Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Menyapa



Semua keluar dari mobil masing-masing. El membuka pintu dan keluar dari mobil. Di depan rumah Al yang sedang berusaha membuka party popper. Wajah Al kelihatan kesal sekali karena ternyata semburan kertas itu tidak keluar.


“Al, mana?” tanya Selly. Dialah yang memberikan ide memberikan kejutan pada El.


“Iya, Mom, sebentar.” Dari awal Al memang tidak mau menggunakan alat-alat tidak jelas itu. Namun, apa boleh buat karena titah sang mommy tidak bisa ditolak.


Akhirnya setelah bersusah payah, tepat saat El keluar party popper itu menyemburkan kertas-kertas. El yang sedari tadi di dalam mobil tersenyum. Sudah tahu ide siapa itu.


“Terima kasih, Mom.” El langsung menghampiri Selly yang sudah mengembutnya. Wajah wanita paruh baya itu hampir sama dengan mommy-nya yang masih sangat cantik di usia yang hampir setengah abad.


Sambil memeluk Selly, dia melihat Al yang tampak kesal. Sudah bisa dia pastikan jika kakak sepupunya itu sedang kesal harus mengikuti ide kejutan dari mommy-nya.


“Apa kamu sehat-sehat saja, Sayang?” tanya Selly seraya melepas pelukannya. Tangannya menangkup wajah El.


“Aku sehat, terlampau sehat mungkin,” ucapnya seraya memamerkan otot tangannya.


“Lihatlah tubuhmu bengkak semua,” goda Selly.


“Ini atletis,” elak El dan mendapati tawa dari semua yang ada. Saat sedang tertawa El melihat Regan yang menghampiri. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tetapi saat berjarak dekat dengan El, dia tersenyum.


“Apa kabar El?” tanyanya seraya memeluk.


“Baik, Dad.” Bagi El, Regan adalah daddy keduanya setelah Bryan. Dari kecil, dia memang diasuh oleh dua pasang suami istri. Selly yang merupakan kakak daddy-nya, membuat hubungan begitu dekat.


Mommy Shea selalu mengatakan jika Al adalah kakaknya, karena El dan Al saudara sepersusuan juga.


Al yang sedari tadi diam, mengayunkan langkahnya, menghampiri El. “Hai, Bro,” sapanya seraya memeluk El. Pria dua puluh lima tahun itu tampak tersenyum tipis pada adiknya.


“Hai ....” El mengeratkan pelukan. “CEO Maxton ternyata sekarang tampan sekali,” pujinya seraya menyelipkan canda.


Aaron Alexander Maxton atau biasa dipanggil Al adalah CEO di Maxton Company. Dia meneruskan perusahaan yang dibangun oleh kakeknya. Pria tampan dengan darah Inggris itu sangat cakap dalam memimpin perusahaan. Terbukti perusahaan begitu semakin maju.


Setahun yang lalu, Al juga mendapatkan penghargaan sebagai pengusaha muda terbaik karena hasil kerjanya begitu nyata. Beberapa mal dengan apartemen dibangunnya dan penjualan apartemennya laris manis di kalangan pasangan muda.


Namun, berbeda dengan El, Al lebih diam. Dia tak suka banyak bicara, tetapi sangat menyangyangi adik-adiknya. Sebagai kakak tertua, penjaga paling depan.


Selly yang melihat kedekatan kakak-adik itu merasa senang. Sebagai orang tua dia berharap anak-anaknya rukun dan saling sayang.


Saat melihat Freya, dia menghampiri gadis cantik itu. “Sayang, tidak menyangka kamu cantik sekali sekarang,” ucapnya seraya menautkan pipinya.


“Terima kasih, Mom.”


“Anak siapa dulu, cantik. Kalau sudah bilang cantik, jadikan calon mantu,” goda Felix.


Chika langsung memukul legan Felix karena berbicara tidak jelas.


“Dengan siapa saja nanti Freya, itu pasti yang terbaik.” Regan menjawab apa yang di ucapkan Felix. Dia mengulurkan tangan pada Freya. “Apa kabar?”


“Baik, Dad.” Dari ayah El dan Al, pada Reganlah Freya merasa sungkan-daddy dari Al.


Regan tersenyum. Kemudian mengajak semua untuk masuk ke dalam rumah masing-masing. Membiarkan anak-anak untuk beristirahat.


Semua orang membubarkan diri. Keluarga El masuk ke dalam rumah sendiri, sedangkan keluarga Freya juga melakukan hal yang sama.


