
Freya masih merasa bingung kenapa tiba-tiba pernikahan di depan matanya. Semua terjadi begitu cepat. Hingga tak bisa membuatnya berpikir lagi.
“Kenapa harus El?” tanya Freya bermonolog sendiri.
Freya masih tidak terima jika El yang harus menjadi suaminya. Masih terasa sulit untuk menerima hubungan persahabatannya berubah menjadi pernikahan.
“Ach ....” Freya membenamkan kepala ke dalam bantal. Merasakan kesal yang luar biasa.
Tok ... tok ....
Ketika pikirannya sedang kacau suara pintu terdengar. Terlihat kepala menyembul dari balik pintu.
“Kakak tidak makan?” tanya Cia.
“Aku tidak nafsu makan.”
“Apa Kakak berusaha tampil langsing saat pernikahan?”
Mendengar ucapan adiknya, Freya melempar bantal ke arah pintu. Dengan gerakan cepat Cia menutup pintu. Tak mau menjadi sasaran kakaknya yang sedang mengamuk.
Sesaat kemudian Cia kembali membuka pintu. “Apa aku boleh masuk?”
“Masuk saja, tetapi jangan bahas pernikahan?”
Cia dengan polosnya masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya di samping Freya.
“Kakak yakin tidak mau makan?”
“Iya,” jawab Freya kesal.
“Apa Kakak sedang kesal?” Cia memiringkan kepalanya untuk melihat wajah kakaknya.
“Apa kamu tidak bisa membaca wajahku?”
“Kakak pikir aku pakar mikro ekspresi yang bisa membaca ekspresi wajah seseorang.”
Freya menjambak rambutnya. Di tengah kekesalannya, adiknya hadir justru semakin membuatnya kesal. “Sebaiknya kamu pergi,” ucapnya. Freya semakin malas berbicara dengan adiknya.
Cia mencebikkan bibir dan bangkit dari tempat tidur. Meninggalkan kamar Freya. Namun, langkahnya terhenti di tepat saat membuka pintu.
“Tadi mama mengatakan untuk Kak Freya bersiap karena akan fitting gaun pengantin.”
Cia tersenyum ketika menyampaikan pesan.
“Ach ....” Freya justru kembali melempar bantal.
Untung Cia buru-buru bisa keluar dari kamar. Jika tidak dia akan terkena lemparan bantal dari Freya.
“Dasar!” gerutu Cia. “Baru kali ini aku melihat orang akan menikah tidak bahagia.” Di depan kamar Freya, Cia masih terus berbicara. Tawa kecil menghiasi wajahnya. Dengan langkah riang, Cia menyusul mama dan papanya yang sudah mulai sarapan. Mengabaikan Freya yang tak mau sarapan.
...****************...
Dengan wajah ditekuk, Freya masuk ke dalam mobil. Dia pikir akan pergi dengan mamanya, tetapi ternyata dia justru pergi dengan El, sedangkan mamanya akan berangkat dengan Mommy Shea dan Mommy Selly.
Setelah kemarin kejadian yang mengejutkan dan mengubah hidupnya itu terjadi, dia memang tidak berkomunikasi dengan El sama sekali. Freya masih marah sekali dengan apa yang dilakukan El kemarin. El yang menyetujui untuk menikah membuatnya tak berkutik dan akhirnya menerima pernikahan itu.
Sepanjang perjalanan Freya menutup rapat mulutnya. Tak mau berbicara sama sekali.
“Apa kamu sedang puasa bicara ?”
Freya melirik El yang mengajaknya bicara. El tak menoleh sama sekali. Pandangannya fokus pada jalanan di depan. Namun, dia tahu jika El sedang mengajaknya bicara.
“Iya, puasa bicara,” jawab Freya ketus.
“Aku pikir kalau puasa bicara kamu akan berbicara dengan bahasa isyarat.”
“Hehe ... lucu sekali,” jawab Freya menyindir El. Dia memaksakan senyumnya menjawab El, dan seketika membuat El tertawa.
“Lihatlah wajahmu, lucu sekali.” El memukul setir mobil saat tertawa.
“El.” Freya yang kesal memukul-mukul lengan El, membuat tangan El tergerak dan setir mobil berbelok ke kanan.
Freya terkejut dan langsung melepas lengan El yang sedari tadi dipukulnya.
Untung sisi kanan sedang tidak ada mobil dan El bisa menjaga keseimbangan mobil. Jika sampai iya, akan sangat bahaya sekali karena pasti mobil mereka akan menabrak.
