
El dan Freya menikmati kudapan sore ini sambil bercerita banyak hal. Tea house semakin ramai, saat beberapa orang mulai datang. Menikmati teh di sore hari sudah menjadi kebiasaan orang Inggris. Biasanya mereka akan datang ke beberapa tea house yang menyajikan teh andalan mereka.
Beberapa cangkir yang menarik terkadang menjadi daya tarik mereka untuk datang.
“Jadi kamu akan mengambil barang-barangmu besok?”
“Iya.” Hari ini sebenarnya hari terakhir El bekerja, tetapi karena dia sudah membuat janji dengan Freya, dia menunda mengambil barang-barangnya.
“Lalu ke mana kita hari ini?” tanya Freya dengan semangat.
“Menikmati London malam hari.” El memberikan ide pada Freya.
“Baiklah, kita nikmati London malam ini.” Freya tersenyum senang. Pergi dengan El adalah hal menyenangkan baginya. El yang memiliki darah Inggris membuatnya tampak sama dengan mereka penduduk asli. Jadi Freya merasa tenang saat pergi bersama dengan El.
Usai menikmati teh dan beberapa kudapan, mereka keluar dari tea house. Menyusuri jalanan kota London menuju ke sungai Thames.
Sepanjang jalan mata dimanjakan dengan pemandangan kota London. Deretan hotel, toko dan restoran dengan bangunan kuno berjajar di sepanjang jalan.
Jangan salah, walaupun terlihat bangunan itu kuno di luar, tetapi interior di dalamnya sangat modern. Bangunan itu adalah penggabungan dua hal yang begitu menakjubkan.
“Apa kamu tahu, apa yang aku suka dari bangunan-bangunan ini?” tanya El seraya menunjuk bangunan-bangunan di sebelahnya.
Freya menoleh pada El, tetapi kemudian beralih pada bangunan kuno di sebelahnya. “Apa?” tanyanya ingin tahu.
“Jika bangunan ini adalah manusia, dia adalah manusia yang dipandang sebelah mata oleh orang.”
“Kenapa bisa begitu?” Dahi Freya berkerut dalam.
“Bayangkan saja bangunan begitu terlihat kuno dan orang pasti menganggap jika di dalamnya juga sama kunonya dengan yang di luar. Padahal di dalam begitu sangat menakjubkan.
Sama halnya dengan manusia yang dipandang sebelah mata oleh orang. Mereka tidak pernah tahu jika sebenarnya di balik pandangan mereka ada kelebihan yang sengaja tidak diperlihatkan.”
Freya mengangguk-anggukan kepalanya. “Apa kamu juga menyembunyikan kelebihanmu?”
“Aku, apa yang aku sembunyikan. Semua sudah terpampang nyata.”
“Apa yang terpampang?” Freya tidak mengerti apa yang ada pada El.
“Ketampananku, ini sudah terpampang nyata.” Senyum puas terukir di wajah pria dua puluh lima tahun itu.
Freya memutar bola matanya malas. Walaupun sejujurnya dia mengakui jika El memang tampan, tetapi dia tak mau mengatakannya. Wajah El yang blasteran Inggris-Indonesia memang begitu memesona. Mata birunya begitu indah saat menatap. Tinggi badannya yang standar orang Inggris memang memperlihatkan jika dia tak berbeda dengan penduduk asli di negara kerajaan Inggris itu.
“Kamu terlalu percaya diri!” cibir Freya.
“Apa kamu tidak sadar jika banyak wanita menyukaiku?” Dengan bangganya El memamerkan pada Freya.
Freya akui jika banyak yang menyukai El. Apalagi teman-teman yang sekelas dengannya. Beberapa dari mereka menitipkan salam padanya untuk El. Ada yang secara terang-terang mengajak El untuk menikmati malam, tetapi Freya tidak menyampaikan hal itu. Dia tidak rela El tidur dengan wanita yang tidur dengan banyak pria.
“Iya, kecuali aku.” Freya menjulurkan lidahnya, meledek El. Kemudian berlari meninggalkan El.
