
Freya menatap wajahnya di depan cermin. Tangannya bergerak mengoreskan lipstik di bibirnya. Warna nude menjadi pilihannya sore ini untuk pergi jalan-jalan dengan Al.
Dengan mengenakan atasan tanpa lengan dengan warna biru dan rok warna putih, membuat penampilannya cerah hari ini. Tas ukuran kecil keluaran dari brand ternama menjadi pelengkap penampilannya kali ini.
Hari ini, Freya ingin tampil sempurna di depan Al. Tak mau membuat malu sama sekali di depan orang yang dicintainya.
“Kak,” panggil Cia seraya mendorong pintu. Kepalanya menyembul dari balik pintu untuk mengecek apa yang dilakukan oleh kakaknya.
“Apa?” tanyanya.
“Jadi mau pergi?” tanya Cia memastikan. Tadi kakaknya sudah menceritakan jika dia akan pergi bersama Al.
“Jadi.” Freya melihat penampilannya kembali di depan cermin.
“Semoga sukses,” ucap Cia memberikan dukungan pada Freya.
Freya tersenyum manis. Dia sangat
bersemangat untuk bertemu dengan Al.
Keluar dari kamar bersama dengan Cia, Freya menunggu Al. Tepat saat Freya keluar dari rumah, mobil Al berhenti di depan rumah. Freya menitipkan pesan pada adiknya untuk mengatakan pada papa-mamanya jika dia pergi, karena papa dan mamanya sedang pergi ke rumah nenek mereka.
Freya masuk ke mobil. Saat masuk terlihat Al yang tampil kasual dengan kemeja dan celana pendek. Entah kebetulan atau tidak warna baju mereka sama. Al menggunakan atasan warna biru dan celana putih, sedangkan Freya pun juga sama atasan warna biru dan rok warna putih.
“Ke mana kita?” tanya Al.
“Ke mal.”
“Baiklah.” Al melajukan mobilnya menuju ke salah satu mal di daerah timur ibu kota. Mal tersebut memiliki biang lala besar yang sangat cantik. Dari atas biang lala, mereka bisa melihat pemandangan kota. Taman yang terhampar di sana juga sangat memanjakan mata. Tempat yang pas untuk mengisi liburan mereka.
Sampai di sana Freya dan Al turun dan menuju ke biang lala untuk menikmati pemandangan langit kota-sore hari. Dari atas, pemandangan kota begitu indah. Lalu lalang mobil di jalanan juga menambah kesan ramainya hiruk pikuk sore itu.
Di dalam gondola. Al dan Freya memanfaatkan diri untuk saling berbincang. Untuk mengenal satu dengan yang lain.
“Terasa seperti naik London eye,” ucap Al saat naik di atas gondola.
Freya tersenyum. Membenarkan apa yang diucapkan Al. “Aku jadi rindu London.”
“Kenapa kamu begitu menyukai London?”
“Aku jatuh cinta saat kecil kita ke sana bersama-sama.” Freya mengingatkan dulu sewaktu kecil, mereka semua pernah ke London bersama-sama.
Al mengingat akan hal itu. Waktu itu usianya sudah sepuluh tahun. Jadi memori itu masih tersimpan rapi.
“Sejak itu aku suka London,” lanjut Freya, “kemudian El banyak menceritakan padaku
tentang London, hingga akhirnya membuatku berminat ke sana.”
Al tersenyum. Dia sering mendengar El yang menceritakan London pada Freya. Tak menyangka jika Freya akan nekat ke sana.
Mereka melanjutkan pembicaraan. Saling bercerita tentang banyak hal.
“Apa Kak Al punya pacar?” tanya Freya.
“Tidak.”
“Apa Kak Al pernah punya pacar?”
“Pernah.”
Freya membulatkan matanya. Baru tahu jika Al pernah menjalin hubungan dengan wanita.
“Apa sewaktu di London?” tanya Freya. Dia sudah seperti sedang mewawancara orang, karena jawaban Al begitu datar dan singkat.
