Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Kembali Ke Dermaga



“Papa mau kalian menikah,” ucap Felix.


Freya dan El yang tertunduk langsung menengadah. Mata mereka membulat sempurna mendengar kalimat dari Papa Felix. Kalimat yang tidak terpikir olehnya sama sekali.


Untuk sejenak mereka terdiam. Mencerna apa yang diucapkan oleh Papa Felix.


“Apa maksud Papa?” Akhirnya suara Freya terdengar setelah sesat dia terdiam.


“Apa kamu tidak sadar jika pergi bersama pria berdua itu bahaya. Papa sudah jelaskan berkali-kali jika kalian sudah dewasa. Kalian bukan anak kecil lagi yang bisa berdua tanpa batasan.”


“Tapi kami tidak melakukan apa-apa di sana, Pa.” El yang tersadar pun ikut bicara.


“Mana Papa tahu kalian melakukan apa di sana. Buktinya kalian bilang tidak tidur satu kamar, tetapi nyatanya kalian berada dalam satu kamar.”


Freya terkejut, memikirkan bagaimana bisa papanya tahu. Padahal dia sudah menyembunyikan itu semua. Dan jauh di sana, mana mungkin papanya mengawasi.


“Pa, aku bisa jelaskan.” Freya mendekat pada papanya. Mencoba mencari celah menjelaskan.


“Menjelaskan apa? Menjelaskan jika kalian tidak tidur dalam satu tempat tidur?” tanya Felix dengan penuh sindiran


Freya terdiam. Tidak mungkin dia berbohong lagi. Karena kebohongan satu akan mengantarkannya pada kebohongan berikutnya. Sehingga tidak mungkin dia melakukan hal itu. Lagi pula dia tidak bisa mengelak karena kenyataannya mereka tidur di satu kamar dan satu tempat tidur.


“Papa tidak mau tahu. Kalian harus menikah. Papa pernah peringatkan kalian untuk tidak berada di dalam kamar berdua, tetapi kalian masih tidak dengar. Papa tidak bisa sampai mendengar orang mengatakan hal buruk jika anak gadis Felix Julian berada di dalam kamar yang sama dengan seorang pria.”


“El, jelaskan pada Papa.” Freya menghampiri El untuk menjelaskan.


El sendiri bingung, penjelasannya sama dengan Freya dan tampak tak bisa diterima oleh Papa Felix.


“El, kenapa diam, jelaskan. Bantu aku jelaskan.” Freya menggoyang-goyangkan tubuh El saat tak mendapatkan jawaban.


“Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan.”


Akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulut E, tetapi jawaban itu bukan yang Freya inginkan.


Mata Freya membelalak. Dia memang meminta jawaban El, tetapi bukan jawaban itu. Entah apa yang ada di pikiran El, Freya tidak mengerti.


“Bagus kalau kamu mengerti apa harus kamu lakukan,” jawab Felix. “Kami akan segera menyiapkan semua. Kalian tinggal bersiaplah saja.” Felix menatap Bryan dan Shea. Mengisyaratkan jika kedua keluarga itu akan mengurus semua.


“Baikah, kalau begitu kami pulang dulu.” Bryan berdiri diikuti Shea. “Akhirnya kita berbesanan juga,” ucap Bryan seraya memeluk Felix.


Felix hanya membalas tawa.


Shea dan Chika juga saling peluk meluapkan rasa bahagia mereka.


“Setelah ini kita adakan acara lamaran secara resmi,” ucap Bryan dan mendapat anggukan dari Felix.


Di saat orang-orang bahagia hanya Freya yang tampak masih diam dengan kebingungannya. Tak mengerti kenapa menjadi seperti ini. Liburan yang mengantarkan kebahagiaan justru mengantarkannya juga pada pernikahan.


Bryan dan Shea berpamitan, sedangkan Felix dan Chika pun masuk ke rumah. Meninggalkan Freya dan El berdua di depan rumah.


“Kenapa kamu mau menerima semua ini?” protes Freya.


“Aku sudah membawamu pergi dan membuatmu berada di dalam kamar bersamaku. Jadi aku harus bertanggung jawab atas semua.”


“Kamu tidak menghamili aku, kenapa harus bertanggung jawab. Kamu tinggal bilang saja jika kita tidak melakukan apa-apa.”


“Seorang ayah tak akan rela anaknya jadi bahan pembicaraan. Aku sadar jika apa yang kita lakukan di sana seperti berada di satu kamar adalah hal yang tidak baik . Dan jika tersebar itu akan membuat kedua keluarga kita malu.”


Freya mendesah kesal. Alasan El tak masuk akal baginya. “Terserah padamu.” Freya sudah malas berbicara dengan El. Karena kesal, dia masuk ke rumah. Meninggalkan El yang masih di depan rumahnya.


