Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Selalu Menang



Tangan El terus mendribel bola. Berusaha untuk mempertahankan agar bola tak jatuh pada Al. Matanya terus saja mencari celah untuk dapat lolos dari penjagaan Al yang sedari tadi menajamkan pandangan pada benda bulat yang dipegang El.


“Berusahalah lebih keras,” cibir El.


“Apa kamu selama ini tidak melihat usahaku?”


“Kadang yang berusaha lebih banyak, kalah dengan mereka yang lebih beruntung.” Al terus saja berusaha untuk meraih bola.


“Apa kamu lupa, jika tidak ada yang sia-sia dari sebuah usaha? Karena sejatinya mereka yang berusaha akan menuai hasilnya.”


El melempar bola. Jaraknya cukup jauh, tetapi seperti apa yang dia katakanya sebuah usaha tak ada yang sia-sia. Dia yang sedari tadi mempertahankan bola pun akhirnya menuai hasilnya. Bola masuk tepat ke ring. Membuat skor El lebih tinggi dan kemenangan didapat oleh El.


“Kamu selalu saja menang.” Al tersenyum melihat El.


Ucapan Al mengandung banyak arti bagi El. Antara sebuah ungkapan kekecewaan atau sebuah pujian. “Apa jika aku menang kamu kecewa?”


“Dulu iya, tetapi mommy selalu membesarkan hatiku. Jadi aku tak pernah merasakan hal itu.”


El dari kecil adalah orang yang santai. Jadi menang kalah bukanlah hal penting baginya. Namun, bagi Al yang berusaha keras akan sangat kecewa saat tidak mendapatkan hasil yang sesuai.


“Aku sudah bilang bukan, tidak ada yang namanya sia-sia dalam usaha.” El menepuk bahu Al. Meyakinkan kakak sepupunya itu.


“Jadi apa usahaku tidak akan sia-sia untuk mendapatkan Freya?” Bola mata biru milik Al, menatap bola mata biru milik El. Dua pria dengan satu keturunan itu memang memiliki warna bola mata yang sama itu saling pandang.


“Apa kamu lupa jika aku sedang berusaha juga? Jadi kita lihat usaha siapa yang akan menang.”


Dua pria yang saling bersaing itu masih dengan pendiriannya. Jika usaha mereka akan membuahkan hasil.


Al tertawa dan berbalas tawa dari El. Jika ada Freya mereka adalah petarung. Namun, saat berdua, mereka tetaplah teman. Tak ada persaingan. Melupakan sejenak jika mereka adalah lawan. Menempatkan diri di mana mereka harus bersaing.


Mereka berdua menepi. Menegak minum yang mereka bawa dalam botol. Melegakan tenggorokan yang kering karena berlari-lari.


“Aku dengar besok peletakan batu pertama perumahan?” tanya Al.


“Iya, apa kamu mau datang?”


“Aku akan datang besok. Kebetulan besok aku kosong.”


“Baiklah, aku akan menunggumu.” El meraih tasnya dan berdiri. Mengajak Al untuk pulang. Sudah cukup berolahraga hari ini. Paling tidak lemak ditubuhnya berkurang.


...****************...


El mengusap rambutnya yang basah usai keluar dari kamar mandi. Tepat saat dia keluar, ponselnya berbunyi.


“El, apa Papa menjodohkan kamu dengan Shera?” tanya Freya di seberang sana tanpa berbasa-basi lebih dulu.


El memicingkan matanya, dia merasa heran dengan Freya yang tiba-tiba bertanya seperti itu.


“Kamu baru mengenalnya El, kamu harus tahu dia lebih dalam dulu. Pastikan dulu dia baik.” Freya terus saja mengoceh.


El tersenyum mendengar ucapan Freya. Dia sadar ada yang berbeda dari ucapan Freya. Bolehlah dia percaya diri jika gadis di seberang sana sedang cemburu. Jadi tidak ada salahnya, membakar api cemburu lebih besar.


“Aku akan mencoba mengenalnya,” jawab El datang.


“Kenapa mengenalnya lebih dalam?”


