
El mengantarkan kedua adiknya sambil mengajak mereka berbicara. Membangun hubungan kembali dengan adiknya. Maklum, enam tahun mereka hanya berkomunikasi lewat sambungan telepon dan bertemu saat liburan tiba.
“Bagaimana kuliahmu?” tanya El pada Ghea yang duduk di sampingnya.
“Kak Ghea jangan ditanya kuliah, tanya dia pergi jalan-jalan ke mana.” Bian yang duduk di belakang menyela pembicaraan.
“Berisik!” seru Ghea pada Bian.
El tertawa. “Pergi ke mana kamu? Dengan siapa?”
“Siapa lagi jika bukan Kak Cia. Akhirnya Kak Al dan Kak Dean yang jadi tumbal untuk menjaga mereka berdua.”
“Bian kamu bisa diam tidak,” ucap Ghea kesal. Dia menatap El dan menjelaskan, “Jangan percaya Bian, Kak.”
“Al dan Dean yang menjaga kalian?” tanya El memastikan.
“Iya, mommy yang minta. Padahal kami bisa pergi sendiri.”
“Pergi sendiri dan akhirnya menimbulkan masalah.” Bian kembali berceloteh.
Ghea membelalak. Kesalnya dengan Bian semakin bertambah.
“Karena membawa mobil dan melanggar lalu lintas.” Bian tertawa menceritakan kejadian yang membuat kakaknya itu harus dikawal.
“Polisinya itu saja yang salah,” elak Ghea.
El tertawa mendengar perdebatan adiknya.
“Sekarang ada aku, giliran aku menjagamu.”
“Benarkah?” tanya Ghea berbinar. Mahasiswa kedokteran semester empat itu sangat senang mendengar kakaknya akan menemaninya.
“Iya, tetapi harus di hari libur.”
“Iya, tidak masalah,” jawab Ghea, “apa Kakak benar tidak akan meneruskan usaha daddy?” tanyanya mengingat obrolan semalam.
“Kenapa Kak El tidak melanjutkan usaha daddy?” Bian yang berada di kursi belakang, merasa sangat penasaran.
“Karena kamu yang kelak akan melanjutkan,” ucap El tersenyum.
“Aku?” tanya Bian seraya menunjuk ke arahnya.
“Iya, apa kamu tidak mau?” El melihat adiknya dari pantulan kaca di atas dashboard.
“Apa aku bisa?” Bian tak yakin.
“Berusahalah lebih kuat lagi, buktikan jika kamu bisa.”
Bian terdiam. Kakaknya selalu memberikannya energi positif, tetapi dia tak tahu apakah dia bisa atau tidak. Mengingat nilai akademiknya tidak baik.
“Berusahalah, jangan diam saja!” seru Ghea.
Bian mendengus kesal. Walaupun keinginannya adalah sesukses daddy-nya, tetapi dia sadar dengan kemampuannya.
Bian tak menjawab, dia terus berpikir apakah kelak dia mampu meneruskan usaha papanya, seperti harapan kakaknya.
Perdebatan berakhir saat sampai di sekolahan Bian. Karena jam sudah mendekati waktu masuk, Bian buru-buru keluar dari mobil. “Da ... Kakak,” pamit Bian.
Setelah Bian keluar, El melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan Ghea ke kampusnya. Perjalanan diiringi dengan perbincangan ringan antara El dan adiknya. Hingga tak menyangka akhirnya, mobil El sampai di kampus.
“Itu Dean,” ucap Ghea menunjuk seorang pria di depannya.
El yang sedang melepaskan seatbelt melihat ke arah adiknya menunjuk. Di sana dia melihat seorang pria yang dia kenal. Dean Zachary Maxton, anak dari pasangan dokter kandungan Lyra dan Erix Maxton-adik sepupu dari Regan Maxton. Pria muda dua puluh satu tahun itu kuliah di tempat yang sama dengan Ghea. Mereka sama-sama bercita-cita menjadi dokter.
“Ayo kita temui.” El keluar dari mobil untuk menemui Dean.
“De ... “ panggil Ghea.
“Iya,” jawabnya seraya menoleh. “Kamu Ge ... ada Kak El juga.” Dean mengulurkan tangan.
“Iya, aku mengantarkan Ghea,” jawab El.
“Maaf kemarin tidak ikut menjemput, Kak.”
“Tapi nanti aku akan datang ke pesta yang diadakan Daddy Bryan.”
Sejenak El mengingat, jika kedua orang tuanya dan kedua orang tua Freya akan mengadakan pesta kecil-kecilan nanti malam.
