
“Sudah jam lima,” ucap Luna saat melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan.
Freya yang sedang asyik mengerjakan pekerjaan menoleh dan tersenyum. “Tapi Pak Aaron belum keluar.” Lidah Freya sudah mulai terbiasa memanggil Al dengan nama Aaron, mengingat hanya orang rumah saja yang memanggil Al.
“Iya, padahal aku ada janji,” ucap Luna seraya merapikan meja kerjanya.
“Tunggu saja sebentar, Kak," ucap Freya dan mendapati anggukan dari Luna.
Selang beberapa saat Al keluar dari ruangannya. Dia menatap Freya dan Luna. “Kalian sudah mau pulang?” tanya Al.
“Iya, Pak,” jawab Freya dan Luna bersamaan. “
“Baiklah, kalau begitu aku pulang lebih dahulu,” ucap Al berlalu meninggalkan Freya dan Luna.
Tadi sepulang dari kantor Freya meminta Al untuk tidak terlalu mencolok saat mengajaknya pulang. Dia merasa tidak enak dengan karyawan lain jika terlihat dengan Al. Akhirnya memilih untuk bertemu dengan Al di tempat parkir saja. Al pun tidak keberatan dengan permintaan Freya dan menuruti untuk menunggu di
Selepas Al pergi, Freya dan Luna bersiap pulang. Mereka menuju ke lobi lift bersamaan. Luna keluar di lobi karena suaminya sudah menunggu, sedangkan Freya melanjutkan menuju ke tempat parkir.
Di tempat parkir, Freya mencari mobil Al. Saat mendapati, dia mengayunkan langkahnya menghampiri.
“Maaf lama, Kak,” ucap Freya sesaat masuk. Tangannya menggapai sabuk pengaman dan mengaitkannya.
“Tidak masalah.” Al menginjak pedal gasnya, melajukan mobilnya. Jalanan yang macet membuat perjalanan menjadi lama. Sesekali mobil harus berhenti menunggu mobil di depannya berjalan.
Freya yang menunggu jalanan macet, merasakan perutnya berbunyi. Dia merasa sangat lapar. “Apa kita bisa mampir ke restoran cepat saji?” tanya Freya.
Al tersenyum, menatap sejenak pada Freya. Merasa gemas melihat wajah Freya yang kelaparan. “Baiklah, kita mampir ke restoran cepat saji.” Al membelokkan mobilnya menuju ke restoran cepat saji yang dilewatinya. Untung tidak terlalu jauh, sehingga Freya tidak perlu menunggu lama.
Masuk ke restoran, mereka memesan dua burger untuk mengganjal perut mereka di sore hari. Segelas minuman soda menjadi teman untuk menyantap burger.
Freya yang memang sedari tadi sudah lapar, merasa sangat bersemangat saat mendapatkan satu burger. Tanpa berbasa-basi lagi, dia memakan semuanya dengan lahap. Saus yang meleleh membuat saus menempel di bibirnya.
Kenapa dia lucu sekali saat makan seperti itu?
tanya Al di dalam hatinya. Melihat Freya makan dengan mulutnya penuh dengan saus, membuatnya merasa gemas. Meraih tisu, tangannya bergerak mengusap bibir Freya. Menghapus noda saus yang menempel.
Freya terpaku melihat apa yang dilakukan oleh Al. Jantungnya berdetak dengan kencang. Entah dia tidak tahu perasaan apa itu. “Terima kasih, Kak,” ucapnya seraya meraih tisu dan membersihkannya sendiri. Tak mau sampai Al yang membersihkan lebih banyak karena membuat jantungnya semakin tidak karuan.
“Pelan-pelan makannya, aku tidak akan meminta,” ucap Al.
Freya merasa sangat malu. Tersenyum, dia menikmati burger miliknya.
Usai menghabiskan makanannya, Freya dan Al kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalanan lebih lengang dibanding tadi. Jadi dengan cepat mereka sampai. Al menurunkan Freya di rumahnya dan berpamitan sesaat menurunkan Freya.
Freya tersenyum senang saat melihat mobil Al. Entah perasaan apa yang melingkupi hatinya. Akan tetapi, dia merasakan hal aneh.
“Wah ... ada yang diantar Kak Al.”
Suara Cia terdengar dan membuat Freya menoleh. Senyuman manis di wajah Cia, sangat penuh arti. “Kakak sepertinya suka sekali diantar Kak Al,” goda Cia.
“Bicara apa kamu!” elak Freya dan masuk ke rumah. Tak mau adiknya terus menganggu.
