
“Sore, Mom,” sapa Al seraya menautkan pipinya pada Shea.
“Sore, Sayang. Anak Mommy semakin tampan saja,” pujinya seraya membelai pipi Al.
“Em ....” Al merogoh saku celananya.
“Cari apa?” tanya Shea.
“Cari uang receh untuk Mommy,” godanya tersenyum.
“Anak nakal,” ucap Shea seraya memukul lengan Al.
Al tersenyum. Hanya dengan orang terdekat seperti mommy-nya, dia bisa tersenyum lepas. Selebihnya wajahnya datar saja.
“Hai, Kak Re,” sapa Bian yang haru saja masuk ke dalam rumah. Dia melambaikan tangannya pada Al seraya melangkah menuju dapur. Tenggorokannya yang kering ingin segera diredakan.
“Bian, cuci tangan dulu.” Shea yang melihat anaknya mengambil minum.
“Nanti kalau aku cuci tangan lebih dulu, aku tidak akan bisa membedakan mana air minum dan air kran. Aku haus Mom,” teriaknya dari dapur.
“Kalian semua sama saja,” keluh Shea.
“Kenapa semua?” protes Al.
“Iya, kamu juga sering tidak mendengarkan Mommy.”
“Aku janji akan mendengarkan, Mom.” Al merangkul Shea meredakan kekesalan sang mommy.
Shea tersenyum, merasa senang pada anak-anak yang tumbuh baik.
“Aku ingin menemui El.” Sejenak Al teringat dengan niatnya.
“Pergilah ke rooftop, dia ada di sana.”
“Baiklah.” Al meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke rooftop lewat tangga taman belakang. Di sana dia melihat El yang sedang asyik menikmati teh dan bermain dengan ponselnya.
“Hobi minum teh ternyata kamu bawa ke sini,” ledek Al seraya mendudukkan tubuhnya tepat di samping El.
“Iya, teh selalu bisa menangkan.” Sejak tinggal di London dia memang menyukai teh. Berbagai macam teh sudah dia coba. Namun, early grey menjadi pilihannya. Sengaja dia membawanya dari London, agar bisa dinikmati di rumah. “Apa sejak tinggal di sini lagi, kamu sudah tidak minum teh?” tanya El.
“Iya, aku lebih sering minum kopi.” Sejak kembali ke Indonesian memang dia lebih sering minum kopi. Apa lagi jika dia harus bertemu klien di coffee shop. Mau tidak mau dia mengganti teh dengan kopi.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Al lagi.
“Ya, banyak hal yang harus aku kerjakan, tetapi aku sedang menyeimbangkan hidup, tak mau terlalu memforsir pekerjaan.” El menyadari jika dia terus mengejar pekerjaan yang mungkin tak akan ada habisnya itu, dia akan mengabaikan kehidupan pribadinya. Terbukti, beberapa hari El melepaskan Freya, gadis itu sudah menyukai Al.
Saat mengingat tentang Freya, dia teringat dengan rencananya untuk mengatakan pada Al.
“Al ada yang aku ingin bicarakan.”
“Tampaknya serius,” goda Al.
“Aku—“
“Kalian berdua di sini,” teriak Ghea.
Tampak Freya dan Cia ada juga bersama Ghea. Mereka bertiga menghampiri El dan Al, ikut duduk dengan dua pria itu.
“Kalian berkumpul tidak mengajak kami,” protes Ghea. Tangannya meraih cangkir teh milik kakaknya. Namun, sesaat kemudian dia meringis. “Apa teh ini tidak diberikan gula?” tanya merasakan teh tidak enak.
“Menikmati teh sesungguhnya itu lebih enak tidak memakai gula. Karena dengan adanya gula, justru membuat rasanya tehnya hilang.”
“Tetap saja tidak enak,” cibir Ghea.
“Apa orang London seperti itu menikmati teh?” tanya Cia.
“Tidak semua,” jawab El.
“Tidak perlu jauh-jauh menikmati teh, nikmati saja teh ini. Kamu akan merasakan suasana London.” Ghea tersenyum seraya menyodorkan cangkir berisi teh pada Cia.
Cia mendengus kesal. Dia tahu temannya sedang meledeknya, karena kemarin dia sudah menceritakan jika papanya melarang untuk ke London.
“Kenapa tehku yang jadi korban,” ucap El seraya meraih cangkir teh miliknya.
Ghea tertawa karena memberikan teh yang sebenarnya bukan miliknya.
Sedari tadi Freya dan Al hanya diam saja melihat pemandangan di hadapannya. Jika sudah berkumpul memang suasana menjadi sangat ramai. Al dan Freya yang sedang memperhatikan adiknya sesekali terlihat mencuri pandang. El yang melihat menyadari akan hal itu.
“Apa kalian kemari?” El bertanya agar mengalihkan pandangan pada Freya pada Al.
“Tadi Kak Freya kemari mencari Kak El. Kata mommy, Kak El ada di sini,” jelas Ghea.
“Ada apa kemari?” tanya El pada Freya.
Freya merasa bingung. Sebenarnya alasannya ke rumah El karena tadi sewaktu pulang, dia mendengar Al akan datang ke rumah El. Jadi dia sengaja datang karena ingin melihat Al. Namun, tidak mungkin dia mengatakan hal itu.
“Aku hanya ingin main saja ke sini, apa tidak boleh?” Freya memasang mode tenang. Melawan El seperti biasa.
“Siapa bilang tidak boleh, bukannya kamu sudah biasa keluar masuk rumah ini,” cibir El.
Freya membalas dengan menjulurkan lidah membalas ledakkan El.
“Sudah-sudah, kalian sudah seperti kucing dan tikus saja.” Ghea menghentikan pembicaraan antara El dan Freya. “Oh ... ya, karena Kak El dan Kak Freya sudah kembali, bagaimana jika kita pergi ke puncak,” ucapnya memberikan ide.
“Ide bagus itu, aku setuju,” jawab Cia.
Al dan El saling pandang. Mereka sudah hafal dengan apa yang adik-adiknya mau. Tak akan bisa menolak. Lagi pula jika sampai adik-adiknya pergi ke puncak, pasti sangat bahaya.
“Iya, aku akan ikut. Kita pergi minggu saja,” ucap El.
“Kenapa minggu? Kenapa tidak sabtu saja?” protes Ghea.
El menatap Freya, seolah memberikan kode karena dia sudah membuat janji lebih dulu pada Freya. Rencananya mereka akan pergi jalan-jalan.
Freya yang mengerti maksud dari El mengangguk. Tidak masalah jika membatalkan rencana jalan-jalan. Lagi pula ke puncak juga jalan-jalan.
“Baiklah, kita akan pergi sabtu,” ucap El.
“Baiklah, kita akan pergi dengan mobil daddy,” jawab Ghea.
“Berapa orang yang akan ikut?” El memastikan kembali.
“Aku, Cia, Kak Freya, Kak El, Kak Al, Dean dan Bian.”
“Kalian bertiga berarti di belakang?” Posisi mobil yang diisi tujuh mobil membuat Freya, Cia dan Ghea harus berjejal di belakang.
“Iya, tidak masalah.” Ghea menjawab seraya melihat ke arah Freya dan Cia.
“Baiklah.” El tersenyum.
Freya yang sedari diam memperhatikan Al. Pikirnya kali ini adalah kesempatannya untuk mendekati Al. Kapan lagi bisa pergi dengan Al.
Mereka semua melanjutkan rencana apa saja yang akan mereka lakukan nanti di sana. El dan Al pasrah dengan rencana-rencana Adik-adiknya.
.
.
.
.
.