
Sesuai dengan rencana kemarin, pagi ini semua pergi untuk ke air terjun. Mereka berjalan mencapai air terjun yang memang jaraknya tidak jauh. Sepanjang jalan mereka Cia dan Ghea terus saja bercerita.
El dan Freya berjalan paling depan. Di susul Ghea dan Cia di belakang. Di barisan paling akhir, ada Al, Dean dan Bian. Mereka saling bercerita saat berjalan menuju ke air terjun.
“Tempat mana yang ingin kamu kunjungi selain tempat ini?” tanya El pada Freya.
“Aku ingin ke pantai,” jawab Freya senang.
“Kenapa pantai?” tanya El.
“Aku ingin lihat air yang biru, merasakan angin sepoi-sepoi dan merasakan deburan ombak.” Freya menceritakan seraya membayangkan bagaimana serunya semua itu.
“Aku akan membawamu pergi ke sana.”
“Jangan memaksakan untuk membawaku, El, karena aku tahu kamu sangat sibuk.”
Selama ini El memang sangat sibuk dengan proyeknya. Hingga sulit untuk meluangkan waktu. Ke pantai tak cukup jika harus pergi selama sehari atau dua hari saja. Jadi di tengah kesibukannya akan sangat sulit mencari waktu.
“Iya, aku akan cari waktu yang pas untuk kita pergi,” jawab El dan mendapatkan senyuman dari Freya.
Di saat sedang asyik bercerita, tiba-tiba Cia datang di tengah-tengah mereka berdua. Membuat Freya dan El memberikan ruang untuk Cia.
“Kak El,” sapa Cia seraya melingkarkan tangannya di lengan El dengan manjanya.
El terkejut dengan apa yang dilakukan Cia. Matanya menatap ke Freya seolah bertanya, ada apa dengan Cia?
Freya pun menaikan bahunya-tanda tidak tahu apa yang dilakukan adiknya.
“Kak, apa Kak El bisa membantuku untuk kuliah ke London?” Semalam Cia sudah memikirkan jika dia akan meminta tolong dengan El. Bian sangat menurut dengan El. Jika Bian menerimanya pasti akan sangat mudah untuk membujuknya.
Freya yang mendengar adiknya membahas tentang London, memilih mundur dan meninggalkan Cia dengan El. Tak mau membantu El yang harus menghadapi adiknya.
El melirik malas pada Freya yang meninggalkannya. Mau tak mau dia harus menghadapi Cia sendiri. “Bukankah, Papa Felix sudah bilang tidak boleh.”
“Iya, papa mengatakan itu karena tidak ada yang menjaga aku, tetapi bukannya akan ada Bian yang di London.”
El akhirnya mengerti maksud Cia, apa lagi jika bukan London. “Bian terlalu kecil untuk menjagamu.”
“Di sini saja, dia menjagaku. Aku yakin di sana dia akan menjagaku juga.”
Kemarin El mendengar sendiri jika Bian tidak mau menjaga Cia. Jadi kini dia memikirkan cara untuk memberitahu Cia.
“Bujuklah Bian agar mau menjagaku, Kak. Aku tahu Bian akan menurut jika Kak El yang bilang.”
Sebenarnya El tidak tega. Cia begitu ingin kuliah di London, sedangkan keadaan terlalu sulit untuknya. El sendiri tidak yakin Bian bisa menjaga Cia, mengingat anak muda seperti Bian masih suka bersenang-senang.
“Baiklah, aku akan coba, tetapi aku tidak janji.” Hanya itu yang bisa El lakukan sementara waktu. Sambil nanti dia memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Saat El dan Cia sedang bernegosiasi. Di barisan belakang, Ghea yang sedang asyik bercerita dengan Freya justru mundur untuk berbicara dengan Dean. Membuat Freya sendiri.
Al maju ke depan untuk menemani Freya karena gadis itu berjalan sendirian.
“Sedang apa mereka?” tanya Al seraya melihat El dan Cia.
