Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Wanita Cantik



Di depan kaca Freya memoles wajahnya. Memastikan wajahnya segar untuk hari ini. Lipstik pink meng-cover bibirnya sempurna. Membuat tampilannya semakin manis.


Hari ini dia sangat bersemangat sekali untuk berangkat bekerja. Karena seharian kemarin dia bosan sekali di rumah akibat di kakinya yang cedera.


“Kak Freya sudah mulai bekerja.” Cia yang masuk ke dalam kamar melihat kakaknya sedang bersiap untuk berangkat bekerja.


“Iya, lagi pula kakiku sudah lebih baik.” Freya berdiri dan meraih tasnya.


“Berangkat dengan Kak El?” tanya Cia memastikan.


“Iya, memang dengan siapa lagi.” Freya melangkah perlahan keluar dari kamar. Cia pun langsung bergerak membantu kakaknya. Memegangi kakaknya agar tidak jatuh.


“Apa Kak Freya tidak merasa kalau Kak El itu menyukai Kakak?”


Sejenak Freya terdiam. Ingatannya kembali pada ucapan El yang mengatakan jika dia akan menjadi suaminya. Namun, dia berusaha menepis. El memang suka bercanda dan baginya setiap kata yang keluar dari El pasti tidak serius.


“Jangan sembarangan, kami berteman sejak lama. Mana ada El suka denganku?”


Cia akhirnya mengetahui jika ternyata kakaknya tidak menaruh hati pada El. Sudah lama Cia menyadari jika kakaknya menyukai Al. Dalam situasi ini memang berat untuk Cia mendukung, tetapi demi London dia akan berusaha.


“Tapi aku merasakan jika Kak El menyukai Kakak.”


“Dari mana kamu bisa berpendapat seperti itu?”


Cia bingung menjelaskannya. Sejauh yang dia tahu, memang El tak terlalu menujukan cintanya. Perhatian El hanya sama seperti biasa dan tak berlebihan. Cia terus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada kakaknya. Dia bukan mak comblang jadi bingung juga untuk menyatukan dua insan.


“Hanya perasaanku saja.”


“Sudah, jangan sembarangan. Antara aku dan El itu berteman dan akan selamanya berteman.”


Tanpa disadari langkah mereka sampai di depan rumah. El sudah menunggu Freya. Dibantu Cia, Freya masuk ke mobil.


“Terima kasih, Cia,” ucap El tersenyum ramah.


Cia membalas senyum El, walaupun sebenarnya sampai detik ini dia masih bingung dengan kisah cinta kakaknya.


El melajukan mobilnya, meninggalkan rumah. Mengantarkan Freya ke kantor Maxton terlebih dahulu.


“Kamu yakin sudah bisa bekerja?” tanya El memastikan. Kemarin, El pulang larut malam karena pekerjaannya sudah harus diselesaikan. Padahal niatnya ingin cepat pulang dan menjenguk Freya, tetapi keinginannya pupus.


“Iya, aku yakin. Lagi pula aku bosan di rumah.” Freya menjawab datar. Pikirannya masih tertuju pada pertanyaan Cia.


El mengangguk dan kembali fokus pada jalanan.


Mobil sampai di kantor Maxton. El membantu Freya untuk masuk ke kantor dan mengantarkannya sampai ke meja Freya.


“Freya, kamu kenapa?” tanya Luna yang melihat Freya.


“Aku terkilir, Kak.”


“Kemarin Pak Aaron sudah bilang jika kamu sakit, tetapi aku tidak menyangka separah ini.”


“Tidak, Kak. Mereka saja yang terlalu berlebihan,” jawab Freya seraya menoleh pada El.


“Kekasihmu?” tanya Luna.


“Bukan, Kak. Dia teman dekatku.”


El tersenyum. Entah harus sedih atau senang mendengar akan hal itu. Akan tetapi sudah dia pastikan jika. Pada kenyataannya dia memang hanya temannya saja. Namun, seolah tak mampu El menerima hal itu.


“Oh ... teman.”


“El, kamu di sini.”


Suara Al terdengar tiba-tiba. Membuat El menoleh.


“Iya, aku mengantar Freya.”


Al beralih pada Freya. Memerhatikan kakinya.


“Apa kamu sudah benar-benar bisa bekerja?” tanyanya.


“Sudah, Pak.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Jaga dirimu. Aku akan menjemputmu nanti,” ucap El menatap lekat wanita yang dicintainya itu. Kemudian dia beralih pada Al. “Aku pergi dulu.” Mendapatkan anggukan dari Al dan Freya. El pergi.