“Tapi aku tidak pernah melihat Kak Al dengan wanita.”
“Aku hanya menjalin hubungan dua tahun dan itu selama awal aku kuliah.”
“Itu artinya saat aku belum datang?” Mata coklat Freya menatap Al. Memastikan tebaknya.
“Iya, benar,” jawab Al seraya menganggukkan kepalanya.
“Kenapa putus?”
“Dia memilih tidak menyelesaikan kuliahnya dan memilih ke Paris untuk kuliah di sana. Karena dia ingin menjadi desainer.”
“Bukannya Paris masih tidak terlalu jauh dengan London. Masih satu benua Eropa. Kenapa harus putus.”
“Kami memutuskan untuk putus karena sama-sama ingin meraih impian.”
“Apa Kak Al tak pernah bertemu dengannya lagi?”
“Tidak, tetapi aku dengar dia bekerja di Paris.”
Freya mengangguk. Sekarang dia mengetahui masa lalu Al. Paling tidak itu dapat dia pakai untuk pedomannya.
Pembicaraan mereka harus berakhir saat gondola berhenti dan waktu mereka berputar berakhir.
Mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali jalan-jalan. Memilih restoran Japan, mereka menikmati makan malam mereka.
Hari semakin malam. Di taman mal, lampu-lampu mulai menyala. Menambah indahnya malam itu. Beberapa hamparan bunga masih terlihat jelas karena masih mendapatkan sinar dari lampu-lampu. Di bawah langit malam dengan bintang yang bersinar, mereka menikmati malam ini.
Mereka memilik untuk duduk di pinggir taman. Melihat muda-mudi yang berfoto di taman. Senyuman di wajah menandakan seberapa bahagianya menikmati malam ini. Seperti halnya para muda-mudi yang lain, Al dan Freya pun juga menikmati taman yang indah di malam hari.
“Kak, ada yang ingin aku katakan,” ucap Freya.
“Apa?” Al masih datar menjawab. Pandangannya masih tertuju pada orang-orang yang lalu lalang di hadapannya.
“Aku mencintaimu Kak.” Dengan memberanikan diri, Freya mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Al.
Setelah kemarin mendengarkan cerita dari Mommy Selly, akhirnya Freya memutuskan untuk mengatakan cinta pada Al. Al adalah titisan daddy-nya yang pasif. Tak banyak bicara dan diam saja, sepenggal kalimat dari Mommy Selly. Belajar dari hal itu, Freya memilih untuk mengatakan cinta terlebih dahulu.
Dan akhirnya, Freya memilih malam ini. Di bawah langit malam yang begitu cerah dengan sinar bulan dan bintang, dia mengungkapkan isi hatinya.
...****************...
Di bawah langit malam di belahan bumi lain, ada seseorang yang juga menikmati suasana itu. Siapa lagi jika bukan El. Di rooftop rumahnya, dia menikmati secangkir teh. Memandangi langit malam yang penuh dengan bintang dan cahaya bulan yang begitu terang. Mencoba menenangkan hatinya, karena tadi dia melihat Freya yang pergi dengan Al.
"Aku mencintaimu, Frey," ucap El bermonolog sendiri.
Sejenak El mengingat ucapan daddy-nya. Jika perahu meninggalkan pelabuhan untuk menuju ke pelabuhan baru, mintalah Tuhan tiupkan angin agar dia kembali.
“Apa mungkin Tuhan masih bisa tiupkan angin untuk Freya kembali?” El tersenyum getir. Kenyataan jika Al dan Freya saling mencintai, tak bisa dia elakan. Lalu untuk apa dia berharap jika semua itu tidak akan terjadi.
Di dua tempat yang berbeda, dua orang yang begitu mencintai menanti sebuah jawaban atas harapan mereka. Harapan yang akan mengantarkan mereka melangkah ke depan meraih impian.
.
.
.
.