Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Dapat Yang Pertama



“Kak Al,” ucap Cia mundur dan berada di tengah-tengah antara Al dan Freya.


Freya memicingkan matanya, merasa heran karena sedari tadi mengganggu saja. Setelah tadi dia mengganggu sewaktu dengan El. Sekarang dia mengganggu sewaktu dengan Al.


“Kak Al tahu, di sana itu air terjun itu ada batu besar, Kak Al nanti harus foto aku.” Cia melancarkan aksinya. Demi ke London, dia membantu El menjauhkan Al dari kakaknya. Tidak peduli bagaimana caranya, dia ingin keinginannya tercapai.


“Memang kamu pernah ke sini?”


“Tidak, tetapi aku sudah mencari tahu lewat internet.” Cia mempercepat langkahnya. Mendahului semua untuk sampai di air terjun lebih dulu. Di depan dia bertemu dengan El yang tersenyum tipis. Senang ternyata Cia bisa diandalkan.


Al yang ditarik hanya pasrah. Meninggalkan semua berjalan lebih dulu.


Mendapati semua sudah sesuai dengan keinginan, akhirnya El mundur. Menyejajarkan tubuhnya dengan Freya.


“Kenapa muram?” tanya El.


“Apa kamu tidak lihat apa yang dilakukan Cia? Setelah dia mengganggu kita, sekarang dia mengganggu aku dan Kak Al,” jawab Freya kesal.


Ada rasa bahagia di hati El karena idenya menjauhkan Al berhasil. Walaupun harus melihat Freya kesal.


“Sudah biarkan saja. Jangan rusak suasana hatimu, karena kita ke sini untuk bersenang-senang.” El menautkan jemarinya meyakinkan temannya itu.


Freya mengembuskan napasnya. Menghilangkan rasa kesalnya akibat adiknya. Dia tak mau hari bahagia ini dibuat kesal karena ulah adiknya. Senyuman kembali menghiasi wajahnya. Kembali bahagia dan menikmati liburannya.


Mereka semua sampai di air terjun. Bermain air bersama. Cia terus saja menempel pada Al bak prangko. Tak membiarkan pria itu mendekati kakaknya. Al hanya bisa pasrah. Mengingat dia harus menjaga adik-adiknya. Ghea sudah dijaga oleh Dean, sedangkan Freya dijaga oleh El. Jadi, mau tak mau dia harus menjaga Cia. Karena tidak mungkin dia meninggalkannya sendiri.


Freya yang dari kejauhan begitu kesal karena adiknya menghabiskan waktu berdua dengan Al. Padahal dia tahu beberapa waktu lalu adiknya sendiri yang menebak jika dia menyukai Al.


El yang melihat Freya menggoda gadis yang disukainya itu dengan menciprati dengan air. Membuat tubuh Freya basah.


“El ...,” panggil Freya kesal. Dia membalas El dengan menciprati air. Tak mau kalah.


“Salah sendiri muram terus,” ucap El.


“Biar saja.” Tangan Freya masih terus berusaha untuk menciprati El dengan air. Mereka berdua larut dengan bermain air bersama. Tertawa bersama.


Baru saja El dan Freya bermain dengan air, dia terjatuh. El yang panik langsung masuk untuk membantu Freya. Tubuh mereka yang tadinya hanya basah karena terkena cipratan kini justru basah kuyup.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Al panik.


“Kami tidak apa-apa.” El yang tadi meraih tubuh Freya berusaha mendekap agar Freya tidak terjatuh. Sengaja melakukan hal itu di depan Al.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Freya. Kakinya yang memijak batu-batu membuatnya berpegangan dengan El agar tidak jatuh. Hal itu justru sangat menguntungkan bagi El.


Al memerhatikan, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Dia kembali bermain air dengan Cia. Bergabung dengan Ghea, Dean dan Bian juga. Mereka semua larut dengan kesenangan mereka.


Puas bermain, mereka memutuskan untuk pulang. Al, Cia, Ghea, Dean dan Bian lebih dulu berjalan di depan. Meninggalkan El dan Freya di depan.


“El hayo cepat jalannya.” Freya menarik tubuh El.


