
Pagi ini suara rumah El begitu riuh. Sang mommy yang membangunkan Bian selalu menyambut pagi yang begitu indah. El sudah mulai terbiasa mendengar mommya-nya membangunkan Bian. Tak banyak yang bisa dilakukannya, selain membiarkan. Lagi pula Bian sudah besar, untuk urusan bangun sudah menjadi tanggung jawabnya.
Selesai bersiap, El menuju meja makan. Menyusul anggota keluarga yang lain. Sudah ada Ghea yang duduk manis, menikmati sarapannya. Mommy-nya sedang melayani daddy-nya yang juga sedang menikmati sarapan.
El ikut duduk menikmati sarapan. Baru saja dia duduk, suara langkah kaki terdengar, membuatnya menoleh ke arah tangga.
“Mom, aku berangkat ya, aku sudah terlambat,” ucap Bian.
Shea yang sedang melayani suaminya, buru-buru mengambil bekal makanan untuk anaknya. Ibu tiga anak itu selalu tahu jika anak bungsunya tidak sempat sarapan jadi dia menyiapkan bekal.
Bian selalu pasrah saat menerima bekal. Untuk ukuran anak sekolah menengah atas membawa bekal sangat memalukan. Akan tetapi, dia tidak suka membuat mommy-nya sedih. Biasanya dia memberikan bekal itu pada salah satu teman wanitanya di kelas. Paling tidak saat pulang mommy-nya melihat jika bekalnya sudah habis.
“Terima kasih, Mom.” Bian mendaratkan kecupan di pipi mommy-nya. “Da ... Daddy, Kak El, Kak Ghea.” Dia melambaikan tangan karena sedang terburu-buru. Keluar dari rumah, Bian melajukan mobilnya menuju ke sekolahnya.
“Bian masih mau bawa bekal, Mom?” tanya El seraya memasukkan makanan ke dalam mulut.
“Dia terpaksa, kalau tidak nanti Mommy menangis,” jawab Ghea tertawa.
“Hust ....” Bryan memperingatkan putrinya untuk tidak menyindir mommy-nya. Takut pagi-pagi mood istrinya buruk.
Ghea tersenyum polos. Merasa tidak berdosa baru saja menjadikan orang tuanya bahan ledekan.
“Mau di makan atau tidak yang penting Mommy bawakan.” Shea duduk dan melanjutkan menikmati sarapan. “Nanti, jika kalian menjadi orang tua juga akan merasakan bagaimana harus memperhatikan anak.”
El dan Ghea menutup rapat mulutnya. Tahu pasti mommy-nya akan panjang jika diteruskan jika dilayani. Padahal ini masih sangat pagi untuk mendengar nasehat.
Mereka menikmati sarapan, sambil sesekali El dan Bryan membicarakan rencana pertemuan mereka.
“Pagi ...,” sapa seseorang yang masuk ke rumah.
“Pagi, De ... masuk,” jawab Bryan pada ponakannya itu.
Dean yang datang menjemput Ghea, datang lebih awal. Namun, sayangnya dia salah waktu, karena ternyata Ghea masih sarapan.
“Sini, De. Kita sarapan bersama,” ajak Shea.
“Iya, Mom Shea.” Dean ikut duduk berada di samping Ghea.
“Kamu pagi sekali datangnya,” protes Ghea.
“Ghe, sudah bagus Dean mau jemput.” Bryan menasihati anaknya.
“Jangan tersinggung ucapan Ghea ya, De.” Shea yang merasa tidak enak meminta maaf.
“Dia sudah biasa, Mom. Jadi tidak perlu minta maaf,” timpal Ghea.
“Kamu selalu saja menjawab,” ucap Shea seraya memukul lembut.
El menggeleng. Rumahnya memang sangat berwarna. Adik-adiknya punya kehebohan sendiri yang membuat suasana rumah menjadi ramai. Setiap hari ada saja hal yang terjadi di rumahnya, hingga membuatnya tertawa sendiri.
Usai sarapan, semua mulai kembali ke rutinitasnya. El berangkat lebih awal karena harus mengantarkan Freya, Ghea juga berangkat pagi mengingat jalanan macet, sedangkan sang daddy masih menikmati secangkir kopi sebelum berangkat ke kantor.
“Dean, Ghea,” panggil Cia dari rumahnya. Suara cempreng yang membuat sakit di telinga itu terdengar saat dua calon dokter itu sedang bersiap untuk masuk ke mobil.
“Kenapa?” tanya Ghea.
“Aku ikut,” ucap Cia dengan senyum merekah di wajahnya.
