Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Memulai Persaingan



Di vila mereka semua menyiapkan untuk barbeque party nanti malam. Freya, Ghea dan Cia saling bantu-membantu menyiapkan bahan-bahan untuk acara, sedangkan El, Al, Dean dan Bian saling membantu membuat bara api.


“Aku dengar kamu akan kuliah ke London, Bi?” tanya Al di sela-sela menyiapkan bara untuk membakar daging.


“Iya, rencananya begitu,” jawab Bian.


“Wah ... kamu akan meneruskan Kak El dan Kak Al kuliah di London ternyata, Bi,” timpal Dean.


“Iya,” jawab Bian datar.


Dari kejauhan perbincangan itu terdengar oleh Cia. Gadis dua puluh tahun itu mendengar jika Bian akan ke London. Tak butuh waktu lama, Cia langsung menghampiri kumpulan pria-pria itu.


“Kamu benar akan kuliah ke London, Bi?” tanya Cia memastikan.


Bian menatap aneh mendapati pertanyaan dari Cia.


“Bi, jawab kamu akan kuliah di London?” Cia kembali bertanya.


“Iya,” jawab Bian malas.


Cia tidak menjawab dan justru tersenyum. Dia akhirnya menemukan jawaban atas doa-doanya selama ini.


Jika papa bilang tidak akan ada yang menjaga aku, kali ini aku sudah mendapatkannya. Jadi tidak ada alasan lagi papa menolak permintaan aku.


“Kenapa memangnya?” tanya Bian penasaran.


El dan Dean saling pandang. Mereka sudah tahu alasan apa yang membuat Cia tersenyum setelah mengetahui Bian akan ke London.


“Tidak apa-apa,” ucap Cia, kemudian dia berlalu pergi meninggalkan kumpulan para pria.


“Kenapa dia aneh?” tanya Bian bingung.


“Dia ingin kuliah di London juga, tetapi Papa Felix tidak mengizinkan karena tidak ada yang menjaga,” jawab El.


“Oh ....” Bian mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, beberapa saat kemudian dia tersadar. “Apa? Dia mau ke London?” tanyanya memastikan dan mendapatkan anggukan dari El. Dia mulai berpikir pasti ada yang sedang direncanakan oleh Cia. Aku harus waspada.


Acara barbeque dimulai. Semua berkumpul untuk menikmati pesta. El, Al , Dean dan Bian sibuk membakar daging. Aroma daging yang dibakar begitu harum dan membuat semua tak sabar untuk memakannya.


Di tempat lain, Freya, Ghea dan Cia menyiapkan minuman.


Al membawa daging yang sudah dibakar menuju ke meja para wanita. Menyerahkan daging untuk dinikmati. Ghea dan Cua langsung menyantap daging. Menikmati daging yang dibakar.


“Kak El, bakar yang banyak,” teriak Ghea. Mulutnya asyik menikmati makanannya.


“Enak sekali mereka sudah makan,” gerutu Bian melihat kakak perempuannya.


Ghea dan Cia mengabaikan begitu saja apa yang dikatakan Bian. Mereka asyik terus menikmati makanan di hadapannya.


Al yang melihat hanya bisa menggeleng. Namun, matanya teralihkan pada Freya yang diam saja. “Apa kamu tidak makan?” tanyanya.


Seperti banyaknya wanita yang jatuh cinta, mereka akan merasa berdebar-debar saat melihat orang yang disukainya. Kemudian berusaha untuk menjaga sikap, agar tidak ketahuan seperti apa sifat buruknya.


“Aku akan menunggu yang lain saja,” jawab Freya.


“Makanlah dulu, nanti kami bisa menunggu daging yang baru dibakar.”


Kalimat datar Al, mampu membuat Freya mengangguk. Seperti mantra, dia langsung menikmati makan. Namun, dia seakan tidak jadi dirinya sendiri. Lebih menjaga sikapnya dan makan dengan sangat hati-hati. Tak mau malu seperti tempo hari makan burger.


Al yang melihat para gadis sudah makan, meninggalkan mereka. Kembali membantu membakar daging.


El, Dean dan Bian yang sudah selesai membakar, membawa makanan untuk dinikmati bersama-sama.


Mereka semua larut dalam suasana menikmati makanan. Sesekali berbagi cerita dan tawa. Ghea dan Cia selalu melontarkan candaan yang membuat mereka semua tertawa. Hanya Bian dan Al saja yang memasang tampang datar.


“Aku akan mengambil air putih dulu,” ucap Freya saat melihat air putih habis.


“Aku temani, Frey,” ucap El.


“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Freya berdiri membawa teko untuk mengisi dengan air putih di dapur.


Suasana yang sunyi di vila membuat Freya bergidik ngeri. Membayangkan jika tiba-tiba akan ada hantu yang menemaninya. Sejenak Freya menyesali keputusannya yang menolak El untuk mengantar. Bulu kudu Freya sudah berdiri. Merasakan takut karena harus berada di tempat asing sendiri.


“Apa kamu butuh untuk ditemani?”