...****************...


Hari ini El mengerjakan pekerjaannya cukup banyak. Rencananya besok adalah peresmian peletakan batu pertama untuk pembangunan perumahannya. Jika sudah dalam pembangunan, El akan sedikit bernapas lega, paling tidak tinggal mengecek saja dan memantau. Masalah penjualan, dia selesai mempersiapkan semuanya. Jauh sebelum dia kembali ke Indonesia. Perumahan ini sudah dia pasarkan dan sudah laku setengahnya.


anpa terasa jam istirahat tiba. El sengaja pergi ke ruangan daddy-nya untuk ikut makan siang dua pria paruh baya yang selalu menjadi temannya selama ini bekerja.


Tepat di depan ruangan daddy-nya. El melihat Daddy Bryan dan Papa Felix sedang bersiap untuk keluar.


“Wah ... kebetulan El kamu ke sini, sekalian saja ikut kami makan siang,” ucap Bryan saat melihat putranya.


“Ingatlah umurmu,” tegur Bryan.


“Aku ingat, maka dari itu aku ajak anakmu. Paling tidak biarkan dia beraksi.”


“Memang ingin bertemu dengan siapa?” tanya El tertawa kecil melihat dua sahabat yang semakin tua semakin menggila itu.


“Shera Alexandria Wijaya.”


El memicingkan matanya. Belum pernah mendengar nama itu.


“Sudah, yang jelas dia gadis cantik,” jawab Felix seraya menarik tubuh El.


El hanya bisa pasrah saat diajak.


...****************...


Di sudut restoran tiga pria duduk sambil menikmati secangkir kopi. Mereka belum memesan makanan karena klien yang mereka tunggu belum datang.


“Sebenarnya siapa yang ditunggu.” El begitu penasaran.


“Dia adalah CEO di perusahaan perhotelan dan rencananya dia akan membangun hotel,” jelas Bryan.


“Beruntung sekali dia mau bekerja sama dengan kita. Padahal sebelumnya dia selalu bekerja sama dengan kontraktor besar,” timpal Felix.


“Anggap saja itu rezeki kita.” Bryan tersenyum.


“Berarti kita akan mengerjakan dua hotel dan satu perumahan?” tanya Felix memastikan.


“Iya. Hotel W, Hotel Maxton dan perumahan milik El.”


“Al mau bangun hotel?” tanya El terkejut.


“Iya, rencananya dia akan membangun hotel.”


El berdecak kagum. Al memang pria yang gigih.


Setelah sukses dengan beberapa apartemen kini dia memilih hotel.


Saat sedang asyik menikmati berbincang, seorang wanita menghampiri mereka bertiga.


“Selamat siang, Pak Bryan,” sapanya dengan ramah.


“Selamat siang, Nona Shera.” Bryan berdiri dan mengulurkan tangannya.


“Panggil saja saya Shera, Pak. Sepertinya saya seusia anak Pak Bryan.” Dengan senyum manisnya Shera tersenyum.


“Cantik bukan, wajah oriental. Jika kamu menikah dengannya, akan anak kalian akan jadi keturunan Indonesia-Inggris-Cina,” bisik Felix.


El tak habis pikir, Felix mengatakan hal itu dalam situasi bisnis seperti ini. “Bukankah, aku akan menjadi menantu Papa, jadi hanya akan ada keturunan Indonesia-Inggris saja.”


“Kamu dan daddy-mu terlalu bernafsu menjadi bagian dari keluargaku,” cibir Felix.


El tersenyum. Felix dan Bryan bukan sekedar orang tua. Mereka adalah teman yang selalu mau mendengarkannya.


“Benar sekali, kebetulan juga anakku ikut dan sepertinya dia seumuran denganmu.” Bryan menatap El. Memberi kode anaknya untuk berkenalan.


“Cepat kenalan.” Felix mendorong tubuh El agar berdiri.


Mau tak mau El berdiri. “Justin ....” Mengulurkan tangannya.


“Shera.” Wajah cantik khas orientalnya begitu memesona. Kulit putihnya begitu bercahaya dan memanjakan mata saat melihatnya.


“Ayo duduk,” ajak Bryan.


Mereka berempat menikmati makan siang bersama. Menyelipkan obrolan tentang pembangunan hotel yang akan dikerjakan oleh perusahaan Bryan.


.


.


.


.


.


...Ada yang kenal ga ini anak siapa?...


...ditunggu komentarnya....


...Jangan lupa lempar bunga 🌺🌺


...