
Pagi ini Freya lebih semangat dari kemarin. Menemukan satu jawaban atas pertanyaan apa yang ada di hatinya, dia merasa sangat senang. Saat bertemu dengan El saja dia menyapa temannya itu dengan semangat.
El sebenarnya tahu apa yang menjadi alasan Freya begitu bahagia. Namun, dia pura-pura tidak tahu. Dia juga tidak mau berbasa-basi untuk menanyakan apa yang membuat Freya bahagia. Memilih untuk menceritakan hal lain. Tentang keinginan Cia yang ingin kuliah di luar negeri menjadi pilihannya saat menuju ke kantor.
El menanggapi jika memang benar adanya keputusan orang tua Freya yang tidak mengizinkan Cia untuk ke luar negeri. Selain karena tidak ada yang menjaga, akan sangat bahaya jika Cia di sana sendiri.
“Nanti kamu pulang denganku,” ucap El.
“Aku tidak pulang dengan Kak Al?” tanya Freya memastikan.
“Aku akan pulang tepat waktu, jadi kamu bisa pulang denganku,” jawab El.
Freya tampak berpikir, dia merasa bingung karena ternyata dia harus pulang dengan El.
“Bukan begitu?”
“Apa kamu tidak mau pulang denganku?” tanya El kembali. Mata birunya menatap penuh harap.
Melihat El, Freya merasa tidak enak. “Baiklah, aku akan pulang denganmu.” Pasrah itu yang bisa Freya lakukan. Kedekatan dengan El yang terjadi cukup lama, tak mungkin dilepasnya begitu saja.
“Baiklah, bertemu nanti sore,” ucap El.
Freya turun dari mobil dan selang beberapa saat kemudian El melajukan mobilnya. El tersenyum saat melihat ternyata Freya menerima. Ini adalah langkah awalnya. Cara halus untuk menjauhkan Freya dengan Al.
Di kantor, El langsung memulai pekerjaannya dengan cepat. Karena tidak mau sampai terlambat menjemput Freya.
Di tengah-tengah El yang sedang sibuk bekerja, Bryan datang menghampiri El. Dia ingin memastikan jika anaknya itu baik-baik saja.
“Dad ...,” panggil El.
“Apa kamu sudah lebih baik?” tanya Bryan seraya mendudukkan tubuhnya.
“Iya, aku jauh lebih baik sekarang.” Senyum El tergambar di wajahnya. Nasehat daddy-nya kemarin memang membuatnya merasa jauh lebih baik.
“Bagus kalau kamu sudah jauh lebih baik. Karena aku ingin membahas membangunkan awal yang akan dilakukan minggu ini. Apa perlu ada acara untuk peletakan batu pertama?” tanya Bryan pada anaknya.
“Aku rasa tidak perlu banyak orang, biarkan saja kita saja, Dad. Aku tak suka banyak yang tahu dengan proyek ini sebelum semua selesai.”
“Baiklah, aku akan bicarakan dengan Felix.”
Bryan melanjutkan pembahasan tentang proyek berdua dengan El.
...****************...
“Kalian sudah ingin pulang?” tanya Al pada Freya dan Luna.
“Iya, Pak.” Dua wanita itu menjawab dengan bersamaan.
“Aku mau meminta tolong ambilkan berkas yang akan kita ajukan ke Adion. Aku ingin mempelajari lagi di rumah. Apa ada dari kalian mau mencarikan?”
“Biar saya saja, Pak,” ucap Freya. Kemudian dia beralih pada Luna. “Kak Luna, pulang saja dulu.” Freya yang tahu jika Luna sudah dijemput kekasihnya merasa tidak tega jika harus membantu mencari berkas.
“Benar tidak apa-apa?”
“Iya,” jawab Freya dengan yakin.
“Baiklah kalau begitu.” Luna berlalu pergi.
Meninggalkan Freya dan Al berdua.
Freya masuk ke ruangan Al. Mencari berkas yang diminta oleh atasannya. Kemarin Luna yang meletakkan berkas itu, jadi Freya harus mencarinya karena tidak tahu. Ternyata berkas terletak paling atas. Mau tak mau, Freya harus naik ke tas dengan tangga untuk mengambil berkas.
