
Sampai di rumah. Freya turun dari mobil. Senyumnya tak susut dari wajahnya. El selalu saja bisa membuatnya tersenyum.
“Terima kasih, El,” ucap Freya yang masih menatap El dari balik pintu mobil.
“Iya, Tuan putri, sama-sama.”
Tepat saat mereka sedang mengobrol, mobil Al melintas. Mobil El dan Al yang saling berhadapan membuat El dan Al berada di satu garis lurus.
Al membuka kaca mobilnya. “El mau main basket?” tanyanya. Di seberang sana Al melihat Freya dari balik pintu mobil El.
Freya tersenyum pada Al. Merasa tidak enak bertemu dengan atasannya di rumah. Masih terasa aneh dan belum terlalu bisa beradaptasi.
“Tentu saja, nanti kita ketemu di lapangan biasa ya,” ucap El.
“Baiklah, aku tunggu.” Al menaikkan kaca mobilnya dan melajukan mobilnya.
“Baiklah, aku juga pergi,” ucap Freya.
“Masuklah dan istirahatlah.”
Freya masuk ke dalam rumah sedangkan El melajukan mobilnya sekitar dua meter ke depan. Dia langsung memarkirkan mobilnya dan bersiap untuk main basket dengan Al.
...****************...
Waktu menunjukkan jam delapan, El dan Al bermain basket di lapangan. Olahraga yang memang mereka sukai sedari kecil. Membakar kalori yang berada di tubuh mereka. El mendribel bola dan memasukkannya ke keranjang Al. Lemparannya tepat dan masuk. Mengakhiri pertandingan dan dimenangkan oleh El.
“Saat bermain kamu tak banyak bicara, tetapi strategimu begitu pas.” Untuk urusan serius, El adalah jagonya. Walaupun dia tipe orang yang suka bercanda, tetapi fokusnya selalu bisa dia tempatkan.
“Hanya kebetulan saja,” elaknya.
“Selalu merendah,” cibir Al.
El mengabaikan Al sambil tersenyum. Dia menepi untuk mengambil minum. Tenggorokannya begitu kering saat selesai berlari-lari mengejar bola. Al yang mengekor, melakukan hal yang sama, menenggak air yang dibawanya.
“Bagaimana hari pertama bekerja?” tanya Al.
“Lumayan menguras tenaga.” El tersenyum. Memang itu adanya. Karena seharian tadi pekerjaannya begitu banyak.
Al tersenyum. Terkadang dia iri dengan keberanian El yang berani mengambil risiko untuk berdiri di kaki sendiri.
“Bagaimana tadi Freya di kantor? Apa tidak sulit mengajarinya?” tanya El. Tadi Freya banyak menceritakan Al yang mengajarinya. Membuat El tergelitik untuk menanyakan langsung pada Al.
“Dia cepat mengerti saat diajari,” jawab Al. Sepanjang mengajari Freya, Al memang tidak mengalami kesulitan.
“Syukurlah, dia tadi pagi saat panik. Takut tidak bisa bekerja dengan benar.” El mengingat bagaimana tadi pagi tadi saat mengantar Freya.
“Lama-lama juga nanti dia akan beradaptasi.”
“Kamu benar.”
“Apa tadi jalanan macet?”
“Kenapa?”
“Tadi Freya menunggumu lama sekali.”
“Tadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dan ditambah jalanan begitu macet,” jelas El.
“Freya terlalu lama menunggu, jadi aku rasa lebih baik dia pulang denganku saja jika kamu sibuk dan jalanan macet.” Al yang merasa kasihan dengan Freya yang terlalu lama menunggu, memberikan saran pada El.
El terdiam. Di sisi lain, dia merasa tidak rela jika Freya pulang dengan Al. Akan tetapi, dia tidak mau egosi, mengingat ke depan dia akan sangat sibuk dengan pekerjaannya.
“Kamu masih bisa mengantarnya saat pagi.”
“Kamu benar. Aku akan sangat sibuk, jadi lebih baik dia pulang denganmu dan tidak terlalu lama menunggu aku.” El setuju dengan apa yang diucapkan Al.
Permainan usai, El dan Al kembali ke rumah mereka masing-masing. Tepat di depan El melihat Freya yang berada di depan rumah sedang membeli nasi goreng. Buru-buru dia memarkirkan mobilnya dan menuju rumah Freya.
