Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Berusahalah



El tak dapat berkata apa-apa. Rasa sesak tiba-tiba menyelimuti hatinya, begitu menyakitkan, hingga seolah nafasnya terasa sulit sekali.


“Aku merasa melihat dia sebagai sosok pria dewasa yang begitu memesona. Membuat jantungku berdesir saat melihatnya. Membuat tubuhku gemetar saat bersamanya. Saat dia memberikan perhatian, aku begitu senang. Achh ... aku jatuh cinta, El.” Freya mengguncang tubuh El merasakan bahagia.


Wajah bahagia Freya, tak bisa membuat El mengatakan jika dia mencintainya. El takut Freya justru akan kecewa saat persahabatannya diwarnai cinta. Apa lagi cintanya bertepuk sebelah tangan. Jadi tidak ada gunanya juga dia mengatakan cinta.


Freya yang begitu senang mengungkapkan perasaannya, tak menyadari sama sekali perubahan wajah El. Dia terlampau lupa memerhatikan ekspresi wajah El.


“Sekarang giliranmu, katakan apa yang ingin kamu katakan.”


El seolah sudah tak berdaya. Berniat mengatakan jika dia mencintainya, hal itu tak bisa diungkapkan. “Aku hanya ingin mengatakan jika aku akan banyak sekali pekerjaan, jadi pastikan kamu tidak akan mengganggu aku.” El memaksakan senyumannya. Menggoda Freya seperti biasa. Menahan sesak di hatinya.


“Oh ... itu. Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu.” Freya tersenyum.


Sebenarnya aku ingin mengatakan jika aku jatuh cinta padamu, Frey.


“Apa kamu tahu, El? Aku baru kali ini merasakan perasaan ini.”


Aku juga baru merasakan perasaan ini, Frey.


“Aku tidak menyangka perasaan ini datang sekarang, padahal kita sudah lama kenal.”


Itu yang juga aku rasakan, Frey. Tidak menyangka jika perasaan ini hadir sekarang.


Jika boleh memutar waktu, aku ingin menyadari perasaan ini saat kita berada di London. Saat kita hanya berdua.


“Padahal di London aku jarang berinteraksi dengan Kak Al, kenapa aku bisa suka dia sekarang.” Freya menertawakan dirinya sendiri.


“Memang sejak kapan kamu menyukai Al?” Walaupun terasa sesak, El berusaha untuk kuat.


“Mungkin saat mulai bekerja dengan Kak Al. Sejak mulai aku pulang bersama dengan Kak Al.”


Rasanya kali ini El menertawakan dirinya sendiri. Seolah dia sendirilah yang menyodorkan Freya pada Al. Namun, percuma untuk disesal, karena kenyataannya Freya sudah mengatakan jika dia jatuh cinta pada Al.


“Apa kamu yakin itu cinta, Frey.” Entah dibilang egois atau tidak, akan tetapi El mencari celah.


Dalam waktu satu minggu jatuh cinta, El masih berharap itu bukan cinta.


“Aku yakin, El. Aku sudah bertanya dengan Kak Luna tentang perasaan jatuh cinta, dan aku mengalami semuanya.” Dengan keyakinannya, Freya menjelaskan.


El pasrah, tak mau membuat Freya bersedih karena meragukan jika yang berada di dalam hatinya adalah cinta.


...****************...


Setelah mengantarkan Freya pulang, El pulang ke rumah. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menyegarkan tubuhnya. Berharap pikirannya tentang hari ini larut saat guyuran air mengenai kepalanya.


Namun, dia salah, karena setelah mandi, dia tidak masih memikirkan apa yang sore tadi terjadi. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya terpejam, merasakan kesedihan yang luar biasa.


Aku jatuh cinta pada Kak Al. Kalimat itu meruntuhkan hidupnya seketika. Tak menyangka jika teman yang sekarang berubah menjadi orang yang dicintai, justru akan mencintai kakaknya.


Sejenak El tersenyum. Merutuki kesalahannya yang tak menyadari cinta itu sejak dulu. Padahal dulu dia punya waktu yang sangat banyak bersama Freya. El mengembuskan napasnya, merasa sangat kesal.


Di saat perasaannya kalut seperti ini, dia tahu ke mana dia melampiaskannya. Bangkit dari tempat tidur, El pergi ke dapur. Membuat secangkir teh early gray, dia ingin menenangkan pikirannya.


“Kamu sedang apa?”