Dean mengembuskan napas kasarnya. Dia tahu jelas jika mengantar Cia dia harus memutar jalan sedikit. Namun, dia tak sampai hati untuk menolak.
“De ...,” panggil Ghea kode bertanya pada Dean.
“Ya sudah ayo.” Dean menjawab seraya membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.
El yang ingin mengeluarkan mobilnya harus menunggu Dean dulu untuk keluar. Setelah Dean keluar, dia memundurkan mobilnya hingga ke rumah Freya. Menjemput sang bidadari cantik yang hanya berstatus temannya itu.
“Pagi,” sapa Freya saat masuk ke dalam mobil.
“Pagi.”
El melajukan mobilnya saat Freya sudah masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan mereka mendengarkan lagu sambil bernyanyi. Menikmati suasana pagi yang begitu cerah secerah hati mereka.
“Oh ... ya aku lupa bilang kemarin. Mulai hari ini, sebaiknya kamu pulang dengan Al saja, karena aku takut kamu terlalu lama menunggu aku.” Setelah mendapatkan ide Al kemarin, El menyampaikannya pada Freya.
“Kenapa?” tanya Freya kecewa.
“Apa aku perlu bawa mobil sendiri?” tanyanya.
“Memang kenapa jika pulang dengan Al?” El menoleh sejenak pada Freya sebelum kembali melihat ke arah jalanan.
“Sepi, dia banyak diam di mobil.”
El tertawa. “Ajak dia mengobrol, memangnya tidak bisa?”
“Bukan begitu, aku tidak punya bahan untuk berbicara,” elak Freya.
“Kamu selalu ada saja bahan berbicara denganku?”
“Iya, kamu dan Kak Al berbeda.”
“Nanti kamu pasti akan menemukan bahan pembicaraan dan justru akan membuatmu tak berhenti berbicara,” ucap El.
“Baiklah.” Freya pasrah mengikuti keinginan El. Dia menyadari jika tugas El yang baru sangatlah berat. Pasti akan banyak sekali waktu yang tersita.
Mobil sampai di kantor Maxton. Freya turun dan berpamitan. Dia mengayunkan langkahnya menuju ke ruangannya. Hari kedua bekerja, membuatnya jauh lebih tenang. Tidak sepanik kemarin.
Sesaat Freya datang, Luna-sekretaris Al datang. Mereka berbincang sebelum memulai pekerjaannya.
“Nanti tolong bacakan jadwal Pak Aaron, ya Frey,” pinta Luna.
“Baik, Kak. Nanti saya bacakan.”
Saat Al sampai, Freya dan Luna menyapa atasannya itu. Kemudian, mengekor di belakang Al untuk membacakan jadwal. Freya berdiri di samping Al membacakan jadwal Al hari ini.
“Hari ini di jam sepuluh ada meeting membahas tentang rencana pembangunan hotel, Pak. Di jam makan siang ada jadwal bertemu dengan Pak Theo Julian.” Freya membahas jadwal Al hari ini.
“Baiklah, nanti tolong temani saya,” ucap Al.
“Baik, Pak. Saya permisi.” Freya melangkah meninggalkan ruangan Al.
“Frey,” panggil Al. Entah kenapa dia hobi sekali memanggil Freya saat gadis itu sudah hendak keluar.
“Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” tanya Freya sesaat setelah berbalik.
“Apa El sudah mengatakan padamu?”
“Masalah pulang dengan Pak Aaron?” tanya Freya memastikan.
“Iya, masalah itu.”
“Sudah Pak?”
“Apa artinya kau akan pulang denganku?” tanya Al.
“Iya, saya akan pulang dengan Pak Aaron.”
“Baiklah, kalau begitu.”
“Saya permisi, Pak.” Freya keluar dari ruangan Al dan melanjutkan pekerjaan.
Selepas, Freya keluar, Al tersenyum. Dia pikir
Freya akan menolaknya, tetapi ternyata dia menerima. “Semoga kamu tidak cepat lelah jika pulang bisa tepat waktu.” Memang itulah alasan Al. Melihat Freya menunggu El lama, dia merasa tidak tega.
.
.
.
...INFO PENTING...
...Sampai dengan lebaran nanti aku akan up hanya 1bab. Aku harap kalian mengerti ya. Pinta aku jangan numpuk bab. Tetap dibaca walaupun hanya 1 bab. Karena apa? Karena jika kalian berhenti, itu akan pengaruh banget sama sama novel ini. Karena keberlangsungan novel ini ada pada kalian semua 😁...
...Jangan lupa juga buat ...
...LIKE, VOTE dan beri HADIAH....
...Terima Kasih ...