
Freya menarik kopernya meninggalkan rumah yang sudah empat tahun ditinggalinya. Banyak hal yang sudah dilalui di rumah ini.
Menyusul El dan Al untuk kuliah, dia mengingat bagaimana di merengek untuk kuliah di London pada papanya. Menurut papanya lebih baik dia kuliah di Jakarta saja karena banyak universitas yang bagus yang bisa menjadi pilihan.
Namun, Freya yang selalu mendapatkan cerita dari El tentang bagaimana London membuatnya begitu jatuh cinta.
Benar saja, saat dia tinggal, dia dibuat jatuh cinta dengan jatuh cinta. Akan tetapi, kini dia harus segera kembali untuk bertemu dengan mama, papa dan adiknya. Meneruskan bisnis yang kakeknya berikan.
“Ayo,” ajak El.
Mereka masuk ke dalam mobil yang mengantarkan ke Bandara. Sepanjang jalan, Freya masih memandangi jalanan yang dilalui, sedangkan El sibuk dengan ponselnya. Sedari tadi adiknya mengiriminya pesan, jadi dia menjawab pesan tersebut, padahal di Indonesia sudah jam dua belas malam.
Pesawat lepas landas di jam tujuh malam waktu London. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu enam belas jam. El dan Freya menikmati waktu selama perjalanan.
“Apa yang akan kamu lakukan sesampainya di Indonesia?” tanya El pada Freya.
“Bekerja di perusahaan kakek.”
“Jadi kamu akhirnya menerima?” tanya El. Dia tahu pasti jika hubungan antara papa Freya dengan kakeknya tidak baik. Papa Felix sengaja tidak mau menjadi CEO di Julian Company. Alih-alih menjadi CEO, dia justru masih setia bekerja di Adion Company.
“Mama membujuk papa untuk mengizinkan aku. Lagi pula hanya anak papa yang bisa mengurus perusahaan itu.”
El mengangguk-anggukan kepalanya. Dia berpikir tidak mungkin adik Freya yang melanjutkan, mengingat adiknya itu melanjutkan usaha bakery sang nenek.
“Lalu kamu?” tanya Freya.
“Membangun perusahaan baru.”
“Kamu tidak mau melanjutkan usaha Daddy Bryan?”
“Tidak, aku akan buat perusahaan sendiri.”
Freya mengangguk. Dia sangat tahu keahlian El memang tidak perlu diragukan lagi. Pengalaman El bekerja pada temannya sudah bisa membuat El membangun perusahaannya sendiri.
Perjalanan dilalui oleh El dan Freya dengan bercerita rencana-rencana yang akan mereka lakukan nanti.
Tak terasa enam belas jam berlalu. Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional. Waktu menunjukan jam tiga sore saat El dan Freya datang.
Perubahan cuaca yang drastis membuat tubuh harus menyesuaikan. Terbiasa dengan udara dingin London, mereka harus merasakan panasnya Ibu kota.
Dibantu oleh porter, mereka keluar dari Bandara. Sepanjang jalan, mereka mencari keluarga yang menjemput. Namun, sayangnya mereka tidak menemukan siapa-siapa.
“Apa mereka lupa kita pulang?” tanya Freya pada El.
El mengedikkan bahunya. Tidak tahu harus berkata apa. Seingatnya dia sudah mengatakan pada keluarganya, terutama adik perempuannya.
Tak mau menunggu lama, akhirnya El menghubungi mommy-nya. Karena jika tidak ada yang menjemput, dia akan memilih menaiki taxi saja.
“Halo, Mom, kalian di mana?” tanya El.
“Di rumah.”
“Di rumah? Apa mommy tidak menjemputku?”
“Bukannya kamu sampai di Bandara jam tujuh?”
El menepuk dahinya karena ternyata mommy-nya mengira jika pesawat mendarat jam tujuh.
“Kata Ghia kalian sampai jam tujuh malam.”
El benar-benar merutuki kebodohan adiknya. Semalam dia membahas jika dia berangkat jam tujuh malam, tetapi tampaknya adiknya itu salah tangkap dan mengira dia dan Freya sampai jam tujuh.
“Aku sudah di Bandara, Mom.”
“Astaga, Sayang. Kamu sudah sampai.” Shea tampak panik mendengar ucapan El.
“Bagaimana Ghia ini, salah memberitahu?”
“Sudahlah, aku dan Freya akan naik taxi saja.”
“Tunggulah saja, Mommy akan ke sana.” Shea udah panik mendengar anaknya akan naik taxi.
“Sudahlah, Mom. Kami akan naik taxi saja. Kita bertemu di rumah saja.”
