Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Lupa Ingatan



El baru saja sampai rumah. Masuk ke kamar dia melonggarkan dasi yang melingkar di kerah bajunya. Tubuhnya begitu amat lelah. Siang tadi dia mengecek proyek. Berlanjut, mengerjakan beberapa laporan awal yang dia harus siapkan. Membangun sebuah usaha memang tak mudah.


Dua tahun lalu, hal ini dia rasakan juga saat bersama temannya membangun perusahaan. Jadi El tidak terlalu kaget dengan lelahnya membangun usaha baru. Yang membedakan kali ini, dia mengerjakan sendiri. Mempertimbangkan semua sendiri.


Menjatuhkan tubuhnya di sofa, El menikmati bersandar seraya melepas dasi. Tangannya terus bergerak membuka kancing kemejanya bagian atas. Melonggarkan, agar lehernya tidak tercekik. Menyadarkan tubuhnya pada punggung sofa, matanya terpejam. Merasakan lelah yang mendera.


Suara ketukan pintu terdengar, membuat El membuka matanya. Tepat saat matanya terbuka, dia melihat mommy-nya sedang membuka pintu.


“Kamu sudah makan Sayang?” tanya Shea seraya mendorong pintu kamar. Kepalanya menyembul dari balik pintu.


“Aku sudah makan, Mom. Tadi aku memesan makanan saat di kantor.”


“Kamu terlihat lelah sekali?” tanya Shea seraya melangkah. Duduk di samping El, tangannya membelai lembut punggung putranya.


Senyuman tertarik di wajahnya yang masih begitu cantik.


“Iya, Mom, tetapi ini biasa saat membangun perusahaan baru.” El membalas senyuman Mommy-nya. Tak mau membuat cemas.


“Kamu luar biasa. Mommy benar-benar bangga.”


Shea membelai wajah putranya. Membuat El tersenyum merasakan sentuhan hangat dari ibunya. Jika ada obat lelah yang mujarab, sentuhan sang ibu adalah jawabannya. Karena perasaan lelah itu seketika menguap.


“Terima kasih, Mommy sudah mendukung.”


Shea mengangguk. “Sekarang mandi dan istirahatlah.”


“Baik, Mom.”


Shea berdiri, meninggalkan kamar putranya. Namun, langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu. “Tadi Freya diantar Al, apa kamu tahu?”


“Iya, aku yang meminta dia untuk pulang bersama Al karena aku pulang malam.”


“Baiklah.” Shea keluar dari kamar El.


Langkahnya terhenti kembali saat di depan kamar. Pikirannya melayang pada dua anak laki-lakinya. Tadi saat ingin keluar dari rumah, Shea melihat Al mengantar Freya. Dari cara pandang Freya ke mobil Al, Shea merasakan jika anak temannya itu menyukai Al. Apa lagi bagaimana tadi Cia menggoda Freya dan membuat gadis itu salah tingkah.


Aku harap kalian berdua tidak akan bertengkar karena seorang wanita. Sebagai ibu, dia layak untuk was-was. Bagaimana juga hal itu bisa saja terjadi.


“Kamu di sini.”


Suara Bryan terdengar membuat Shea yang sedang melamun, tersadar. “Aku baru saja mengecek El.” Dia menghampiri suaminya.


“Semenjak anak sulungmu pulang, kamu selalu memerhatikannya dan lupa memerhatikan aku.” Bryan menarik tubuh Shea ke dalam pelukannya.


Shea tersenyum, menyadari jika suaminya dalam mode manja. “Kamu terlalu berdrama. Aku masih sama seperti dulu. Memerhatikanmu.” Tangan Shea meraba dada suaminya. Merayu suaminya yang sedak merajuk.


“Apa kamu tahu istilah semakin tua wanita semakin menarik?”


“Aku baru tahu istilah itu?” Dahi Shea berkerut dalam. Tak pernah mendengar hal itu. Jika laki-laki yang semakin tua semakin menarik, Shea pernah mendengarnya.


“Anggap saja aku yang mengatakan,” elak Bryan.


“Baiklah.” Shea mengalah. “Sekarang lanjutkan.”


“Istilah itu pas untukmu. Karena semakin tua, kamu semakin menarik.” Bryan mengeratkan pelukannya.


“Jangan merayuku.” Pipi Shea merona. Masih sama seperti dulu di saat muda, dia selalu saja masih tersipu saat suaminya merayu.


“Aku tidak merayu,” elak Bryan.


“Sudah, ayo ke kamar.” Shea tak mau melanjutkan pembicaranya ala anak muda itu. Suaminya memang tetap seperti dulu. Selalu merayunya.


