
Di kantor lain, Freya masih menunggu Al datang. Tadi sekretaris Al mengatakan jika Al sedang ada urusan pagi ini, jadi dia datang ke kantor terlambat. Kemarin Freya memang sudah mendengar jika dia akan menjadi asisten Al selama bekerja di Maxton. Namun, dia belum mengetahui pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh Freya.
Sekitar tiga puluh menit Freya menunggu, akhirnya Al datang. Terbiasa melihat Al dengan pakaian casual membuat Freya terpesona dengan Al. Setelan jas yang melekat di tubuh Al begitu pas di tubuh pria itu. Rambut yang tertata rapi membuat penampilan Al terlihat begitu rapi.
“Pagi Pak Aaron,” sapa sekretarisnya.
Freya baru tahu jika Al dipanggil dengan nama depannya. Dia yang duduk di sofa, berdiri dan menyapa Al. “Pagi, Pak,” sapa Freya.
Al tersenyum saat mendengar sapaan Freya.
“Pagi, Frey, ayo masuk ke dalam.” Mengayunkan langkahnya, Al masuk ke ruangannya. “Duduk!” perintah Al seraya menunjuk ke kursi yang berada tepat di depan kursinya.
Freya mengangguk dan duduk. Perasaannya begitu berdebar, tetapi dia mengingat apa yang dikatakan oleh El. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan, dia mencoba menenangkan dirinya.
“Seperti yang aku sudah jelaskan kemarin, kamu akan menjadi asistenku. Meja kerjamu akan ada di samping sekretarisku. Jadi kamu bisa bekerja sama dengannya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.” Al menjelaskan semua yang akan dikerjakan oleh Freya.
Freya mengangguk, mengerti.
“Selama kamu ada di kantor ini, tugas mendampingiku saat bertemu klien dan melakukan pekerjaan akan dilakukan olehmu.”
“Baik, Pak.”
“Sebenarnya sedikit aneh saat kamu memanggil aku Pak, tetapi karena ini di kantor, aku bisa maklum.” Al tersenyum.
Melihat sebuah senyuman dari Al, memang menjadi hal langka bagi Freya. Perasaannya begitu berbunga-bunga mendapati senyuman itu. Wajah datar Al yang dihiasi senyuman memang tampak berbeda.
“Selamat bergabung di Maxton Company.” Al mengulurkan tangannya.
Freya menerima uluran tangan Al. Tanda jika dia menerima bergabung dengan Maxton Company.
Freya memulai kerjanya. Dengan Luna-sekretaris Al, dia mempelajari beberapa hal. Luna juga mengajari Freya beberapa hal yang diminta oleh Al.
“Apa Kak Luna sudah lama bekerja dengan Pak Aaron?” tanya Freya.
“Aku sudah dua tahun ini menemani Pak Aaron. Tadinya aku sekretaris manager pemasaran dan dipindahkan kemari sejak Pak Aaron menjabat CEO.”
Freya mengangguk mengerti. Dilihat dari penjelasan dari Luna, sudah pasti dia sudah lama bekerja di Maxton. Jadi dia akan belajar pada orang-orang yang tepat.
Freya menyalin berkas yang diminta oleh Luna. Sesekali Luna bercerita banyak tentang bagaimana situasi kantor. Dari apa yang diceritakan Luna, Freya merekam, jika dalam sikap Al yang jarang bicara itu menyimpan sikap tegas.
Freya mengerjakan pekerjaannya dengan senang. Sampai jam istirahat hampir tiba, Luna meminta Freya untuk masuk ke ruangan Al untuk menanyakan akan makan siang di mana atasannya itu.
Mengetuk pintu, Freya masuk ke ruangan Al setelah mendapat seruan masuk dari Al. “Maaf, Pak, apa Bapak mau dipesankan restoran untuk makan siang?”
Al melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukan jam istirahat dan dia baru menyadarinya. “Aku akan langsung makan di luar saja, tidak perlu dipesankan.”
“Baik, Pak.” Freya berbalik untuk kembali ke meja kerjanya.
“Frey, “ panggil Al dan membuat Freya berbalik. “Tolong temani aku makan siang,” pintanya.
