Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Bukan Prioritas



El yang selesai keluar dari kamar dan menuju taman belakang di mana di adakannya pesta. Bergabung dengan keluarga yang sudah berkumpul.


Memilih tempat duduk di samping Freya, membuat gadis cantik itu berada di antar dua pria tampan.


Freya yang melihat El masih dalam mode malu. Sejauh ini dia kenal El memang baru kali ini dia melihat El dengan handuk di pinggang.


Walaupun dia pernah melihat El saat berenang dengan celana renang, entah kenapa terasa berbeda. Dia sedikit membenarkan ucapan papanya yang mengatakan jika dia sudah besar dan memang akan jadi lain jika berdua.


Sesaat El duduk. Tampak Theo Julina-kakek Freya datang. Dia memang sengaja diundang oleh Bryan, mengingat dia adalah kakek dari Freya.


“Silakan Paman,” ucap Bryan pada Theo.


“Terima kasih sudah mengundangku, Bry.” Theo duduk di samping Daniel. Dia sudah cukup lama berteman dengan Daniel. Hingga akhirnya pertemanannya menurun pada anak dan cucunya.


Bryan berdiri, mengangkat gelas dan mengetuknya dengan sendok, memberikan isyarat pada para tamu. “Hari ini kita berkumpul untuk merayakan kepulangan El dan Freya. Semoga mereka bisa memulai pekerjaan mereka di sini. Mengapai apa yang dicita-citakan oleh mereka berdua.”


Semua mengamini apa yang dikatakan oleh Bryan. Mendoakan yang terbaik untuk Freya dan El.


Melanjutkan acara, mereka memulai makan bersama. Menikmati acara dengan saling bertukar cerita. Semua larut dalam pesta malam ini. Susana hangat yang tercipta membuat semua merasakan bahagia.


Setelah selesai makan, mereka melanjutkan mengobrol. Para wanita mengobrol sendiri dan para pria sendiri. Pembahasan yang berlainan membuat mereka menjadi dua kubu.


“Cucumu Al benar-benar hebat. Aku salut padanya,” ucap Thea saat mengobrol dengan Daniel. “Dia adalah salah satu pengusaha muda yang hebat,” tambahnya seraya menepuk bahu Al.


“Dia memang hebat, dua tahun ini dia sudah memperlihatkan pencapaiannya.” Daniel menimpali ucapan Theo.


“Iya, kalian berdua beruntung memiliki cucu seperti Al,” ucap Thea pada Daniel dan Andrew.


Andrew dan Daniel selaku kakek Al merasa bangga, tetapi kalimat yang disampaikan Theo terlalu to the point mengingat ada El di sebelahnya.


“Harusnya kamu ikut pulang dengan Al waktu itu El, jadi kamu sudah bisa sesukses Al sekarang,” ucap Theo pada El.


Bryan, Felix, Daniel, Andrew semakin dibuat terkejut dengan ucapan Theo. Mereka berpikir mungkin Theo mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi secara tidak langsung dia membandingkan Al yang lebih sukses dari pada El.


“Karena memang ada yang harus aku kerjakan lebih dulu, Kek. Jadi kembali bukan prioritasku waktu itu.” El dengan tenang menjawab.


Jawaban El yang tampak tidak tersinggung membuat semua merasa lega.


“Kesuksesan setiap anak berbeda-beda, Pa,” ucap Felix membela.


“Iya, tetapi sebuah kesempatan jangan sampai disia-siakan. ” Theo sedikit kesal saat menjawab ucapan anaknya. Sejujurnya dia amat kecewa dengan Felix. Andai anaknya itu mau mengembangkan perusahaannya, seperti yang dilakukan Al, mungkin sekarang dia adalah CEO Julan Company.


Felix sangat malas sekali membalas ucapan papanya. Dia menyadari jika papanya menyelipkan rasa kesalnya dalam ucapannya.


“Harusnya kamu, El, mengembangkan usaha daddy-mu dengan ilmu yang kamu miliki. Dengan begitu perusahaan keluarga bisa berlanjut.” Theo menatap El dan menasihatinya. “Jangan seperti Felix yang memilih bekerja di perusahaan lain.”


Felix kesal melihat aksi papanya. Bisa-bisanya papanya itu mengatakan akan hal itu, padahal jelas-jelas tidak ada hubungannya degan El. Suasana semakin tegang. Felix yang melihat hal itu akhirnya memilih mengakhiri semuanya. “Ayo El, sepertinya obrolan ini tidak cocok dengan kita.” Felix menarik tangan El dan mengajak El untuk pergi.


