
Kali ini El pulang tepat waktu. Tak ada acara lembur sama sekali. Rencananya dia ingin menjemput Freya. Menemui gadis cantik yang sedari tadi menghiasi pikirannya. Ingatannya kembali bagaimana tadi seharian dia tidak bisa bekerja.
Siang tadi di kantor, konsentrasinya hilang. Pikirannya tidak fokus pada pekerjaan. Dia sudah berusaha untuk fokus, tetapi tetap saja mendapati otaknya berputar-putar memikirkan yang lain.
Pikirannya semalam tentang perasaannya pada Freya kembali muncul. Kali ini lebih banyak setelah Freya bertanya tentang rasa senangnya pada seseorang.
Menghentikan tangannya yang menari indah di atas keyboard, El bersandar pada kursinya. Memejamkan matanya yang sedari tadi lelah memikirkan Freya.
Apa Freya sedang senang dekat dengan seseorang? tanya El pada dirinya sendiri. Siapa pria yang dekat? Apa itu aku? Apa dia juga baru menyadari seperti halnya aku? Pertanyaan itu menghiasi kepalanya.
Sejenak El mengingat janji pertemuan dengan Freya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan gadis itu. Tak sabar ingin tahu apa yang berada di dalam hatinya.
Aku akan pulang cepat kali ini. Tak mau kehilangan kesempatan, El ingin segera bertemu dengan Freya. Mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu. Berharap yang terjadi pada hati Freya sama dengan hatinya.
Senyum El menghiasi wajahnya kala mengingat dari tadi siang, pikirannya seolah hanya ada Freya. Melajukan mobilnya, akhirnya mobil sampai di depan lobi kantor Maxton.
Tepat saat El datang, Freya langsung masuk ke dalam mobil. “Akhirnya aku pulang denganmu juga.” Wajahnya berhiaskan senyuman saat bertemu dengan El. Terbiasa dengan El memang membuatnya ada yang kurang.
“Kamu tampak senang hari ini,” goda El.
“Iya, karena aku bertemu denganmu.” Freya mengembangkan senyumannya lebih merekah lagi. Menunjukan seberapa senangnya dia.
El tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Freya. Tak butuh waktu lama, dia melajukan mobilnya. Tempat yang ditujunya adalah restoran yang biasa mereka datangi. Sepanjang perjalanan, Freya sudah membayangkan akan makan apa saja, hingga membuat El pasrah ke mana temannya itu mau.
Di restoran, mereka memesan makanan. Freya dengan lahap memakan makanannya. Kata orang jika bahagia, nafsu makan akan bertambah, dan itu berlaku pada Freya.
“Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan,” ucap El. Dia tak sabar tahu apa yang ingin temannya itu katakan. “Karena aku akan mengatakan sesuatu juga.”
“Oh ... jadi kamu akan menceritakan sesuatu juga.” Freya tidak menyangka jika ternyata El juga ada hal yang ingin dia bagi dengannya.
“Kalau begitu kamu dulu saja.” Freya masih menyelesaikan makannya.
“Mana bisa begitu. Kamu yang lebih dulu ingin mengatakan, jadi kamu dulu.”
“Aku masih makan, jadi kamu dulu saja.” Freya masih dengan pendiriannya.
“Baiklah kita suit, siapa yang menang dia yang cerita lebih dulu.” El memilih jalan tengah.
“Baiklah. Aku selesaikan makan dulu.” Freya memasukkan suapan terakhir, kemudian meletakan sendok. “Ayo kita mulai,” ajaknya.
“Satu ... dua ... tiga.” El menghitung untuk memulai permainan.
Tangan mereka bergerak memberikan kode. Freya menunjukan jari telunjuk dan jari tengah, yang berarti itu adalah gunting, sedangkan El menunjukan telapak tangannya yang berarti kertas.
“Kamu yang menang, jadi kamu yang cerita lebih dulu,” ucap El.
“Baiklah, aku yang cerita lebih dulu.” Akhirnya Freya pasrah karena ternyata dia yang harus memulai cerita.
El mulai mendengarkan dengan baik.
“Apa kamu ingat tentang pertanyaanku tadi pagi tentang perasaan senang saat dekat seseorang. Sebenarnya aku sedang merasakan hal itu.”
Ternyata dia merasakan hal yang sama denganku.
