justin ...,” panggil seorang wanita dan membuat El dan Freya menoleh, menghentikan makan.


“Shera, kamu di sini?” El tersenyum melihat wanita yang ditemuinya tadi siang.


Freya yang menoleh, bingung dengan wanita yang dilihatnya. Baru pertama kali dia melihat wanita itu. Sejauh kenal dengan El, dia selalu kenal dengan teman El dan kali ini dia tidka kenal.


Wanita yang cantik, batin Freya. Terlihat jelas wanita cantik dengan wajah oriental begitu memesona. Hingga sebagai wanita, Freya memujinya.


“Ini anak Pak Felix. Senang bertemu denganmu.” Shera mengulurkan tangan berkenalan.


“Freya.” Menerima uluran tangan.


“Sepertinya aku mengganggu kalian makan.”


“Tidak,” elak El


Jelas-jelas dia mengganggu, batin Freya kesal.


“Apa kamu ingin makan?” tanya El.


“Aku hanya memesankan makanan di restoran ini untuk mama,” jawab Shera.


Saat sedang asyik berbincang, makanan pesanan Shera sudah jadi. Akhirnya, dia berpamitan pada El dan Freya. Selepas kepergiaan Shera, El dan Freya melanjutkan kembali makannya.


“Kenapa tidak cerita jika tadi berkenalan dengan wanita?”


El yang sedang menyuapkan makanan, menghentikan gerakannya. Mata birunya menerawang tatapan Freya yang tampak kesal.


“Apa kamu cemburu?”


“Siapa yang cemburu?”


“Aku hanya tanya, bukan cemburu.”


“Oh ....” El melanjutkan makannya. Mengabaikan Freya yang tak terlihat kesal.


...****************...


Suara ramai terdengar di ruang keluarga rumah Freya. Apalagi jika bukan Cia yang membuat suasana begitu ramai. Gadis cantik itu baru saja menjajal kue buatannya dan memaksa kedua orang tuanya mencobanya.


Freya yang selesai mandi, bergabung dengan semuanya. Menikmati berkumpul. Duduk tepat di samping papanya, dia tersenyum melihat aksi Cia.


“Aku benar-benar sudah mencoba, Ma, Pa. Jadi aku yakin aman.”


Felix mengembuskan napas. Tangannya meraih kue buatan anaknya. Memasukkannya perlahan ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan berhati-hati. Bersiap memuntahkan jika rasanya tidak enak.


Istrinya dan anaknya-Freya menatap Felix memberikan isyarat mata, menanyakan bagaimana rasanya. Mereka berdua sudah was-was jika rasanya tidak enak. Namun, tebakan mereka salah, karena Felix tersenyum sesaat merasakan kue buatan Cia.


Freya dan mamanya ikut lega. Paling tidak malam ini perut mereka aman karena tidak akan merasakan kue tidak enak. Membuat Cia lega, mereka memakan kue buatan Cia.


Walaupun rasanya tidak seenak kue yang dibuat nenek di toko kue, tapi lumayan untuk dicoba.


“Apa Papa kenal Shera?” tanya Freya saat ingat tentang wanita cantik yang dilihatnya tadi.


“Oh ... Shera? Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Tadi aku bertemu saat makan dengan El.”


“Wah ... El bertemu Shera lagi? Apa mereka mengobrol? Membuat janji untuk bertemu lagi?” Felix begitu bersemangat hingga membuat Freya memicingkan mata saat melihat papanya seperti itu.


“Untuk apa membuat janji?”


“Berkencan, apalagi?”


Mata Freya membulat sempurna. “Apa Papa berusaha menjodohkan mereka?” tanyanya kesal.


“Kenapa? Papa rasa mereka cocok.”


“Cocok bagaimana?” Freya mendengus kesal.


“Nama Shera mirip dengan mommy-nya. Cantiknya juga mirip. Jadi sangat cocok.”


“Tapi mereka baru kenal, belum tentu wanita itu baik.”


“Ya, baik tidak itu pendapat El.” Felix tersenyum pada anaknya.


Freya menatap malas papanya. El harus dapat wanita baik, tidak boleh sembarangan.


.


.


.


.


.