
El buru-buru menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia pergi. Memastikan tiga hari ke depan akan baik-baik saja saat dia tak ada di kantor.
Sengaja dia memakai baju biasa ke kantor. Memudahkan untuk pergi tanpa harus menggantinya lagi. Tak mau banyak barang yang dibawanya.
“Kabari aku jika ada hal penting,” ucap El pada Ana. Kemudian dia mengayunkan langkahnya untuk menuju ke Bandara.
Sambil melangkah menuju ke lobi, dia menghubungi Freya.
“Kamu sudah siap?” tanya El pada Freya.
“Iya, aku sedang menunggu taxi dan akan segera ke Bandara.”
“Baiklah, aku akan tunggu kamu di Bandara.” El mematikan sambungan dan menuju ke mobilnya. Melajukan mobilnya menuju ke Bandara. Rencana, dia akan meninggalkan mobilnya di Bandara agar sekembalinya dia nanti tidak perlu merepotkan siapa-siapa.
...****************...
Di rumah Freya sedang menunggu taxi yang dipesannya tadi. Kepergian Freya membuat Chika-mamanya terkejut. Namun, karena anaknya itu pergi dengan El, Chika merasa tenang. Paling tidak anaknya akan aman.
“Nanti tolong bilang papa ya, Ma,” pinta Freya. Dia yang tadi pagi tidak bertemu dengan papanya, tidak sempat berpamitan.
“Memang Kak Freya dan Kak El mau ke mana?” tanya Cia ingin tahu.
“Mau tahu saja,” jawab Freya dan membuat Cia malas. Sebenarnya, Freya sendiri juga tidak tahu mau ke mana. Semalam, dia hanya minta untuk jalan-jalan dan menyerahkan semua pada El.
“Apa kamu sudah izin untuk tidak masuk kerja?” tanya Chika.
Freya terdiam. Mengingat jika tadi dia hanya mengirim pesan pada Luna. Mengabarkan jika hari ini dia tidak bisa masuk kerja. Menitipkan pesan agar disampaikan pada Al karena dia malas sekali menghubungi Al.
“Sudah, Ma.”
“Baiklah, hati-hati di sana. Jangan buat El kewalahan menjaga kamu.”
“Iya,” jawab Freya tersenyum.
Tepat saat Freya selesai menjawab, taxi
datang. Freya kembali berpamitan dan masuk ke taxi. Menyusul El yang juga sedang menuju ke Bandara.
Di dalam perjalanan, Freya memandangi jalanan yang dilaluinya. Saat melihat jalanan, terlintas di pikirannya tentang kisah cinta anehnya. Baru pertama kali dia jatuh cinta, tetapi dia sudah merasakan sakit.
Semoga perasaanku akan lebih baik setelah ini.
Freya berharap semua akan jauh lebih baik setelah menikmati liburannya. Dan dapat kembali bekerja dengan baik. Tak mau mencampur adukan perasaannya dengan pekerjaan setelah ini.
Taxi sampai di Bandara. El sudah menunggu Freya dan mengajaknya untuk langsung melakukan prosedur keberangkatan.
“Kita ke akan ke Labuan Bajo?” tanya Freya berbinar melihat boording pass miliknya.
“Iya,” jawab El.
“Terima kasih El.” Freya tersenyum. Merasa senang karena ternyata El membawanya ke tempat ingin dia kunjungi.
“Sudah ayo,” ajak El masuk ke dalam kabin pesawat.
Karena penerbangan mereka sudah siang, mereka sampai di Labuan Bajo saat sore hari. Sampai di Bandara, sudah ada dari pihak hotel yang menjemput mereka dan mengantarkan untuk beristirahat di hotel.
“Pemesanan atas nama Justine Elvaro,” ucap El pada resepsionis.
Resepsionis memberikan access card pada El. Namun, hal itu membuat El bingung. “Kenapa hanya satu?” tanya El.
El mengernyitkan dahi. Padahal dia meminta
Ana untuk memesan dua kamar, tetapi justru hanya satu kamar yang dipesan.
“Ya sudah, kalau begitu berikan satu kamar lagi.”
“Mohon maaf, Pak. Untuk malam ini tidak ada kamar yang tersedia. Besok baru akan tersedia.”
El mendengus kesal. Besok dia sudah tidak menginap di hotel karena akan menginap di kapal. Jadi tidak mungkin jika dia tidak memesan untuk besok. El yang bingung memilih menghampiri Freya.
“Sekretarisku hanya memesan satu kamar dan tidak ada kamar lagi, apa kamu keberatan tinggal satu kamar dengan aku?” tanya El ragu-ragu.
“Tidak masalah, lagi pula kita sudah biasa di satu kamar bukan?” Freya menjawab dengan sambil melihat ke sekeliling. Melihat pemandangan pantai yang terlihat dari hotel.
Bukankah itu dulu saat kita kecil. El memutar bola matanya malas.
“Lagi pula, kamu tidak akan menyentuhku bukan?” Freya tertawa, membayangkan hal bodoh yang akan terjadi jika mereka berada satu kamar.
Apa dia pikir aku bukan pria normal yang bisa saja tergoda.
“Sudah ayo, aku mau cepat lihat kamarnya.” Freya menarik kopernya dan membuat El pasrah. Berharap tidak akan ada hal buruk jika mereka berada di satu kamar yang sama.
Tiba di kamar, Freya dibuat takjub dengan pemandangan yang ada. Pantai yang biru dan beberapa gugusan pulau terlihat begitu cantik dari kamarnya.
Meninggalkan koper di depan pintu, Freya berlari ke balkon. Melihat keindahan alam yang begitu sangat menakjubkan.
“El lihatlah, indah sekali.” Sungguh Freya tak bisa mengungkapkan lagi kalimat apa yang pas untuk mengagumi ciptaan Tuhan.
El tersenyum sambil menarik koper milik Freya. Merasa senang karena gadis itu kembali bahagia setelah kemarin bersedih.
“Apa yang akan kita lakukan di sini El? Akan ke mana kita setelah ini?”
El dengan santai menghampiri Freya. “Kita akan beristirahat hari ini dan untuk besok, kita lihat besok.”
“Apa kamu ingin memberikan aku kejutan?” tanya Freya berbinar.
El menaikkan bahunya. Pandangannya melihat ke arah laut yang indah dan gugusan pulai yang terlihat indah. Sejak lama dia ingin ke tempat ini. Dan baru kali ini terpenuhi. Dulu waktu sekolah, Mommy Shea tak pernah mengizinkannya pergi. Hingga akhirnya dia pergi ke London, dia belum sempat menjelajah Indonesia bagian timur itu.
“Terima kasih, El. Aku tak tahu bagaimana harus membayar semua kebahagiaan ini.” Freya bersyukur karena mempunyai sahabat seperti El.
“Bayarlah dengan kebahagiaanmu. Karena bahagiamu adalah hal yang aku inginkan.” Pandangan El beralih pada Freya. Menatap wajah Freya lekat. Mata birunya begitu bening, hingga membuat siapa pun yang melihat terhipnotis.
Untuk sejenak, Freya terhipnotis. Namun, buru-buru dia mengalihkan pandangan. “ Apa kita akan snorkeling?”
“Iya,” jawab El.
Freya sudah tidak sabar melakukan banyak kegiatan di pantai cantik itu. Menghabiskan waktu dan melupakan kesedihannya.
.
.
.
.
.