“Aku rasa perasaan senang itu adalah aku sedang jatuh cinta.” Freya mengembangkan senyuman di wajahnya. Merasa begitu bahagia bisa menceritakan pada El.
Aku tidak menyangka, ternyata Freya jatuh cinta.
“Apa—“
“Aku jatuh cinta pada Kak Al,” potong Freya.
Tadi di kantor, Al mengajari beberapa hal pada Freya. Dari mulai bagaimana bekerja sama dengan klien. Pengecekan laporan keuangan dan bagaimana apartemen itu dibangun hingga terjual.
Freya yang tidak mendengarkan dan justru terfokus dengan wajah Al. Al memang memiliki wajah tampan. Wajah tampan Al terlihat jelas. Apalagi mata birunya, hampir sama dengan El.
Namun, di mata Freya Al tetap berbeda. Ada daya tarik tersendiri yang membuat hatinya mampu mengatakan akan hal itu.
Melihat El dari jarak dekat memang sudah biasa untuk Freya. Akan tetapi melihat Al dari jarak dekat sangat berbeda sekali. Ada desiran aneh di hatinya. Debaran yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Pikiran tentang rasa senangnya juga terus saja berputar di kepalanya. Penjelasan Luna mengenai rasa senang karena jatuh cinta juga menghiasi pikirannya.
“Apa kamu mengerti, Frey?” tanya Al.
“Frey ...,” panggil Al.
“Aaa ....” Freya tersadar saat Al memanggilnya.
“Apa Kak?”
“Apa kamu mengerti?” tanya Al kembali.
“A-aku mengerti,” jawab Freya.
“Mengerti apa?”
“Aa ....” Freya bingung menjelaskan. Yang dia mengerti adalah perasaan senangnya saat bersama Al.
“Sepertinya kamu tidak mendengarkan penjelasanku dan justru memikirkan hal lain,” tegas Al.
“Kak ... em ... Pak, maaf bukan maksud saya sepeti itu.”
“Sebaiknya kita lanjutkan nanti lagi belajarnya. Akan sia-sia jika kamu tidak berkonsentrasi.”
Freya merasa tidak enak, tetapi tidak bisa menolak perintah Al. “Maaf, Pak.”
Al berdiri dan kembali ke meja kerjanya. Mau tak mau Freya juga kembali ke meja kerjanya. Dia merutuki kesalahannya karena ternyata justru tidak mendengarkan penjelasan dari Al.
“Sudah belajarnya?” tanya Luna pada Freya.
“Sudah, Kak.” Freya mengembuskan napas kasar. Benar-benar menyesal.
“Apa Pak Aaron marah?” Luna yang melihat wajah Freya tampak kusut tergelitik untuk bertanya.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu tampak murung setelah belajar?”
“Tadi aku tidak mendengarkan Pak Aaron, jadi dia tampak kesal.”
“Oh ... pantas saja. Memangnya kenapa kamu tidak mendengarkan?” tanya Luna, “oh ... aku tahu, pasti karena kamu memikirkan tentang pertanyaanmu tadi padaku ya?” Luna tersenyum saat menebak.
“Kenapa Kak Luna bicara begitu.”
“Hanya orang jatuh cinta yang tidak konsentrasi saat melakukan hal lain.”
“Jatuh cinta?” Rasanya Freya masih merasa bingung dengan perasaannya.
“Aku rasa kamu jatuh cinta, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
“Apa seperti itu?”
“Iya, coba kamu resapi lagi hatimu.”
Freya terdiam. Merasakan lebih dalam perasaannya. Apa aku jatuh cinta?
Freya tersenyum sesaat mengingat kejadian tadi di kantor. Akhirnya, dia menyadari perasaan setelah seharian dia meresapi lebih dalam. Jawabannya adalah dia jatuh cinta.
El terpaku mendengar ucapan Freya. Hatinya seketika hancur mengetahui jika ternyata Freya mencintai kakaknya. Tadi dia berpikir, jika Freya akan mengatakan jika dia jatuh cinta padanya, ternyata dugaannya salah.
“El ... apa kamu dengar?” tanya Freya mengguncang lengan El.
“A-aku dengar,” jawabnya.
“Aku sebenarnya sudah memikirkannya beberapa hari El, sampai akhirnya hari ini aku yakin jika perasaanku itu adalah rasa cinta,” ucap Freya lagi.
.
.
.
.
.