“Cia sedang membujuk El agar Bian mau menjaganya di luar negeri.”
“tidak seperti El dan Al saat kamu di sana.”
Freya melirik tajam saat mendengar Al mengatakan tentang menjaganya. Seingatnya Al sangat dingin. Ke mana-mana dia selalu dengan El. Seolah Al tak peduli. “Hanya El yang menjagaku, bukan Kak Al,” ucapnya ketus.
“Terkadang, menjaga seseorang tak melulu selalu ada di sebelahnya.”
Freya memicingkan matanya, tak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan Al. Seingatnya, di London, Al memang tak pernah menjaganya. Sekalipun pulang bersama dengan Al, itu terjadi karena tidak disengaja.
Al tersenyum. Ingatannya kembali di mana dia seringnya memerhatikan Freya dari kejauhan saat di London. Al menyadari jika dia tak pandai untuk dekat dengan Freya, karena dari kecil El yang lebih dekat dengan Freya. Rumah Al yang berjarak 500 meter dari rumah El dan Freya, membuatnya jarang ke sana untuk bergabung. Hingga akhirnya mereka tak dekat.
Namun, tidak dekatnya Al dengan Freya, bukan berarti membuat Al tak menjaga Freya saat di London. Di saat El tidak bisa pergi bersama dengan Freya. Diam-diam, Al mengikuti Freya dari belakang. Memastikan jika gadis itu sampai kampus dengan selamat.
Atau saat El tidak bisa menjemput Freya, Al akan pura-pura tak sengaja berada di dalam satu bus dengan Freya. Sesekali, Al juga mengecek keadaan Freya. Terlebih saat El tidak ada. Setelah ada El, Al akan memilih menjauh, membiarkan mereka bersama. Lagi pula terkadang El dan Freya seru, dia bingung untuk bergabung. Sekalinya bergabung, dia memilih untuk banyak diam. Tak banyak berbicara.
“Aku masih heran, kenapa bisa Kak Al berubah, padahal sewaktu di London, Kak Al sangat pendiam.” Pertanyaan itu masih terus menghiasi pikiran Freya. Perubahan Al terlalu banyak untuknya.
“Mungkin karena seringnya bersama dengan Ghea dan Cia.” Al mengakui jika bersama dua gadis cerewet itu, dia mulai banyak bicara.
“Ternyata cerewet itu menular,” sindir Freya.
“Sedikit,” jawab Al tersenyum.
El yang secara kebetulan menoleh, terkejut mendapati Freya bersama dengan Al. Dia memikirkan cara untuk menjauhkan mereka berdua , tetapi dengan cara halus, karena tidak mau membuat Freya curiga.
Akhirnya, dia menemukan ide untuk melancarkan aksinya. “Kamu mau aku membujuk Bian bukan?” tanya El pada Freya.
“Iya-iya.” Cia begitu bersemangat.
“Baiklah, bantu aku untuk membuat Al sibuk. Ajak dia bermain dan bersenang-senang.” Terdengar licik saat harus memanfaatkan keadaan, tetapi bagi El tak masalah jika diperlukan.
Tanpa sadar Cia menoleh ke belakang saat dan membuat El membalikkan tubuh gadis itu.
“Jangan melihat ke belakang!” El tak mau ada yang curiga.
“Kak El suka dengan Kak Freya?” tanya Cia.
“Menurutmu?” El balik bertanya.
Cia menelan salivanya. Kemarin dia memerhatikan kakaknya yang tampak senang sekali saat dekat dengan Al dan kini dia mendapati jika El ternyata menyukai kakaknya. Cinta segitiga yang rumit, batin Freya seraya menggelengkan kepalanya.
“Mau tidak?” EL memastikan kembali.
Demi London, batin Cia. “Iya, aku mau.”
“Oke, kita sepakat.” El mengulurkan tangan. Membuat kesepakatan dengan Cia. Dengan senang hati Cia menerima. Tak mau melepas kesempatan berharga.
.
.
.
.