
Al menoleh, menatap lekat wajah Freya. “Apa kamu yakin dengan perasaanmu itu?” tanyanya memastikan.
“Iya, aku yakin,” jawab Freya dengan percaya diri. “Sejak aku bertemu dengan Kak Al pertama kali, aku merasa ada yang beda dengan perasaanku. Perhatian Kakak, membuatku merasa sangat senang. Aku selalu ingin dekat dengan Kak Al. Dan aku yakin jika aku mencintai Kak Al.”
Al tersenyum. Tangannya membelai kepala Freya. “Terkadang, sesuatu yang baru memang membuat kita terbuai. Seperti yang kamu rasakan kali ini. Kamu yang melihatku lebih bersahabat dan lebih mudah bergaul pasti sudah salah mengartikan semuanya.”
Bola mata coklat milik Freya membulat sempurna. Tak mengerti kenapa Al mengatakan hal itu.
“Aku memerhatikanmu hanya sebagai adik. Jadi sepertinya kamu salah mengartikannya semua perhatianku.”
Freya langsung menyingkirkan tangan Al. Dia amat terkejut dengan apa yang dikatakan Al. Selama ini dia sudah sangat percaya diri karena Al memerhatikannya karena pria itu mencintainya. Namun, kenyataannya yang terjadi Al hanya menganggapnya adik saja, sama seperti pada Ghea atau pada Cia.
“Kak Al yakin tak ada perasaan lebih padaku?” tanya Freya memastikan kembali. Dia masih sangat berharap jika Al hanya sedang mengerjainya.
Al menarik napasnya. “Iya, aku yakin.”
Freya berdiri. Memundurkan langkahnya. Perasaan kecewa kini benar-benar menghinggapi hatinya. Kenyataan yang terasa amat menyakitkan saat orang yang dicintainya tak mencintainya.
Tak kuasa menahan kesedihannya, Freya berbalik dan lari. Memilih meninggalkan Al yang masih duduk di bangku taman.
Air matanya mengalir deras di pipi putihnya.
Ungkapan seberapa sakitnya dia menerima kenyataan jika Al tidak mencintainya dan tidak menerima cintanya.
Melewati beberapa orang yang berada di mal, Freya keluar dari mal. Tak mau melihat Al yang dengan teganya menyakitinya.
“Ternyata dia tidak mencintai aku,” keluhnya. Tangannya mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya.
Tadinya Freya sudah membayangkan jika apa yang terjadi pada Mommy Selly dan Daddy Regan akan juga terjadi padanya. Walaupun mengatakan cinta lebih dulu, paling tidak dia akan diterima. Namun, semuanya dugaannya salah.
“Aku baru pertama kali jatuh cinta, tetapi justru harus sakit hati.” Freya yang kesal mengentak-entakkan kakinya. Malu, kecewa, sedih. Semua perasaannya campur aduk.
Saat mengentak-entakkan kaki, hak sepatunya justru patah. Hingga membuatnya hampir terjatuh. Untung dia dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya. “Sepatu kurang ajar, kamu juga mau menyakiti aku.” Freya melepas sepatunya karena kesal. Dengan kaki telanjang, dia berjalan terus.
Tepat saat berjalan, di depan Freya terdapat beberapa pria sedang duduk santai di atas motor. Sejenak Freya tersadar jika dia sudah berjalan jauh. Dan jalan yang dilaluinya justru entah mengarah ke mana.
Menoleh ke belakang, jalanan tampak sepi. Tak ada mobil atau motor lewat. “Kenapa aku bodoh sekali, harusnya aku tidak main kabur. Jika sudah begini aku bisa apa?” Dia merutuki kebodohannya.
“Hai, Nona, sedang apa kamu di sana, kemarilah!” teriak seorang pria.
“Lihatlah, pahanya mulus sekali,” ucap seorang pria.
“Lihat juga bahunya yang mulus? Menurunkan sedikit saja, kita akan dapat melihat tubuhnya,” timpal seorang pria lagi.
Tubuh Freya gemetar. Takut dengan apa yang akan dia hadapi. Karena tak mau hal buruk terjadi, dia memilih untuk berbalik. Menjauh dari kawanan pria-pria yang dilihatnya.
“Hai, Nona, kenapa pergi?” tanya seorang pria.
Freya memilih berlari. Takut sekali mendengar pertanyaan itu.
“Kejar!” suara terdengar memerintah. Hingga akhirnya, seorang pria menghidupkan mesin motornya.
Mendengar suara mesin motor, langkah Freya semakin kencang. Jantungnya berdetak lebih cepat, hingga membuatnya gemetar. Dalam hatinya berdoa, agar ada yang akan menolongnya.