“Iya, seperti yang kamu bilang aku tidak mengenalnya. Jadi aku akan berusaha mengenalnya.” El dengan datarnya menjawab Freya.


Suara Freya terdengar sunyi.


“Freya,” panggil El.


“Aku akan mengirimkan untukmu.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Apa kamu menghubungi aku hanya untuk hal itu?”


“Iya, memangnya apalagi.”


El menggelengkan kepalanya. Merasa heran, karena ternyata Freya hanya ingin membicarakan Shera. Karena Freya mengakhiri obrolan, mau tak mau akhirnya El mematikan sambungan telepon.


“Tidak ada salahnya, bukan memanfaatkan keadaan?” tanya El pada dirinya sendiri.


...****************...


“El, kamu harus tampil keren hari ini. Jadi nanti saat di foto wajahmu akan bersinar dan penampilanmu sempurna.” Shea yang memasangkan dasi pada anaknya, memastikan anaknya sempurna paripurna.


“Mom, peletakan batu pertama itu dilakukan di luar ruangan, jadi pasti akan aku akan sangat bersinar di bawah sinar matahari.” El yang menengadah, melirik mommy-nya.


“Kamu itu persis dengan daddy-mu tidak bisa serius.” Shea mengencangkan ikatan dasinya.


“Berarti aku anak daddy. Karena jika aku tidak mirip daddy. Perlu dipertanyakan anak siapa aku?” El tertawa menggoda mommy-nya.


“Anak nakal,” ucap Shea seraya mencubit pipi El.


El mendaratkan satu kecupan di pipi mommy-nya. “Doakan aku, Mom.”


“Mommy selalu mendoakan semua anak-anak mommy.” Tangan Shea menangkup pipi El. Sebagai orang tua, dia selalu saja mendoakan anak-anaknya. Berharap jika mereka akan sukses. “Sudah ayo, kita berangkat,” ajak Shea.


E


l beserta kedua orang tuanya bersama-sama pergi ke tempat di mana akan dibangun perumahan milik El. Tidak hanya orang tuanya saja. Ada Regan-Selly dan Felix-Chika yang juga datang untuk menyaksikan peletakan batu pertama.


Daniel dan Melisa pun turut hadir pada acara cucunya itu. Memberikan dukungan atas acara rencana pembangunan perumahan milik El. Mereka sudah mengabari jika akan langsung ke tempat acara.


Acara memang hanya dihadiri keluarga dan beberapa staf dan pekerja. Tak banyak yang datang, karena El tak mau membuat acara heboh.


El melajukan mobilnya. Di deretan belakang ada mobil Regan dan mobil Felix yang melaju. Mereka beriringan menuju ke tempat acara.


Sesampainya di lokasi, sudah ada Al dan Freya yang juga hadir. Mereka berdua sengaja hadir di hari penting El. Melisa yang sudah datang juga tak kalah heboh memberikan selamat untuk cucunya.


Sekretaris El sudah menyiapkan semuanya. El tinggal menjalani arahan saja untuk memulai acara.


Acara dimulai. El meletakan bata dengan semen di tempat yang ada jadi gapura perumahan. Tepuk tangan terdengar dari mereka semua yang hadir. Ucapan selamat pun juga mengalir untuk El. Berharap, pengerjaan perumahan akan berjalan dengan lancar.


Acara berlanjut dengan makan siang bersama-sama. Merayakan permulaan yang akan dijalani El.


Saling bercerita tentang konsep yang akan dibawa El untuk perumahan tersebut. El tak banyak menceritakan. Dia hanya berfokus jika orang berhak atas kebahagiaan di rumah, hingga akhirnya dia memilih menyasar mereka kaum muda yang belum memiliki rumah dan ingin tinggal di perumahan untuk masa depan keluarga mereka.


.


.


.


.


.


...Yang tanya, Shera siapa, dia tokoh novel aku di Still Married. Anak Sean dan Stela. Sayangnya Novelnya ga di sini(dulu ga diterima kontrak di sini, jadi aku ungsiin ke lapak kuning🤭) ...