Theo yang semakin kesal, meluapkan kekesalannya. “Anak itu selalu saja tidak mau mendengarkan orang tua.”


“Anak punya pilihannya sendiri. Sebagai orang tua kita harus memberikan dukungan.” Di saat temannya emosi seperti saat ini, Daniel mencoba menenangkan. “Ayo sebaiknya kita mengobrol dengan menikmati secangkir kopi.” Daniel menatap Andrew memberikan kode untuk pergi bersamanya.


Selepas beberapa orang pergi, tinggallah Al, Bryan dan Regan yang masih berdiri di tempat awal mereka.


“Kamu tidak mau mengejar El dan menenangkannya?” tanya Regan. Walaupun anaknya yang dipuji, tetap saja dia merasa tidak terima saat El mendapatkan perlakuan buruk dari Theo. Baginya, El juga adalah anaknya.


“Sudah ada Felix, aku yakin dia baik-baik saja.” Bryan tersenyum, merasa anaknya berada di tangan yang tepat.


Felix mengajak El ke rooftop rumahnya. Di sana memang ada gazebo untuk menikmati langit malam. Melalui tangga samping, mereka ke sana dan menikmati waktu berdua.


El tersenyum. Sebenarnya dia merasa tidak tersinggung. “Kenapa Papa tidak meneruskan bisnis Kakek Theo?” Rasa ingin tahu melingkupi hatinya.


“Karena memang waktu itu aku tidak suka dengannya. Jadi aku memilih untuk tidak menjadi bagian dari perusahaannya. Aku memilih untuk bekerja bersama dengan daddy-mu. Kakekmu sendiri yang mengajari kami dan aku mendapatkan kenyamanan.”


El mengangguk mendapati jawaban Felix. “Lalu kenapa mengizinkan Freya yang melanjutkan?”


“Sejahat-jahatnya aku, aku tidak tega melihat orang tuaku. Jadi aku membiarkan Freya melanjutkan agar papa tidak merasa jika garis keturunannya tidak mau melanjutkan perusahaannya. Lagi pula Fryea tampaknya suka dengan pekerjaan yang akan digelutinya.”


“Iya, dia selalu mengatakan jika kelak dia akan menjadi CEO Julian.” El tersenyum mengingat apa yang sering diucapkan Freya.


“Teruslah berusaha, aku yakin kamu akan lebih sukses dari kakek dan daddy-mu.” Felix menepuk bahu El.


“Terima kasih, Pa.” El tersenyum. Saat banyaknya dukungan, dia merasa sangat bersemangat.


“Apa kamu menyukai Freya?” goda Felix.


El terkesiap mendapati pertanyaan Felix. Mulutnya membeku tak tahu harus menjawab apa. “A-a-aku ... “ jawabnya terbata.


“Tidak perlu dijawab. Aku hanya kadang aku iri, karena kamu jauh lebih dekat dengan Freya dibanding aku.” Felix mengalihkan pembicaraan, tak mau membuat El salah tingkah dengan pertanyanya.


“Mungkin karena kami dekat dari kecil, Pa.”


“Iya, mungkin karena itu,” jawab Felix, “terima kasih, El, kamu sudah menjaga Freya selama kuliah.”


“Aku melakukannya karena sambil bekerja, Pa. Jadi jangan berterima kasih.”


Felix hanya membalas dengan senyuman.


“Kenapa kalian di sini?”


Saat sedang asyik terdengar suara dari arah tangga. Tampak Freya melangkah menghampiri papa dan temannya itu.


“Dari mana kamu tahu kami di sini?” El justru bertanya dari pada menjawab pertanyaan Freya.


“Aku melihat kalian tadi, jadi aku menyusul. Memangnya kenapa kalian ke sini?” Freya memilih duduk di antara Felix dan El. Membuat dua teman dan papanya memberikan ruang untuk Freya duduk.


“Kami hanya berbincang saja,” jelas El.


“Harus berdua begitu?” tanya Freya masih tidak percaya.


“Sudah, Papa mau kembali.” Felix tak mau menjawab pertanyaan anaknya dan memilih untuk pergi.


“Pa, apa papa merahasiakan sesuatu?” tanya Freya berteriak.


“Jika kalian sudah selesai mengobrol kembalilah turun.” Felix justru tidak menjawab pertanyaan Freya.


Mendapati papanya menghindar, Freya menatap El. “Kalian bicara apa?” tanyanya. Dia merasa heran kenapa harus berbicara berdua.


"Membicarakan pernikahan kita."


Mata Freya membulat, tak menyangka El akan melakukan hal itu. Padahal mereka jelas-jelas berteman.


.


.


.