
Di dalam mobil El menunggu Freya yang tak kunjung keluar dari rumah. Tadi saat pulang dari kantor, dia memaksa untuk ikut El bertemu Shera. Dia ingin tahu seperti apa gadis itu.
“Kenapa lama sekali,” keluh El saat Freya masuk ke mobil.
“Kamu seperti tidak tahu jika wanita berdandan saja.” Freya dengan santainya memakai sabuk pengaman.
“Kamu hanya akan bertemu dengan seorang wanita. Jadi untuk apa berdandan?” El mulai menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menuju restoran yang ditentukan Shera.
“Justru itu, aku ingin tampil lebih dari wanita yang aku temui.”
El melirik sejenak pada Freya. “Untuk apa kamu ingin lebih unggul?”
“Ya ....” Freya bingung menjawab pertanyaan El. Dia sendiri juga tidak tahu untuk apa dia mau tampil lebih cantik. “Entahlah.”
El semakin dibuat pusing dengan apa yang dipikirkan Freya. Mengabaikan Freya, dia terus melajukan mobilnya.
Sampai di sebuah restoran, mereka menemui Shera yang tadi mengabari jika dia sudah datang lebih dulu.
“Hai, Shera,” ucap Freya.
“Hai Freya.” Shera Sedikit terkejut karena El tidak datang sendiri.
“Maaf aku ikut ke El ke sini.”
“Oh ... tidak apa-apa.” Shera tersenyum. Beralih pada El, dia mengulurkan tangannya. “Hai,
Justine.”
“Hai, She.”
“Ayo duduk,” ajaknya. Mereka semua duduk bersama. El duduk bersebelahan dengan Freya.
“Senang Justine, kamu mau datang ke sini.”
“Iya, tidak masalah.”
“Iya, jadi aku mau ke London, tetapi aku tidak tahu banyak tempat di sana. Jadi dari itu aku ingin bertanya padamu.” Shera menatap El mengungkapkan apa niatannya.
“Jika kamu ingin tahu London, kamu bisa tanya aku. Aku tahu banyak tentang London.” Freya berbicara sebelum El berbicara. Mengambil alih kendali agar El tak banyak bicara.
“Oh ya, kamu juga tahu banyak tentang London, Frey?” Shera berbinar.
“Iya, aku tahu banyak bagaimana London, jadi kamu bisa tanya aku.”
El terkesiap. Freya justru mengambil alih
semua. Entah alasan gadis itu apa, El tidak mengerti.
“Iya, jika kamu ke London, kamu harus ke Big Ben, ke London Eye dan jangan lewatkan juga pergantian pasukan di istana Buckingham.”
“Wah ... sepertinya sangat seru.” Shera begitu berbinar saat mendengarkan cerita Freya.
El justru terabaikan saat dua wanita menceritakan London. Shera yang tadi ingin bertemu dengan El justru asyik mengobrol dengan Freya. Menceritakan banyak hal tentang London. Lucunya, tempat itu adalah tempat di mana dulu El mengajaknya. Freya sangat takut pergi ke mana-mana sendiri sewaktu di London. Jadi hanya dengan El, dia menikmati menjelajah London.
Puas bercerita dengan London
“Apa kamu sudah punya pacar Frey?” tanya Shera.
“Belum.”
“Aku pikir kamu dan Justine ada hubungan spesial, ternyata tidak.”
Shera tersenyum. Sebenarnya dia sengaja menghubungi El untuk jauh lebih dekat dengan El. Dari awal bertemu, Shera memang menaruh hati. Namun, tak punya alasan untuk bertemu. Sampai akhirnya, Bryan-daddy El menceritakan tentang El yang kuliah di London. Sejujurnya, Shera sudah pernah ke London. Namun, sengaja mengatakan belum pernah ke sana untuk membuka pembicaraan dengan El. Sayangnya, El justru datang dengan Freya dan gadis itu yang menjelaskan tentang London. Untuk menghargai, dia pun memasang wajah berbinar agar tak membuat jika dia juga tahu apa yang dijelaskan oleh Freya.