“Aku tidak salah bicara, aku jelas-jelas melihat Kakak tersenyum,” ucap Cia.
“Memangnya apa hubungannya senyuman dengan aku senang diantar Kak Al?” tanya Freya. Langkahnya tidak terhenti dan terus dia ayunkan ke rumah. Satu tempat yang ditujunya adalah dapur, menyapa mamanya yang sedang memasak.
“Ya ada Kak. Kalu tersneyum berarti senang. Jika tidak berarti kamu tidak senang,” jawab Cia.
“Apa yang senang dan tidak senang?” Suara Chika menimpali obrolan anak-anaknya.
“Ini, Ma,” ucap Cia, tetapi langsung dibungkam oleh Freya dengan telapal tangannya. “Kakak,” keluh Cia seraya membuang tangan Freya.
“Berisik!” seru Freya.
“Kalian ini, baru bertemu sudah bertengkar.”
“Kak Frey—“
Di kamar Freya langsung mencecar Cia.
“Jangan asal bicara, akan jadi masalah nanti jika mama dengar.”
“Memangnya kenapa jika mama dengar?” tanya Cia polos.
Freya bingung menjelaskan pada adiknya. “Ya ... intinya jangan bilang mama.”
“Apa jika Kakak, tidak boleh aku mengatakannya berarti semua benar?” Cia menatap Freya lekat. “Kak Freya benar menyukai Kak Al?” tanya Cia lagi. Manik coklatnya menatap Freya, menunggu jawabannya.
“Sudah-sudah, sana pergi,” ucap Freya seraya mendorong tubuh Cia keluar dari kamar.
“Kenapa aku diusir?” tanya Cia kesal.
“Kamu mengganggu ketenangan.”
“Ketenangan? Aku hanya bertanya kenapa mengganggu?” Cia pasti mode polos bertanya apa salahnya.
Freya mengembuskan napas, dia bingung menjelaskan pada adiknya. “Aku mau mandi!” ucapnya tegas.
“Oh ... bilang jika kamu mau mandi.”
Freya benar-benar bingung kenapa adiknya itu polos sekali.
Tak mau terus bersama dengan Cia yang berisik, Freya masuk ke dalam kamar. Tempat yang ditujunya adalah kamar mandi. Dia ingin segera menyegarkan tubuhnya.
Sepanjang mandi, Freya memikirkan pertanyaan adiknya tentang perasaan senangnya tadi. “Apa iya, aku menyukai Kak Al?” tanya Freya bermonolog pada dirinya sendiri.
“Tidak-tidak. Itu tidak mungkin.” Freya menggelengkan kepalanya. Menyingkirkan pikirannya itu.
Seusai mandi, Freya keluar, menyusul keluarganya yang sedang asyik bercerita di ruang keluarga.
“Pokoknya kamu tidak boleh. Kamu bisa kuliah di Indonesia, kenapa harus ke luar negeri?” tegas Felix pada Cia.
Freya yang baru datang merasa heran. Duduk di samping sang mama, dia bertanya, “Ada apa, Ma?”
“Adikmu ingin kuliah di luar negeri.”
“Tapi kenapa Kak Freya boleh aku tidak?” tanya Cia.
Felix menghembuskan napas kasar. Dia tak suka membedakan anak-anaknya, tetapi keduanya memang berbeda.
“Dulu aku ada Kak Al dan El, jadi aku aman. Sekarang jika kamu ke luar negeri siapa yang akan menjagamu?” tanya Freya.
“Benar apa kata Kakakmu, siapa yang akan menjagamu nanti,” jawab Felix.
Cia mendengus kesal. Dia ingin sekali kuliah di luar negeri dan menjadi chef pastry hebat. Di dalam negeri jurusan khusus itu tidak ada karena menjadi satu dengan kampus perhotelan.
“Sudah-sudah, ayo makan. Mendengar kalian semua Mama jadi lapar.”
“Aku juga lapar, berdebat dengan Papa.”
Cia justru yang lebih awal berdiri dan menuju meja makan. Membuat semua orang menahan tawanya. Terutama Felix dan Chika. Sebagai orang tua mereka tahu jika anak bungsunya sangat manja. Jadi tidak akan mereka melepas untuk pergi keluar ngeri sendiri.
Di meja makan tidak ada lagi pembahasan tentang keluar negeri. Mereka hanya membahas hal lucu saat makan. Menghidupkan suasana makan agar tidak begitu sepi.
Usai makan malam, Freya masuk ke kamar. Waktu menunjukan jam delapan malam. Freya yang memperkirakan jika El sudah pulang, mencoba menghubungi tetangganya itu.
.
.
.