“Ayo, kita lanjutkan di kamar.” Bryan dengan semangat menjawab. Tangannya langsung melepas pelukannya.


“Apa yang dilanjutkan di kamar?” tanya Shea curiga.


“Pembicaraan kita tadi.”


“Oh ....” Shea mengangguk. Pikirannya sudah melayang membayangkan hal lain. Dia pun berjalan menuju kamarnya bersama dengan suaminya.


“Tapi plus yang lain,” bisik Bryan. Membuka kamarnya, dia menarik tubuh istrinya ke dalam kamar. Jiwa muda Bryan masihlah sama dengan dulu. Karena menurutnya menjaga keharmonisan di usia tua seperti itu hal penting. Walaupun intensitasnya tak sebanyak di masa muda.


...****************...


El yang selesai mandi, mengambil ponselnya di dalam tas. Sedari tadi dia belum mengecek ponselnya sama sekali. Matanya membulat saat beberapa panggilan tak terjawab masuk ke ponselnya.


“Dia menghubungi aku,” ucapnya bermonolog.


“Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu tidak apa? Jam berapa kamu pulang? Kenapa baru menghubungi aku sekarang?”


Pertanyaan bertubi-tubi itu terdengar, membuat El terdiam. Membiarkan orang di seberang sambungan telepon mencecarnya.


“El ...,” panggil Freya saat pertanyaannya tidak dijawab.


“Apa?” Senyuman masih tersirat di wajah El.


“Kenapa pertanyaanku tidak di jawab?” tanyanya kesal.


“Pertanyaanmu terlalu banyak, aku bingung harus menjawab apa.” El tertawa dan membuat Freya semakin kesal.


“Aku khawatir padamu, jarang-jarang kamu tidak mengangkat sambungan teleponku.” Mengenal El bukan sehari dua hari untuk Freya. Jadi dia tahu kebiasaan temannya itu.


“Aku baik-baik saja. Hanya tadi aku ingin cepat menyelesaikan pekerjaan. Maka itu aku memasang mode silent,” jawab El.


“Kamu berarti baru pulang?” tanya Freya.


“Iya, aku baru selesai mandi,” jawab El, “kenapa kamu menghubungiku? Apa kamu merindukanku?” godanya.


“Siapa yang merindukanmu,” ela Freya dan membuat El terkekeh.


“Apa kamu tadi pulang dengan Al?” EL yang dari tadi berdiri, merebahkan tubuhnya. Ponselnya dibuat mode loudspeaker, agar tak lelah memegangi.


“Iya, apa kamu lupa ingatan?” ejek Fryea.


“Iya. Aku sedikit lupa ingatan. Apa lagi aku lupa jika kamu adalah temanku.” El tertawa saat menggoda Freya.


“Kamu jahat sekali, melupakan aku sebagai temanmu.”


“Memangnya kenapa jika aku lupa kalau kamu temanku?” tanya El.


“Aku pasti aku merasa kehilangan, El. Dari kecil kamu selalu ada untukku. Jadi jika kamu melupakan aku sebagai teman pasti aku akan sedih.” Pertemanan antara El dan Freya membuat keduanya tak pernah bisa jauh.


Freya ingat bagaimana sedihnya dia saat El pergi ke luar negeri. Rasa kehilangan yang begitu dalam. Untungnya temannya itu mau menghubunginya setiap hari. Namun, rasa kehilangannya itu tak berlangsung lama, karena setelah merengek pada papanya, akhirnya dia dapat kuliah di luar negeri.


“Apa sebegitu berartinya aku untukmu?” tanya El.


“Iya, sangat.”


“Kalau begitu menikahlah denganku, jadi aku tidak akan jauh darimu, aku tidak akan melupakanmu dan aku akan selalu berada di sampingmu.”


Freya terdiam, mendengar kalimat El tampak serius, membuatnya terkejut.


“Apa sekarang wajahmu pucat?” Kali ini suara El tampak sedikit terdengar tawa.


“El ... kamu mengerjai aku?” tanya Freya kesal.


El membalas dengan tawa.


“Menyebalkan sekali.”


“Oke-oke maaf,” jawab El. “Oke saat ini aku sangat lelah. Bisakah aku istirahat, agar besok pagi aku tidak terlambat menjemput tuan putri.”


“Baiklah, istirahatlah. Selamat malam El.”


“Malam. Frey.” El mematikan sambungan telepon.


...----------------...


Bersambung ...


Gemes ya? sabar kalau iya, kita sama😁


.


.


.


.


.