“Bukan, kami hanya berteman.”
Shera mengangguk. Perasaannya lega karena ternyata tak ada hubungan spesial antar Freya dan El.
“Apa kamu punya pacar?” Shera menatap Freya.
“Tidak.”
“Jika kamu tidak punya pacar, mungkin kamu punya orang yang kamu sukai?”
“Ada.”
“Wah ... siapa itu?”
Tepat saat Freya ingin menjawab. Pesanan makanan mereka datang. Pembicaraan pun justru berakhir. Di sela-sela makan, mereka saling berbincang tentang pekerjaan. Sampai akhir makan malam, mereka masih seru bercerita tentang dunia kerja.
“Senang bertemu dengan kalian,” ucap Shera saat berpisah dengan Freya.
“Senang juga bertemu denganmu, She.” Freya begitu senang. Berbincang dengan Shera sangat menyenangkan.
Shera beralih pada El. “Senang bertemu denganmu, Justine.”
“Sama-sama.” El tersenyum.
El dan Freya pulang bersama. Freya begitu senang malam ini mendapat teman baru.
“Sepertinya kamu sengaja ikut dan menjelaskan tadi.” Suara El memecah keheningan di dalam mobil.
“Tidak ada. Aku murni menjelaskan.”
“Aku mengenalmu. Aku bisa membedakan mana yang benar-benar dan mana yang sengaja.”
“Aku hanya ingin kamu mendapatkan wanita yang baik.” Freya menoleh pada El.
“Bagiku kamu sudah baik, tak perlu orang lain.”
Freya terdiam. “Apa kamu menyukai aku, El?” Sejak adiknya mengatakan padanya tentang El, dia masih terus dihantui pertanyaan itu. Menduga apa yang dikatakan adiknya ada benarnya.
“Menurutmu.” El menepikan mobilnya. Membuka sabuk pengaman, dia memutar tubuhnya menghadap Freya. Menatap lekat wajah Freya di dalam kegelapan mobil.
Mata biru El terlihat dari sorot lampu dari luar yang masuk ke dalam mobil, menatap penuh damba. Mengisyaratkan jika memang di hatinya ada cinta.
“El, kamu tahu bukan jika aku mencintai Kak Al dan denganmu aku hanya menganggap teman.”
Rasanya sakit mendengar akan kalimat itu. Namun, El masih menguatkan hatinya. “Apa kamu yakin itu cinta?”
“Aku yakin, El.” Sebulan ini kedekatan Freya dan Al semakin dekat. Al yang dulu jarang sekali bicara sekarang banyak bicara. Di kantor, mereka sering berinteraksi dengan Al. Walaupun Freya tidak tahu perasaan Al, tetapi dia meyakini jika Al menyukainya.
Jika ibarat pertarungan, El sudah kalah dulu sebelum perang selesai. Kenyataan Al dan Freya yang saling mencintai tak bisa dielakan.
Apa pun asalkan Freya bahagia. Kalimat itu terlintas di pikirannya. Kalimat yang selalu diucapkan El untuk Freya.
“Baiklah, aku akan mendukungmu jika kamu menyukai Al, tapi ingatlah saat kamu terluka aku akan selalu ada untukmu.” El menyadari tak bisa memaksakan perasaannya. Apalagi yang mau dia perjuangkan, jika Al dan Freya sudah saling mencintai, dia hanya akan jadi pihak ketiga saja.
“Terima kasih sudah mengerti aku, El. Aku yakin jika kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”
“Iya.” El tersenyum, walaupun sebenarnya hatinya begitu sakit.
Memasang kembali sabuk pengamannya, dia melajukan kembali mobilnya. Mengantarkan Freya untuk pulang.
.
.
.
.
.