
Pesta dimulai. Beberapa orang datang ke rumah Bryan dan Shea, sengaja untuk merayakan kedatangan El dan Freya. Sebenarnya bukan pesta besar karena hanya dihadiri oleh keluarga saja, tetapi tetap saja ramai. Dari mana lagi jika bukan ramai karena suara Ghea dan Cia yang sedari tadi tak berhenti berbicara.
“Lihat siapa yang datang, pemilik pesta,” ucap Felix saat melihat Freya datang ke rumah El.
Gadis cantik itu tampil cantik dengan gaun tanpa lengan dengan potongan sampai di lutut. Gaun dengan tule di pundaknya, pundak mulusnya sedikit tertutup.
Al yang melihat Freya, terpaku. Dulu sewaktu di London, dia memang tidak pernah memerhatikan Freya. Sekalipun mereka berpapasan bertemu, dia lebih sering melihat Freya dengan tampilan casual.
Freya mengayunkan langkahnya menghampiri orang-orang yang sedang berkumpul di taman belakang. Melewati Al, dia mencoba tersenyum. Di luar dugaan Freya, senyumannya dibalas oleh Al. Itu adalah kali pertamanya dia melihat Al tersenyum. Entah perasaan apa yang melingkupi hatinya. Perasaannya begitu senang.
“Cantik sekali kamu.” Melisa yang melihat Freya langsung membelai wajah cantik Freya.
“Terima kasih, Nek.”
“Kalau cantik, bisa dijadikan calon cucu mantu, Bi,” goda Felix pada Melisa.
“Kamu itu ada-ada saja.” Melisa tertawa.
Freya hanya bisa memasang senyuman di wajahnya saat papanya dengan sengajanya mengatakan hal itu. Tak mau membuat wajahnya semakin memerah, Freya berpamitan untuk mengambil minum.
Berjalan dari rumahnya ke rumah El membuatnya tenggorokannya kering. Menuju salah satu meja, dia mengambil minuman dan meminumnya. Matanya sesekali menyapu pandangan, mencari El yang belum tampak batang hidungnya.
“Hai ... “ sapa Al yang menghampiri.
Karena terkejut dengan suara yang tiba-tiba dari belakang, membuat Freya tersedak. Tangan Al langsung bergerak membelai punggung Freya untuk meredakan.
“Kamu tidak apa-apa?” Al memberikan sapu tangannya pada Freya untuk mengusap bibirnya yang basah.
Tanpa penolakan, Freya menerima, kemudian mengusap bibirnya yang basah. “Terima kasih.”
“Maaf aku mengagetkanmu.”
“Iya, Kak Al datang secara tiba-tiba dari belakang, jadi wajar aku kaget.”
“Kamu yang terlalu fokus minum hingga tidak melihat sekitar,” ucap Al.
“Iya, aku sedang mencari El, kenapa dia belum kelihatan.” Freya masih mengedarkan pandangan mencari El.
“Sepertinya tinggal di London membuat kalian tak bisa jauh.” Al tersenyum, menyadari sedekat apa El dan Al.
“Mungkin karena kami memang berteman saja dari kecil, jadi kami dekat.”
“Apa ....”
“Hai ... “ sapa Cia menghampiri Al, menghentikan kalimat yang akan keluar dari mulut Al.
“Apa kalian mau coba kue ini.” Cia menyodorkan kue buatannya pada Al dan Freya.
Al dan Freya saling pandang. Mereka sudah tahu seperti apa rasa kue buatan Cia. Bisa dipastikan kue buatan Cia tidak akan enak di lidah.
“Aku akan mencari El dulu.” Freya memilih menghindari. Tak mau jadi tumbal mencicipi kue. Mengayunkan langkahnya, dia buru-buru pergi untuk mencari El.
Di sana tinggallah Al sendiri. Tak mau jadi sasaran untuk mencicip kue, Al juga ikut mencari alasan. “Sepertinya mommy tadi meminta tolong padaku,” ucapnya. Matanya menangkap Dean yang sedang berjalan menghampiri mereka. “Sebaiknya Dean saja yang kamu suruh mencobanya.”
Al langsung memanggil Dean. Menarik tangan sepupunya itu. “De, coba cicipi kue buatan Cia, aku harus menemui mommy.” Tanpa berbasa-basi lagi, Al langsung meninggalkan Dean dengan Cia.