Seketika mendengar suara membuat Freya terkejut. Dia sampai menumpahkan air di teko yang dibawanya.


“Maaf-maaf, aku membuatmu terkejut,” ucap Al.


“Kak Al, kenapa tiba-tiba di sini?” tanya Freya.


“Aku tadi ingin ke toilet, tetapi melihatmu sendiri jadi aku berbelok.”


“Tapi Kak Al mengagetkan aku.”


“Iya, tetapi airnya tumpah ke lantai, bagaimana?”



Tidak masalah, biarkan penjaga vila nanti yang membersihkan.”


Al tersenyum pada Freya, membuat Freya tak bisa menolak pesona Al. Debaran jantungnya, memang tak menentu.


Jauh di depan pintu ada El yang sedang memerhatikan Freya dan Al. Tidak rela karena bagaimana Freya memandang Al, begitu berbeda dengan saat Freya memandangnya.


“Jika Kakak El cemburu kenapa tidak menghampiri?”


Mendengar suara bertanya padanya, El menoleh dan mendapati Ghea di sebelahnya.


“Terkadang kita berada di zona pertemanan yang tak bisa membedakan mana cinta mana teman. Jadi jika memang mencintai, bedakan dulu perhatian sebagai teman atau sebagai orang yang kita cintai.”


El menatap malas. Ini kedua kalinya El mendengar nasehat adiknya. Padahal jelas, dia tahu adiknya belum pernah berpacaran.


“Jangan banyak berpikir, pergilah!” Ghea mendorong tubuh El. Membuat El mengayunkan langkahnya.


“Apa kamu sudah mengambil air putihnya?” tanya El berbasa-basi.


Al dan Freya menoleh saat suara terdengar. Freya merasa salah tingkah saat El datang. Dalam pikirannya bertanya, apa El melihatnya yang terpesona? Namun, sesaat kemudian, dia menyadari jika andai pun El melihat, tak akan jadi masalah, karena El sudah tahu jika dia menyukai Al.


“Sudah, ini aku juga sudah selesai,” ucap Freya. Kemudian dia pergi berlalu kembali ke tempat yang lain sedang menikmati makanan. Meninggalkan Al dan El.


“Apa kita bisa bicara?” tanya El pada Al.


Al terkejut, karena jarang-jarang El bicara serius dengannya. “Ayo.” Al mengajak El untuk ke taman depan, menjauh dari adik-adiknya.


Di depan taman tampak sangat sepi. Hanya ada mereka berdua. Jadi El akan sangat leluasa untuk berbicara dengan Al.


“Ada apa?” tanya Al.


“Apa kamu menyukai Freya?” El tanpa berbasa-basi langsung melempar pertanyaan.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu seperti seorang kekasih yang menginterogasi pria yang dekat dengan kekasihmu.”


“Aku memang bukan kekasihnya, tetapi aku mencintainya,” ucap El.


Seketika Al tertawa. “Kamu benar-benar tampak seperti kekasihnya.”


“Aku serius Al.”


Al menghentikan tawanya. “Lalu kamu berharap aku menjawab apa?” tanyanya, “apa kamu berharap aku akan bilang, “aku akan menjauhi Freya, El” begitu?”


El membulatnya matanya. El sering melihat Al yang datar saat berbicara, tetapi kali ini dia melihat sebuah penekanan saat berbicara. Seolah dia sedang menantang El.


“Berusahalah lebih keras jika kamu mencintainya, karena jika usahamu tidak membuahkan hasil, dia akan berlabuh pada dermagaku.” Al tersenyum.


“Apa kamu sedang mengajakku untuk bersaing, Al?”


“Bukakah, kita dari dulu seperti itu El. Bersaing untuk mendapatkan kemenangan.”


Sejak kecil, mereka berdua memang berada di kelas yang sama. Selalu bersaing dalam segala hal. Dari lomba dan rangking di kelas, dua pria itu memang berlomba untuk jadi yang nomor satu.


Al adalah tipe yang rajin belajar, jadi dia bisa mendapatkan kemenangannya dari ketekunannya. Berbeda dengan Al, El lebih suka mendengarkan dengan baik. Jadi saat guru menjelaskan, dia akan langsung paham. Tak butuh tenaga untuk El, mengingat sesuatu.


Untu rangking di kelas, mereka bisa bergantian mendapatkannya.


Akan tetapi, tidak ada dari mereka yang marah atau kecewa saat kalah, karena mommy mereka selalu memberikan dukungan penuh dan membesarkan hati mereka saat kalah.


“Jika kalimatmu mengandung sebuah tantangan untuk bersaing, maka aku akan menerimanya.”


“Baiklah, siapa saja yang menang tidak akan ada yang iri seperti biasa.” Al mengulurkan tangannya. Memberikan kesempatan pada adiknya.


“Baiklah. Aku setuju.” El menerima uluran tangannya.


Mereka berdua membuat kesepakatan untuk mendapatkan Freya. Memulai persaingan untuk mendapatkan gadis cantik tetangga mereka.


.


.


.


.


.