El mengembuskan napas. Dia sendiri juga tak tahu kenapa dia bisa mengambil keputusan itu. Padahal mungkin bisa saja dia mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Freya, tetapi mulutnya justru berkata lain. Mungkin karena hatinya yang begitu ingin mendapatkan Freya.


“Aku yakin Tuhan sedang membuat rencana yang baik untukku.”


...****************...


Freya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menikah dengan El tak pernah berada di daftar hidupnya. Walaupun dia seriang bersama dengan El sedari kecil, dia tak akan bisa membayangkan bersama dengan El sebagai suami istri.


“Aku harus bagaimana?” tanya Freya.


Saat sedang asyik dengan pertanyaan tentang hidupnya, suara ketukan pintu mengalihkannya.


“Apa Mama mengganggu?” tanya Chika yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


“Tidak, Ma.”


Chika mendorong pintu, masuk ke kamar anaknya dan duduk di samping anaknya. “Apa yang kamu pikirkan?”


Chika tersenyum. “Kami orang tua terkadang terlalu takut saat anak-anak sudah dewasa. Takut mereka kenapa-kenapa saat bersama seorang pria. Jadi menikahkan anak akan membuat sedikit lega.”


“Tapi kenapa harus El.”


“Karena El adalah orang yang menjagamu dari kecil. Dan dia adalah orang yang bisa menjagamu.”


Freya masih tidak bisa menerima alasan itu.


“Mama yakin kamu akan bahagia.” Tangan Chika membelai kepala Freya dan mendaratkan kecupan. Dia keluar dan meninggalkan Freya di kamar.


“Aku harap begitu.” Walaupun masih berat, dia tak bisa menolak lagi. Orang tidak akan percaya jika mereka tidak melakukan apa-apa di dalam kamar.


...****************...


Hal yang disukai El saat dalam keadaan bingung, sedih dan banyak pikiran adalah minum teh. Secangkir ealy grey yang dibawanya dari London menjadi pilihannya malam ini. Mencoba untuk menenangkan hatinya yang gundah.


“Apa kapal sudah berlabuh?”


Suara Bryan terdengar dan membuat El menoleh. “Dad,” panggil El.


“Tuhan sepertinya sedang tiupkan angin untuk membuat kapal kembali ke dermaga kembali.”


El tersenyum mendengar ucapan daddy-nya.


“Apa ini rencana Daddy?”


“Aku tak suka mencampuri urusan orang termasuk dengan anakku sendiri. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?”


“Lalu?”


“Felix menghubungi aku kemarin. Memprotes kamu yang membawa anak gadisnya dan aku bilang “terserah kamu mau apa kan anakku. Dia bersalah” dan aku tidak menyangka jika dia akan menikahkanmu.”


El mengerutkan dahinya. Alasan itu memang benar, tetapi kurang kuat.


“Sudahlah. Tuhan sudah tiupkan anginnya untuk membawa kapal kembali ke dermaga. Jadi biarkan dia berlabuh dan menetap.” Bryan menepuk bahu El. Berdiri dan meninggalkan El.


Sejujurnya El masih bingung dengan semua itu. Dia merasa aneh dengan keadaan yang tiba-tiba ini. Walaupun sebenarnya dia yang diuntungkan. Ada rasa curiga jika semua tidak mungkin datang secara tiba-tiba.


“Mungkin Tuhan tahu jika aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan Freya. Tak ada usaha yang sia-sia.” El tersenyum memikirkan semua yang dilakukannya. Kini semua berbuah manis dengan menikah dengan Freya. Walaupun hati Freya belum berlabuh padanya, tetapi hidupnya sudah akan bersamanya. Kelak tinggal membuat Freya mencintainya saja-seperti yang dilakukan Daddy Bryan dan Mommy Shea atau Papa Felix dan Mama Chika.


.


.


.


.


.


Finally season pertama ini selesai ya. Season pertama hanya akan berakhir di mana Freya berlabuh. Bagi yang ga suka mereka bersama, aku nggak memaksa untuk suka😁🤭


Season kedua akan berfokus pada pernikahan mereka. Dan akan banyak kejutan dibalik pernikahan ini bisa terjadi. Siapa yang buat semua ini? Bryan kah? Felix kah? Selly kah? Atau mungkin El sendiri?


Nantikan semuanya di season kedua.


Season kedua akan dilanjut setelah novel ini terkontrak ya. Jadi untuk sementara aku akan aku tamatkan sampai di sini dulu.


Aku harap kalian bisa mengerti dan bersedia menunggu. Biarkan Labuhan Cinta berada di rak buku kalian agar saat nanti ada notifikasi kalian bisa tahu.


Semoga semakin banyak dukungan bisa cepat up😁🤭


Doakan yang terbaik ya.


Sekian dulu dari aku. Ketemu di season kedua.


Untuk info update, promo novel baru dan cast bisa mampir ke


Instagram MYAFA16


L.O.V.E


MYAFA