“Biar aku saja yang ambil kopermu, El. Masuklah!” Al tak tega melihat adiknya yang pasti sangat lelah karena perjalanan.


El tak menolak tawaran dari Al, mengingat dia ingin sekali segera duduk manis di rumah.


Di saat semua orang masuk ke dalam rumah, Al mengambil koper dari bagasi. Dia berpapasan dengan Freya yang sedang mengambil sesuatu di dalam mobil.


“Hai, Frey ... “ sapa Al.


Freya terpaku. Dia hafal betul jika selama ini Al jarang sekali berbicara dengannya. Saat di London saja, dia hanya akan bicara hal-hal penting saja. Sangat jarang dia berbasa-basi.


Mata birunya yang begitu tajam menatapnya membuat Freya tak dapat menjawab.


“Kakak ... “ panggil Cia-adik Freya. Dia berlari menghampiri Freya. Tadi dia sibuk membuat kue. Saat mama dan papanya masuk, dia mencari keberadaan kakaknya yang ternyata masih di luar.


Cia langsung memeluk Freya, meluapkan kerinduannya. “Kita lama sekali tidak bertemu. Kakak jahat sekali liburan, tetapi justru pergi jalan-jalan dengan Kak El.”


Freya terdiam, matanya masih fokus pada El.


“Iya,” jawab Freya.


“Aku berbicara tetapi kakak tidak menjawab.”


“Iya, aku juga merindukanmu.”


Cia tersenyum, kemudian menyadari jika ada Al di sampingnya. “Kak Al ambil apa?”


“Ambil koper El.”


“Kakak, ingat ya nanti harus coba kue baru buatan aku?” celetuk Cia.


“Aku harap tidak akan gagal seperti tempo hari.”


Cia tersenyum memamerkan deretan giginya. Setiap libur, Al, Ghea dan Bian adalah sasarannya mencicipi kue inovasinya. Resep baru selalu saja perlu beberapa kali percobaan hingga benar-benar sempurna. “Tenang, kali ini aman.”


Al tersenyum tipis. “Ajaklah Kakakmu itu dulu mencicipi kue buatanmu,” ucap Al menatap Freya.


“Tentu, dia akan jadi korbanku selanjutnya,” jawab Cia tersenyum.


“Korban?” Freya bingung dengan obrolan dua orang di depannya.


“Masuklah!” perintah Al seraya meninggalkan Freya dan Cia. Menarik koper milik El ke dalam rumah.


Freya masih terpaku, melihat Al. Entah magnet apa yang membuatnya memandangi pria yang berbeda dua tahun darinya itu.


“Ayo, Kak masuk!” ajak Cia menarik tangan Freya.


Mereka masuk ke dalam rumah. Menyusul papa dan mamanya yang sudah lebih dahulu berada di dalam rumah.


Freya langsung masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya yang lengket ingin segera dia segarkan.


Membuka pintu kamarnya, Freya tersenyum. Rasanya dia rindu sekali dengan kamar yang menjadi tempatnya menghabiskan hari.


“Kamarmu masih tetapi sama. Mama tidak boleh aku masuk karena takut merusak barang-barangmu.” Cia yang berada di belakang Freya memberitahu kakaknya itu.


“Iya, kamu selalu saja rusuh,” ledek Freya.


Cia mendengus kesal mendengar kakaknya meledek.


Freya masuk dan mengambil handuk. Namun, langkahnya terhenti saat hendak ke kamar mandi. “Kamu sepertinya dekat dengan Kak Al?” tanyanya berbalik menatap Cia.


“Siapa aku?” tanya Cia menunjuk dirinya.


“Memang siapa lagi yang di kamar ini?”


Cia tertawa. “Karena kami sering sekali berkumpul.”


“Berkumpul?” Dahi Freya berkerut dalam. Seingatnya di London, Al tipe yang tidak suka berkumpul dengan orang lain.


“Lebih tepatnya menjaga aku dan Ghea.”


“Menjaga?” tanyanya bingung.


“Iya, aku dan Ghea sering sekali pergi, dan Kak Al yang menemani kami, sesuai permintaan Mommy Shea.”


Freya baru mengerti bagaimana cara adiknya itu bisa dekat.


“Cepat mandi, aku mau Kakak mencoba kue buatanku.” Cia mendorong tubuh Freya untuk masuk ke kamar mandi.


“Iya,” jawab Freya malas. Dia masuk ke kamar mandi dan melanjutkan niatnya untuk mandi.


.


.


.