
“Ich, pasti El akan melihat paha mulus Anna,” ucap Freya bergumam membayangkan apa yang terjadi di dalam mobil. “Apa memang begitu laki-laki? Memanfaatkan keadaan?” tanyanya masih dengan bergumam.
“Siapa yang memanfaatkan keadaan?” Suara barito terdengar dan membuat Freya menoleh.
“Kak Al ... maaf, Pak Al,” ucap Freya yang membenarkan nama panggilannya.
“Siapa yang memanfaatkan keadaan?” tanya Al kembali.
“Bukan siapa-siapa Pak,” elak Freya. Dia berpikir apa yang saja yang sudah di dengar Al tadi hingga atasannya itu bertanya. Dia berharap jika Al tidak akan mendengar semua ucapannya. Karena tadi ucapannya itu merujuk pada semua laki-laki dan pasti itu akan menyinggung Al. “Pak Al mau ke mana?” tanya Freya mengalihkan pembicaraan.
“Saya dari tadi menunggu kamu.”
Freya menelan salivanya. Tadi saat dia mendapati kabar Al mengubah jadwal bertemu dengan kakeknya di jam setelah makan siang, dia mengambil kesempatan untuk makan siang bersama El.
“Maaf, Pak, saya tadi makan di luar.” Tadi Freya berpamitan dengan Luna saat akan istirahat karena Al masih ada tamu waktu. Tak mau menunggu Al selesai, karena jam istirahat pasti akan segera habis.
“Iya, tadi Luna sudah mengatakan jika kamu makan di luar,” ucap Al datar, “apa kamu makan siang dengan El?” tanyanya memastikan.
“Iya, Pak. Saya makan siang dengan El.”
Al sudah menduga jika Freya makan siang dengan adiknya. Menurutnya, untuk El, pasti Freya akan dengan cepat pergi.
“Ya sudah, ayo, kita akan bertemu dengan Pak Theo.” El melangkah menuju ke mobilnya.
Dengan tergopoh-gopoh Freya mengikuti Al di belakang. Masuk ke mobil untuk ikut Al menuju ke kantor kakek Freya.
“Apa berkasnya sudah dibawa, Pak.” Freya merasa tidak enak karena belum membawa berkas.
“Sudah, aku sudah membawanya.” Al melajukan mobilnya.
Di dalam mobil, hanya keheningan yang ada. Keduanya memilih diam saja dari pada berbicara. Freya sudah mulai biasa dengan hal ini. Jadi dia tidak menggerutu lagi di dalam hati.
“Makan di mana tadi?” Akhirnya suara Al terdengar, memecah keheningan di dalam mobil.
“Makan di restoran favorit kami,” jawab Freya.
“Aku mana tahu restoran favorit kalian.” Al menatap sejenak saat berbicara dan kembali lagi menatap ke depan. Ucapan dengan penuh sindiran. Menegaskan jika dia tidak tahu banyak mana tempat yang disuka Freya dan El.
“Oh ... iya. Aku lupa kalau Kak Al tidak tahu,” ucap Freya malu.
“Lain kali ajaklah aku makan bersama kalian berdua. Jadi aku akan tahu di mana restoran kesukaanmu.” Al tidak menoleh saat berbicara pada Freya.
“Iya, maaf Kak. Tadi karena Kak Al masih ada tamu akhirnya aku buru-buru pergi.” Tadi, sebenarnya Freya ingin menunggu Al selesai berbicara dengan tamunya. Akan tetapi, Luna meminta Freya untuk pergi saja dan dia yang akan menunggu Al dan menyampaikan pada Al.
“Tidak masalah, jam istirahat memang sudah tiba, jadi wajar kamu segera pergi.” Selang kepergian Freya tadi, memang Al juga selesai. Tadinya dia ingin mengajak Freya makan sebelum bertemu dengan Theo, tetapi karena Freya sudah pergi, akhirnya Al memilih untuk menunggu Freya di kantor.
“Apa Kak Al tadi makan?” tanya Freya ragu.
“Iya, aku meminta Luna memesan makanan.” Hal itu yang biasa dilakukan oleh Al jika malas untuk keluar kantor.
Mobil Al sampai di kantor Julian Company. Perusahaan itu sama dengan perusahaan Maxton. Sama-sama bekerja di bidang properti. Beberapa apartemen juga dimiliki oleh perusahaan milik kakek Freya itu.
Dulu Al mendapatkan cerita jika dulu daddy-nya bekerja sama membangun apartemen karena kakek Freya yang ingin apartemen di bangun oleh Adion. Kala itu hubungan kakek dan papa Freya tidak baik, hingga akhirnya sulit untuk Theo bekerja sama dengan Adion. Hingga akhirnya jadilah Maxton sebagai perantara.