“Biarkan aku saja yang naik, nanti kalau kamu jatuh, aku yang akan repot,” ucap Al. Dia mengambil alih tangga dan menanyakan berkas yang mana.
Freya merasa lucu. Tadi Al memintanya untuk mengambil berkas, tetapi Al sendiri yang justru mengambilnya.
“Ini?” tanya Al menoleh ke bawah.
Freya terpaku. Saat menoleh ke bawah, wajah Al terlihat jelas menatapnya. Mata biru Al, benar-benar menghipnotisnya.
“Frey ....”
“Freya ....” Al memanggil Freya dengan menaikkan sedikit suaranya. Membuat Freya yang sedang melamun tersadar.
“Iya, Pak. Itu berkasnya.”
Al mengambil berkas dan turun dari tangga. Untuk ukuran dia yang seorang laki-laki, dia tidak masalah naik tangga. Akan tetapi, dia tidak bisa bayangkan sekretarisnya yang naik.
“Sudah, Pak. Apa itu saja?” tanya Freya memastikan.
“Iya, ini saja,” jawabnya, “kalau begitu ayo kita pulang.”
Freya terdiam. Ingatannya kembali pada janjinya yang akan pulang dengan El. Sebenarnya, dia merasa sayang sekali membuang kesempatan untuk pulang dengan Al. Dengan pulang bersama Al, dia akan lebih dekat lagi. Akan tetapi, dia tak bisa membuat El kecewa. “Maaf, Kak. Hari ini El menjemput.”
Mata Al memicing, sedikit terkejut jika adiknya menjemput. Seingatnya beberapa hari ini adiknya itu mengatakan jika dia sedang sibuk. Namun, dia tak bisa menolak, mengingat tampak Freya tidak keberatan.
Bagaimana bisa dia keberatan. Bukankah dia dekat dengan El sejak awal. Al menertawakan dirinya sendiri. Seolah dia telah hadir di antara dua pasang kekasih.
“Baiklah, kita ke lobi bersama,” ajak Al.
Freya mengangguk. Berjalan beriringan dengan Al bersama-sama. Ada perasaan berdebar saat bersama Al. Apa pun yang dilakukan Al di matanya selalu menakjubkan. Begitu juga saat tadi Al yang rela naik tangga mengambil berkas.
Di dalam lift tak ada yang membuka pembicaraan. Al cenderung pendiam, jarang memulai pembicaraan, sedangkan Freya sendiri tidak tahu harus membahas apa. Sejauh ini pembicaraan dengan Al hanya seputar pekerjaan.
“Kak Al ....”
“Frey ....”
Freya dan Al memanggil secara bersamaan, membuat Freya tertawa dan Al tersenyum. Mereka merasa lucu saat ingin memecah keheningan, mereka justru bersama-sama memanggil nama mereka.
“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Al menatap Freya.
Seketika Freya lupa apa yang akan dia katakan.
“Aku lupa,” ucapnya polos.
Al tersenyum tipis, melihat kekonyolan Freya.
“Kak Al sendiri ingin bilang apa?”
“Aku juga lupa.”
Tawa Freya pecah, karena ternyata tidak hanya dirinya yang lupa.
Melihat Freya tertawa, kini Al terpesona. Cantik. Satu pujian yang dia berikan.
Lift terbuka. Mereka keluar dari lift dan menuju ke depan lobi. Sudah tampak mobil El di sana.
El yang berada di dalam mobil, melihat jelas jika Freya dan Al berjalan bersama. Jika Freya berlama-lama bekerja di kantor Al, aku rasa dia akan benar-benar semakin dekat.
Telunjuknya mengetuk-ngetuk di atas stir mobil, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Al, aku harus mengatakan pada Al. Jika aku menyukai Freya.
Tepat saat Al dan Freya di depan mobil, El membuka kaca mobilnya. “Hai Al,” sapanya.
“Kamu tidak lembur?”
“Tidak,” jawabnya pada Al.
“Baiklah, kebetulan kamu pulang cepat, aku akan ke rumah nanti.”
Kebetulan atau tidak, saat Al ingin ke rumah, justru membuka peluiang bagi El. “Baiklah, aku tunggu.” El Kemudian meminta Freya untuk masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor.
.
.
.
.
.