Cia menyodorkan kue dengan tersenyum manis. Berharap Dean akan mencoba kue buatannya.
“Bukannya kamu calon dokter, jika makan kue buatanku dan sakit, bukankah kamu bisa cari obatnya sendiri,” sindir Cia.
“Sekalipun aku calon dokter, jika aku sakit tetap saja aku harus diperiksa dokter.“
“Sudah nanti biar Ghea yang periksa.” Cia menyuapi Dean dengan kue buatannya.
Dean pasrah saat harus dipaksa makan. Berdoa tidak akan terjadi apa-apa setelah makan kue buatan Cia. Tapi benar saja, baru saja kue masuk ke mulut Dean. Dean buru-buru mencari tisu dan membuangnya. “Apa kami masukkan minuman soda ke kue?”
“Iya, aku memasukkan minuman soda tadi.”
Dean menepuk dahinya. Merasa bingung dengan ide Cia yang semakin hari semakin aneh. Namun, dia memilih diam. “Jangan berikan pada yang lain,” ucap Dean sebelum pergi.
Cia memanyunkan bibirnya. Kemudian mencicipi kue buatannya yang sebenarnya belum dia cicipi. Wajahnya langsung berubah karena merasakan rasa tidak enak. “Pantas tidak ada yang suka dengan kue buatanku.” Akhirnya Cia menyadari kenapa banyak yang tidak suka kue buatannya.
...****************...
Freya yang menghindari adiknya mencari El. Sedari tadi dia tidak melihat El sama sekali. Jadi dia tahu temannya itu ada di mana. Di mana lagi jika bukan di kamar.
Mengetuk pintu Freya memanggil El. Namun, sayangnya tidak ada jawaban dari dalam kamar. Karena terlalu lama menunggu akhirnya Freya masuk ke dalam kamar.
Saat masuk aroma maskulin menguap ke udara. Mungkin begitulah kamar pria, selalu memberikan sensasi yang menunjukkan jati diri mereka.
Freya terakhir ke kamar EL adalah sewaktu El belum ke London. Di kamar ada beberapa foto yang berjajar di atas meja dan menarik matanya untuk memandang. Foto dirinya dan El berjajar rapi di atas meja. Ada Al, Ghea, Cia, dan Dean juga di sana. Masa kecil adalah masa-masa paling indah yang tak bisa dilupakannya.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya El yang baru keluar dari kamar mandi.
Mendengar suara El, Freya menoleh. Alangkah terkejutnya saat melihat El hanya mengenakan handuk di pinggang saja. Buru-buru Freya berbalik, merasa malu melihat El dalam keadaan seperti itu.
“Kenapa kamu tidak memakai baju?” protes Freya.
“Aku memang biasa mengganti baju di luar kamar mandi, kenapa kamu protes?” cibir El.
“Kamu merusak mata suciku dengan melihat tubuhmu itu.”
“Salah siapa kamu masuk tanpa permisi?” El tetap tak mau kalah.
“Aku sudah mengetuk pintu tadi, karena kamu tadi tidak kunjung membuka pintu, akhirnya aku masuk.”
El melangkah mendekat pada Freya. Berdiri tepat di belakang Freya. Deru napas mint yang tercium membuat tubuh Freya gemetar. Hawa dingin dari tubuh El yang berjarak beberapa inci dari tubuhnya juga begitu terasa.
“Apa kamu lupa jika tadi papa baru saja mengatakan jika kita berdua bukan anak kecil lagi. Jika kamu berada di kamarku seperti ini, aku akan jamin akan ada bayi kecil di antara kita.”
Mata Freya membulat mengingat kata-kata papanya. Belum lagi cara El yang berbicara tepat di telinganya membuatnya begitu gemetar. Tak berkata apa-apa lagi, Freya memilih untuk pergi.
El yang melihat Freya pergi langsung tergelak. Niatnya menggoda membuatnya temannya itu justru takut. “Akan seperti apa anak yang akan kita buat?” gumam El. Namun, seketika El menyadari gumamannya. “Bicara apa aku,” ucapnya seraya mengusap kepalanya.
Tak mau berlama-lama ke pesta, El buru-buru memakai baju dan bersiap untuk ke pesta. Bergabung dengan keluarga lain yang sedang merayakan kedatangannya.
.
.
.
...Jangan lupa berikan hadiah kalian, poin bisa didapat di pusat misi gratis ya 🥰