
El dan Freya menikmati suasana hotel bersama. Memilih kafe hotel untuk menikmati sore yang indah. Freya yang begitu bahagia, mengabadikan dalam sebuah foto. Beberapa angle foto diambil untuk dijadikan kenangan-kenangan.
Langit sore itu tampak begitu indah. Perpaduan warna jingga membuat langit begitu indah.
“Lagi El, foto lagi,” pinta Freya yang sedari tadi tak henti meminta El membidik foto.
El mendengus kesal. Sudah puluhan foto dia bidik, tetapi Freya terus saja tidak puas. “Ini sudah puluhan kali, kamu sudah mengalahkan foto model sedari tadi.”
Freya tersenyum polos. “Aku janji, ini yang terakhir,” pintanya memohon pada El. Sedari tadi dia belum menemukan foto yang pas.
El mengembuskan napas kasar. Dengan malas dia memfoto kembali Freya. Berharap itu benar-benar yang terakhir kali.
Fryea melihat-lihat foto di ponselnya, merasa senang foto El akhirnya sesuai dengan yang dia inginkan. Paling tidak ada yang bisa dia pamerkan pada Ghea dan Cia yang tidak bisa pergi jalan-jalan.
“Ayo, kembali ke kamar. Aku ingin mandi dan setelah itu kita makan malam,” ajak El. Dia memilih meninggalkan Freya yang masih asyik melihat foto di ponselnya.
Karena asyik melihat fotonya, dia tak sadar jika El sudah berlalu meninggalkannya. “El tunggu.” Buru-buru Freya lari mengejar El. Tak mau sendiri ditinggal di luar hotel.
Di kamar hotel, Freya terus masih melihat foto dirinya, sedangkan asyik langsung masuk ke kamar mandi. Tubuhnya yang begitu lengket ingin segera dia segarkan. Tepat saat Freya sedang asyik, ponselnya berdering. Ternyata papanyalah yang menghubungi. Tak butuh waktu lama, dia mengangkat sambungan telepon.
“Halo, Pa.”
“Kamu pergi ke mana sebenarnya?” tanya Felix. Dia yang pulang dari kantor dikejutkan dengan kabar jika anak perempuannya pergi.
“Ke Labuan Bajo, Pa.”
“Untuk apa pergi ke sana?”
“Jalan-jalan, Pa.”
“Frey, pergilah mandi. Tubuhmu pasti sangat lengket.” El yang baru saja keluar dari kamar, berbicara pada Freya, membuat Freya terkejut.
“Siapa itu? Lengket? Apa yang sedang kami lakukan di sana?” Felix yang mendengar suara pria seketika panik. Pikirannya melayang membayangkan apa yang dilakukan oleh anaknya.
Freya menepuk dahinya. Merasa sial sekali suara El tepat saat papanya menghubungi. “Itu El, Pa.”
“Apa El? Kenapa kamu berada di satu kamar? Apa yang kamu lakukan?” Felix terus mencecar anaknya dengan pertanyaan.
“Pa, dengarkan Freya dulu.”
“Apa yang ingin kamu jelaskan. Jelas-jelas kamu bersama pria di satu kamar.”
Freya benar-benar tidak mengerti kenapa papanya begitu tidak mau mendengarkan penjelasannya. “Kami tidak satu kamar, Pa. Freya yang takut di kamar sendiri, berkunjung ke kamar El. Setelah ini, aku akan kembali ke kamarku.” Freya terpaksa berbohong. Tak mau papanya terus saja berpikir buruk dirinya saat pergi jalan-jalan.
“Baiklah, ingat kamu harus berhati-hati di sana.”
“Iya, Pa.” Freya mematikan sambungan telepon. Kemudian dia beralih pada El. “Kenapa berbicara saat aku sedang menghubungi papa?” protesnya.
“Mana aku tahu kamu sedang menghubungi papa. Tadi aku melihatmu sedang melihat fotomu,” elak El.