Freya terkesiap. Tak menyangka Al mengajaknya untuk makan siang bersama. Karena Al adalah atasannya, tak ada alasan untuk menolak. “Baik, Pak.” Dia keluar untuk bersiap menemani Al makan siang.
Mobil melaju menuju ke restoran. Di dalam mobil, hawa dingin begitu terasa. Freya yang jarang sekali berbicara dengan Al, bingung harus membuka obrolan apa. Jika dengan El, mungkin dia akan lebih mudah untuk mengobrol.
“Apa sulit bekerja?” Setelah keheningan yang begitu terasa mencekam, akhirnya suara Al terdengar.
“Tidak, Kak Luna banyak memberi bantuan, Pak,” jawab Freya.
“Panggil aku seperti yang biasa kamu panggil saja.”
“Tapi—“
“Kita hanya berdua, jadi saat berdua sebaiknya panggil seperti biasa saja.”
“Baik, Kak,” jawab Al.
“Maaf aku tak menanyakan kamu mau makan apa dan justru langsung mengajak makan di sini,” ucap Al di sela-sela menunggu pesanan.
“Tidak apa-apa, aku bisa makan apa saja.” Freya tersenyum.
Pramusaji mengantarkan makanan pesanan Al dan Freya.
Menikmati makan siang, mereka berdua saling diam saja. Freya benar-benar bingung memulai pembicaraan. Namun, akhirnya dia memberanikan diri untuk memulai berbicara.
“Apa Kak Al sering ke sini?” tanyanya.
“Iya, aku sering ke sini untuk makan siang, karena jarak dari kantor lebih dekat.”
“Sendiri?” tanya Freya penasaran.
“Dulu iya, tetapi sekarang tidak karena ada kamu.”
Kalimat Al memang tidak ada unsur merayu, tetapi entah kenapa pipi Freya menghangat dan kemudian menyembulkan rona merah. Karena tak mau Al melihat, dia memilih untuk menunduk dan memakan makanannya.
Sekilas Al melihat rona merah di pipi Freya, membuat Al tersenyum. “Apa kamu keberatan?” tanyanya basa-basi.
Freya cepat mengendalikan situasi, jadi dia pun dengan cepat bisa menghilangkan rona merah di pipinya. “Tidak, aku tidak keberatan.”
“Bagus ... aku pikir kamu keberatan menemani aku makan.”
“Bukannya selama ini aku selalu mengajak Kak Al?” Freya ingat betul sewaktu di London, saat dia dan El pergi, dia mengajak Al, tetapi pria itu selalu menolak.
“Aku hanya tidak mau mengangguk kalian.”
“Mengganggu apa?” Dahi Freya berkerut dalam, tidak mengerti maksud Al.
“Bukannya kalian punya hubungan spesial?” tanya Al datar.
Pertanyaan Al itu, langsung membuat Freya tersedak. Buru-buru dia minum untuk meredakan tenggorokannya. “Bagaimana bisa Kak Al berpikir seperti itu?” Dia tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Al.
“Ya ... itu hanya asumsiku saja.”
“Kami hanya berteman, tidak ada hubungan lebih,” elak Freya.
Sejenak Al terdiam. Ingatannya kembali pada jawaban El yang mengatakan hal yang sama. “Oh ... jadi kalian berteman.”
“Iya, kami hanya berteman.”
Al hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Freya yang melihat Al tidak percaya, sangat ingin membuktikan jika antara dia dan El tidak ada hubungan apa-apa. Entah kenapa dia seolah harus menjelaskan jika tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan El.
Selesai makan, mereka berdua kembali ke kantor. Bersama Al memang sangat berbeda sekali dengan bersama El. Sepanjang jalan, jantungnya begitu berdebar. Tidak mengerti perasaan apa yang melingkupi hatinya itu dan hal itu belum pernah dirasakannya.
.
.
.
...Jangan lupa like dan vote...
...itu salah satu dukungan kalian buat aku...
...Semakin banyak yang like, nambah semangat...
...Jadi yang belum like, coba di scroll lagi, siapa tahu kelupaan...