“Apa malam-malam kamu akan menumpuk lemak?” tanya El mencibir.
Mengabaikan El, Freya berbalik. Dia memilih makan di teras depan untuk menggoda El yang baru saja berolah raga.
Benar saja, El seolah tertarik magnet yang terdapat di tubuh Freya. Mengikuti gadis itu, dia ikut duduk di teras.
“Kenapa tukang nasi goreng itu datang di malam hari,” keluhnya. Nasi gorengan yang berkeliling di perumahannya itu memang adalah kesukaannya sejak kecil. Sewaktu kecil, bersama Freya, Ghea, dan Cia, El sering sekali makan bersama setelah membeli nasi goreng.
“Apa kamu lupa memang dia jual setiap malam, kalau siang hari siapa yang beli. Kamu tahu sendiri bukan, di perumahan ini siang sepi.” Freya dengan santainya memakan nasi gorengnya.
El mendengus kesal. Dia baru saja olah raga, bagaimana bisa dia membiarkan karbohidrat masuk ke dalam tubuhnya.
“Em ... rasanya enak sekali.” Freya sengaja membuat El tergoda.
“Menyebalkan sekali.” El memutar bola matanya malas.
“Apa kamu mau?” tanyanya menyodorkan sendok berisi nasi goreng. Bagai setan yang terus mengganggu manusia, begitulah Freya mengganggu El. Menggoda agar El makan.
El menelan salivanya. Aroma bumbu itu menggelitik hidungnya dan menyusup ke otaknya dan mengantarkan sinyal pada perutnya yang minta untuk diisi. Tanpa sadar El membuka mulutnya.
Namun, Freya tak mau melepas mengerjai El. Dia membelokkan sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Frey ...,“ panggil El kesal.
Freya langsung tertawa, kemudian menyuapi El. Tak tega melihat El yang begitu sangat ingin makan nasi goreng itu.
Mereka berdua makan malam dengan nasi goreng yang dibeli Freya. Saling berbagi dan menikmati makan.
“Wah ... kalian makan seperti sepasang kekasih.” Suara Cia terdengar, mengganggu El dan Freya.
Ucapan Cia membuat El dan Freya membulat. Tanpa sadar mereka menjauhkan tubuh masing-masing.
“Bicara apa kamu!” protes Freya.
“Iya, bagaimana tidak aku berkata seperti itu.” Cia duduk di antara Freya dan El. “Kalian makan berdua, saling menyuapi, apa itu namanya bukan seperti sepasang kekasih?” Cia menatap Freya bergantian dengan El.
“Kami juga sering melakukan sejak kecil, kamu tahu itu bukan?” ucap Freya pada adiknya.
“Itu dulu waktu kalian masih jadi anak kecil, jika kalian melakukannya sekarang, yang ada akan berbeda.”
Dahi Freya dan El berkerut dalam. Kalimat Cia mirip dengan apa yang diucapkan oleh Papa Felix.
“Nanti jika kalian berdua terus yang ada akan ada anak kecil di antara kalian.”
Mata Freya membulat sempurna. “Apa kamu mendengar ucapan papa?” tanyanya.
Cia langsung tertawa. Ternyata ucapan bijaknya itu ada karena dia pernah menguping pembicaraan Freya, El dan papanya. Waktu itu, sewaktu El pergi begitu saja, Cia langsung menyusul. Di depan rumah, dia berpapasan dengan papanya. Melihat Cia yang tergesa-gesa, membuat Felix bertanya dan mendapati jika El dan Freya ada di dalam kamar.
“Jadi kamu yang melaporkan pada papa waktu itu?” tanya Freya kesal. “Dasar!”
Cia yang takut dengan Freya, langsung lari menghindar. Tak mau jadi sasaran kakaknya.
Freya mendengus kesal. Kemudian dia melihat
El yang tersenyum.
“Kenapa tersenyum?” tanyanya.
“Aku hanya membayangkan bagaimana anak kita nanti
“El ...,“ teriak Freya. Tangannya sudah bersiap untuk memukul El, tetapi El sudah memilih kabur lebih dulu. “Awas kamu El.”
.
.
.
...Mampir ke Ig Myafa16 ya buat dapat info...