Mendengar suara, El menoleh dan mendapati daddy-nya berada di sana. “Aku ingin minum teh, apa daddy mau?”


“Boleh buatkan aku satu.”


El membuatkan dua cangkir teh. Membawanya ke taman belakang, di mana daddy-nya sudah lebih dulu ke sana. Meletakkan cangkir di atas meja, dia ikut duduk tepat di samping daddy-nya.


“Apa yang mengganggu pikiranmu hingga membuat harus menenangkan dengan secangkir teh?” tanya Bryan. Tangannya meraih teh dan menyesapnya. El selalu mengatakan jika dia harus mengganti kopi yang selalu dia minum dengan teh, karena teh membuat perasaan kita lebih tenang. Jadi kini dia yakin jika putranya sedang memerlukan perasaan itu.


“Hanya memikirkan pekerjaan.”


“Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi,” jawab Bryan tersenyum.


“Pekerjaanmu baik-baik saja setahuku. Apa ini masalah Freya?” Bryan pernah muda, kegalauan macam ini sudah pernah dia rasakan.


“Bagaimana dulu daddy jatuh cinta pada mommy?”


“Mommy-mu sangat baik. Selalu sabar menunggu daddy berubah. Memberikan kesempatan agar cinta hadir karena terbiasa.”


“Apa artinya awalnya kalian tidak saling cinta?” tanya El memastikan.


“Iya, bisa dibilang begitu.”


“Apa cinta bisa hadir karena terbiasa?”


“Hai, anak muda,” ucap Bryan seraya menepuk lembut punggung El. “Cinta tahu ke mana dia harus berlabuh, jadi tunjukan saja sebesar apa cintamu. Jika dia merasa kamu berarti artinya dia mencintaimu.”


Sejenak El terdiam. Mencerna ucapan daddy-nya.


“Berjuanglah, asalkan kamu tulus dia akan datang padamu,” ucap Bryan tersenyum. “Jika perahu meninggalkan pelabuhan untuk menuju ke pelabuhan baru, mintalah Tuhan tiupkan angin agar dia kembali.”


El menyesap tehnya. Mencari ketenangan dari minuman hangat itu.


“Tuhan bisa membolak-balikkan hati manusia, percayalah jika kamu tulus, Tuhan akan membantumu.”


Bryan menghabiskan teh dalam cangkirnya.


“Baiklah, daddy akan tidur dulu. Terima kasih untuk tehnya.” Dia berdiri seraya menepuk bahu anaknya.


El mengangguk. Dia masih menikmati teh miliknya. Melanjutkannya dengan pikirannya. Aku belum berusaha bukan? Jadi tidak ada salahnya mencoba. Lagi pula, dalam waktu seminggu Freya jatuh cinta, aku rasa itu hanya perasaan sesaat saja.


Memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Dia akan berusaha mendapatkan Freya. Kali ini dia membiarkan perasaan Freya mengartikan jika dia mencintai Al. Namun, dia akan membuat Freya yakin jika cinta yang diucapkan gadis itu, hanyalah perasaan kagum semata.


Di bawah gelapnya malam dengan diterangi sinar rembulan, El meyakini jika dia akan mendapatkan Freya kembali. Meyakini jika perahu yang ditumpangi Freya akan kembali ke labuhan cintanya.


Sore tadi boleh kegalauan menghampirinya. Rasa sakit menerpanya. Akan tetapi, malam ini rasa semangat ditumbuhkan kembali di dalam hatinya.


Setelah ketenangan didapatnya dari secangkir teh dan secuil nasehat dari daddy-nya, El bisa bernapas lega dan tidur nyenyak. Menyambut esok dengan penuh semangat, memulai perjuangannya.


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini postingan terakhir sebelum lebaran. Cerita ini akan hadir lagi nanti setelah lebaran ya. Aku harap kalian berkenan menunggu. Kemungkinan aku libur 3 hari. Selamat menyambut Idul Fitri untuk kalian yang merayakan.


Untuk informasi bisa follow Instagram aku ya. Myafa16


kalau ada perubahan jadwal up, aku akan infokan.


......................


Walaupun tak pernah bertemu


Dan hanya berkenalan dari goresan aksara


Bukan berarti tak pernah membuat luka


Mungkin pernah membuat kecewa


Mungkin pernah ada janji yang tak bisa dipenuhi


Mungkin pernah ada tulisan yang melukai


Dengan goresan aksara ini pula


Aku sampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H


Mohon Maaf Lahir dan Batin


MYAFA