Freya mengembuskan napas kasar. “Beruntung aku bisa berbohong. Jika tidak. Pasti kita akan dapat masalah.”
El hanya tersenyum. Dia juga tidak bisa bayangkan jika benar orang tahu mereka berada di satu kamar.
“Sudah, mandilah. Aku sudah lapar.”
Di kamar mandi, Freya melihat bathtub yang terlihat begitu nyaman. Akhirnya, dia memutuskan untuk berendam sejenak.
El yang lama menunggu Freya mandi, justru tertidur. Semalam setelah menjemput Freya, dia menyempatkan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Paling tidak saat liburan, tidak ada pekerjaan yang mengganggunya.
Puas berendam, Freya keluar. Namun, dia mendapati El yang justru sedang asyik tertidur. Karena penasaran Freya mendekat. Wajah El yang sedang tidur, terlihat saat menggemaskan.
Melihat pemandangan itu membuat Freya ingin mengerjai. Akhirnya terpikir untuk menggunakan rambut basahnya. Meneteskan air di rambutnya tepat di wajah El.
El yang merasakan air menetes hanya melenguh. Merasa ada yang dingin, tetapi tak tahu apa.Freya tersenyum melihat aksinya itu. Geli sekali melihat wajah El yang terusik.
Tanpa sadar, ternyata El sebenarnya merasakan. Karena gemas, dia menarik tangan Freya dan membuat gadis itu jatuh ke dalam peluknya. Membalik tubuh Freya dan membawanya dalam kungkungannya. “Kamu menggodaku?” El menggelitik tubuh Freya, membuat gadis itu tertawa.
“El, ampun,” pintanya. Tawanya terus terdengar.
“Kenapa menggodaku?”
“Kamu begitu lucu saat tidur El, aku jadi gemas.”
El terus saja menggelitik, membuat tubuhnya dan Freya berjarak begitu dekat.
“El ampun, aku janji tidak akan mengganggumu lagi.”
El seketika menghentikan aksi menggelitiknya. Tepat saat itu dia baru menyadari jika tubuhnya menempel dengan posisi di atas. Wajah Freya yang berjarak beberapa inci, membuatnya merasakan deru napas Freya. Apalagi napas Freya yang sedang terengah-engah karena tertawa.
Tanpa sadar, tangan El menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Freya. El mengakui jika Freya begitu cantik. Hal itu juga yang membuatnya jatuh cinta.
Freya terkejut saat tangan El menyingkirkan rambutnya. Pandangan mereka saling mengunci sejenak, sebelum akhirnya El menyadari posisi seperti itu sangat tidak baik untuknya. Sebagai pria normal, dia pasti akan tergoda.
“Maaf.” El menyingkir dari tubuh Freya.
“Iya.” Pipi Freya merona. Malu sekali saat menyadari posisinya tadi. Bangun dari tempat tidur, dia merapikan rambutnya
“Sebaiknya kita segera keluar dan makan.” El bersiap mengambil ponsel dan dompetnya. Memecah kecanggungan yang ada.
“Iya.” Freya berdiri dan merapikan penampilannya. Kemudian mengambil tasnya.
Mereka berdua menikmati makan malam di restoran hotel. Suasana yang begitu romantis itu membuat mereka berdua justru semakin canggung. Kebanyakan dari mereka yang makan di restoran adalah pasangan. Dan bisa dipastikan mereka datang untuk berbulan madu.
Namun, El tak mau kecanggungan itu berlangsung lama. Dia mengajak Freya berbicara dan menetralkan suasana. Bercanda di sela-sela makan mereka. Membuat suasana makan malam lebih hangat.
Usai makan, mereka memilih kembali ke kamar. El membiarkan Freya untuk tidur di tempat tidur dan dia memilih untuk tidur di sofa. Tak mau berada di satu tempat tidur.
Malam yang semakin larut, mengantarkan mereka ke peraduan. Menikmati tidur nyenyak yang akan membuat tubuh mereka segar, esok nanti.
.
.
.
.
.