Ya Tuhan tolong aku. Dalam hatinya terus saja dia lafalkan doa. Semoga Tuhan memberikan pertolongan.
Tepat saat Freya berlari, dari arah depan ada sorot lampu, membuat Freya bernapas lega, karena paling tidak dia bisa mintai bantuan.
Freya semakin mengencangkan larinya.
Dengan merentangkan tangannya, dia menghentikan motor itu.
Beruntung motor itu berhenti. Pengendara motor langsung memberikan helm dan meminta Freya untuk naik ke atas motor. Tak butuh waktu, Freya langsung naik di atas motor.
Pengendara motor yang mengejar Freya langsung berhenti dan memutar kembali motornya saat melihat Freya sudah ikut orang lain. Tak mau susah payah mengejar Freya.
Motor yang ditumpangi Freya berputar. Melaju dengan kencang, meninggalkan kawasan mal.
Freya masih gemetar dan tidak dapat bicara sama sekali. Dia amat takut jika sampai tadi terjadi apa-apa dengannya. Membayangkan saja dia tak sanggup.
Motor menepi dan berhenti di salah satu supermarket. Pengemudi membuka helm dan turun dari motor. Membuat Freya juga ikut turun.
“Tunggulah.” Dia masuk untuk membeli air minum. Kemudian kembali menghampiri dan memberikannya pada Freya, “Minumlah!” perintahnya.
Freya menatap. Air matanya menetes. Masih merasakan ketakutan. “El.” Dia memeluk El erat. Air matanya semakin lolos deras dari matanya. “Aku takut.” Dia terisak dalam pelukan El. Jika saja El tidak datang, entah apa yang terjadi.
“Tenanglah, ada aku.” El membelai punggung Freya, menenangkan Freya. Dia tahu temannya itu sangat ketakutan.
Ingatan El kembali pada satu jam yang lalu.
“Jemput Freya sekarang,” ucap Al dari sambungan telepon. Mendengar kalimat itu, El buru-buru pergi tanpa banyak bertanya. Kawasan ibu kota yang begitu macet membuatnya memilih meminjam motor pada Bian. Tak mau Freya menunggu lama dirinya.
El bisa tahu di mana Freya berada dari ponsel Freya yang selalu terhubung dengan ponselnya. Sejak di London, cara itu dipakai agar dia selalu tahu keberadaan Freya. Hingga akhirnya, sekarang dia menemukan di mana gadis itu berada. Tepat saat El menemukan ternyata Freya sedang berlari karena dikejar pria asing.
“Jangan menangis, tenanglah.” El melepaskan pelukannya. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Freya yang basah karena air mata.
Freya mengangguk.
“Minumlah dulu.” El kembali menyodorkan air mineral miliknya.
Freya menerima air mineral dan meminumnya. Mencoba menenangkan dirinya. Saat tenggorokannya dibasahi air, dia merasa sedikit lega. Tadi dia cukup kencang saat berlari. Jadi membuat tenggorokannya kering.
“Bagaimana bisa kamu di sana tadi?” Freya kembali pada ingatannya di mana dia melihat motor Bian. Dari mata biru di balik helm, dia jelas tahu siapa pemilik mata itu.
“Aku menaruh GPS di tubuhmu,” jawab El tersenyum.
Freya melihat ke arah tubuhnya. Mencari di mana El meletakkannya benda yang membuat El datang secara tiba-tiba.
Melihat Freya mencari-cari alat yang dipasangnya, El tersenyum. Kemudian dia melepas jaketnya dan menutupi tubuh Freya yang sedikit terbuka. “Pakailah, dan ayo pulang.”
Freya merasa malu dengan El. Padahal kemarin, dia menolak El, tetapi temannya itu tetap datang membantunya. Akhirnya, dia merasakan hal yang sama dengan El, yaitu sakit hati.
El memakai helmnya dan memberikan helm pada Freya. “Ayo, sudah malam,” ajaknya pulang.
Freya menerima helm, kemudian memakainya. Naik ke motor dan ikut El untuk pulang.
Tubuh El yang hanya memakai kaos tipis, membuatnya merasa dingin saat angin menerpanya. Udara malam ini memang sangat dingin dari pada biasanya. Hingga membuat tubuh El sedikit gemetar.
Menyadari El kedinginan, Freya memeluk El. Berharap dapat meredakan rasa dingin yang dirasakan El.
Senyum El tertarik di wajahnya. Tak ada yang istimewa dari pelukan itu, karena hal itu memang biasa Freya lakukan.
.
.
.
.
.