“Tapi—“
“Sudah, Mom. Aku akan segera pulang.” El buru-buru mematikan sambungan telepon agar tak berlama-lama di Bandara.
“Mereka mengira jika kita sampai jam tujuh malam.” El tampak kesal karena ternyata tak ada satu orang pun yang menjemputnya.
“Tapi jika mommy dan daddy salah, bukannya harusnya papa dan mama tidak salah.” Seingat Freya, dia sudah mengatakan jika jam tiga sore sudah tiba Bandara, tetapi tak tampak juga mereka.
Akhirnya, El dan Freya memilih untuk menaiki taxi saja. Tak mau berlama-lama di Bandara. El mencari taxi, tetapi saat ingin menghentikan taxi, dia melihat sebuah mobil berhenti di depannya.
“Kejutan ... “ ucap Ghea saat membuka kaca mobil. Dia yang duduk di kursi belakang memasang wajah polosnya.
El malas sekali saat tahu ternyata sedang dikerjai.
“Sayang ....” Shea langsung keluar saat melihat anaknya. Satu pelukan dia berikan pada El yang masih berdiri kesal.
Perasaan kesal yang dirasakan El, seketika menghilang setelah dapat pelukan hangat dari mommy-nya. Pelukan itu tetap sama dari dulu, selalu memberikan ketenangan layaknya teh yang biasa dia minum di sore hari.
Tangan El mendekap kembali tubuh ibunya. Rasa rindunya memang teramat sangat besar. Dua tahun ini, dia memang tidak pulang. Cuti kuliahnya dia pakai untuk pergi berjalan-jalan dengan Freya.
“Mommy rindu.” Air mata Shea mengalir saat memeluk putranya. Tubuh kecil yang dulu berada di dalam dekapannya sekarang menjadi sangat besar, hingga membuat tangannya tak muat lagi.
“Mom, jangan menangis, aku paling tidak suka.” El melepaskan pelukannya dan menatap wajah mommy-nya. Wajah cantik yang sekarang dihiasi guratan kecil, menandakan jika dia sudah mulai menua.
“Iya, Mommy tidak akan menangis.” Shea menghapus air matanya.
“Kakak ....” Ghea turun dari mobil dan memeluk kakaknya. Gadis dua puluh satu tahun itu sangat merindukan kakaknya.
El balas memeluk Ghea. Rindu dengan adiknya yang super iseng. “Ini idemu bukan?” tanyanya mengeratkan pelukan karena gemas.
“Siapa lagi jika bukan aku.” Ghea tertawa puas, mengerjai kakaknya.
Shea yang melihat Freya langsung menghampiri. “Halo anak Mommy.” Satu pelukan dia berikan pada Freya.
“Halo, Mommy Sayang.”
“Apa mama dan papa datang?” tanyanya ragu-ragu.
Shea melepas pelukannya dan melihat ke arah mobil datang, tetapi tidak tampak temannya itu datang. “Sepertinya mereka terjebak kemacetan.”
Freya mengangguk dan menunggu.
Di saat Freya sedang menunggu papa dan mamanya. Bryan turun menghampiri anaknya. “Hai, Boy.”
“Dad ....” El memeluk Bryan. Orang yang dirindukannya setelah mommy-nya adalah daddy-nya.
“Tubuhmu sepertinya tambah kekar saja.” Bryan tertawa melihat anaknya yang makin hari makin seperti binaragawan.
“Aku tidak mau kurus seperti Daddy.”
“Jangan salah, kurus-kurus begini Daddy masih bisa beberapa ronde.”
“Sayang ... “ panggil Shea. Pipi wanita paru baya itu memerah malu.
“Anak kita sudah besar, Sayang. Lambat laun dia juga akan mengerti.”
“Tetap saja tidak bisa begitu.”
“Bisa.” Bryan masih keyakinannya.
El menggeleng melihat perdebatan kecil antara kedua orang tuanya. Dia pikir setelah bertahun-tahun, mereka akan berhenti. “Apa mereka masih tetap seperti itu?” bisiknya bertanya pada Ghea.
“Itu tanda cinta.”
El membulatkan matanya, mendengar adiknya membahas cinta. “Tahu apa kamu cinta?” tanyanya.
“Cinta itu sesuatu perasaan di dalam hati yang perlu diungkapkan.”
“Cih ....” El tak menyangka adiknya sudah mengerti cinta. “Kuliah yang benar!” Tangan El menyentil dahi adiknya.
“Aku sudah benar kuliah,” jawabnya polos.
.
.
.