“Baiklah, ketemu nanti.”
El kemudian berlalu meninggalkan kampus Freya. Beberapa mahasiswi di sana menatap El, mereka tersenyum manis pada El. Benar dugaan Ghea jika dia akan jadi pusat perhatian. Tak mau berlama-lama, dia buru-buru masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Tempat yang akan ditujunya adalah kantor daddy-nya. Ada beberapa hal yang akan dibicarakan.
...****************...
Di rumah, Freya yang selesai sarapan, mengantarkan adiknya yang berangkat kuliah. Rencananya setelah mengantarkan adiknya, Freya akan pergi ke kantor kakeknya sesuai dengan permintaan kakeknya tadi di sambungan telepon.
“Da ... Kakak ... “ ucap Cia saat keluar dari mobil.
“Da ....” Freya kembali melajukan mobilnya. Sudah lama sekali tidak melawati jalanan ibu kota yang membuat Freya harus beradaptasi lagi. Jalanan macet yang sudah jadi hal lumrah membuatnya harus lebih bersabar.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya dia sampai di kantor kakeknya. Diantar oleh sekretarisnya, dia masuk ke dalam ruangan kakeknya.
“Kakek ... “ panggil Freya dengan manja saat melihat kakeknya. Dia langsung berhamburan ke dalam pelukannya.
“Cucu Kakek akhirnya datang juga. Kakek rindu sekali.” Theo Julian-pemilik Julian Company yang merupakan ayah dari papa Freya. Karena sang anak tak mau meneruskan usahanya, rencananya dia akan memberikan pada cucu pertamanya.
“Aku juga merindukan Kakek.” Freya mengeratkan pelukannya.
“Lihatlah Al, betapa manjanya cucuku ini,” ucap Theo.
Mendengar nama yang tak asing membuat Freya melepas pelukannya dan menoleh ke mana arah mata kakeknya saat berbicara. Freya sungguh dibuat terkejut saat melihat ternyata Al yang berada di ruangan kakeknya.
“Kak Al di sini?” tanyanya ragu-ragu.
“Kakek yang memintanya untuk datang ke sini.” Theo mengajak Freya untuk duduk bersama dengan Al.
Ragu-ragu Freya mengikuti. Entah kenapa perasaannya begitu berdebar saat duduk bersama Al. Akan tetapi, dia berusaha keras untuk tetap tenang.
“Jadi Kakek meminta Al ke mari karena rencananya kamu akan bekerja di perusahaan Al. Kamu bisa belajar dari Al yang sudah sangat paham dengan bisnis. Al ini adalah salah satu pengusaha mudah hebat di negeri kita.” Theo yang melihat perkembangan perusahaan Maxton setelah dipegang Al, tak mau kehilangan kesempatan agar cucunya belajar dari Al.
“Saya masih belajar, Kek,” elak Al saat mendapat pujian.
Freya terkejut saat tahu jika dia akan bekerja di perusahaan Al untuk sementara waktu. Entah apa alasan kakeknya, tampak dia tidak sama sekali keberatan.
“Al akan mengajarimu banyak hal nanti.”
“Kenapa tidak Kakek saja yang mengajari?” tanya Freya basa-basi.
“Kakek sudah tua, tidak sabar mengajarimu. Harusnya hal begini papamu yang mengajari.” Theo masih saja kesal saat anaknya tak mau mengurus perusahaannya.
“Iya, kalau begitu aku mau.” Freya yang tak mau kakeknya membahas papanya, akhirnya menyetujui.
“Bagus, Kakek ikut senang dan tenang jika kamu belajar dengan orang yang tepat.
Al mengangguk. Sebenarnya dia tidak mau mengajari Freya, mengingat pekerjaannya banyak, tetapi mengingat Theo Julian adalah rekan bisnis daddy-nya, Al pasrah menuruti.
“Berapa lama aku akan belajar?” tanya Freya menatap Al.
“Aku rasa tiga bulan cukup untuk kamu memahami bisnis.”
Freya mengerti. Demi kakeknya yang ingin perusahaan maju di tangannya. Dia akan berusaha keras.
.
.
.
Mau info dikit ya, My Baby CEO versi cetak akan dibuka PO tanggal 17Mei, sisihin uang belanja atau THRnya ya buat peluk Bryshea versi cetak.
Apa yang beda sih?
Kalian bakal nemu jawaban siapa yang udah buat orang tua Shea meninggal. Tahu bagaimana pertemuan tak terduga Shea dan Bryan sebelum kejadian naas, dan tambahan bab di akhir🥰