Sampai di kantor Julian, Al dan Freya disambut hangat oleh Theo. Mereka melanjutkan membahas tentang beberapa hal. Rencana apartemen yang sekarang akan diperluas. Jadi akan dibangun kembali dua samping di bangunan yang lama.
“Aku memang tidak salah pilih orang untuk mengajari cucuku.” Theo yang baru saja mendengarkan penjelasan Al tentang pembangunan apartemen merasa sangat bangga. Kemudian dia beralih pada Freya.
“Kamu harus cari suami seperti ini, Frey. Yang pintar dan sukses.”
Seketika Freya terdiam. Pipinya menghangat dan menyembulkan rona merah. Merasa malu karena ucapan kakeknya.
“Apa kamu sudah punya pacar Al?” tanya Theo.
Dalam sela-sela pekerjaannya ditanyai hal itu membuat Al merasa tidak nyaman. Akan tetapi, dia tidak bisa jika tidak menjawab. “Belum, Pak.”
“Wah ... pas sekali, Freya juga belum punya pacar.”
Mata Freya membulat. Kakeknya itu benar-benar membuatnya malu karena mengatakan jika statusnya adalah seorang jomlo.
Kakek benar-benar sok tahu, batin Freya kesal. Namun, sejenak dia membenarkan ucapan kakeknya jika memang dia berstatus jomlo.
“Kek, jangan bahas itu saat bekerja seperti ini. Aku rasa ini bukan pembahasan yang pas.”
“Lihatlah Al, dia terlalu malu mengakui jika dia seorang jomlo.”
Al hanya tersenyum. Tak tahu harus menjawab apa ucapan Theo. Dia sadar ini bukan pembahasan yang pas.
“Nanti, aku akan mencari pria baik, Kek.” Freya mengakhiri pembicaraan agar kakeknya.
“Kenapa harus dicari jika di depan mata ada.” Theo menatap Al sebagai kode untuk Freya.
Antara Freya dan Al memilih diam. Mereka bingung menjawab apa ucapan Theo. Hal itu justru membuat keduanya menjadi sangat canggung.
Usai meeting dengan Theo selesai, Al dan Freya kembali ke kantor.
“Maafkan ucapan kakek tadi ya, Kak,” ucap Freya. Sebenarnya dia merasa sangat tidak enak dengan Al.
“Tidak apa-apa. Mungkin karena dia sedang berharap kamu segera memiliki kekasih, akhirnya dia memandang pria yang ada.” Al tak mau besar kepala jika yang diucapkan Theo adalah benar.
“Iya,” jawab Freya malu. “Apa Kak Al punya kekasih? Kalau sampai punya, aku harap obrolan tadi tidak sampai di telinga kekasih Kak Al.”
“Aku tidak punya,” ucap Al menoleh sejenak.
Mata biru Al yang menatap Freya, membuatnya merasakan getaran aneh. Apalagi saat mendengar Al, jika dia tidak memiliki kekasih, membuatnya merasakan rasa senang.
“Kamu sendiri?” tanya Al balik.
“Aku?” tanya Freya memastikan pada Al dan mendapati anggukan dari Al. “Bukannya tadi kakek sudah menjelaskan.”
“Berarti yang dijelaskan Pak Theo benar?” Al menolak dan menarik senyum tipis di wajahnya.
Walaupun senyumannya itu hanya sedikit, Freya dapat melihatnya. “Apa Kak Al sedang meledekku dengan tersenyum?” tanya Freya kesal.
Akhirnya senyuman Al berubah menjadi tawa saat melihat wajah kesal Freya. Gadis di sampingnya itu sungguh menggemaskan saat kesal.
“Kak ... kenapa semakin tertawa?” Freya merajuk dan menghadap ke depan. Tak mau melihat Al yang meledeknya.
“Aku tidak meledek. Hanya saja, aku heran. Gadis secantik dirimu, kenapa tidak punya kekasih?” elak Al.
Wajah Freya menghangat. Pujian itu membuatnya melayang tinggi. Mungkin jika itu yang mengatakan El, dia akan tampak biasa-biasa saja. Namun, karena kali ini Al yang mengatakannya, membuatnya merasakan hal lain.
“Belum ada yang cocok saja.” Freya menjawab tanpa menoleh. Tak mau Al melihat wajah meronanya.
“Oh ... begitu.” Al tak menanggapi. Dia hanya menyimpan alasan gadis cantik di sampingnya di dalam memorinya.
.
.
.