El memang sengaja berjalan santai. Agar bisa berjalan jauh dari Al.


Tepat saat Freya menarik tangan El, gadis itu terpeleset dan membuatnya terjatuh. Karena jatuhnya begitu cepat, El tidak dapat mencegahnya. Hingga akhirnya Freya jatuh.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya El panik.


“Au ...,” teriak Freya saat mengerakkan kakinya.


“Sepertinya kakimu terkilir.”


“Sakit, El.” Freya menatap El dan merenggek.


El serasa melihat Freya kecil yang merenggek padanya saat dia terjatuh dari sepeda. “Ayo aku akan menggendongmu.” El membalikkan tubuhnya agar Freya bisa naik ke atas punggungnya.


Freya langsung naik ke atas tubuh El. Dia sadar dengan keadaan kakinya yang terkilir tidak mungkin bisa jalan. Apa lagi jalanan masih sangat jauh. Tubuh mungil Freya berada di punggung El. Menempel bak prangko. Tangannya melingkar di leher El agar tidak terjatuh.


El yang menggendong, memegangi paha Freya agar tak terjatuh.


“Kita seperti jaman kecil. Dulu saat aku jatuh kamu juga menggendong aku,” ucap Freya tersenyum senang. Kepalanya berada tepat di bahu El. Hingga membuat suaranya tepat di telinga El.


“Apa yang berbeda?” tanya Freya polos.


“Kamu sekarang berat sekali.” El terengah-engah saat berjalan. Akhirnya jalanan yang menanjak selesai juga dilaluinya.


“El.” Freya memukul El. Kalimat itu secara tidak langsung mengatakan jika Freya gemuk.


El justru tertawa. “Jangan bergerak. Nanti kita bisa jatuh.”


Freya yang merasakan tubuhnya sudah oleng langsung mengeratkan pegangannya.


“Apa kamu mau membunuhku?” tanya El saat tangan Freya mengencangkan pegangannya tepat di leher.


Freya tertawa melihat wajah El yang hampir mati tercekik tangannya. Senang sekali melihat wajah panik El.


“Ternyata ukuran punyamu juga berbeda,” ucap El.


“Apa?”


“Ini,” jawab El seraya menggerakkan punggungnya.


“El.” Freya memundurkan tubuhnya. Satu pukulan mendarat di pundak El. Dia malu sekali dengan apa yang dilakukan oleh El.


“Tidak terasa ya kita sudah besar,” ucap El.


“Iya.” Freya kembali mendekat, tetapi kali ini tidak menempelkan tubuhnya. “Kita sudah besar, setelah itu dari kita masing-masing akan menikah. Lalu setelah itu kita akan punya anak. Aku belum bisa bayangkan itu.”


“Kamu sudah membayangkan itu, bagaimana bisa kamu bilang belum bisa bayangkan.” El tertawa kembali.


“Iya juga,” jawab Freya polos dan membuat El menggeleng.


“Apa kamu sudah siap menikah?” tanya El.


“Aku-aku takut El,” jawab Freya.


“Takut apa?” El menoleh sejenak pada Freya.


“Aku takut malam pertama,” jawabnya lirih.


El langsung tergelak. Tak menyangka jawaban konyol Freya seperti itu.


“Kamu menyebalkan sekali,” jawab Freya males.


“Kenapa harus takut? Nanti aku akan mengajarimu.”


“El ... kalau kamu yang mengajariku. Berarti suamiku bukan dapat yang pertama.”


“Aku suamimu, jadi aku akan dapat yang pertama.”


Freya terdiam. Sejenak dia berpikir dengan ucapan El.


“Kak El, Kak Freya kenapa?” Suara Cia terdengar saat Freya masih berpikir keras.


“Tadi, dia jatuh dan kakinya terkilir,” jawab El.


“Ayo bawa ke vila, aku dan Dean akan periksa, Kak.” Ghea memang masih calon dokter, tetapi dia tahu bagaimana cara memberikan pertolongan pertama untuk kaki terkilir.


“Iya. Ayo kita kembali ke villa.” El melanjutkan untuk membawa Freya ke vila.


.


.


.


.


.