El tak terkejut dengan aksi Freya itu. Mengejar Freya, dia berusaha untuk mendapatkan wanita itu.
Ankle boots milik Freya yang mempunyai ketinggian enam centimeter itu memang tak bisa membuat wanita itu berlari cepat. Hingga akhirnya El dapat menangkap tubuh mungil yang berbalut mantel itu. Membawanya ke dalam pelukannya.
“Suatu saat kamu akan menyukai aku.”
“Itu tidak akan pernah terjadi.” Freya tertawa.
Teng! Teng! Teng!
Denting Big Ben terdengar membuat Freya yang berlari, berhenti. Membuat El yang sedari terfokus pada Freya, beralih pada ikon kota London itu. Mata tak berhenti memandangi keindahan dari jam yang diklaim sebagai jam paling akurat itu. Konon katanya jam itu tidak pernah berhenti berdetak selama satu abad lamanya.
Freya mengayunkan kembali langkahnya ke tempat di mana dia meninggalkan El. Bergabung dengan El yang sedang terpesona tanpa berkedip melihat jam terbesar itu.
“Aku serasa ingin membawa London bersamaku.” Freya menatap Big Ben. Masih begitu berat meninggalkan kota yang sudah ditinggalinya empat tahun ini.
“Aku akan bawa London ke Indonesia untukmu.”
Freya memutar bola matanya malas. Sudah begitu hafal dengan ucapan El yang tidak serius. Secara logika Freya, mana bisa membawa London.
“Ayo, jangan sampai kita kehilangan langit sore yang indah.” Freya menarik tangan El, mengajaknya melanjutkan perjalanan menuju ke London eye. Dari atas saja, Freya ingin menikmati langit sore yang indah.
El pasrah saat tangan lembut menariknya. Membawanya ke tempat yang Freya suka. Begitulah El, membiarkan Freya mengajaknya ke mana dia suka, dengan alasan asalkan Freya bahagia.
El dan Freya masuk pada kapsul yang akan membawanya ke atas untuk melihat pemandangan kota London dari atas. Bersama dengan beberapa orang di dalamnya, mereka menikmati kota London dari ketinggian.
Dari atas, terlihat kota London sejauh 25 mil atau 40 kilometer. Langit sore begitu indah saat dilihat dari atas. Serasa berada di antara burung-burung beterbangan yang berada di langit.
“Kapan kita akan kemari lagi?” tanya Freya menatap El.
“Nanti saat kita bulan madu.”
Freya membulatkan matanya. Kemudian memukul lengan El. Kesal karena saat sedang serius, El justru bercanda, tetapi El justru tertawa. Menggoda Freya begitu mengasyikkan.
Puas melihat langit sore dari London eye, mereka memilih untuk makan malam di restoran biasa mereka makan. Menikmati makan malam terakhir di kota tempat mereka tinggal beberapa tahun belakangan ini.
“Apa barang-barangmu sudah kamu kemasi?” tanya Freya saat makan.
“Belum, nanti setelah pulang dari sini saja, karena sudah beberapa aku kemasi.”
“Kalau begitu aku akan mengemasi juga malam ini.”
“Besok pagi juga masih ada waktu. Kamu bisa mengemasi saat aku pergi ke kantor.”
“Aku ingin ikut kamu ke kantor.” Freya menatap penuh permohonan.
El tersenyum. Freya memang sudah biasanya menyusulnya ke kantor saat pulang dari kampus. Gadis cantik itu beralasan tidak mau di rumah sendiri. Tak menolak, El mengangguk. Lagi pula besok dia hanya akan mengambil barang-barangnya yang memang sudah dirapikannya.
Puas menikmati makan malam, mereka memilih untuk segera pulang. Rasa lelah begitu mendera ketika mereka harus berjalan kaki dari halte bus ke rumah.
“Selamat malam,” ucap El sebelum menuju ke kamarnya. Kamarnya berada tepat di samping Freya.
“Malam El.” Freya tersenyum dan masuk ke dalam kamar.
El masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
.
.
.