“Jika kamu mau bunuh diri, jangan ajak-ajak aku,” ucap El kesal. Dia kembali melaju mobil lagi. "Apa kamu mau jadi janda sebelum menikah."
“Mana ada janda sebelum menikah?” Mata Freya memicing mendengar ucapan El.
“Ada kalau sudah dicicip.”
“El sejak kapan mulutmu itu sekotor itu?” Mata Freya membulat sempurna, terkejut dengan apa yang diucapkan El.
“Maksudku makanan, Frey.”
“Mana bisa makanan, sedangkan kita sedang membahas janda.”
“Astaga, kasihan sekali para janda jadi omongan kita.”
“El ....” Melipat tangannya, Freya menatap jalanan di depannya. Kesal sekali dengan El yang sedari tadi bercanda.
El tersenyum tipis. Memang sedari tadi dia sengaja menggoda Freya. Dengan Freya membalas ucapannya, menandakan jika sebenarnya dia baik-baik saja. Tak semarah apa yang dibayangkan.
“Apa kamu yakin dengan pernikahan ini?”
Tatapan Freya masih belum beralih dari jalanan di depannya. Namun, El tahu jika Freya sedang berbicara dengannya.
“Orang tua kita sudah menetapkan hal ini. Aku rasa mereka sudah mempertimbangkan dengan baik. Jadi apa yang perlu diragukan?”
“Ada El.” Freya menoleh. Bola mata coklat bak kacang kenari miliknya menatap lekat wajah El. Wajahnya tampak gelisah seolah banyak keraguan yang dirasakannya.
“Apa?” El menoleh sejenak. Membagi konsentrasinya pada jalanan.
“Aku dan kamu tidak saling mencintai.”
Ucapan Freya seketika membuat El refleks menginjak pedal gas.
“El, kenapa berhenti tiba-tiba?” tanya Freya kesal. Tubuhnya sedikit terhuyung ketika El berhenti mendadak.
“Maaf.” El kembali melajukan mobilnya. Menetralkan kembali perasaannya yang terkejut. Mungkin bagi Freya, pernikahan ini tanpa cinta, tetapi bagi El pernikahan ini ada cinta. Cinta yang terdapat di sudut hatinya.
“El, kamu dengar tidak aku tadi bilang apa?” Setelah mobil melaju kembali, Freya melayangkan pertanyaan tentang ucapannya tadi.
“Iya, aku dengar.”
“Lalu, apa kita akan menikah tanpa cinta?”
“Sekarang aku tanya? Mana yang kamu pilih dicintai atau mencintai?”
Freya terdiam. Mencintai Al membuatnya begitu terluka. Hingga akhirnya dia pergi jalan-jalan dan berbuah menikah dengan El.
“Jika itu sebuah pilihan, aku lebih memilih dicintai.”
“Jadi biarkan aku yang mencintai. Tak perlu kamu memaksakan untuk membalasnya.” El tak menoleh saat berbicara, takut Freya bisa melihat bagaimana tatapan penuh cinta dari sorot matanya.
Freya terkesiap. El tampak sangat serius saat berbicara. Karena El tak menoleh, dia tak bisa melihat seperti apa wajah El ketika berbicara.
“Apa kamu akan mengubah perasanmu padaku, El?” tanya Freya, “maksudku, kita berteman dan perasaan sayang kita adalah perasaan sesama sahabat. Jadi apa mungkin semua itu bisa berubah?”
Perasaanku tak pernah berubah dan tak perlu ada yang diubah. batin El tersenyum getir.
“Aku sendiri tidak tahu, tetapi yang jelas kita mulai bangun hubungan pernikahan ini karena saling menyayangi seperti biasanya. Apa pun yang terjadi kelak, biarkan waktu yang menjawab.”
Semua sudah tak bisa dihindari lagi. Apalagi sekarang dua keluarga sudah menyatu dan sepakat. Jika Freya memilih menghindar, nasib hubungan keluarganya juga akan dipertaruhkan. Hubungan persahabatan orang tuanya dan orang tua El akan terputus, dan Freya tak mau hal itu terjadi.
Jika pun ini adalah takdirku. Aku akan menjalani takdir yang sudah digarisnya. Freya mengangguk-tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh El. Memulai semua hubungan atas dasar cinta karena persahabatan
El tersenyum, merasa lega akhirnya Freya setuju dengan apa yang ditawarkannya.
Jika kali ini hanya aku yang mencintai, kelak kita berdua yang akan saling mencintai. Satu harapan El adalah cintanya terbalas. Tak hanya dia yang mencintai, tetapi juga dicintai.
...TAMAT ...